Aku Ayahmu

Aku Ayahmu
Part 28 - Jatuh Dari Tangga


__ADS_3

Laura berada di rumah kakaknya, Tania, yang merupakan salah satu tempat perlindungan dan dukungan baginya dalam situasi rumit ini. Mereka duduk bersama di ruang tamu, berbicara tentang perkembangan terbaru dalam kehidupan Laura.


Tiba-tiba, pintu rumah terbuka, dan Vano melangkah masuk. Laura terkejut melihatnya, karena mereka jarang bertemu setelah Vano datang dari Kanada.


"Vano? Kau kemari?" Laura bertanya, mata terbuka lebar dalam kejutan.


Vano tersenyum dan menjawab, "Kak Tania yang memberitahu ku bahwa kau ada di sini. Aku tidak sabar untuk melihatmu."


"Vano, kau tidak pergi ke perusahaan?" tanya Tania.


"Jam kerjaku 2 jam lagi, Kak. Kau juga tidak pergi bekerja?" tanya Vano pada Laura.


Laura menjawab, "Umm... 15 menit lagi aku berangkat."


"Aku akan mengantarmu." kata Vano.


"Itu tawaran yang bagus. Lebih baik kau antarkan saja dia. Dia juga tidak membawa kendaraan kemari." pungkas Tania.


Tania memberikan tatapan yang mengerti kepada Vano sebelum mengundurkan diri untuk memberi mereka waktu bersama. Laura dan Vano duduk berhadapan, dengan perasaan yang rumit dan banyak yang ingin diungkapkan.


"Laura, aku merindukanmu," kata Vano dengan suara lembut. "Aku tahu semuanya menjadi sulit, tapi aku ingin tahu bagaimana keadaanmu."


Laura merasa emosional mendengar kata-kata Vano, dan air mata mengisi matanya. Meskipun mereka telah berpisah, hubungan mereka masih memiliki ikatan yang kuat, terutama melalui dua anak mereka.


"Vano," Laura berkata pelan, "Ini semua begitu rumit. Aku masih merasa sangat terluka dengan semua yang terjadi."


Vano mengangguk mengerti. "Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi aku ingin kita bisa menjaga hubungan yang baik, terutama untuk Iva dan Vio."


Laura merenung sejenak, lalu mengangkat kepala untuk bertatap muka dengan Vano. "Aku ingin yang terbaik untuk anak-anak. Tapi aku masih merasa sulit untuk melihatmu tanpa teringat akan semua yang telah terjadi."


Vano menjawab dengan tulus, "Aku mengerti, Laura. Aku akan memberimu waktu dan ruang yang kau butuhkan. Kita bisa mencari cara untuk memulihkan hubungan ini, bahkan jika butuh waktu yang lama."

__ADS_1


Laura dan Vano duduk bersama, memulai proses untuk memahami dan mendukung satu sama lain dalam perjalanan yang penuh tantangan ini. Meskipun masa depan mereka masih tidak pasti, mereka berdua setuju bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan anak-anak mereka adalah yang terpenting.


Tak lama, ponsel Laura berdering. Belum satu menit Laura mengangkat, tapi sudah membuat mimik wajahnya berubah. Wajahnya seketika pucat pasi dengan keterkejutannya. Membuat Vano di depannya menatapnya penuh tanya dan khawatir.


"Laura, Ada apa?" tanya Vano khawatir.


"Vio... Vio terjatuh dari tangga dan sekarang sedang dilarikan ke rumah sakit. Aku harus ke sana."


"Aku akan mengantarmu."


"Kalian pergilah dulu. Aku akan menyusul dengan suamiku." kata Tania.


Laura begitu terkejut saat menerima kabar bahwa Vio terjatuh dari tangga, dan kepanikan mencengkeram hatinya. Tanpa banyak bicara, dia segera beranjak dari kursi.


Vano yang ada di depannya tidak membuang waktu. Dia segera bangkit juga, siap untuk mendampingi Laura ke rumah sakit.


Laura dan Vano duduk bersama di dalam mobil, menunggu dengan cemas untuk mendapatkan kabar lebih lanjut tentang kondisi Vio. Laura merasa gelisah dan khawatir, tak bisa duduk diam.


