Aku Ayahmu

Aku Ayahmu
Part 9


__ADS_3

Kalau besok gak up, berarti kuotaku habis, ya. 🙄


Soalnya cerita baruku membutuhkan riset yang mengeluarkan banyak kuota. 🤣


----


Sesampai di rumah, Dhan langsung mandi sedangkan Kenan kembali pergi untuk membeli makan siang. Selama di perjalanan pulang jalan kaki, ia mendiamkan pria itu yang terus mengoceh tentang masa SMA bersama Odhi.


Satu jam kemudian Kenan kembali dengan beberapa kantong plastik di tangan. Dhan hanya melirik saat dipersilahkan untuk makan. Meskipun lapar ia tak ingin makan di satu meja dengan pria itu.


Dua jam kemudian bundanya pulang dari acara ulang tahun tempat bekerja. Dhan langsung menyuruh Kenan pulang dengan alasan ia tak sendirian lagi di rumah, tetapi hal yang mengejut keluar dari mulut bundanya. Kenan akan tinggal bersama mereka selama beberapa hari.


Setelah makan malam bersama, layaknya keluarga bahagia dengan pria itu yang duduk di kepala meja sedangkan ia dan bundanya mengapit—Dhan langsung masuk kamar lalu menguncinya. Beberapa kali pintu kamar diketuk, tetapi ia tetap bergeming di atas kasur tanpa berpindah satu inci pun.


Dhan melirik ponsel yang bergetar, tangan yang berada di atas perut langsung mengambil benda pipih tersebut. Bukan ponsel seperti milik Kenan, yang terdapat logo apel tergigit di belakang casing-nya, ponsel itu hanya android yang berasal dari negeri Gingseng. Meskipun keluaran terbaru, tetapi harganya sangat berbanding jauh dengan gawai milik Kenan.


Mata langsung melotot melihat nama yang tertera di layar ponsel. Untuk ukuran gadis yang pendiam, Khanza tak pernah meneleponnya lebih dulu. Ia langsung menggesek layar ponsel, kemudian menempelkannya ke telinga.


“Halo, Za.”


“Assalamualaikum.”


Nah, inilah bedanya Khanza dengan gadis-gadis yang lain. Suara lembutnya serta patuhnya pada kewajiban islam, membuat Dhan merasa tak pantas berada di sebelahnya. “Wa alaikumsalam,” sahutnya.


“Dhan, kamu ada di rumah?”


”Iya.” Dhan bangun lalu duduk di tepi ranjang. “Kenapa?”


“Aku ke sana, ya. Pinjam buku sosiologi. Punyaku hilang.”


”Oh.” Dhan menimbang-nimbang, antara mengizinkan Khanza ke rumahnya atau mengatakan ia yang akan bersedia mengantarkan buku tersebut ke rumah perempuan itu. Tapi naik apa, bundanya belum mengizinkan ia mengendarai motor di jalan, meskipun beliau tahu bahwa Dhan sudah mahir dan bisa dipercaya. “Aku tunggu kamu di halte.”


Rumah Dhan memasuki gang yang gelap. Jika pun ada cahaya, itu hanya saat berada di depan rumah akan ditemui pertama setelah melewati gang yang hanya bisa dilewati satu buah mobil sedan.


“Boleh, nih?”


“Ya, iyalah. Apa, sih, yang nggak buat kamu,” celetuknya. Di seberang sana terdengar suara tawa geli yang sangat-sangat lembut, sampai-sampai Dhan merasa berada di awan.


“Oke, aku jalan sekarang. Assalamualaikum.”


“Wa alaikumsalam,” balasnya.


Setelah sambungan terputus, Dhan langsung menuju meja belajar kemudian mencari buku sosiologi yang akan mempertemukannya dengan Khanza. Gadis lemah lembut yang ranking semester kemarin berada di bawahnya. bukankah mereka berdua sangat cocok?


Dhan anak yang paling jenius di jurusan IPS. Bukannya bicara sombong, tetapi semua guru mengatakan hal tersebut padanya. Ia murid teladan kedua setelah Andra, bedanya kakak kelasnya itu tak pernah mencicipi ranking satu.


Baru saja Dhan melangkah menuju ruang tamu, dua orang dewasa yang sedang menonton dengan jarak duduk yang cukup jauh, mencercanya dengan pertanyaan yang berakhir pada tawaran Kenan ingin menemaninya. Dhan merasa seperti anak kecil saat ia ada di rumah ini, hal yang bisa ia lakukan dilakukan oleh pria itu. Untung saja Kenan tak pernah menawarkan untuk memandikannya.


Dhan meninggalkan mereka yang masih saja membujuk untuk menemani. Ia tak mengerti, kenapa bundanya berpihak pada Kenan. Seharusnya wanita itu marah pada Kenan yang telah berkhianat. Jika seperti ini sudah sangat jelas, kehadiran Dhan berasal dari hubungan tanpa status.


