Aku Ayahmu

Aku Ayahmu
Part 21 - Bertemu dan Melepaskan


__ADS_3

Regan tetap bertahan meskipun Laura sudah berulang kali mencoba mengusirnya. Tangis Laura semakin menjadi-jadi, dan ia merasa seperti berada dalam kebingungan yang mendalam. Regan tetap berdiri di depannya, mencoba menjelaskan perasaannya, namun Laura masih terlalu terluka untuk mendengarkan.


"Pergi dari sini! Hiks..."


"Tidak. Sebelum kau memaafkan ku dan kembali padaku. Aku masih mencintaimu."


"Kumohon pergilah! Aku tidak ingin melihat mu."


"Aku tidak akan pergi sebelum kau memaafkan ku. Aku tahu, kau masih mencintai ku. Jadi Izinkan-"


Tiba-tiba, saat suasana semakin tegang, pintu rumah terbuka dengan tiba-tiba. Semua mata tertuju pada pintu, dan kehadiran Vano di ambang pintu membuat semua orang di ruangan itu terdiam.


Vano memasuki rumah dengan wajah marah. "Apa kau tidak dengar? Dia menyuruhmu pergi. Jadi, keluarlah dari sini!"


Ia melihat Laura menangis, Regan yang berdiri di depannya, dan suasana yang sangat tegang. Ia tahu bahwa sesuatu yang serius sedang terjadi.


Regan tidak berniat menjawab, dia hanya menatap Lauta yang menangis di hadapannya. Dan Vano, sedari awal memang ada di balik pintu dan mendengar semuanya, tanpa berniat untuk masuk.


"Lebih baik kau tidak perlu ikut campur masalah kami." kecam Regan.


"Selagi masalah itu ada Laura di dalamnya, itu juga akan jadi masalahku. Jadi, silakan kau keluar!! Laura tidak memerlukan mu di sini."


Perdebatan antara Regan dan Vano kembali berlangsung tidak lama, setelah Regan memutuskan mengalah karena tidak ingin membuat Laura semakin membencinya. Dan pergi meninggalkan rumah Laura dengan perasaan yang campur aduk.


Laura akhirnya mengalihkan pandangannya dari ke arah Vano. Air matanya masih berlinangan, dan ia merasa sangat kacau. "Vano, aku... Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan."


Vano memeluk Laura dengan penuh perasaan. Laura merasa hangat dalam dekapannya, seperti menemukan tempat perlindungan. Air matanya terus mengalir, dan Vano hanya diam, memberikan dukungan dengan kehadirannya.


"Laura, aku di sini sekarang," bisik Vano dengan lembut. "Kita akan menjalani semua ini bersama-sama."


Laura merengkuh Vano dengan erat, merasa seperti dunia yang begitu rumit tiba-tiba memiliki sedikit kepastian. Meskipun masalah-masalah yang rumit masih ada, kehadiran Vano adalah pengingat bahwa mereka akan berusaha menghadapinya sebagai keluarga.


Beberapa saat kemudian, Laura melepaskan pelukan dan mengusap air matanya. "Maafkan aku, Vano. Aku terlalu bingung dan emosional."

__ADS_1


Vano tersenyum lembut. "Tidak apa-apa, Laura. Ini adalah momen yang sulit bagi kita semua. Kita akan menemukan jalan keluar bersama."


Vano dan Laura duduk bersama di ruang tamu, dan Vano menggenggam tangan Laura dengan erat, memberikan dukungan yang tidak terucapkan. Mereka tahu bahwa akan ada banyak hal yang perlu dibicarakan dan diselesaikan, tetapi setidaknya mereka sekarang melakukannya bersama-sama, sebagai keluarga yang ingin bersatu kembali.


Laura kemudian merasa perlu menjelaskan lebih rinci tentang situasi dengan Regan, tentang anak-anak, dan bagaimana semuanya saling terkait. Vano mendengarkan dengan perhatian, mencoba memahami seluruh dinamika yang ada. Ini adalah awal dari proses panjang untuk mencari solusi yang paling baik bagi mereka semua.


Dari balik pintu kamar, Vio dan Iva mendengarkan dengan penuh perasaan pembicaraan antara orang tua mereka. Mereka terkejut dan sedih mendengar bahwa Regan adalah ayah kandung mereka yang selama ini menjadi misteri.