"Vano, bisakah kau mempercepat lajunya?" pintanya dengan nada yang penuh ketegangan. Wajahnya pucat dan matanya penuh kekhawatiran.


Mereka berdua terus memikirkan kondisi Vio dan berharap agar semuanya akan baik-baik saja. Tetapi perasaan kekhawatiran dan kebingungan tentang bagaimana menghadapi situasi ini masih menghantui mereka.


"Vano, bisakah kau percepat lagi! Kita harus segera sampai ke rumah sakit."


"Sabar, Laura! Jalanan sedang padat. Kita akan segera sampai." jawab Vano dengan serius, lalu menginjak gas sedikit lebih dalam, mempercepat laju mobil mereka menuju rumah sakit.


"Kau tidak mengabari ayah mereka? Regan? Apa dia sudah tahu Vio jatuh dari tangga?" tanya Vano.


"Dia tidak berhak tahu atau tidak. Lebih baik kita cepat sampai! Vio pasti sendirian di sana."


Mereka berdua terus memikirkan kondisi Vio dan berharap agar semuanya akan baik-baik saja. Tetapi perasaan kekhawatiran dan kebingungan tentang bagaimana menghadapi situasi ini masih menghantui mereka.

__ADS_1


Mereka berdua hanya bisa berdoa agar Vio segera mendapatkan perawatan yang tepat dan pulih dengan cepat. Semoga kabar dari rumah sakit akan memberikan sedikit kelegaan di tengah ketegangan yang mereka rasakan saat ini.


Sampai di rumah sakit, Laura dan Vano segera mencari informasi tentang keadaan Vio. Mereka diberitahu bahwa Vio sedang menjalani pemeriksaan medis dan mereka harus menunggu informasi lebih lanjut.


Kedua orang tua itu setengah berlari menuju IGD tempat Vio berada. Dari ujung lorong, Laura sudah melihat Iva yang sedang menangis, ditemani pria dewasa di sampingnya.


"Iva!" panggil Laura.


"Ibu!" hambur Iva, berlari pada ibunya.


Laura segera berlari memeluk Laura, dan menangis di pundak ibunya.


"Tadi waktu Iva berlari menuruni tangga, Vio berusaha mengejar Iva... hiks. Vio sudah peringati Iva untuk tidak berlari jika menuruni tangga, tapi Iva tidak mendengarkannya, hiks. ketika Vio meraih tas Iva dari punggung untuk menghentikan Iva, tapi Iva malah menariknya kembali, hiks. Alhasil Vio terdorong ke depan, lalu terpeleset dari anak tangga dan jatuh. Hiks,, maafkan Iva,, ini salah Iva. hiks.."


"Jangan menangis! Ini hanya kecelakaan. Jangan salahkan dirimu sendiri. Semoga kakakmu baik-baik saja!" ucap Laura mengusap punggung Iva.


"Tetap saja, ini salah Iva. Hiks..."


Iva masih menangis di pelukan Laura. Sedangkan kedua pria lainnya saling menatap dingin, hingga suara pintu IGD mengalihkan perhatian mereka berempat. Dan seorang dokter keluar dari ruangan.


"Bagaimana dengan putraku?" tanya Regan.


Dokter menjawab, "Tuan Regan tidak perlu khawatir. Putra Tuan baik-baik saja. Untungnya lukanya tidak terlalu parah, hanya terkilir, dan tulangnya sedikit bergeser. Kami sudah menanganinya, paling tidak membutuhkan 3-4 minggu untuk sembuh. Kami akan segera memindahkannya ke ruang rawat."


"Apa tidak ada cidera yang lainnya?" tanya Laura.


"Untung saja tidak ada, Nyonya. Hanya goresan kecil di lengannya, dan sudah di obati."


"Apa kami bisa masuk menjenguknya?" tanya Vano.


"Bisa, Tuan. Silakan!" kata Dokter.

__ADS_1


"Terima kasih, Dokter." kata Regan.


"Sama-sama, Tuan Regan. Jika begitu saya permisi!" pamit Dokter.


__ADS_2