
Kini hanya tinggal berdua dalam kamar, setelah Elwin pergi meninggalkan mereka, memberi waktu untuk keduanya. Laura mendekati ranjang Regan dan duduk dipinggir ranjang. Tangannya bergerak menggenggam punggung tangan Regan dan sebelah tangannya dipergunakan mengusap rambut Regan.
Selama 15 menit, Laura tidak mengucapkan apapun, yang dia lakukan hanyalah menatap wajah Regan yang matanya pun masih terpejam. Genggaman kedua tangannya tidak pernah dia lepas dari tangan lelaki itu.
"Cepatlah bangun dan sembuh. Kau berjanji untuk tetap selalu sehat. Kita sudah bertemu lagi. Meski kita tidak lagi bisa bersama, kau tetap harus menepati janjimu, Regan."
Laura berdiri dari duduknya, dan mencoba melepas genggamannya pada tangan Regan. Tapi naas, tangannya malah tertarik kuat, membuatnya terjatuh menimpa tubuh atas Regan. Tubuhnya menegang terkejut, sebelum Regan membuka matanya.
Regan membuka mata, menatap wajah Laura yang terkejut dengan mata yang melebar dan bibir sedikit terbuka, bahkan mereka bisa merasakan hembusan nafas masing-masing. Regan dapat mendengar degupan kencang jantung Laura, dan tubuh gadisnya yang keringat dingin.
"K-kau sudah bangun?" tanya Laura gugup.
"Hemm..."
"Se-sejak kapan?"
"Sejak kau menggenggam tanganku dan mengelus rambutku."
"Apa? Lepaskan!"
Regan semakin mempererat dekapannya.
"Tidak. Sebelum kau memaafkan ku dan memberi kesempatan."
__ADS_1
"Kau tidak takut jika nanti ada yang masuk kemari?"
"Tidak akan ada yang berani masuk. Ada Elwin di depan."
"Biarkan seperti ini sebentar. Aku sangat merindukanmu."
Regan memposisikan tubuh Laura dengan nyaman, dan kembali mendekapnya erat. Beberapa kali dia ciumi rambut wanitanya, sampai dirinya memejamkan matanya kembali.
Laura?! Entah kenapa tidak menolak perlakuan Regan saat ini, bahkan kepalanya di sandarkan pada dada Regan, tangannya mengusap-usap punggung Regan, agar Regan kembali tidur dengan nyaman.
...***...
"Paman Baran, Kau bisa menggunakan mobil perusahaan, aku akan mengantar Laura pulang terlebih dahulu," kata Regan pada Paman Baran, yang begitu mendengar Tuan Mudanya pingsan langsung menuju perusahaan untuk melihat kondisinya.
"Tidak apa, Nona. Biarkan Tuan Muda Regan mengantarkan anda pulang. Jika tidak, saya yang akan kena dampaknya," ucap Paman Baran sambil sedikit memberi sinyal pada Regan yang membuat mereka saling tersenyum.
"Kau berangkat denganku, jadi kau juga harus pulang denganku. Ayo!" kata Regan sambil memegang tangan Laura.
"Tuan Baran, Saya..."
"Panggil saja Paman! Saya sudah cukup tua untuk dipanggil seperti itu. Saya sudah menganggap Tuan Muda seperti anak saya sendiri."
"Paman Baran, Saya pulang lebih dulu. Terima kasih banyak," kata Laura melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
Regan dan Laura memasuki mobil, dengan Regan yang membukakan pintu khusus untuk Laura.
"Paman, Aku pergi. Tidak perlu sungkan memakai mobil perusahaan," kata Regan saat menduduki jok mobil dan membuka sedikit jendela mobilnya.
"Baik, Tuan. Kalian berhati-hatilah!" Paman Baran memberi pernyataan perpisahan dengan senyuman hangat.
...***...
Di Rumah Laura
"HYA!! Apa kalian tidak bisa jika tidak berisik? Aku sangat mengantuk sekali. Bisakah kalian mengecilkan volume suara kalian!" teriak Naomi memperingati kedua keponakannya yang sedang berdebat.
"Bibi, kami itu lapar. Setidaknya belikan kami sesuatu." ucap Vio.
"Kita makan apa sekarang? Iva sangat lapar. Andaikan saja ibu meminta Bibi Tania saja yang menjaga kita, dia selalu memasakkan makanan yang lezat. Apa aku akan mati kelaparan sekarang?" keluh Iva merengek sambil memegangi perutnya yang terus berbunyi dan melilit lapar.
"Makan game kalian saja. Pasti kenyang! Tinggal pesan delivery, apa sulitnya?"
Ceklek!
Pintu utama rumah tiba-tiba terbuka.
"Ingin mampir?" tanya Laura.
__ADS_1
"Tentu saja. Sekalian bertemu anak-anak." jawab Regan.