
Iva pulang dari sekolah dengan ranselnya yang berat. Dia tahu bahwa kakaknya, Vio, masih dirawat di rumah sakit, dan dia ingin mengunjunginya. Laura telah memberitahu Iva tentang kondisi Vio dan memberinya izin untuk mengunjungi saudaranya.
Ketika Iva memasuki kamar rawat Vio, dia melihat Regan duduk di samping ranjang, memegang tangan Vio dengan lembut. Regan menatap Vio dengan ekspresi penuh perhatian, bahkan saat Vio masih tidur dengan tenang.
Iva menghampiri mereka dengan langkah hati-hati, "Oh, ada ayah." ucap Iva.
Ketika Regan menyadari kehadirannya, dia tersenyum lembut. "Kau sudah pulang? Apa teman ayah menjemput mu?" tanya Regan dengan suara pelan.
Iva mengangguk dan tersenyum. "Iya. Paman Elwin yang menjemput."
"Ayah, temanku kemari untuk menjenguk Vio."
"Oh, yah? Lalu, di mana dia?" tanya Regan.
"Halo, Paman!" sapa teman Iva yang dimaksud baru memasuki kamar rawat Vio. Dia adalah seorang anak perempuan.
"Halo. Masuklah! Kenapa berdiri saja di pintu. Ingin menjenguk Vio, kan? Ayo masuk!" kata Regan.
"Ayah, ibu ke mana? Ibu tidak kemari?" tanya Iva.
"Ibu sedang keluar sebentar!"
Bertepatan dengan itu, suara pintu kembali terbuka.
"Iva, kau sudah pulang? Siapa yang menjemput?" tanya Laura.
"Teman ayah yang menjemput ke sekolah." jawab Iva.
__ADS_1
"Kalian lanjutkan, ya. Ayah keluar sebentar." pamit Regan, melangkahkan kakinya keluar.
"Ayah, nanti kembalinya bawakan Iva makanan, ya!" pinta Iva.
Regan mengangguk, lalu pergi begitu saja keluar ruangan. Vano yang berdiri di samping Laura, hanya melirik kepergian Regan.
Iva menatap wajah kakaknya yang masih terbaring dengan terlihat sedikit cemas. Dia pergi mendekati kakaknya dan memegang tangan Vio yang lain dengan lembut.
"Kak, apa kabar? Cepatlah bangun! Aku sangat kesepian jika kakak sakit seperti ini." ujar Iva. Meskipun kakaknya masih memejamkan mata.
Vio terbangun dari tidurnya yang dalam dan membuka mata pelan-pelan. Ketika dia melihat wajah adiknya, dia tersenyum lebar. "Iva..."
Iva tersenyum balik dan berkata, "Kak, aku rindu padamu." kata Iva langsung memeluk kakaknya.
Syukurlah Vio sudah terbangun. Itu membuat Laura tidak hentinya mengucap syukur dan segera menghampiri, mengecup, dan mengusap lembut pucuk rambut putranya.
"Regan!!" panggil Vano. Sengaja mengejar Regan saat berada di lorong rumah sakit.
Regan menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, wajahnya terlihat waspada. Namun, setelah melihat Vano, ekspresi Regan mulai sedikit melunak.
"Bisa kita bicara sebentar?" ucap Vano.
Keduanya sama-sama saling diam dan menatap.
"Ada apa?" tanyanya dengan suara hati-hati.
Vano menghampiri Regan dengan wajah penuh penyesalan. "Maafkan aku, Regan. Aku tahu aku salah, tapi aku ingin bicara denganmu."
__ADS_1
Regan merenung sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Baiklah, kita bisa bicara di taman rumah sakit."
Mereka berdua berjalan ke taman rumah sakit, siap untuk mendengarkan dan berbicara tentang apa yang terjadi.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Regan.
"Maafkan aku, jika kau berpikir aku merebut Laura darimu." kata Vano.
Regan menatap Vano tidak mengerti, dan menunggu Vano melanjutkan ucapannya.
"Aku memang mencintai Laura. Bahkan sejak dia pertama kali menginjakkan kakinya di Kanada, sampai aku tahu dia hamil dan tanpa suami, aku jadi bertekad untuk membantunya menjaga anak-anak. Sampai anak-anak menganggap ku ayah mereka sendiri sejak kecil. Laura memang sudah menceritakan semua pada anak-anak, jadi anak-anak tidak terlalu terkejut mendengar pertengkaran mu dengan Laura."
Vano menghela nafas panjang, lalu menoleh pada Regan yang sedari tadi menatapnya. Lalu, kembali menatap ke depan sebelum melanjutkan ceritanya.
"Tidak hanya sekali aku mengungkapkan perasaanku padanya, bahkan sering. Tapi jawabannya sejak 15 tahun lalu sampai saat ini tetap sama. Dia belum siap untuk menjalani hubungan baru. Sampai aku tahu ketika kau datang lagi di hadapannya dan anak-anak."
Kembali menatap Regan, tapi dengan tatapan yang serius, dilihatnya Regan telah menatap kosong ke depan, sebelum dirinya melanjutkan ucapannya yang membuat Regan langsung menoleh padanya.
"Perjuangkan kembali cintamu!!" Ujar Vano penuh penekanan.
Regan menatap Vano penuh tanya. Tapi yang ditatap malah tersenyum.
"Lusa... Aku akan kembali ke Kanada. Aku harap kau bisa meluluhkan hatinya kembali."
Vano menepuk pelan pundak Regan memberi semangat, sebelum dirinya pergi meninggalkan Regan sendiri.
Regan terdiam sejenak, mencerna semua yang baru saja dia dengar dari Vano. Pikirannya berkecamuk, teringat akan momen-momen manis bersama Laura dan juga rasa cintanya yang tidak pernah pudar. Dia tahu bahwa menghadapi masa lalu dan cinta yang masih tersimpan dalam hati Laura tidak akan mudah.
__ADS_1