
HALLO SEMUA NYA TOLONG DONG BANTU LIKE DAN RATE 5 BINTANG,, TINGGALKAN JUGA BUNGGA MAWAR SEBAGAI HADIAH,, TAK LUPA DI YEKAN YA TOMBOL FAVORIT NYA,, BIAR AUTHOR SEMANGAT BIKIN NYA😙❤️
--------------------------
Malam pun menjelang ayah dan orang tua lain nya santay di teras selepas Isyak mereka kumpul sambil minum kopi sama kue ubi-ubian, ada getuk, cenil, bakwan, pisang goreng, lupis, tahu goreng, dan lain-lain.
Pulang nya mereka Bawak daun pisang, di bungkus, di dalam nya ada ayam goreng, tempe, tahu, sambal terasi, sayur urap, dan telur rebus di bungkus jadi satu, di ikat pakai tali kasen dari rotan yang di belah halus ataupun daun padan hutan yang panjang nya bisa dua 2 meter tapi berduri, biasanya tumbuh di tepi sungai selalu ada ular besar disitu.
Semua di terai rumahku sumbringan, dan cerita tertawa lepas kemudia tak lama datang kawan ayah dari kantor, boleh lah lebih dari 5 orang datang ke rumah.
“Hak! datang juga kalian, ayo masuk sini, kita ngobrol dulu, buk Ani bawakan wedang jahe sama gorengan yang Uda Mateng kesini," perintah ayah sambil menggendong aku.
“Aduh ini mata tak mau merem pulak," batinku.
“Maaf bos ini kerja baru siap, kami sempatkan aja datang kesini, takut nanti kalau tak datang bos marah," kata wakil ayah tersenyum.
“Hah tau kau, ku ingat kau tak mau datang, nantiku potong gaji kalian untuk belanja emas anakku mau?" kata ayah sambil melotot, aduh bos jangan marah,kami pasti datang kan enak tempat bos, nyaman teduh dan perut kenyang, apalagi ada si gembul ini, gemas om ..." kata teman ayah.
“Aduh jangan di cupit pipi aku om," gumamku.
“Aku memang menggemaskan" gumammku dengan ikat satu di kepala, dan bedak belepotan di muka, sama piyama yang di buat ibuku, gimana aku tak cantik malam ini, dan ayah pun senang, tapi juga jengkel karena anak nya sekarang penuh dengan emas berjalar.
“Bos anak nya jangan di pakai kan emas, macam gini, ini masih kecil takut nya ia makan," kata mereka.
“Iya lihat nya jadi silau mata Beta," anak buah ayah orang froles dia memang hitam, rambut keriting namun ayah suka gaya nya dan kelakuan dia.
“Ini semua hadiah Oma, dan nenek nya kata nya biar nampak perempuan, kau kira aku suka ya, aduh lebih baik belikan dia sepeda dan mainan mainan robot," jawab ayahku jengkel sambil cium pipi kanan dan kiriku.
“Aduh komandan dia perempuan, kok mau mainan anak cowok," si batak ini menimpali.
__ADS_1
“Anakku tiga cowok, mau cewek tapi ga dapat," kata anak buah ayah orang Batak.
“Oh kalau gitu, tukar aja sama anak komandan kita," kata si froles senang.
“Apa?! kau mau main-main sama aku ya,"teriak ayahku marah.
“Sabar bos, sabar bercanda dia, hahaha aku tertawa," gumamku, semua tersenyum melihatku tertawa hilang marah ayah, tertawa dia melihatku.
“Nah tukan, anakku ngerti loh apa yang kita obrolkan ucapkan disini," sahut ayah.
hampir 5 jam kawan ayah cerita, sama Oma kakek dan orang-orang di luar, mau jam 2 malam baru pulang, sepi mereka berpamitan.
