
Sudah dua hari Vio dipindahkan ke kamar rawat, dan semenjak semalam pula Vio demam tinggi.
"Bagaimana demamnya anak saya?" tanya Laura pada perawat.
Perawat menjawab, "Demamnya masih tinggi, Nyonya. Sepertinya sedari tadi putra nyonya memanggil ayahnya terus, mungkin jika ayahnya di sini keadaan putra nyonya bisa sedikit tenang."
Laura terdiam mendengar ucapan perawat itu.
Pintu kamar terbuka, dan masuklah pria berjas rapi dengan keranjang buah di tangannya.
"Saya ayahnya. Apa demamnya masih belum turun?" tanya Regan, saat masuk ke kamar rawat itu.
"Belum, Tuan. Saya sudah memberikannya obat. Sedari tadi putra Tuan memanggil Tuan terus." ujar Perawat itu.
"Baiklah. Terima kasih."
Perawat itu pamit setelah mengisi ulang infus yang habis. Menyisakan Laura dan Regan yang bersitegang dalam keheningan.
"Apa Iva pulang?" tanya Regan.
"Ya. Dia pulang dengan ayahnya. Dia harus sekolah." jawab Laura dingin.
Hening keduanya saling diam. Dan hanya menatap putranya yang terbaring lemas di ranjang. Hingga racauan gelisah dari Vio membuyarkan lamunan keduanya.
"Ibu..." suara serak dan lemahnya.
"Iya, Sayang... Ini ibu. Kau perlu sesuatu? Perlu ibu panggilkan dokter?"
"Ayah..." lirihnya lagi.
__ADS_1
"Ayah di sini, nak. Apa ada yang sakit?"
Regan mengusap kepala Vio lembut, sedangkan Laura menggenggam tangan putranya. Mata Vano masih terpejam, karena sepertinya dia mengigau.
"Ayah Vano... Jangan pergi! Jangan tinggalkan Vio! Tetaplah di sini bersama ku, aku tidak memiliki Ayah lain selain dirimu."
Regan tertegun saat mendengar putranya ternyata bukan memanggil dia, ayah yang dimaksud itu. Perasaanya hancur satu dari anaknya rupanya tidak menginginkan sosok ayah kandungnya.
"Ayah... tidak akan pergi ke mana-mana. Dan ayah tidak akan meninggalkan Vio. Buka matamu, ayah di sini selalu."
Laura menatap Regan penuh arti, lalu menatap putranya yang masih meracau dengan mata terpejam. Dan tanpa mereka berdua sadari, sedari tadi seorang pria berdiri di samping pintu yang baru saja dibukanya, hanya diam dengan menatap ketiganya.
Vano mengesampingkan egonya, dan berakhir melanjutkan langkahnya mendekati ranjang Vio. Menyapa Regan dan tersenyum pada Laura.
"Bagaimana kondisi Vio?" tanya Vano.
"Dia baru saja memanggilmu. Demamnya masih belum turun. Dan sedari tadi dia tidur sambil mengigau. Aku khawatir dengan kondisinya." jawab Laura.
Lalu, berkata kembali. "Laura, bisa kita bicara sebentar?" tanya Vano.
"Hemm... Kita bicara di luar saja." Laura bergegas hendak pergi. "Aku... Keluar sebentar, dan akan segera kembali. Tolong jaga Vio sebentar!" ucap Laura pada Regan.
Regan tidak menjawab. Matanya menatap kepergian kedua orang itu.
Vano dan Laura berjalan bersama-sama ke taman rumah sakit, mencari tempat yang lebih tenang untuk berbicara. Keduanya merasa bahwa ada banyak hal yang perlu mereka diskusikan, terutama setelah kejadian yang baru saja terjadi.
Mereka menemukan sebuah bangku di bawah pohon yang rindang, tempat yang sempurna untuk berbicara. Laura masih penuh kekhawatiran tentang kesehatan Vio, sementara Vano mencoba untuk menemukan kata-kata yang tepat untuk mengatasi situasi ini.
"Vano, ini benar-benar membuatku khawatir," kata Laura dengan suara gemetar. "Aku tidak pernah melihat Vio sedemikian lemah seperti ini sebelumnya."
__ADS_1
Vano mengangguk setuju, mencoba memberikan dukungan pada Laura. "Aku juga sangat khawatir, Laura. Tetapi Vio adalah anak yang kuat. Aku yakin dia akan melewati ini dengan baik."
