Aku Bukan Lesbian

Aku Bukan Lesbian
Episode 04


__ADS_3

HALLO SEMUA NYA TOLONG DONG BANTU LIKE DAN RATE 5 BINTANG,, TINGGALKAN JUGA BUNGGA MAWAR SEBAGAI HADIAH,, TAK LUPA DI YEKAN YA TOMBOL FAVORIT NYA,, BIAR AUTHOR SEMANGAT BIKIN NYA😙❤️


--------------------------


“Aa kan perempuan," di usap nya kepalaku, tatapan manja lalu peluk kaki nya buk ana.


“Ga mau, memang nya Aa nih di jadiin lagu, Ning Ning nong gitu," kataku dengan jengkel dan hap lompat-lompat.


“Ibu buka pintu nya," teriakku.


“Oo yang buka ayah, pakai celana pendek tapi badannya keringatan habis olahraga dimana, kok ga ajak Aa," kataku.


“Ibu," teriakku.


“Jangan masuk," ucap ayah sambil melotot kepadaku.


“Ibu tak ada, eh salah ibu tidur," jawab ayah.


“Ayah, aa mau lihat ibu nih," teriakku.


Ayah berlutut dan berbisik di telingaku, geli juga rasanya.


“Aa, ayah dan ibu lagi buat Adek baru, untuk Aa ya, jangan ganggu ya," kata Ayahku.


Ooo aku ... kepalaku pakai jari telunjuk, berpikir lurus atau bengkok mencerna perkataan ayah tadi, dan Ayah pun menutup pintu kembali.


Tau apa aku buat.


“Hore ... hore Ayah buat Adek baru, Adek baru untuk Aa," teriak aku kegirangan.


Pak Kasim geleng-geleng kepala.


“Mati kita pak," kata buk Ana melihat tingkah ku macam anak jantan.


Salah sendiri orang dewasa membiarkan aku tumbuh jadi laki-laki, gini deh jadinya, mandi, langsung lompat ke kolam, di halaman belakang yang penuh ikan lele, ikan gabus, Ika emas, dan ikan nila, belum lagi tanaman kolam nya, senang ada papan di bawah Aa bereng.


“Mampus aku, nampah kerjaan," teriak pak Kasim histeris.

__ADS_1


“Aa naik lah, nanti marah lagi ayah, tolong lah bapak, cepat keburu ayah keluar;" teriak pak Kasim.


Hap ... hap ... hap ... kutarik tali yang memang untuk aku keluar dari kolam, memang sepertinya pak Kasim sudah tau apa yang aku buat.


“Aa ayok sini, cepat mandi,di bancuran sumur, buk Ana siapin sabun dan sampo nya, aduh Aa badanmu penuh tanaman kolam, matilah buk Ana kalau bapak tau tingkahmu macam gini," kata buk Ana menjelaskan.


Dah mandi langsung ke kamarku, yang uda ayah dekorasi dengan suasana ceria,dan tentunya ornamen cowok, tiba-tiba aku ngerasa lapar, lalu aku melompat naik ke kursi makan menggambil kue.


“Aa baju nya dulu," kata buk Ana sambil mengambil baju cewek di lemari bergambar Superman dan Betmen.


“Tak mau ini baju cewek, ribet banyak pite pakai rok lagi, nanti Aa tak bisa lari," kataku.


lalu menuju lemari, mengambil setelan baju bola.


“Nah ini baru baju Aa, cocok," kataku, hah pingsan dah buk Ana, terduduk di lantai mengelus dada.


“Macam mana nih anak bos, betul-betul buat Bete, pening ngurus Aa, mintak-mintak punya Adek nanti, Adek nya ga macam dia," doa buk Ana.


-Banyak kelahiran.


Cukup tujuh anak untuk 4 kamar, dan itu membuat keluargaku ramai sekali, kalau uda kumpul, namun ayahku bangga, anak nya banyak, biar rame ini mau tambah lagi anak, tapi ibu bilang cukup, tak kuat lagi lahiran normal pulak tuh uda capek, untung hanya Aa yang sering buat masalah, di datangi tetangga terus-terusan.