“Bos Uda jam 2 nih, kami pulang dulu," kata si batak.
besok jumpa di kantornya boss
“Iya deh ngantuk, Adek manis, nanti kalau Uda besar jadian ya sama anak om," sahut si froles.
“Hahahaha ... oke lah bos, kami pamit pulang," serentak mereka berkata dan pergi.
ayah bangkit dan menggendongku sambil berjalan masuk ke rumah, hening dan sepi lagi, dan ayah tidak pernah letih melewati hari-hari penuh tantangan dan cobaan, sebagai seorang komandan suami, dan ayah buat semua orang, di sekeliling ayah, ayah masuk ke kamar, di baringkan nya aku di dekat ibu, dan melepaskan baju serta tidur di samping anak nya, yang nanti dia pening sendiri, dengan anak nya yang bernama Kurnia Pradita, hehehe tunggu aku besar ...
pulang kantor ayah duduk di teras dekat pohon mangga, segar, memandang buah mangga yang ada buah kecil bergantung banyak disana sini, semilir angin dan harum rumput-rumputan yang di siram hujan menambah segar dan sejuk di rumahku ini, segar melihat ayahku dan bangga melihat dia dengan baju dinas nya, ketampanan ayah yang mirip penyanyi Eropa yang aku tak tau nama nya.
ibu datang bawakan kopi dan makanan sore, duduk di samping ayah, pak Kasim tutup pagar dan berlalu ke belakang, buk Ani bersiap ke dapur lagi untuk siapkan makanan malam.
“Mengapa ayah? ada masalah di kantor? kok benggong dari tadi?" tanya ibuku.
“Ga ada sayang, hanya heran," aa panggilanku.
__ADS_1
uda usia 3 tahun lebih kok kamu belum ngandung lagi, kasian aa tak ada teman sepi rasa nya.
“Ayah ini tak tau yah, kelakuan anak ayah, kemarin bantu ibu kupas ubi, habis separuh ubi di cincang nya habis untuk ayam, kejar kambing di buat main kuda pacu, suruh pak Kasim pegang sih aa," kata ibu.
“Hari ini aja hujan, tuh lihat kumbangan lumpur ada bungga ibu tuh di situ, di jadiin kolam habis di cabutin sama aa, marah buk Ana, eh malah di lempar lumpur sama Aa, ini teras habis kotor, oleh lemparan lumpur dan baru di bersihkan oleh buk Ana, kalau tidak, tak bisah lah ayah duduk disini, betul-betul nakal anakmu yah," ibu berkata sambil menatap ayah.
“Jangan marah lah, kan dia anak ayah," sambil datang memeluk ibu.
“Oh ... jadi bukan anak ibu, ya harus macam perempuan lah," bisik ibuku manja.
“Yuk kekamar disini dinggin," kata ayah sambil menggendong ibu dengan tatapan nakal nya.
“Iya dinggin," bisik ibu romantis.
mereka menuju ke kamar dan menutup pintu, ayahku memang pandai, dalam hal ini, dan ibuku memang tau macam mana jaga badan, jaga martabat dan jaga hati suami.
“Ayah ini masih sore loh, kita santay aja," bisik ibu dengan membuka baju ayah dan celana panjang ayah.
“Sayang aku mau, ga tahan lagi," sambil mencium ibuku dan tak tau lah apa yang terjadi, mungkin baru separuh jalan, bam ... bam ... bam ... pintu kamar di kendor.
“Ibu Aa pulang, di ajak paman ke rumah teman nya," teriakku dengan kaki penuh lumpur dan kotoran.
“Ibu ... ibu buka pintu, buk Ana mana nih ibu," teriakku kencang.
“Aduh neng, kotor semua lantai nya," kata buk Ana.
“Hahaha ... aku kotorin aku kotorinlagi ya buk Ana," teriakku.gembira.
“Buk Ana aku ini aa, bukan nya eneng," kataku.
__ADS_1
“Aa kan perempuan," diusapnya kepalaku.