
Namun paling senang sama ibu saat berada di kebun belakang, Nemani bersihin tanaman bungga atau pun bersih-bersih semak, kalau yang ini di kasih kerjaan lima jam pun aku sanggup dong.
Aku langkah kan kakiku ke teras, aku pun melihat temanku sudah menunggu cukup lama.
“Hai!" sapaku sambil melenturkan tubuhku yang Maco ini.
“Hai juga!" teriak mereka sambil berada di sepeda masing-masing.
“Ayo cepat mandi sana, kami sudah nungguin kamu lama amat, macam banggunin monyet aja," kata Iwan.
“Enak aja monyet, mendingan Tedy Bear adikku yang imut, nampak imut tau!" kataku sambil meraih boneka adikku Dian, ucapku dengan santay sambil merentangkan tubuhku yang kaku, dan adikku Dian yang nampak marah.karena bonekanya di ambil olehku.
“Hehehe ... sorry,"
Tak mandi, aku terus balik ke kamar membuka lemari pakaian mencari cari baju cowokku, dan celana panjangnya, sikat rambut pakai tangganku di kaca melihat ada lagi tak itu kotoran di mata, mulut dan hidungku.
Kasih pewangi badan dan bedak si kembar, uda ganteng nih aku.
“Came on Beby, kita cabut" kataku pada mereka.
__ADS_1
“Ibu Aa pergi dulu ya," kataku sambil menarik pempek satu piring, dan aku bagikan ke teman-temanku, piring nya pun ku tarok kembali,dan kami berlalu tanpa menutup pagar halaman, sedangkan buk Ana geleng-geleng kepala melihat kelakuanku yang sudah menjauh.
Disawah orang, kami mancing yang ada aliran parit, tak dalam lebar nya pun hanya beberapa meter lebih tepat nya selebar 2 meter untuk perairan irigasi sawah dan kebun, kalau kemarau air parit hanya sedalam lutut, namun kalau musim hujan air paret bisa sampai sedalam bahuku ini, dan itupun musim nya ikan tawar keluar,dan banyak.
Sebetulnya masalah makan ikan bagiku tak terlalu di cari, kan halaman belakang rumahku ada kolam dan banyak sekali ikan di dalam nya, apalagi pak Kasim rajin memelihara ikan dan sering di suruhnya istri masak ikan tiga hari seminggu, belum lagi ibu kalau ke pasar pagi suka nya membeli ikan laut yang besar sekali, itu pasar yang hanya ada pagi hari kalau sudah jam 10 pagi, Uda pada bubar biasanya mereka naik sepada atau motor dan parkir di samping kantor lurah.
Datang sebentar jual macam-macam, bayar uang sampah, dah siap jual mereka pergi, Aku paling suka ikut sebentar, beli yang aku sukai, dan mencicipi semua jajanan yang di jual disana yang penting dan utama adalah halal dan kenyang dong.
Kadang juga ada kawanku orang cina, nama nya Simon dan dari India Raju, aku sering makan sama mereka yang penting aku cari kawan yang banyak, balik lagi deh ke cerita memancing.
Aku ini hanya iseng dan mau melayani hati teman-temanku biar ga suntuk di rumah, aku Bawak juga si kembar biar tau situasi di luar rumah, dan si kembar mau di ajak, ceria mereka, cepat juga tuh anak berboncengan berdua pakai sepeda BMX baru yang di belikan ayah sebulan yang lalu.
Hehehehe ... aku kan pawang nya hantu, kalau nanti ganggu juga ah aku tebang juga pohon ini,ha ha ha nanti kucar kacir lah para hantu tak ada rumah, biasa tabiatku makin takut makin gila melawan.
“Numpang lewat, numpang letak sepeda kami disini ya penghuni pohon," kataku sambil melangkah ke pohon randu, aku letakan tapak tanggan kananku di pohonnya cukup lama dan aku suruh kawan-kawanku untuk parkir disitu, dan mereka semua meletakan sepeda serta mengambil peralatan memancing dan mulai menuju parit untuk memancing ikan.
Aku yang terakhir melangkah kan kakiku, ikut mereka, aku angkat tangganku dan tersenyum, bukan apa, meletakkan di pohon randu ini sepeda kita aman dari di curi, kan ga ada penjaga sepeda, memang ada baik dan buruk kalau kita berurusan dengan makluk tak kasat mata ini.
Serba serbi aku memang ada sedikit ilmu belajar dari ayah kerna ayah waktu muda dinas nya banyak masuk hutan, jadi ada pelajaran nya untukku, namun ia itulah aku, prinsipku janji tak saling menyakiti uda intinya impas buatku, kami pun memancing menangkap ikan pakai jaring yang kami buat, kadang kami nyebur dan berjalan di air parit boleh lah dapat ikan besar dan kecil, kadang juga dapat ular, itu kami buang dan berdoa semoga-moga tidak ada ular kobra aja.
__ADS_1
Karung sebagai kawanku sudah penuh dengan ikan besar yang kecil kami kembalikan ke parit lagi, biar nanti bisa besar lagi, hari Uda siang matahari pun semakin terik lapar dan haus, kami pun siap-siap mau pulang.
“Oyy uda lapar nih," teriakku sambil melambaikan tanggan ke arah si kembar.
“Bentar lagi," ucap si kembar masih memancing, padahal itu badan uda menghitam, tetapi mereka masih melanjutkan acara memancing, apalagi ikan yang mereka tangkap itu besar dan banyak, maklum lah, di tahun 1980an belum ada racun ikan atau menyetrum ikan seperti sekarang, apa lagi sampah plastik, itu parit sawah kita bisa mandi dan berkaca keperi bening nya air, sampai ikan kecil dan bermacam-macam serangga pun bisa di lihat di air.
Sekarang uda tahun 2020 nanti yang ada parit ini pasti penuh warna hitam dan penuh sampah, aduh kasian duniaku di saat aku tua nanti tak menikmati hal sederhana tapi berarti ini lagi.
“Aku uda banyak dapat ikan," kata Adi sambil bersihkan peralatan pancing dan jaring nya.
“Hai ini anak tak mau balik ya?," tanya aku, aku ambil parang kayu yang panjang dan besar, aku datangi si kembar yang lagi asyik mancing, aku obok-obok itu air parit biar ikan pada lari, dan si kembar terkejut serta marah kerna airnya beriak-riak habis aku obok-obok.
“Aa kau gila ya, ikan nya kan jadi pada lari!" teriak Akbar.
“Iya nih, memang kau Aa, aku tumbuk juga kau lama-lama," ujar si agung kesal, mungkin kesal banget si Angung denganku, di ayunkan tanggan nya ke arahku karena badan mereka masih kecil, langsung aku tangkap aku letakan di pundakku, sakit juga di pukul di punggung namun masa bodoh, ingat aja ini badan seperti di urut-urut buk ... buk ... buk ...
“Lepasin Agung Aa!!" teriak Agung.
“Enggak ayo pulang," ucapku sambil aku tepuk-tepuk pandatnya.
__ADS_1