Aku Bukan Lesbian

Aku Bukan Lesbian
Episode 19


__ADS_3

HALLO SEMUA NYA TOLONG DONG BANTU LIKE DAN RATE 5 BINTANG,, TINGGALKAN JUGA BUNGGA MAWAR SEBAGAI HADIAH,, TAK LUPA DI YEKAN YA TOMBOL FAVORIT NYA,, BIAR AUTHOR SEMANGAT BIKIN NYA😙❤️


--------------------------


Sebenarnya paman datang memang mau memperkenalkan anak pama kepadaku dan mau tau menantu nya itu gimana, aduh gawat deh, kalau begini aku tak mau berpura-pura dalam bersifat.


“Kau ini yah,, mulai sekarang kau harus belajar jadi perempuan sejati tau, belajar juga jadi istri yang baik untuk anak bibi," celoteh bibi sambil mengelus kepalaku.


Seketika itu pula,, aku terkejut dan langsung membulatkan pandangan, aku tersedak daging ikan lehernya di mulutku, “cepat-cepat mana nih air,, mana nih air!!" teriakku terbatuk-batuk sambil mengusap dadaku kaget.


Bibipun menepuk punggungku, Alhamdulillah lunar juga tuh daging ikan, leleh nya ke leherku,, “Syukurlah," gumamku sambil mengusap dadaku sendiri.


“Iya bi,, saya akan belajar, dan mencoba belajar untuk jadi istri yang baik untuk anak bibi nanti nya, janji deh bi, pasti aku berjanji bi," kataku menggangkat tangan kanan ke atas sambil tersenyum,, namun tangan kiri di belakang badanku lipat 3 jari,, tunjuk dua jari gunting.


“Hehehehe,, itu belum pasti tapi bohong," gumamku menahan tawa.


akhirnya sudah selesai menyapu, meng ngepel lantai nya, Liza dan Mekar dah siap mencuci peralatan makan, dan buk ana beres-beres dapur, dah nampak rapih bersih, dan terkemas, kemudia ibu membungkus pecel leleh bersama makanan lainnya, di berikan dengan buk ana,, saat buk anak mau pulang juga di panggil oleh bibi.


“Buk Ana ini ada oleh-oleh dari Bandung, dan ini untuk anak-anak juga," kata bibi sambil memberikan oleh-oleh berupah dodol Garut, rengginang, dan kerupuk asli Bandung beserta amplop yang isi nya uang untuk keluarga buk Ana.


“Terimakasih Doro atas oleh-oleh dan amplop nya, dan terimakasih juga buat ibu atas pemberian makanan nya," kata buk Ana menunduk hormat.


“Saya Pulang dulu Doro, dan juga tuan, terimakasih," buk Ana pun berlalu ke halaman, dengan membawa barang-barang, nampak berat dan aku melihat nya melangkah dan bilang pada buk Ana.


“Buk Ana, sini aku bawakan barang nya," kataku sambil mendekat ke tempat buk ana.


“Tak usah Aa, ibu bisa kok, lagi pulak ini tidak terlalu berat kok," jawab nya kepadaku sambil tertawa kecil.

__ADS_1


“Ealah buk Ana ini, saya kan mau membantu buk Ana sendiri, saya kan juga anak nya buk Ana, mazak melihat buk Ana keberatan membawa barang tersebut saya hanya diam tampa melakukan apapun," kataku menggangkat sebagian barang buk Ana ke badanku dengan cepat.


“Terimakasih Aa, Aa anak ibu, hi ... kalau kau anak laki-laki beneran udah aku jadikan kau sama nigrum anakku," kata nya sambil tersenyum senang sekali.


“Hehehe, buk Ana, seandainya saya laki-laki, takut nya anak buk Ana jadi istri ketujuh saya tau," kataku manis sambil mengikuti nya,, buk Ana hanya mengucapkan ya Allah maapkan Aa.


Ayah dan paman, beserta Opa duduk santay dan berbicara saling cerita semua, begitu juga ibu, bibi dan Oma, juga ikut berbincang adikku yang lain nya sibuk bermain boneka, dan bangun rumah dari balok kayu, itu ayah yang buat balok kayu dari mula aku kecil sampai sekarang ini, adikku susun susun balok.


