Aku Bukan Lesbian

Aku Bukan Lesbian
Episode 05


__ADS_3

HALLO SEMUA NYA TOLONG DONG BANTU LIKE DAN RATE 5 BINTANG,, TINGGALKAN JUGA BUNGGA MAWAR SEBAGAI HADIAH,, TAK LUPA DI YEKAN YA TOMBOL FAVORIT NYA,, BIAR AUTHOR SEMANGAT BIKIN NYA😙❤️


--------------------------


Ibuku menghela nafas dan sedih, lalu aku cium rambut ibuku yang panjang dan harum.


“Kurnia ... kamu tau kan itu salah, mengambil punya orang walaupuan tidak ada yang punya tetap berdosa, kamu ini sadar lah, kamu itu perempuan nanti kami gadis datang bulan dan menikah," nasehan ibu sambil mengelus rambutku.


“Hahaha ibu itu masih lama, aku kan baru 12 tahun," kataku.


“Iya, kamu cepat berpikir, ibu akui, kamu cepat tangkap dan cerdas dalam berpikir," jawab ibu sambil tersenyum manis.


“Ibu percayalah, suatu saat kakak berubah jadi wanita paling cantik di kota ini," kataku sambil merayu ibu dengan senyum manis dan lembut ke ibu.


Datang lah adikku Dian yang bontet dan imut, dengan memegang bonekanya ia berkata.


“Aa main boneka dong, kita buat kemah-kemahan," kata Dian dengan polos.


“What!! apa itu boneka," kataku terkejut bukan main.


“Iya boneka, main yuk," kata Dian dengan tersenyum manis.


“Ibu Aa jahat, dia tak mau main boneka sama Dian, dia mau nya main lumpur sama Aa kembar," kata Dian protes.


“Udahlah, ajak aja Kakak Liza dan kakak Mekar main boneka dan main kemah-kemahan, Liza ... Mekar ... ini adik-adikmu mau main," kata ibu.


“Iya Bukk, yuk Dian main sama kakak, Aa tuh bukan macam kita, main nya cewek, dia itu laki-laki main nya cuman cowok aja, tau nya kerja dan di luar terus main nya ," kata Liza.

__ADS_1


“Iya memang, mau lihat Aja waktu malam aja, itupun waktu tidur, macam mana buk, Aa itu tak tau apa-apa, kemas rumah mau masak, nyuci piring, tau nya angkat air cari kayu ke hutan, lihat orang laki-laki kerja, padahal kan uda ada yang bantu ayah, kok dia sibuk aja," kata mekar protes.


****


Ini hari Minggu main ke luar bersama adik-adik dan teman, la ... la ... laa kami bermain, lompat tali karet, bersama teman-teman, di lapangan bola sana, banyak anak-anak lagi main bola dan main lari-lari, dan anak-anak cewek main ular tangga, aku kecapean dan memanjat pohon belimbing ambil buah yang masak dan duduk santay di batang pohon belimbing.


Lalu, datanglah si kembar Agung dan Akbar.


“Aa ambil kan dong belimbing nya, haus nih," teriak mereka.


“Iya aku pun mau," sahut Jaka sambil lempar batu ke arahku.


“Oke ambil nih," kataku menggoyang kan pohon belimbing dari atas.


Pluk ... pluk ... pluk ... jatuh semua belimbing yang ranum.


“Adoy Aa bukan begini juga dong cara nya, ngasih buah buat kami, sakit loh kepala di tipuk belimbing, Aa udah- udah cukup belimbing nya," kata si Akbar.


“Oy siapa haus, ini banyak belimbing jatuh, ambil untuk kalian, geratis dong," kataku menggoyang kan dahan yang banyak belimbing masak nya.


“Hore ... makasih Aa, ayok serbu," teriak semua anak-anak di lapangan.


Semua dah makan habis, maklum dulukan ga ada jajanan macam sekarang, tiba-tiba kulihat di dahan pohon sebelah sana ada ular daun kecil hanya sebesar lidy berwarna kehijauan dan sedang mencari mangsa.


