
.HALLO SEMUA NYA TOLONG DONG BANTU LIKE DAN RATE 5 BINTANG,, TINGGALKAN JUGA BUNGGA MAWAR SEBAGAI HADIAH,, TAK LUPA DI YEKAN YA TOMBOL FAVORIT NYA,, BIAR AUTHOR SEMANGAT BIKIN NYA😙❤️
--------------------------
OOO ... mereka ngelihat aku yang cenggegesan dan langsung marah.
“Kau!, Aa sini, penggotor kau, tak setia kawan bukan nya kasih makan malah kau kasih yang beginian," teriak Ilham marah.
“Ayo kita habisi Aa, serbu!!," teriak kawaku.
Oyy copot aku, langsung berenang ke tepi cepat ambil baju dan celana serta topi, lalu pakai sepeda ngebut ke rumah, tak boleh jadi nih, harus rayu dengan makanan manis, cepat-cepat aku buka pintu pagar halaman, bukan pintu teras, pintu rumah dan berlari memanggil buk Ana.
“Buk Ana!!" pekikku.
“Ada kue gak?," tanyaku.
“Ada Aa, buk Ana baru buat kue lapis dan pisang goreng, ngapa ya Aa??," tanya buk Ana.
“Oyy Aa keluar kamu, badan kami jadi kotor, jadi bau tai tau!" teriak mereka dari luar rumah.
Hehehe ... aku keluar dan senyum-senyum.
“Maaf, aku uda ga tahan tadi, perutku benar-benar sakit sekali, binggung mau buang di mana? ya jadinya terpaksa buang di air lagian itu di makan Ikan juga," kataku manis.
“Apaa!, bukan ikan yang makan tau, kami, sialan betul kamu," sahut Rahmad.
“Iya-iya aku minta maaf, yuk kita mandi bareng di belakang," kataku sambil berjalan mendekati mereka dan meminta maaf, aku raih satu-satu tangaj kawanku, sambil mengiring mereka ke sumur belakang rumah untuk mandi bareng.
__ADS_1
“Buk Ana, siapain kue dan tolong pak Kasim ambilkan kelapa mudah 5 aja, mau makan rame-rame nih," kataku kepada buk Ana dan pak Kasim sambil tersenyum manis.
“Yuk kita mandi," kataku sambil berlari ambil sampo dan sabun yang terletak di kamar mandi itu, yang biasa nya juga kami anak-anak ayah suka mandi di dekat sumur.
Semua mandi lagi sambil tawa yang menghiasi suasana, saling siram, saling menggoda dan siap-siap mereka naik.
Aku ambilkan handuk yang barusan di kasih buk Ana tadi, dan selesai berpakaian, mereka kusuruh ke teras, untuk duduk santay di bawah pohon jambu dan menikmati beberapa kue dan di hiasi air kelapa muda yang sangat segar.
“Aa, boleh ga manjat nih?!, bintak jambu air nya," kata Iwan sambil melihat ke pohon jambu air dan tersenyum manis.
“Boleh, hati-hati, aku tidak tanggung jawab kalau kamu nanti jatuh ya," sahutku melihat Iwan yang mau menaikki pohon jambu itu.
“Aku ikut Wan," teriak Ilham yang langsung berdiri.
“Jangan, biar Iwan aja yang naik ke pohon nya, kita makan kue dan meminum saja dengan santay nya, capek nih ngejar Aa cepat juga kau lari, kalah kami, rasa nya mauku tumbuk kau," kata Rahmad sambil menatap tajam ke arahku.
“Apa?!, kau jadi bini Rahmad?, aduh Rahmad mati nanti kau di buatnya, badan kau yang gendut ini nanti jadi kurus sekali seperti Elo," sahut Harun.
“Lah kok aku di sangkut pautkan, toh kurus-kurus gini kuat nih aku," kata Elo sambil menggempal tangganya.