Aku pun dah sampai di rumah buk Ana, mengantarkan barangnya disana, dan berjumpa dengan Nigrum dan Dimas.


“Ehhh Aa datang juga,, masuk lah Aa," kata Nigrum sambil tersenyum lebar, dan aku memberikan bungkusan kepada dia, sedangkan Dimas menarik paksa tanganku ke dalam rumah, pak Kasim lagi santay di ruang tamu sambil isap satu batang rokok.


“Eee pak Kasim, lagi nyantai yah," kataku kepada pak Kasim sambil tertawa kecil.


“Ooo Aa, iya nih nunggu ngantuk," jawabnya menghampiri buk Ana di dapur mengeluarkan bungkusan yang dari tadi di Bawak oleh kali dari rumah ke sini.


“Oo ini nama nya dodol Garut, nanti aja kamu makan nya ya Dimas, makan lah dulu nasi dan ikan lele itu, ibu letak sayur nya yah," kata buk Ana santay.


“Ga mau lah, pakai sayur ga enak memakan nya buk!" teriak Dimas sewot.


“Enak loh ini, ini sayur nya enak, ayo pak kita makan, Aa juga makan yah," pintah buk Ana kepadaku dan dia menggajak Nigrum juga.


“Ga usah buk, saya juga dah kenyang kok, Aa mau pulang aja,, mau pulang langsung, makasih semua nya,, Aa pulang dulu ya buk," ujarku melangkah keluar rumah.


“Eh tunggu dulu Aa," pindah Nigrum kepadaku sammbil mengarik tangganku yang udah melangkahkan kaki ke luar rumah, aku pun menoleh melihat nya “Ada apa?" gumamku.


“Iya, ada apa Nigrum," kataku pendek.

__ADS_1


“Makasih ya udah kau membantu ibuku tadi, sayang deh Nigrum kepada Aa," kata nya manja dengan merona.


Aku pun tersenyum lebar, aku tunjuk jidat nya dan tertawa.


“Iya deh, masuk lah sana, di luar sini dingin," jawabku pamitan sama Nigrum sambil tersenyum.


Aku melangkah kan kaki maju ke luar,, Nigrum sayanglah aku sebagai seorang adik saja, jangan ada perasaan lebih,, jangan sayang kepadaku sebagai seorang pejuang cinta, karena aku tak pantas mendapatkan pejuangab cintamu.


Aku tersenyum kecut apa yang ada padaku sehingga pandangan matamu penuh dengan rasa rindu menggebu-gebu untukku, aku yang masih mencari jatuh diri tentang siapa sebenarnya aku ini.


Dalam berpikir sampai juga aku di depan rumah, aku pun duduk dan menyodorkan kakiku.


“Aa capekk, mau tidur dulu deh," kataku pamit pada om dan opa beserta ayah dan yang lain nya itu.


Aku bangkit mau menuju ke dalam rumah malah ibu menegurku.


“Aa ajak Dadang sekalian, kenalkan dirimu sama dia, dari siang tadi kalian berdua ini macam musuhan saja," celoteh ibuku sambil memandangku.


“Aduh ibu, aku capek sekali loh, besok aja yah," pintakku memohon dengan mata yang sudah mau mejam.


Ayahku memandangku dan menoleh ke arah Akbar, yang lagi main congklak sama Agung sedangakan Dian dan Lyly lagi bermain boneka, Jaka menggambar dan di bantu oleh ibuku.


“Akbar ambil gitar Aa, tolong bawakan gitar itu kesini," perintah ayah kepada Akbar dengan nada tegas.


Akbar yang mendengar itu pun langsung berdiri lalu pergi ke kamar dan membawa gitar kesayanganku keluar, aku pikir mau apa nih ayah.


“Nah ayah gitar nya," ucap Akbar, sambil memberikan gitar tersebut kepada ayahku dan lanjut bermain congklak, memang sih kembar belum minat belajar main gitar denganku.

__ADS_1


Jadi mereka ga peduli tentang gitar tersebut, “Aa ini gitar nya, tuh ajarin gitar main gitar, di ayunan sana," kata ayah memberikan gitar kepadaku.


__ADS_2