"Jadi, Paman Regan adalah ayah kandung kita. Hiks..." Iva menangis, merasa bingung dan penuh emosi.


Vio mencoba untuk tetap tenang, meskipun dalam hatinya juga berkecamuk. "Tuhan menjawab rasa penasaran kita selama ini. Sekarang kita tahu siapa ayah kandung kita."


Iva terus menangis, merasa terluka dan bingung oleh semua perubahan yang terjadi. "Lalu, kita harus bagaimana? Ayah dan ibu. Hikss."


Vio mencoba memberikan sedikit keberanian pada adiknya. "Kita pikirkan nanti. Kita juga harus mendengarkan ibu dan ayah."


Namun, perasaan Iva masih terlalu terluka dan bingung. "Tapi Ayah..."


Vano mendengar perdebatan mereka dan memutuskan untuk menegur. "Dia sudah membuat ibu menangis."


Kemudian, Vio dan Iva merasa bahwa ini adalah saat yang tepat untuk menutup pintu kamar mereka dan memberi waktu pada orang tua mereka untuk berbicara tanpa terganggu. Dalam kebingungan dan emosi yang mereka rasakan, mereka merasa bahwa kehadiran Vano adalah peluang untuk memahami masa lalu mereka yang selama ini menjadi misteri.


...***...


Setelah perdebatan itu. Regan benar-benar tidak bisa bertemu dengan Laura, bahkan Laura sering kali mengingatkan kedua putranya untuk tidak bertemu dengan Regan. Setiap hari Regan berada di sekolah putranya, tapi dia hanya melihatnya dari kejauhan. Sejak kejadian itu juga, si kembar melihat sedikit perubahan dari ibunya, yang sekarang jadi sedikit pendiam, jarang cerewet ataupun mengomeli mereka jika melakukan kesalahan. Raut sedih diwajahnya pun bisa terbaca oleh putra putrinya sendiri. Itu juga membuat anaknya ikut merasakan sedih.


"Kau mencintainya?" Tanya Tania berkunjung ke rumah Laura. Dengan bersungguh-sungguh ia menanyakan perasaan adiknya.


Laura hanya diam tidak menjawab.


"Aku sudah tahu jawabannya. Kau tidak perlu menjawabnya Laura." ucap Vano yang mengejutkan akibat kedatangannya.


"Vano!" lirih Tania.

__ADS_1


"Aku mencintai Laura. Apapun yang membuatnya bahagia, aku akan bahagia." terus terangnya.


Laura menatap Vano tidak mengerti.


.


.


.


Vio dan Iva sedang berjalan di koridor sekolah. Suasana sekolah sudah mulai sepi karena kebanyakan siswa telah pulang. Mereka berdua berbicara tentang hari sekolah mereka dan apa yang akan mereka lakukan setelah pulang.


"Kakak, gendong aku!" pinta Iva.


Vio menolak. "Jalan sendiri! Kau berat!"


"Jika seperti itu, jalannya jangan cepat-cepat!" ucap Iva, ia tertatih-tatih menyamakan langkah kakaknya.


"Jalanmu saja yang seperti siput!" hardik Vano. Tetap tidak mengurangi kecepatan langkahnya.


"Kau kan tahu kaki ku sakit, Kak."


"Alasan. Buang minuman mu, dan jalan yang benar!"


"Kau jahat sekali jadi Kakak. Aku itu haus. Bukannya dibantu malah mengomel." cemberut Iva.


"Kau saja yang manja!" cerca Vano terus-menerus.


Dari kejauhan Regan yang menyaksikan kedua anaknya beradu mulut. Rasanya dia ingin bergabung dan memeluk mereka. Tapi tidak mungkin, dia tidak ingin kedua anaknya dimarahi Laura jika bertemu dengannya. Jadi Regan memutuskan untuk pergi, sebelum mereka melihatnya.


Tapi, Iva sudah melihatnya. Iva tahu sejak tadi Regan memperhatikannya dan Vio. Iva menyenggol lengan Vio dan menunjukkan keberadaan Regan yang sudah berbalik pergi meninggalkan halaman sekolah. Keduanya memperhatikan kepergian Regan


"Ayah!" panggil Iva.

__ADS_1


Regan menghentikan langkahnya tanpa menoleh. Panggilan itu membuat dadanya berdesir.


__ADS_2