
HALLO SEMUA NYA TOLONG DONG BANTU LIKE DAN RATE 5 BINTANG,, TINGGALKAN JUGA BUNGGA MAWAR SEBAGAI HADIAH,, TAK LUPA DI YEKAN YA TOMBOL FAVORIT NYA,, BIAR AUTHOR SEMANGAT BIKIN NYA😙❤️
--------------------------
“Bos kau tak malu kah mandi sama aku?" ujar nya malu.
“Kenapa malu? kau kan kawanku," kataku tampa tau apa maksud Iwan berkata begitu, sambil menyanyi badanku semua.
“Kau bos tak sadar siapa aku dan siapa kamu," kata Iwan.
“Hai kita kan geng, apa nya yang salah," sahutku lagi sambil sikat kakiku dan aku tangkap kaki nya.
“Sini aku sikat jika kakimu, lambat kali," kataku sambil menggosok-gosok kaki nya dari lutut sampai ke tapak kaki nya.
Dia diam saja, pandangannya Iwan tak putus kepadaku, aku lagi bersihin kaki Iwan, datang lah Rahmad, Ilo dan lain nya yang menggejutkan kaki berdua, yang lagi mandi ini.
“Ya tuhan, pemandangan indah, Romantis amat ya, kalian berdua, sampai lupa sama kami semua di depan," teriak mereka sambil berjalan ke arah kami.
Serentak aku dan Iwan menoleh ke arah mereka, Iwan merah muka nya, aku tidak sama sekali yang ada aku malah seperti beruang lapar melihat mereka masih geram.
“Mak aii badanmu memang Maco bos," ujar Ilo heran.
“Berlatih dimana sih bos,"
“Eh goblok, ngapain ngumpul kesini semua, ngapain pada ngumpul semua disini," kataku sinis sambil ambil handuk di jemburan dan usap-usap rambut serta badanku, aku ikatkan handuk di pinggang, dan aku lucutkan celana pendek di kayu dan selesai.
What? semua terpelongo terkejut, “yang benar ini bos, lupa apa kita kan cowok kok berani dia buka celana," bisik Harun dengan mata tak berkedip melihatku melakukan semua tampa dosa.
__ADS_1
“Au silau Beta bos, kalau iya pun jangan gitu amat Napa," kata lubis membalikkan badan malu namun masih ingin ngintip juga.
“Apa kalian ini tak peernah nampak cowok mandi hah," kataku melangkah ke luar rumah.
Aku langsung ke kamar, mencari baju kemeja dan celana panjang memakai bedak, minyak wangi, minyak rambut aku tak pernah bersisik pakai tangan aja rambutku di atur.
Dah ganteng pun, ambil pakaianku yang lain untuk aku berikan ke pada Iwan dan ****** ***** si kembar, hehehe aku ga suka kongsi ****** ***** sama siapapun, sekalian handuk aku langkah kan kakiku menuju sumur aku berikan kepada Iwan yang dari tadi menunggu untuk ganti baju dan nampak malu Iwan.
“Iwan pakai ini, ini aku berikan kepadamu jangan di kembalikan, baju lumpur itu buang saja bersama bajuku susah mau di cuci, nanti ibumu kecapean nyuci baju nya, eh kalian langsung ke teras buk anak buat pempek sama jus jeruk," ucapku sambil masuk lagi ambil pempek,ambil gitar di kamar dan duduk di teras, aku mainkan lagu nya Isabella.
Aku tak ambil pusing, dan tak tau apa lagi yang mereka bicarakan di sumur belakang.
“Gila kau wan, berani kau mandi sama bos, Romantis lagi, pakai sikat-sikat kaki segala," ucap Rahmad dengan nada cemburu.
“Iya nih, kalau aku tau begini cerita nya, lebih baik aku yang nyebur sama bos tadi," kata lubis marah kepada Iwan.
