Aku Bukan Lesbian

Aku Bukan Lesbian
Episode 01


__ADS_3

HALLO SEMUA NYA TOLONG DONG BANTU LIKE DAN RATE 5 BINTANG,, TINGGALKAN JUGA BUNGGA MAWAR SEBAGAI HADIAH,, TAK LUPA DI YEKAN YA TOMBOL FAVORIT NYA,, BIAR AUTHOR SEMANGAT BIKIN NYA😙❤️


--------------------------


AYAHKU sugitisna orang Jawa barat,TNI berpangkat tegas disiplin dan berkarisma,ibuku asli orang Palembang anak ustadzah lembut pengertian dan wanita hebat bagiku.


Ibuku menggandungku di desa di samping komplek perumahan Pertamina, tempat orang-orang berduit, ayah bisa kok tinggal di perumahan TNI di dekat lapangan udara talang bertutu, namun kata ayah dia mau punya anak banyak, jadi perlu lapangan luas dan rumah besar, karena ayah dan ibu masing-masing hanya anak tunggal, jadi mereka tak ada saudara dekat.


Oe ... Oee ...


Lahirlah aku di jam 5 subuh, hari Senin tanggal 29 February 1970 sebelumnya nenek dan kakek Oma dan opa semuanya kumpul untuk melihat kelahiranku, maklum cucu pertama dan dari orang ninggrat pula ha ... ha ... ha ...


Ayahku gembira sekali, semua pun gembira dirumah itu, namun tiba-tiba teng-teng-teng, tabliat biji mata ayahku melihat kelahiran bayinya, ayahku teriak histeris membangun kan satu desa tempat dia tinggal.


“Tidakk!! dia perempuan, mengapa perempuan? dia perempuan?," seru ayahku.


“Lah iyalah, masak laki-laki," gumamku sambil teriak oee ... oee ...


semua gembira, Oma opa, kakek nenek, bersama tukang kebun pak Kasim dan istrinya tersenyum, senang melihatku, syukurlah belum lagi bidan tertawa dan berkata.


“Selamat-selamat, dah lahir bayi nya," teriak bidan.


“Wah lucunya, body nya macam bayi laki-laki, rambutnya lebat dan sudah pandai main sepak bola," kata perawat itu.


“Whatt?! emang nya aku lahir langsung jadi Maradona enggak kali," ini tanggisanku makin kuat.


kemudia ibu memandangku dengan takjub dan bersyukur melihatku hasil kerja keras ayahku malam-malam ayah datangin ibuku untuk main-main orang dewasa.


langsung ayahku jalan sana, jalan sini, aku yang bayi ajah pening lihat ayah, apalagi keluarga yang di kamar, tau semuanya kepo, macam tempat argen tunggal, saling ngobrol sana sini, ayahku memandangi aku dengan takjub sekaligus marah, keluartuh api nya lewat tetelinga dan mata besarnya, berpikir-pikir nanti botak kepala ayah.


“Ini harus kawin lagi nih, untuk dapat anak laki-laki," kata ayahku geram dan tertawa senang, langsung semua berkata.


“Apa! ga salah ngomong?," macam monyet mereka melompong kalau ada lalat itu masuk semua ke mulut mereka, termasuk aku yang terpelongo lihat ayah ngomong, batinku berkata.


“Bangsat nih ayah, mau ku sunat lagi ternyata," itu kalau aku uda besar dan nantang dia, teriakku dengan bahasa bayi oee ... oee ... oeee

__ADS_1


Ibu menangis pilu semua ribut, kakek siap-siap kedapur ambil parang panjang, dikejar nya ayahku.


“Sial kau, kau mau poligami anakku ya! sini! kupotong anu mu!" teriak kakek ku lagi.


“Oh iya aku lupa, kakekku kan pesiunan polisi bagian Intel lah, gawat jadi rame deh rumah besarku," batinku.


“Uda-uda besan, jangan marah dulu," kata oppa khawatir lihat anaknya di kejar pakai parang oleh mertua.


“Iya-iyaa damai-damai, anakku memang salah ngomong nya, minta maaf besan," Oma ku menenangkan kakek dan semua yang ada disitu.


“Syukurlah," kata ibuku.


“Loh aku gimana? masih telanjang nih," Oe ... oee ...


semua terkejut dan sibuk lagi ngurusin aku.