Membuang rasa kesal, ia melangkah meninggalkan rumah menuju tepi jalan raya. Kaki membawanya ke halte, tak ada seorang pun di sana. Ia tak tahu kenapa, karena Dhan bukanlah pemakai angkutan umum. Tujuannya keluar rumah hanya ke sekolah. Jika ingin ke mal tinggal jalan kaki saja, jaraknya hanya dekat, bahkan dari tempatnya berdiri saja, bangunan itu terlihat sangat besar.


Sepuluh menit ia duduk sambil melihat kendaraan berlalu-lalang, akhirnya yang ditunggu datang juga. Pintu belakang mobil itu terbuka, Khanza keluar dari sana. Seperti biasa, perempuan itu berhijab. Betapa sempurna gadis yang berdiri di hadapannya ini.


“Ini,” ucapnya sambil menyodorkan pada Khanza buku sosiologi miliknya.


“Makasih, ya, Dhan,” ucap Khan sambil menerima buku itu. “Besok aku balikin."


“Kecepetan. Santai aja kali. Za. Sama aku doang.”


Perempuan itu tersenyum manis. Asal kalian tahu, Khanza memang sering tersenyum, tetapi hanya beberapa orang yang mendapatkan senyum manis itu. Contohnya Dhan. Awal ia mendapatkan senyum tersebut, saat mengalahkan Khanza dipenerimaan raport bulan desember lalu.


Seharusnya Khanza kecewa karena baru kali itu mendapatkan ranking selain angka satu, tetapi perempuan itu malah tersenyum manis sambil mengucapkan selamat pada Dhan.


“Kalau gitu senin aku balikin,” ujarnya yang langsung Dhan hadiahi dengan anggukan. “Oh ya, Dhan. Yang tadi di sekolah itu ayah kamu?”


Biasanya Khanza tidak ingin tahu, itu sebabnya Dhan terheran mendengarkan pertanyaan teman sekelasnya itu. “Hm,” jawab Dhan sambil mengangguk, keheranan masih terpampang jelas di wajahnya.


Khanza mengangguk-angguk. “Aku pernah ketemu dia di hotel tempat abiku kerja, kata abi ayah kamu bosnya.”


Info penting tapi tak membuat Dhan ingin tahu lebih. Namun, wajah Khanza yang seperti ragu menatap Dhan, membuatnya mengerutkan kening. Ke mana Khanza yang tadi? kenapa sikapnya berubah setelah menceritakan tentang Kenan?


“Maaf Dhan,” ujar perempuan itu, terlihat ragu. “Sepertinya kamu nggak tahu. Aku ngasih tahu kamu, biar nggak tersakiti.”


“Ada apa?” tanya Dhan penasaran.


Khanza terlihat tak berani menatapnya, perempuan itu menghela napas kemudian kembali berbicara, “Waktu itu Ayah kamu lagi sama wanita. Aku pernah lihat bunda kamu, cuma sekali, sih. Tapi aku yakin itu bukan bunda kamu.”


Dorongan tak kasat mata memundurkan Dhan dari niat untuk lebih dekat dengan perempuan itu. Rasa sesak serta kesal menjalar seutuhnya, ke dalam dada. ia semakin membenci pria yang dengan seenaknya menampakkan wajah di depan Khanza bersama wanita lain yang ia yakin itu adalah  Viona.

__ADS_1


“Iya, aku sudah tahu.” Dhan menelan ludah susah payah. “Dia calon istri pria itu”


🎉🎉🎉


"Nad, ada yang mau aku omongin ke kamu," kata Kenan mengikuti langkah wanita itu ke dapur.


Dhan sudah menghilang di balik pintu utama rumah. Tadi ia menawarkan untuk menemani anaknya, tetapi langsung ditolak. Kata Nada mungkin saja ada seorang teman yang akan Dhan temui di halte.



"Apa?" tanya Nada yang kini sedang menuangkan air di gelas.



Kenan menarik kursi makan dan duduk di sana. "Yang kemarin itu siapa?"



Nada melirik sekilas, sebelum menjawab pertanyaannya, "Iki?"



Wanita itu malah balik bertanya, jujur ia pun tak tahu siapa nama pria itu. kemarin adalah hari yang berat baginya untuk menyadari keadaan sekitar, selain sadar pada kenyataan bahwa ia ditolak oleh putranya.



"Mungkin," sahut Kenan.



"Teman," jawab Nada singkat.



Kenan menautkan kening mendengarkan jawaban wanita itu. "Calon suami?" tanyanya, detik kemudian Nada yang sedang minum langsung terbatuk. "Pelan\-pelan." Ia hendak berdiri untuk membantu wanita itu, tetapi tangan Nada langsung mengisyaratkan untuknya diam di tempat.



