
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruangan Regan terbuka dengan cepat, mengungkapkan sosok Iva yang tiba di Perusahaan Paman Sean dengan antusias.
"Ayah!" seru Iva dengan semangat saat melangkah masuk ke dalam ruangan.
Regan tersenyum saat melihat putrinya. "Kau sudah sampai? Siapa yang mengantarmu?" tanyanya dengan kekhawatiran.
Iva menjelaskan, "Aku tadi sengaja meminta Bibi Naomi untuk menurunkan ku di Perusahaan Paman Sean. Untung saja dia tahu setelah melihat di internet. Lalu, di lobby, aku bertemu dengan Paman Baran."
Regan menghela nafas lega, "Syukurlah. Lalu, di mana Vio?" tanyanya, penasaran.
Iva menjelaskan lagi, "Sudah ku ajak tadi. Tapi kakak ingin segera pulang, dia hanya mengatakan harus mengerjakan tugas sekolah."
Regan merasa kecewa, tetapi dia mengerti perasaan putranya yang mungkin masih kesulitan menerima situasi ini.
"Baiklah. Kau tunggu di sana, ayah akan menyelesaikan sedikit berkas," kata Regan, menunjuk sofa di ruangan itu.
...***...
Sementara itu, di lantai 27, Mila melihat Laura bergegas menuju lift.
"Nona!! Kau ingin ke mana? Kenapa berlari-lari seperti itu? Apa kakimu sudah sembuh?" tanya Mila dengan khawatir.
Laura menjawab, "Oh, Mila. Aku meninggalkan laporan ku di meja resepsionis."
Mila menawarkan bantuan, "Akan ku ambilkan. Nona kembali saja ke ruangan. Lagipula kakimu juga belum sembuh sepenuhnya. Bagaimana jika Tuan melihatnya?"
__ADS_1
"Tidak, Mila. Aku bisa mengambilnya sendiri. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu," jawab Laura.
Mila tetap khawatir, "Baiklah. Akan ku temani saja. Lagipula setelah ini jam pulang, karena Tuan meminta semua karyawan pulang lebih awal hari ini. Pekerjaanku juga sudah ku selesaikan tadi."
"Kenapa bisa begitu? Padahal masih banyak pekerjaan yang menunggu," tanya Laura.
"Entahlah... Mungkin Tuan Regan sedang merasa bahagia hari ini. Sehingga, dia ingin memberikan bonus waktu luang kepada kita semua," ujar Mila.
Mila dan Laura kemudian masuk ke lift, dan sambil berbincang, mereka menuju meja resepsionis.
...***...
"Kiran! Apa kau melihat laporan ku yang tertinggal di sini?" tanya Laura ketika tiba di depan meja resepsionis.
Kiran, resepsionis di sana, tampak bingung. "Aku tidak melihatnya, Laura. Jangan-jangan... Anak kecil tadi yang mengambilnya."
Kiran mencoba menjelaskan, "Aku tidak tahu siapa anak perempuan itu, karena resepsionis lain yang menghadapinya. Dia mengaku sebagai anak dari Tuan Regan."
"Apa? Anak Tuan Regan?" Laura terkejut.
"Saya akan mencari tahu apa yang terjadi," kata Kiran.
Tapi tiba-tiba Regan muncul dari belakang Laura dan mendengar pembicaraan mereka.
"Kenapa denganku?" tanya Regan dengan dinginnya dan tatapan yang menusuk tulang.
Laura menundukkan kepala hormat, diikuti Kiran dan Mila di sisinya.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Saya mencari laporan yang tertinggal di meja resepsionis. Ketika saya kembali, laporannya sudah tidak ada," jelas Laura untuk melindungi Kiran.
Regan tampak tenang, "Apa laporan dengan sampul biru?"
"Benar, sampul biru. Itu milik saya," jawab Laura.
"Saya sudah membawanya ke ruangan saya," kata Regan dengan sopan.
"Syukurlah jika tidak hilang. Terima kasih, Tuan," kata Laura dengan penuh rasa terima kasih.
Laura kemudian melihat ke arah Iva yang datang bersamanya.
"Ibu, Ayo ikut kami!" ajak Iva, menggandeng tangan ibunya.
"Ingin ke mana??" tanya Laura.
"Iva mengajak kita jalan-jalan. Tidak mungkin juga Iva hanya pergi dengan ayahnya saja, ibunya pasti juga harus ikut," kata Regan dengan penuh keyakinan.
"Ini benar, Ibu ikut juga, ya. Masa tega membiarkan ayah pergi sendiri tanpa pasangan." lanjut Iva, tersenyum pada Laura.
Laura akhirnya setuju, "Baiklah. Ibu akan mengambil tas terlebih dahulu."
"Tidak perlu, sayang. Aku sudah meminta Paman Baran untuk membawakan tas mu kemari," kata Regan.
Dengan jelas, Regan memanggil Laura dengan panggilan sayang di depan Mila dengan tenang menahan senyumannya, berbanding terbalik dengan Kiran yang tampak terkejut sampai melongo dan berpikir keras apa sebenarnya hubungan mereka?
Iva dengan bangganya menggandeng tangan ayah dan ibunya, ingin menunjukkan bahwa mereka adalah keluarga yang sah. Sedangkan Kiran masih terdiam dan tidak mampu berkata-kata, mencoba memproses informasi yang baru saja dia dengar.
__ADS_1