
“Apa Aa tak salah Liza, dan adikmu yang lain memanggil kamu? yang benar Kurnia, kok jadi gini," Oma ngelus dadah karena terkejut.
“Udah buk, biarkan aja dulu, kita istirahat aja dulu santay, kan ibu capek baru datang dari Bandung dengan pula cucu nya begini, iya Buk iya," kata ibu membawa omaku ke kamarku yang uda di ubah jadi kamar orang tua.
Kamarku tak ada lagi poster penyayi ataupun poster aksi pahlawan, mau pun anime Jepang hentai yang ganas-ganas, tak ada benda-benda cowok di kamar, semua nya udah di buang dan berganti dengan nuansa sejuk casual, paman dan ayah beserta cowok cantik yang aku kenal itu bernama Dadang tidur di ruang tamu, ibu dan bibi sama anaknya tidur di kamar ibu, kami masing-masing tidur di kamar kami, pagi pun datang kami subuh pun dah banggun, macam biasa hari ini, dua Minggu libur kenaikan kelas jadi tida sekolah kami isi liburan dengan bermain dan bekerja membantu buk Ana dan Pak Kasim, saat aku lagi santay di belakang sama pak Kasim memberi makan ayah pakai jagung dan ubi yang di tumbuk kan, datang lah sih cowok cantik yang mirip perempuan, dia datang hanya melihat-lihat dan merasa jijik melihat banyak kali kotoran di kandang.
“Pikirku ih anak ini takut kotor nampak nya," pikirku.
“Kamu buat apa sih, kotor itu tau, di aduk-aduk lagi pakai tanggan," kata nya menggidik melihat aku lagi congkok melemparkan makanan ke ayam-ayam itu.
“Ini makanan untuk ayam, mau di coba ga pegang nya?" kataku sambil menggoda dia.
“Ga ah jorok dan kotor banget," kata nya menjauh.
“Aduh gemulainya dia, aku terpesona deh," gumamku.
“Nih cowok mau aku jahili dia, aku buat Betek melihat nya di depanku,"gumamku.
Aduh ... kataku purak-pura berdiri dah terjatuh di depan nya melemparkan sedikit makanan ayam ke dia.
__ADS_1
“Auuu apaan ini, hati-hati dong kalau kerja gimana sih kau ini, mami lihat nih lihat cepat, bauk nih bauk banget, badanku baukk mami," teriak nyaberlari menuju ke depan menghampiri bibi.
“Hahaha rasain loh, dasar anak manja gitu aja malu," gumamku pada Dadang yang udah pergi ke teras. ini harus di kerjain anak manja ini dan yang baru tau kampung, mentang-mentang anak direktur? mau aku manjain i'm sore coy padahal ayah dan ibuku termasuk juga anak orang berduit tunggal lagi jadi tidak pernah berbagi warisan dengan yang lain apa lagi warisan opa dan Oma banyak banget.
Tapi nyatanya orang tuaku lebih suka hidup di desa dan sederhana saja, punya anak banyak, halaman luas di depan dan di belakang rumah itu ke inginan mereka.
Dan selesai kasih makan ayah, cari rumput untuk kambing makan juga tangkap ikan lele di kolam besar-besaran ikan nya dan ambil daun kewangi dan terong unggu untuk lalapan, petik cabe besar dan kecil untuk sambal nya jangan lupa tomat dan timun itu semua tanaman pak Kasim untuk keluargaku, kebun belakang memang sangat luas adalah 100M persegi dan ayah mula dari pak Kasim ikut ayah udah ayah belikan rumah di samping rumah kami.
Biar pak Kasim dan buk ana betah dengan kami beserta anak-anaknya, kami di ajarin ayah dan ibu harus saling membantu pak Kasim dan buk ana, anaknya juga suka membantu kerja orang tua dan ayahku yang jamin sekolah anak nya pak Kasim agar sama seperti kami.
Buk Ana dan ibu di bantu bibi juga Oma di dapur, Liza dan Mekar siapkan tikar besar di ruang keluarga dan juga peralatan makan dengan semua piring gelas sendok, Lap tanggan, air cucian, kendi air minum semua nya sudah tersusun rapih tinggal Oma ibubdaj buk Ana yang Bawak makan nya kesini.
Ini pecel leleh nya ada tujuh piring kalapan nya, sambil nya juga sayur lode nya pun juga semua berjumlah tujuh kali tujuh pencuci mulut nya adalah pisang Ambon dan pisang raja semua nya dah siap.
“Iya buk, apa boleh panggil Liza dan Mekar untuk mengangkatnya buk?" ujar buk Ana.
“Iya panggil aja, Oma silahkan duduk disana jangan angkat-angkat takut nya nanti Oma jatuh," pindah ibu sama mertua nya dengan santun.
“Iya, Oma udah siap kok mau cuci tangan dulu, mencuci tangan dan kaki nya dan keluar pergi ke teras memanggil Opa, ayahku dan paman untuk makan bersama.
__ADS_1
“Ayo udah siap semua mari makan kita," kata Oma kepada mereka semua dan mereka pun berdiri dan mengikuti langkah Oma, ayah menggendong Dian yang dari tadi duduk di pangkuan nya itu, di ikuti jaka dan Dian, paman membawa Lily anak nya untuk ikut juga bersama Dadang si anak manja itu.
Opa yang terakhir datang, kami semua duduk teratur menggelilingi makanan di depan lalu berdoa kepada Allah SWT atau semua yang telah di berikan kepada kami dan kami memakan nya, ayah bilang jangan berisik takut tersedak nanti jadi panik semua.
anak-anak dah siap semua, kemudian orang laki-laki pun dah siap semua, Oma membawa Dian dan lyli untuk ikut sama bersantay di teras, bentang teras dan ambil racun nyamuk untuk cucu nya serta sarung juga.
“Liza angkat semua yang kotor, mekar bantu kembarmu ya," kata ibu sambil membantu si kembar.
“Kau Aa mau bantu ga?" kata Liza kepadaku.
“Alah kan dah banyak yang bantu juga aku masih mau makan pecel lele," kataku sambil makan pecel lele tampa nasi di meja sambil duduk angkat kaki ke meja.
“Aduh Kurnia kok duduk nya begitu," kata bibi heran kepadaku yang asyik makan lagi.
“Oh bibi ga tau ya itu Aa orang nya cuek dan jutek pergai dia tuh tau," kata Liza sambil menggangkat piring ke kamar mandi dan membantu mekar mencuci.
“Ya mpun jangan di biarin dong, gimana mau jadi menantu bibi nanti nya, mati dah Dadang kalau menikah dengan kamu Kur," kata bibi menggelengkan kepalanya.
“Whatt aduh bibi jangan ngomong yang belum pasti dong kataku yang memang tau akan di jodohkan dengan si Dadang," kataku yang memang tau akan di jodohkan dengan Dadang.
__ADS_1
Sebenar nya paman datang memang mau memperkenalkan anak nya paman yang bernama Dadang yang cantik itu kepadaku.
Dan mau tau menantu nya itu bagaimana, ya ini aku lah ga mungkin mau jadi yang lain, aku memang begini aku tau mau berpura-pura dalam bersikap ataupun membohongi diri sendiri.