Laura menatap Vano dengan ekspresi yang penuh pertanyaan. "Vano, kenapa kau tiba-tiba datang ke rumah sakit? Apa yang terjadi?"
Vano merenung sejenak sebelum menjawab. "Kak Tania memberi tahu ku bahwa kau berada di rumah sakit bersama Regan. Aku tidak bisa hanya duduk diam saat Vio dalam kondisi seperti ini. Kita harus bersatu sebagai keluarga dalam situasi-situasi seperti ini."
Laura merasa tersentuh oleh kehadiran Vano. Meskipun mereka memiliki sejarah yang rumit, dalam keadaan genting seperti ini, insting orang tua dan cinta untuk anak-anak mereka mengambil alih. "Terima kasih, Vano, kau telah datang. Ini berarti banyak untukku."
Vano tersenyum lembut. "Kita harus saling mendukung, Laura. Apapun yang terjadi, Vio adalah anak kita, dan kita harus bersama-sama untuknya."
Mereka melanjutkan percakapan mereka tentang Vio dan perasaan mereka sebagai orang tua. Walaupun masalah antara mereka masih ada, mereka berdua menyadari bahwa saat ini yang paling penting adalah kesehatan dan kebahagiaan anak-anak mereka. Semoga kejadian ini menjadi titik awal untuk memulihkan hubungan keluarga mereka.
"Lalu, kau sendiri ingin bicara apa padaku?" tanya Laura.
"Laura, aku tidak akan berbasa-basi sekarang! Kau tahu jika aku mencintaimu sejak dulu, aku selalu menunggu sampai kau benar-benar bisa menerimaku, dan aku akan lakukan apapun demi kebahagiaanmu dan anak-anak. Tapi sekarang, aku sudah tahu alasan kenapa kau tidak bisa menerimaku. Aku tahu mungkin luka yang dia gores di hatimu tidak akan pernah hilang, tapi coba kau buang jauh-jauh egomu, karena di dasar hatimu yang paling dalam, kau masih mencintainya, dan anak-anak juga membutuhkan kehadiran ayahnya."
"Dan Aku tidak pernah lelah mengingatkanmu. Bagaimanapun laki-laki itu, sejahat apapun dia, dia tetap ayah kandung si kembar. Aku yakin dia sangat menyesali perbuatannya dulu, dan dia berhak mendapatkan kesempatan lagi untuk mempertanggung jawabkan semuanya. Tolong, kau beri dia kesempatan, sekaligus membuka hatimu kembali untuknya."
"Turuti apa kata hatimu. Sadarilah bahwa kau masih menginginkannya sebagai ayah dari anak-anakmu. Jangan khawatir, aku akan tetap menyayangimu dan anak-anak. Mungkin kau memang bukan jodohku." ucap Vano panjang lebar.
Entah sudah dari sejak kapan, Laura sudah menangis mendengar ucapan pria di depannya. Bahkan genggaman tangan si pria semakin erat menggenggam tangan mungilnya.
"Lusa... Aku akan kembali ke Kanada."
Laura sungguh terkejut. Laura yang sedang duduk dengan menunduk, lalu mengangkat kepalanya menatap Vano yang berdiri di hadapannya.
"Kau akan pergi? Apakah tadi adalah firasat yang dialami Vio? Kau tidak dengar apa permintaan Vio padamu? Dia menyuruhmu untuk tetap bersamanya, karena kau adalah ayahnya! Dan kau malah tega untuk meninggalkannya. Apa selama ini tidak ada satupun pria yang tulus menerima anakku?" ucap Laura dengan nada sedikit membentak.
"Menurutku, kehadiranku di sini akan semakin membuat jarak lebih jauh antara Vio dan ayah kandungnya!" getir Vano. Ia merasakan sesak di dadanya.
__ADS_1
Bukan tidak ingin dia di sini bersama anaknya, tetapi alam pun tahu bahwa dia bukanlah siapa-siapa bagi mereka. Dia bukan pria yang membuat kedua anak itu hadir di dunia ini. Jadi, dia harus tega meskipun sakit yang dirasakan, dan kini harus rela melepaskan. Sudah sejak dari kecil merawat mereka dengan tulus, itu cukup baginya. Dia puas sudah berperan baik agar kedua anak tidak berdosa itu tidak kehilangan sosok ayah.