Wanita itu masih terbatuk, menepuk pelan dada. Setelah terlihat tenang, Nada menatapnya. "Bentar lagi Dhan pulang, aku mau nungguin dia di ruang tamu."




Mungkin memang mereka masih dalam status suami istri, tetapi untuk urusan pribadi tidak saling mencampuri. Maksud Kenan adalah, Nada tak memusingkan hubungannya dengan Viona, maka ia pun tidak berhak untuk ikut campur dengan kisah asmara wanita itu.



"Aku harap dia pria yang baik," katanya, sembari mengikuti langkah Nada.



Nada tak menanggapi.



Mereka duduk di ruang tamu, menunggu kedatangan Dhan dalam keterdiaman. Kemarin Kenan bilang akan memperbaiki semuanya, termasuk cara bicara kepada Nada. Sebisa mungkin ia membiasakan untuk menggunakan aku\-kamu dalam percakapan mereka.



"Kamu yakin, Dhan nggak nginep di rumah temannya?" tanya Kenan, ia khawatir lelaki itu lari dari rumah.



Nada mengangguk. "Dhan nggak bisa bohong. Kalaupun mau bohong, dia pasti diam."



Kenan percaya pada ucapan Nada, wanita yang sangat mengenal putranya. Maksudnya, putra mereka.



Dhan masuk ke dalam rumah dengan ekspresi marah. Lelaki itu menatap tajam ke arah Kenan yang langsung berdiri saat mendapati anaknya telah kembali setelah hampir setengah jam keluar dari rumah.



"Om kalau cuma mau bikin saya malu, bilang!"


__ADS_1


"Dhan," tegur Nada yang tak membuat Dhan menghilangkan ekspresi marah.



"Bilang ke orang ini, jangan pernah ke sekolahku lagi!" ketus lelaki remaja itu kemudian berlalu ke kamar dengan membanting pintu.



"Maafin dia," ucap Nada pada Kenan yang masih menatap tangga.



"Nggak, aku yang salah," selanya kemudian duduk di sofa yang tadi diduduki. "aku yang salah, gangguin hidup dia."



Nada menggeleng meskipun Kenan tak melihatnya, tetapi ia tahu bahwa wanita itu tidak mengindahkan ucapannya tadi.



"Aku ingin istirahat," ucap Nada setelah itu berdiri meninggalkan Kenan yang masih termenung di ruang tamu.



Di rumah ini hanya ada tiga kamar. Nada dan Kenan telah mendiskusikannya kemarin, ia akan menempati kamar Nada sedangkan wanita itu akan tidur di kamar kecil untuk asisten rumah tangga yang sudah tak bekerja lagi. Wanita itu mengalah, karena tahu Kenan tak akan mampu jika tidur tanpa pendingin ruangan.



Kenan biarkan wanita itu pergi ke kamar, meninggalkannya yang juga tertekan karena masalah ini. Duduk termenung sendirian di ruang tamu, ia pikir ini akan mudah jika mereka kembali berdiskusi akan dibawa ke mana masalah ini.



Nada susah untuk diajak bicara, meskipun wanita itu berada di pihaknya. Namun, malam ini ia akan memaksa Nada untuk membicarakan bersama.



Langkah pasti menuju kamar yang ditempati Nada, punggung tangan mengetuk ringan.



"Nad, kita perlu bahas ini," ucap Kenan.



Pintu langsung tebuka, manik mata Kenan langsung disambut dengan wajah sembap Nada. Wanita itu membuka lebar pintu kamar, mempersilakan ia untuk masuk.



"Sebelum ayahku nyuruh aku balik ke Jakarta, aku bakal tetap di sini." Ia menghela napas kemudian membuang pandangan ke lemari kecil yang berada di sudut ruangan. "Itu cuma tinggal beberapa hari, dia tahu aku sudah lima hari nggak datang ke kantor."



Kenan menarik napas sebelum mengucapkan tujuannya. "Aku tidur di sini," imbuhnya sambil berdiri mengambil satu bantal di atas ranjang kemudian menaruhnya di atas karpet.



"Entar badan kamu pegel," cegah Nada saat ia hendak berbaring. "Jangan terlalu memaksakan diri."



Mungkin ini terlalu berbahaya, tetapi ia akan memastikan tak akan terjadi apapun di antara mereka selama malam menjelang.



"Ken," panggil Nada.



Ia menghela napas berat, mata menerawang ke arah dinding, memilih untuk memunggungi Nada. "Kamu punya ide, Nad?"



Tak ada jawaban.



"Aku mau dengar pendapatmu," tambahnya.


__ADS_1


"Aku juga nggak tahu harus apa," ungkap Nada yang ia sambut dengan memejamkan mata, pasrah pada hari esok.


__ADS_2