“Hahahaha ... mainan bagus nih," gumamku dan mulai berpikir mau usil.


Hap aku tangkap kepalanya, namun takku tekan kuat biar ular nya tidak mati, ular ini tidak berbisah makanan nya hanya ulat atau serangga kecil yang mungkin ini baru anak ular nya, kemudia, aku meloncat dari pohon ke tanah.

__ADS_1


“Tara!! ... apa yang aku Bawak untuk kalian lihatlah," tertawa aku dengan keras.


“Oh tidak, ular," teriak anak-anak, semua anak Prempuan pada lari, kukejar mereka, ada yang teriak histeris sedangkan yang tak sanggup lari malah nangis, dan ada yang menggadu ke ibu mereka.


Aku, berlari sembunyi di rumah kosong, yaa ini aku Aa yang di kenal badung dan tidak takut hantu, kata opa tumbuhku ini aura nya lebih jahat dari hantu jadi hantu pun tak mau ber urusan dengan aku, sumpah kata ibuku, dari mulai umur setahun uda suka main sama hantu kecil, naik umur 7 tahun aku juga suka menyendiri, malam ke halaman belakang dan ke teras atau duduk sendiri di bawah pohon, kalau tidak di panggil tak masuk rumah, itu berlangsung sampai aku dewasa, bagiku mereka ada namun jangan saling ganggu saja itu prinsipku.


Memang rasa berani tumbuh seiring rasa ingin tau dan tak mau kalah, di kamar saat tengah malam aku sering lihat Prempuan pakai baju mereah tak takut malah aku tanyakan kepada ayahku, aku dapatkan jawaban bahwa itu penunggu rumah di luarpun sering ngeliat yang aneh-aneh namun tak takut-takut ya paling-paling kalau ada, akan aku ajak bermain, kadang ayah pun bilang begini, ‘Aa kamu tuh lebih jahat dari hantu,' hahaha bisa aja ayah nih, itu kan sudah jadi kebiasaanku suka tidur di atas jam 1 malam.


Entah apa yang aku kerjakan ataupun yang aku lihat, yang pasti hidup waktu kecilku itu sangat indah, kalau sore aku suka mandi di sukai yang agak jauh dari rumah, biasa nya aku menggunakan sepeda BMXku, iya aku tak pernah pakai baju cewek, kecuali lebaran, puasa, sama lebaran haji, ke sekolah sama pergi mennggaji, selebih nya pakai kaus bola celana dan topi.


“Mandi yuk kita, hari ini panas dan gerah sekali," aku ajak teman-temanku mandi di sugai, aku tak gusar(risih) buka celana panjang dan baju, cuman pakai celana pendek dan kaus dalam, aku kan cowok, lagian teman cowokku yang lain pada paham siapa aku.


Di hargai kawan, di takuti lawan.


Byurr ... kami mandi, lebih dari tujuh orang, nye bur ke sunggai, boleh lah berenang nyelam dan saling nyiram air satu sama lain sambil tertawa keras tak lupa juga lomba terkadang juga bawak bola ke air, main bola air gitu loh, senyumana dan suasana ceria.


Tiba-tiba aku sakit perut nih, habis makan pepes tempoyak ikan patin, banyak lagi tuh dua piring.


“Gimana nih mau berat," batinku sambil melihat sekitar.


“Hehehehe ... aku kan di dalam air, ngapain binggung kan tinggal buang aja nanti juga di makan ikan," kataku sambil tersenyum nakal.


Brut ... brut ... keluar dah tuh kotoran, yang jadi masalah pun timbul itu kotoranku kok ngambang atau hanyut ke tempat kawanku yang sedang berenang, habislah ada yang melihat kotoran hanyut, terkejut mereka.


“Sialan nih barang, ngapa timbul ya," pikirku.


“Aa ... punya siapa nih, besar dan banyak banget," teriak Iwan terkejut kaget.

__ADS_1


Oeww ... oeww ... oeew ... sih Adi, Elo, Rahmad dan lainnya pada muntah.


“Kerjaan siapa nih, siala! orang lagi berenang," teriak Elo dengan histeris nya.


__ADS_2