Aku Bukan Lesbian

Aku Bukan Lesbian
Episode 13


__ADS_3

.HALLO SEMUA NYA TOLONG DONG BANTU LIKE DAN RATE 5 BINTANG,, TINGGALKAN JUGA BUNGGA MAWAR SEBAGAI HADIAH,, TAK LUPA DI YEKAN YA TOMBOL FAVORIT NYA,, BIAR AUTHOR SEMANGAT BIKIN NYA😙❤️


--------------------------


“Mmmm dah hilang hausku, segar sekali, uda banyak minum nih aku," ujar Ilham santay.


“Iya nih walau capek, senang sekali main bola," sahut Rahmad sambil usap-usap rambut nya yang basah.


“Kau sih jangan cuai lagi, pihak lawan itu cara main nya kasar, kita harus imbangi main nya," kata afan sambil rebahan santay, karena sudah selesai minum dari tadi.


“Tak apa yang penting kita menang 3:2 dari mereka," kataku sambil duduk, hari ini sepak bola nya Uda siap tinggal besok kita melihat permainan bola tim anak kompleks.


Dengan tim anak Mariana.


“Iya nih sekarang mereka sudah berlomba, kita lihat dan atur strategi untuk melawan mereka," kata Lubis.


“Kau bos, tak ingin ikut main kah?" ujar Torik tanya ke aku.


“Kau ini, nanya pulak, mau lah bodoh, yang jadi masalah itu kalau ada yang protes aku masuk main, gimana sih kau ini, ingat tak ada resiko nya ya, nanti kalau ketahuan kita tak boleh main lagi karena aku, mau apa kalian hanya jadi penonton di lapangan melihat orang lomba, apa lagi nama kampung kita ini di pertaruhkan di lomba sepak bola ini, pikir dong kedepannya," kataku ceramah panjang lebar ke mereka semua.


Hehehe jadi guru besar nampak nya nih aku.


“Iya-iyaa bos, memang kau terbaik di antara terbaik, selalu cermat dan cerdas dalam berpikir, aku salut padamu bos," ujar Karim menggangkat jempol nya dan yang lain angguk-angguk kan kepala mereka tanda bahwa setujuh dengan pendapatku itu.


“Memang betul kata bos, kita harus memikirkan kampung kita juga, kita malu kalau sampai kita tak ikut serta dalam lomba sepak bola ini," kata Rahmad sambil meminum kembali air nya dan bersandar manja di sampingku.


Oyyy terkejut aku.


“Hai ngapain kamu begini mad," kataku mendorong dia.

__ADS_1


“Ngapa?, manja sesekali lah, masak ga boleh," kata nya manis sambil tetap menyandarkan kepalanya ke pundakku.


“Ealah nih anak nakal juga ya, aku ini kan bos tau," gumamku dalam hati.


“Mad jangan gini juga kali," ujarku sambil mendorong pelan dia menjauh.


“Yah si bos, kan bos yang suruh agar Romantis ke cewek, apa salah nya kalau aku mau mempraktekkan nya ke bosku yang ganteng ini secara langsung," jawab Rahmad sambil kembali mendekat ke arahku.


“Hei kau gila apa, kalau mau ke Lina saja atau si Dewi yang selalu ngejar-ngejar kau itu," teriakku marah.


“Hehehehe ... bos cemburu ya kalau aku di kejar-kejar Dewi dan di taksir Lina," ujar Rahmad merasa menang.


“Kau mauku tinju ya, sekali lagi kau ngomong itu tak akan aku beri ampun," kataku sambil melotot ke arah nya.


“Maaf bos, Rahmadmu ini bercanda,"ujar nya cenggegesan sambil baring lagi di samping harum, Badim dan Dika.


“Mad ... mad, kau mah memang selalu menggusik bos kita," ujar Ilo.


“Kau ingat kau aja, aku pun sama macam kau," bisik baadim.