“Kuat apanya, di suruh lari aja malah tumbang duluan, apanya coba yang kuat hahaha ... kuat lagi Aa," kata Ilham sambil menepuk pundak ku.
“Oyy ... jangan lah saling ledek, aku lempar kalian pakai jambu ini, baru tau rasa kalian," kata Iwan yang berada di atas pohon.
“Siapa yang saling ejak, kita kan teman gurau, canda kan say," kataku ke Elo sambil tersenyum.
“Iyaa, ayo makan pisang gorengnya, masih anget nih, enak," Harun ambil dan makan dengan lahap.
__ADS_1
“Air kelapa nya pun segar, mantap deh minum nya," ucap Harun.
“Eh ... tolong ambilkan sendok, aku mau kerok kelapa nya, kau mau kan Aa?" tanya Rahmad.
“Ya iyalah aku mau dong ga mungkin nolak, rugi kalau tak makan," kataku sambil ambil gelas yang uda di taruh kelapa di dalamnya oleh Rahmad dan di berikan kepadaku.
“Aku teguk airnya, sambil mengunyah kelapa nya yang sangat enak sekali tau,"
“Ciee ciee perhatian kau Rahmad, mau kau sama Aa, dia itu bukan cewek sejati nanti buat masalah tau," ujar Ilham sambil memakan jambu.
“Udah lah kita kan masih kecil, baru juga 12 tahun, belum waktu nya cinta-cintaan tau," sahutku sambil tersenyum manis ke mereka, dan kami pun makan bersama, hari pun semakin senja dan gelap, teman-temanku pun berpamitan untuk sholat magrib bersama.
Memang indah ada persahabatan yang hanggat bersama mereka, malam pun datang, selesai sholat magrib makan bersama dengan suasana ceria, lalu siap ke ruang keluarga cerita dan menonton Telivisi.
“Pak gimana nih, namun sifat ceweknya itu tak ada sama sekali, tingkah nya pun keterlaluan sekali, laki-laki pun tidak punya sifat macam dia juga, tadi ada ibu-ibu datang ke sini tidak terima kalau anak nya di pukul Aa," kata ibuku sambil melihatku yang asyik bergurau dengan adik-adikku.
“Menggapa ibu itu datang, apa salah Aa, sini Aa jelasin ke ayah jangan bohong, ayah kan selalu berkata ke anak ayah jujur lah walaupuan itu menyakitkan," kata ayahku tegas, aku pun langsung berangkat ke arah ayah dan meletakkan air minumku di sudut meja, menggeser kan adikku Dian yang dari tadi main dukung-mendukung.
“Iya ayah aku datang," jawabku sambil menceritakan nya.
“Biasa tadi siang kami main petak lele, mereka ikut mau main, boleh saja kami juga bertanding ulang, kerena mereka curang sih Arun ga terima, dan saling dorong lah, eh sih Amir malah nonjok Aa duluan, Aa balas lah nonjok, sayang lah uda tau karate kok ga Aa balas rugi dong," jelasku.
“Oh itu sih Amir babak belur lah kau karatekan ya Aa?, siapa lagi lawan Aa?, apa Aa kalah kah dalam berkelahi itu," kata ayah sambil menatap tajam ke arahku.
“Enggak lah, menang dong, mana mungkin Aa yang kuat ini kalah, kan kata ayah sendiri jangan nangis kalau berantem, nanti kalau sudah selesai baru kita tau sakit nya itu dimana," aku berbicara dengan percaya diri dan sombong.
“Hebat anak ayah, ini baru anak pewira saya, tapi ingat biarlah orang jual Aa beli, dan jangan jadi orang jahat, harus bersikap baik biar banyak kawan dan di takuti lawan," ayah tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
“Ayah nih gimana sih, orang suruh kasih nasehat biar jadi perempuan kemayu ini malah di puji-puji jadi lelaki sejati, capek deh ibu," ibu menepuk jidat tanda binggung melihat siifat ayah.