Aku Ayahmu

Aku Ayahmu
Part 39 - Suasana Hati Yang Baik


__ADS_3

Ceklek!


Pintu utama rumah tiba-tiba terbuka.


"Ingin mampir?" tanya Laura.


"Tentu saja. Sekalian bertemu anak-anak." jawab Regan.


"Terima kasih!" kata Laura tiba-tiba.


"Untuk?" tanya Regan sambil mengernyitkan dahinya.


"Menemui anak-anak."


"Sudah tugasku sebagai ayah mereka."


"Hemm..."


"Kau sudah tidak dingin padaku. Apa kau sudah memaafkan ku?" tanya Regan demikian.


"Aku sudah memaafkan mu sebelum kau meminta maaf."


"Itu berarti, kau menerima lamaranku?"


"Aku tidak mengatakan seperti itu. Dan kau pun tidak pernah berbicara mengenai itu."


"Jika aku mengatakannya padamu sekarang, kau akan menerimanya?"

__ADS_1


Laura hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Hanya ada pilihan ya atau tidak. Kau tidak menjawab diantara pilihan, jadi akan ku anggap jawabannya adalah ya."


"Kau tidak bisa seenaknya seperti itu. Aku-" bicara Laura terpotong.


"Tidak ada penolakan. Dan aku tidak suka penolakan."


"Kau-"


"Baiklah, aku pulang dulu. Aku titip salam saja pada anak-anak. Cepatlah istirahat, jangan tidur larut malam. Sampai jumpa besok, sayang!"


Setelah mengucapkan itu, Regan mencari kesempatan mengecup singkat pipi Laura. Sebelum dirinya melarikan diri, ia mengedipkan satu matanya. Dan korban hanya membeku di tempat sebelum kesadarannya kembali normal.


"HYA! KAU!!" teriak Laura marah.


Tak lama, Iva keluar setelah mendengar teriakan ibunya.


"Apa ayah sudah pulang? Kenapa ibu lama sekali masuknya?" tanya Iva.


"Iya. Dia sudah pulang." jawab Laura, menstabilkan suaranya.


"Ibu sakit? Kenapa wajahnya merah? Apa ibu demam?"


"I-Ibu baik-baik saja." jawab Laura gugup. Selain wajahnya yang memerah, jantungnya pun berdegup kencang.


"Tapi, Ibu. Ayah..."

__ADS_1


Bahkan Laura menghiraukan teriakan putrinya. Dirinya berlalu memasuki kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.


...***...


Sebuah mobil hitam memasuki mansion. Sang pemilik keluar dari kemudinya dan menyerahkan kunci mobil pada penjaga. Setelah itu, si pemilik memasuki mansion dan disambut ramah oleh kepala penjaga dan kepala pelayan.


"Tuan muda, anda baru pulang? Apa ada masalah?" tanya Paman Baran. Karena mereka tadi pulang tidak jauh berbeda, namun Regan menghabiskan waktu cukup lama untuk sampai ke Mansion setelah mengantarkan Laura pulang.


"Tidak ada, Paman. Justru semuanya berjalan dengan lancar."


"Apa Tuan ingin saya siapkan mandi air hangat?" tanya kepala pelayan, Bibi Rieta.


"Tidak, Bi. Saya akan menyiapkannya sendiri. Berhubung suasana hati ku sedang baik, jadi aku tidak ingin merepotkan. Sebaiknya kau langsung istirahat saja."


Bibi Rieta dan Paman Baran tersenyum melihat kondisi Tuannya yang berbeda dari biasanya. Mereka sangat berharap bahwa Regan selalu bahagia.


"Baiklah, jika seperti itu, Tuan."


"Hemm... Paman Baran, tolong kau ke ruangan ku. Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan dengan mu!" titah Regan.


"Baiklah. Sebaiknya Tuan bersihkan diri Tuan terlebih dahulu. Saya akan menyusul ke ruangan."


"Hemm..."


Regan meninggalkan kedua orang di ruang tamu, segera menaiki tangga menuju kamarnya.


"Semoga mereka dipersatukan kembali. Tidak biasanya Tuan juga seperti ini. Dia selalu menjadi orang baik, hanya saja selalu dihantui rasa bersalahnya." kata Bibi Rieta.

__ADS_1


"Aku juga berharap seperti itu. Kehadiran Nona Laura dalam hidupnya sangatlah berarti. Tuan juga sudah mengaku atas kesalahan yang membuatnya dihantui rasa bersalah. Dia sudah bertahun-tahun kecewa pada hidupnya sendiri. Semoga saja memang Nona Laura dan anak-anaknya bisa memaafkan dan di sini kita bisa memiliki Nyonya beserta Tuan dan Nona Muda yang tinggal bersama."


__ADS_2