“Dah gini aja, kita tunggu anak seterusnya lahir, kan kamu mau anak banyak," bisik nenek menghibur ayahku.


ayahku berlutut di depan nenek dan kakek.


Dan semuanya terdiam hening ... hening ... macam di kuburan masal, sampai desiran angin pun bisa di dengar.


dasar perawat sinting, lepas di mandinya aku, lihat apa yang di pakaikan nya di badanku, mentang-mentang badanku beratnya 4 kg, jadi baju anak laki-laki satu tahun buat dah, tak tau dapat dari mana, itu baju.


“Taraaa ... ganteng kan bayinya kan, segak lagi, macam ayah nya," bilang perawat sinting itu memecahkan masalah ayahku yang merenggut dari tadi.


Apa lagi ini cerita, semua terpelongo dah.


“Ya Allah!" kata nenek ku terkejut.


“Apa kamu buat pada cucuku!" seru nenek, Oma langsung pingsang di tempat opa dan kakek melompong benggong.


pak Kasim dan istrinya buk Ani terdiam tapi lihat, sepupu ayah dan ibu 5 orang paman itu, terpingkal pingkal tertawa sampai keluar air matanya, ada sampai beser, dan terguling-guling di lantai, melihat kelakuan perawat sinting itu kepadaku, aku senyum ke ayahku melihat betapa ganteng nya aku hahaha ....


tiba-tiba ada suara petir di siang bolong, matilah tersambar semua orang disini.

__ADS_1


“Diam, ku tempak kalian kalau tertawa lagi meletek anakku, dan kau perawat hebat, ini anak laki-lakiku," kata ayah bangga menggendong ku.


Alamak Gil nih ayah, lompat-lompat dia melihat anak perempuan nya di dandani laki-laki senang, ibuku terkejut.


“Apa ini," teriak ibu,


“dunia sudah kiamat!! tolong saya tolong saya"


ya ibu jangan pingsan kan ini hanya tragedi aduhai hari kelahiran yang aneh, oee ... oeee ... mau minum susu dari tadi lihat aksi kalian terus, capek deh.


keluarga sibuk mau marhaban nih, termasuk ayahku yang paling sibuk sekali, cerita punya anak dan tingkah laku bayi nya, ibu pun tak habis-habisnya sumbringan lihat bertua dan orang tua selalu gembira memainkan aku.


“Eii aku bukan bonek-bonek, tolong jangan cubit pipiku dan gendong aku terus, aku mau bobok nih," kataku.


“Ibu, kita potong dua kambing nih mau marhaban, untuk anakku yang ganteng," kata ayah.


“Ayah jangan mumbazir satu aja kambing, banyak tuh ayam, potong aja beberapa potong, belum lagi tetangga yang kasih bantuan, Bawak ayamlah, beras, kelapa, sayur-sayuran, tau lah kegunaan untuk perayaan nyambut bayi kita," jawab ibu lembut.


“Iyaa buk, tapi ini perayaan besar, malu lah ayah kalau pelit-pelit," ayah menjawab.


“Iya saya tau Yah, ayah kan masih gembira lihat bayi kita, masak satu kampung mau di undang semua, terpaksa pakai tenda nih, jadi ini bukan acara marhaban tapi acara nikah," ucap ibuku.


mondar mandir ayahku yang ganteng berpikir ih ayah jadi aku sayang samamu.


“Aha!" ayah berteriak keras macam latihan pemimpin upacara di lapangan tentara, semua terkejut, buk Ani, pembantu yang angkat gelas ke dapur pun sampai lompat, habis tuh gelas yang pecah kerna suara ayah yang teriak, aku pun tambah lagi terkejut, langsung deh gigi susu ibuku,


“Au ..." kata ibu bilang ke ayah.


“Yah, bayi mu vampir, terkejut dengan suaramu itu, pekak loh ya," meringgis ibu menahan sakit.


“Hahaha ... ini baru anakku, tak mau di tindas dengan suara keras dan unjuk gigi, ya kan anakku ganteng," kata ayah


“Ayah mau panggil satu batalion ayah, biar pesta besar-besaran, toh ini anak pertama dan ayah pulak naik panggat menyelesaikan misi tentara,"


ibuku terkejut.

__ADS_1


__ADS_2