“Memang nya aku juga mau kecebur apa, kalau iya pun aku tak mungkin dekatin bos dengan cara busuk begini," geram Iwan menjawab.
“Hei kau kan ada di teras menggapa bisa lihat," curiga Iwan sama Harun.
“Kok kalian hakimin aku macam ini sebenarnya apa perasaan kalian kepada bos, jangan-jangan kalian ...,"
“Diam kita semua kawan, jangan pikir yang lain, memang aku yang menyuruh Harun ke belakang menggapa kalian belum muncul, dan itu di lihat harum apa salah dia bilang ke kami," teriak Afan marah.
“Lagian kau harus tau, dia ketua kita, jangan lebih-lebih punya keinginan ingin dekat-dekat dengan bos," kata nya marah sekali.
“Hai kau pun sama ada hati sama bos," teriak Iwan.
__ADS_1
“Apa aku salah orang dia duluan yang mulai jahil kepadaku, aku aja terkejut di siram nya, tapi hehehe jangan iri dengki terus terang aku terbawak suasana cinta sama bos," kata Iwan yang Uda pakai baju dan langsung lari ke depan secepatnya takut di pukul serentak oleh kawan-kawan nya.
“Bangsat, berhenti kau, sialan berani kau jatuh cinta sama bos, aku matikan kau," teriak Rahmad yang udah emosi hati nya.
“Uda kita ke depan, kasian bos nunggu kita disini," kata Ilo sambil mendorong satu persatu temanku untuk melangkah ke teras depan, kemudia buk anak memanggil si Karim.
“Karim sini, tolong bawakan pempek ini dan kuah nya sekali," kata buk Ana.
“Iya buk, sini biar aku bawakan," jawab Karim ke dapur.
“Panggil juga itu sih Afan suruh bawakan kuah nya sekali ke sana," kata buk Ana lagi.
“Fan Bawak nih kuah nya, enak aja belenggang," panggil Karim ke Afan.
Liza dan Mekar membawa es jeruk dan mangkok kuah nya buk anak masih menggoreng pempek banyak, karena adik-adikku doyan sekali memakan pempek yang buk anak buat, ada pempek telur, pempek lenjer pempek tumis, pempek adaan, atau pun pempek kapal selam yang besar, itu kalau dah di goreng dan di angkat baru di potong-potong dan di potong-potong dan di makan sama kuah cuka yang di taburi timun dan kacang tanah goreng cincang emmm mantap makan nya, apa lagi bareng-bareng teman, semua nya jadi berebut di selingi canda tawa.
Aku tak mau kalau kawanku ke rumah tidak aku sungguhi apa-apa, harus ada kue dan minuman,bbuatku tamu itu akan bawa rezeki keluargaku.
Syukur nya buk Ana yang ikut suami nya dari gadis memang rajin masak dan buat kue, enak nya lagi Liza dan Mekar selalu bantu buk Ana di dapur, dan pak Kasim pun senang tinggal dengan keluargaku yang tak membedakan status apa lagi si kembar dan Jaka senang ikut pak Kasim kerja.
Buk Ana datang lagi membawa sepiring pempek, baik adikku mau pun teman-temanku Uda kenyang semua, dari kejauhan tampak ibu yang Uda pulang bersama ibu-ibu yang lain tersenyum kepada kami, kemudia kami pun satu persatu mencium tanggan ibu termasuk kawanku tanda hormat kepada ibuku.
“Wah belum pulang yah kalian semua," kata ibu pelan sambil tersenyum.
“Iya buk kami masih mau bermain sama bos boleh kan buk," jawab Iwan
“Boleh kok, tapi jangan sampai magrib, nanti di cari mama kalian,"
__ADS_1
“Makasih buk,," jawab mereka serentak.
“Ibu masuk dulu ya anak-anak," kata ibu sambil meraih Dian dan menggendong nya, nampak nya Dian kekenyangan dan mau tidur.