“Aa ... ibu jangan sedih gitu dong, kan Aa orang nya penyanyang, bertanggung jawab, mandiri dan pintar," semua adikku membelaku kecuali si Liza.


“Hehe ... apa Aa itu Badung, nakal dan suka ajak berantem terus," kata Liza.


“Dedek Liza, mau Aa cuci deh pakai Rinso, nampak nya ga bisa berhenti ngejek Aamu yang ganteng ini," kataku.


“Iya nih kak Liza, kalau ga ada Aa di rumah sepi loh, ga ada yang teriak dan berantem," kata si kembar Agung dan Akbar santai.


“Yuk ke belakang rumah, kita main lagi!" teriakku sambil gendong si Dian.


“Bii Ana beresin dong meja, nanti sebentar lagi ayah pulang," kata Jaka sambil berlari mengikuti kami.


Liza dan Mekar, kerja di depan menyapu halaman dan bakar sampah, ini hari Minggu sore tidak ngaji di halaman belakang luas juga, ayahku kreatif dan pintar, ada aja untuk kami buat mainan tiga ayunan di pohon nangka dan mangga, perosotan kasu di dekat pohon kelapa kuning, kiri dan kanan nya.


Ada kolam lumpur ataupun pasir yang lebar dari 2 meter, belum lagi tali tambang untuk kami manjat dan turun di kayu.

__ADS_1


Memang indah punya ayah seperti ini, selalu memperhatikan kebahagiaan anaknya.


“Oy balek yukk, uda senja, balik yuk nanti ayah marah," kata si kembar.


“Tunggu lah istananya belum jadi," kata Jaka dan si kecil marah dengan tanggan penuh pasir.


“Bang kembar, ambil mangga nya, nanti kumpulkan di ember Bawak pulang," kata Liza.


“Adikku ini tak boleh jadi, siniku tanggap," ku gendong si adik danku dukung si Jaka di belakang.


“Hahahaha, kuat nih Aaku, tak berat kan Aa, kami berdua ini," bisik Jaka tersenyum.


“Tak lah, Aa uda biasa, olahraga angkat berat," kataku.


Ini sih biasa, pak Kasim selalu jaga pak Kasim ambil air ledeng di kompleks perumahan Pertamina, sebelah pakai gerobak, memang musim kemarau, sunggai mengerim dan sumur pun tak ada air nya, jadi warga selalu pergi ke kompleks dekat gardu Sapan pertamina, mintakk air, harus keliling kerna cuman ada satu pintu aja di pagar beton, itupun harus ngantri walaupuan ada sumur dan sunggai tapi untuk keluargaku di musim kemarau tak cukup, maklum pasukan ayah banyak.


Hehehe ... apalagi sih Jaka sama Dian kuat berendam, macam badak, kalau tidak di cubit ibu tak akan naik mereka, dari baskom hitam nya, dan aku pulak sering buatin perahu dari kayu gabus atau pun dari pelepah pisang, makin lama kah mandinya.


Ayah kerja kantor dan sesekali, turun ke lapangan, Aku selalu ikut terus, kemana ayah pergi, selalu ngeliat kerja ayah, tau ga kenapa aku bisa ikut, aku nih buat senang semua anak buah ayah, pembantu ayah bahkan tahanan ayah, tidak lupa juga suka jahil.


Pernah suatu hari curi buah sampai buah yang ada di kuburan, eh baliknya di tanya oleh si Liza.


“Aa ambil dimana buah nya, Liza juga mau," kata Liza.


“Biasa di kebun sebelah," kataku.


“Oyy sompret itu nama nya maling," kata si Liza adikku.


“Ibu Ada curi buah orang," kata si kembar.


“Habislah aku, harus mintak maafnih," batinku.


Langsung dekatin ibu, peluk dari belakang dan rayu ibu cantikku.


“Ibu tadi aku jalan, mancing di paret cari belut dan ikan, bosan lihat banyak mangga ambil dong, maaf dong ibu," bisikku.


“Kamu ini betul-betul nakal, mengapalah waktu itu ibu bilang iya sama ayahmu, mau jadikan kamu anak laki-laki ini jadinya," kata ibu

__ADS_1


__ADS_2