“Hei kita rupa nya sama, seperti nya kita akan bertanding kalau uda dewasa nanti," kata Ilham tertawa ke arah teman-teman nya.


“Masa bodoh kalian dengan ucapan kalian itu, aku tak peduli, aku bos kalian, aku yang tau apa mau kalian, dan aku juga tau mau apa aku," kataku berangkat dan berdiri lalu aku menuju es lili mang Yusri.


Memang dia parkir di dekat kami, dan dia tau akan di beli olehku, cerdik juga mang Yusri, agar cepat habis es lili miliknya.


“Hai kalaian mau es ga nih, sini aku traktir es nya," teriakku kepada mereka yang berbaring santay.


“Taktir Es? mau lah di traktir serbu," semua pada lari dan menggelilingi pak Yusri menggambil es lili dan es kapas nya, seperti nya tak cukup pulak satu-satu, ada yang ambil dua, ada yang megang tiga, gila nih mereka.

__ADS_1


“Woy dua aja kenapa, jangan lah tiga, bangkrut nih toke tau," teriakku garang.


“Walah jangan kerna di traktir mau ambil banyak,"


“Bos, haus lah, pans lagi mana di tambah lomba tadi maklum hilang deh haus nya," ucap Ilham.


“Ayo lah bos jangan pelit, nanti kuburan nya sempit tau," tipal Badim menggunyah es kapas nya ke kira dan ke kanan.


“Kau ini, ini uang jajanku seminggu tau," kataku dengan jengkel, sambil ambil es lili alpokat danku ****-**** enak.


“Hai Aa jangan bohong, kemarin kan Aa dapat dari om hasan, anak buah ayah, duit itu untuk jajan sebulan baru habis," kata si kembar ikut makan juga, si Dian lebih lagi, dia paling suka es lilin nangka memang es yang sangat enak dan asli buahnya kan jaman dulu mana ada minuman perasa ini dan itu, semua nya asli.


Es lili buah nya terbuat dari buah-buahan yang di potong kecil-kecil dan baru di buat es, jadi ada rasa mangga, pisang, nanas, jeruk, nangka dan sirsak semua rasa tradisional tak ada rasa strawberry, Anggur, kiwi ataupun jeruk Mandarin.


Semua uda dapat, semua Uda kenyang, dan semua Uda semangat lagi, aku lihat, termos es mang Yusri tinggal sedikit es nya, mungkin ada lah sepuluh batang es lili lagi, karena Bawak dua termos es yang satu nya uda kosong di ambil oleh tim dan yang satu nya di ambil adekku dan kawan-kawan nya.


“Mang Yusri tinggalkan sisi nya disini, sama termos nya, besok ambil di rumah aja, pulang aja dulu, ini hitung jumblah yang habis di makan semua nya," kataku sambil masih menggigiti es lili nya.


“Iyaa-iyaa yang ambil es nya angkat tanggan nya, agar bisa mang hitung," kata mang Yusri sambil hitung satu-satu.


Hah ini hampir 50 batang es lilin yang uda di ambil, terkejut aku kok mang Yusri bisa Bawak banyak es lili itu.


“Mang kok bisa Bawak banyak es lilin nya," kataku heran.


“Kan mang Yusri jualan sama anak mang Yusri, itu anak nya maklum tau Aa kan dan kawan nya pada ikut lomba sepak bola jadi kesini aja deh, kan pasti laku cepat," jawab nya tertawa.


“Wah mang Yusri otak nya memang betul-betul otak dagang, tau aja ambil kesempatan saat ada lomba ini," kataku tertawa, pintar dia.


“Iyaa, Aa kapan lagi mau untung banyak," kata nya tersenyum kepadaku.

__ADS_1


“Yaudah semua nya jadi berapa mang?" tanyaku ke mang Yusri.


“Semua nya 20Rp aja, itu uda di kasih murah karena Aa borong semua es lilin nya," kata mang Yusri senang sekali dia.


__ADS_2