Aku Ayahmu

Aku Ayahmu
Part 43 - Dia Anaknya!


__ADS_3

Tiba-tiba, teriakan Laura dari kamar Regan memecah keheningan mansion, memancing Iva dan Regan untuk berlari menaiki tangga menuju kamar Regan di lantai atas.


Regan bertanya dengan cemas, "Ada apa? Kenapa Ibumu berteriak? Apa ada sesuatu yang terjadi?"


Vio buru-buru meminta maaf, "Maafin Aku. Aku tidak sengaja."


Regan mencoba mencari tahu, "Memangnya ada apa?"


Vio terus menggosok keningnya yang terasa bodoh untuk dijelaskan, "Aku tidak sengaja membuka pintunya saat ibu sedang mengganti baju."


"Hyaa!! Dasar kakak yang bodoh!! Seharusnya kau mengetuk pintu sebelum masuk." Sentak Iva. Ia mengetok kening kakaknya, membuat Vio meringis kesakitan.


"Ya maaf, saking cemasnya tadi saat dikabari bahwa ibu sakit."


Ceklek!


Tiba-tiba, pintu kamar terbuka, Laura melangkah keluar dengan berjalan tertatih, dan menghadapi kedua lelaki dan satu gadis yang berdiri di depan kamar.


Laura bertanya dengan rasa heran, "Ada apa berkumpul di sini?"


Regan mencoba menjelaskan, "Kenapa kau turun dari ranjang? Bukankah sudah ku katakan, jika kau perlu sesuatu, panggil saja aku. Kakimu masih sakit."


Laura protes dengan serius, "Yang benar saja, aku harus memanggilmu ketika berganti pakaian."


Regan ikut-ikutan protes, "Kenapa tidak? Aku bisa membantumu mengganti pakaian."


Regan mencoba menjelaskan, dan terdengar membuat Iva marah sampai memukul punggungnya.

__ADS_1


"Akh, kenapa Iva memukul ayah?"


Tapi putrinya dengan lantang memprotes, "Sejak kapan ayah memiliki pikiran kotor?!" tanya Iva.


Regan menjawab dengan santainya, "Sejak kalian belum lahir."


Laura juga ikut membantah sampai memukulnya.


"Akh, kenapa kau juga memukulku?"


Laura menyebut Regan, "Kau mesum!! Tidak tahu tempat. Kau berani mengatakan dihadapan anak-anak yang seharusnya mereka tidak dengar."


Sementara Regan mencoba meredakan situasi, "Sebenarnya--"


Namun Laura kembali memotong, "Ayo anak-anak, kita masuk!"


...***...


Waktu berlalu, Laura telah sembuh dan kembali ke rumahnya. Meskipun masih ada ketegangan di antara mereka berdua, saat Laura meninggalkan Mansion Regan, Regan akhirnya cukup dapat menikmati moment bersama sebagai keluarga.


Regan mengantar Laura pulang, dan ketika mereka tiba di rumah, suasana terasa lebih hangat. Anak-anak mereka, Iva dan Vio, sangat senang melihat ibu mereka kembali dengan selamat.


Di Perusahaan Sean tempat Regan sementara memimpin.


Seorang anak perempuan bertanya dengan sopan, "Excuse me, apa Tuan Regan ada di tempat?"


Namun dua orang dewasa laki-laki dan perempuan yang berdiri di depannya tampaknya tidak terlalu sopan. Salah satu dari mereka menjawab, "Ada perlu apa anda dengan Tuan Regan? Apa anda sudah ada janji?"

__ADS_1


Iva mencoba meminta bantuannya, "Kakak cantik, tolong kau teleponkan ke ruangan Tuan Regan, dan katakan, anaknya sudah datang."


Namun Resepsionis pria tampaknya tidak yakin, "Anak?! Yang benar saja?! Tuan Regan bahkan belum menikah, bagaimana mungkin dia memiliki anak sebesar mu. Kau ingin menipu saya, hum?"


Resepsionis wanita memprotes, "Kami saja tidak pernah mendengar Tuan Regan ataupun Tuan Sean menikah. Sebaiknya anak kecil seperti mu segera pergi!!"


"Aku tidak bohong, jadi tolong kakak panggilkan ayahku!" bersikeras Iva.


"Tolong panggilkan keamanan untuk membawa anak ini keluar dari sini! Kau hanya berbohong mengaku sebagai anak Tuan Regan. Atau kau ing--"


Namun pembicaraan terhenti ketika seorang pria paruh baya mendekati mereka. Dia tampaknya adalah salah satu orang yang berwenang untuk keluarga Regan.


"Selamat siang, Tuan Baran. Ada yang bisa saya bantu? Anda mencari Tuan Regan?"


Paman Baran menjawab, "Tidak. Terima kasih."


Kemudian, Iva mencoba menjelaskan, "Tuan, aku ingin bertemu ayah, tapi kakak ini melarang."


Namun Resepsionis itu tidak percaya, "Tapi Tuan, dia berbohong. Dia mengaku anak Tuan Re--"


Paman Baran dengan tegas memotong, "Anak manis ini adalah salah anak kandung Tuan Regan, sebaiknya kalian membiarkan mereka masuk, jika tidak ingin mendapat masalah."


Mereka sangat terkejut. Hanya karena tidak ingin mendapatkan masalah, mereka lebih mencari aman dengan menurut.


"Baik!" jawab resepsionis pria itu dengan menunduk.


Resepsionis wanita yang masih terkejut mencoba mengejar pembicaraan yang baru saja berlangsung, "Ma-maafkan saya, tuan."

__ADS_1


Iva bersama Paman Baran akhirnya pergi menuju ruangan ayahnya, sedangkan Resepsionis wanita yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi hanya bisa memandangi mereka dengan tatapan kosong.


__ADS_2