
“Alamak ini ayah," gumamku.
“Iya ayahku yang tampan rupawan, ayo Dadang aku ajarin kau bermain gitar," kataku melangkah sambil menunggu dia, dan kami pun bersama-sama menuju ke ayunan yang berada di pohon jambu itu.
Ibu pun tersenyum senang, begitu juga dengan Oma dan bibiku, tersenyum melihat kami berdua sudah duduk bersama di ayunan itu dan Dadang pun sudah meletakkan jari-jari nya di senar gitar, belajar dulu tanda nada dan cara memegang gitar serta memetik gitar yang benar.
“Kang Tisna jadi kan jodohkan anak kita," kata paman.
“Insyaallah jodoh mah tak akan kemana mana," ucap ayah enteng.
“Kok ayah bilang begitu sih, yang pasti dong atuh, ga enak sama eyang di Bandung tau, yang uda jodohkan mereka berdua tau, nanti Oma jadi malu lah, ini untuk mengeratkan hubungan kerabat kita yang jauh," kata ibu santun.
“Bagaimana denganmu Linda?" ujar ayahku menanyakan bibi Linda yang duduk di sebelah ibuku.
“Saya sih seterah akang aja, yang penting anak nya suka ga? lagian nanti kan Dadang pun kata nya mau kuliah dulu ke Kairo Mesir, jadi kita nikahkan dulu atau tunggu Dadang pulang kuliah," kata bibi kepada ayahku.
“Menurut Oma bagaimana?" ujar paman mengambil secangkir kopi dan meminum air nya, dan memakan gorengan tempe mendoan yang udah terletak ada di atas meja itu.
“Oma ga bisa ikut campur, Opa lah yang kasih pilihan yang terbaik itu macam mana lagi," sahut Oma.
“Opa kita perkenalkan dulu lah selama kita seminggu disini, kan esok kita akan pergi jalan-jalan ke Oky hulu dan Oky hilir ngeliat tanaman duku dan durian, ini kan musim nya buahan itu matang enak di lihat sambil langsung di ambil dari pohon nya langsung," kata Opa.
“Oh iya memang kita mau jalan-jalan, ke dusun durian dan duku, yang di ajak pak Kasim ke sodara nya kesana, ayah udah sewa mobil bus besar kesana maklum lah pasukan ramai mana kawan-kawan Aa yang lain nya mau ikut juga," kata ayahku.
__ADS_1
Ini hari kami semua sudah bangun subuh dan sudah selesai mandi, udah sholat, dan sudah bersiap-siap, ibuku menyuruhku membereskan dulu semua, di rapikan, di bersihkan, jadi pulang nanti tinggal mandi dan istirahat dan ibu juga sudah mesankan makanan dan minuman untuk di jalan nanti, udah pesan kueh ke buk Rina sekeranjang dan nasi uduk 30 bungkus dengan lauk nya yang lengkap juga.
Ada nasi, sambel tempe, ikan teri dan juga kacang di tambah timun dan kerupuk Gurih nya, Oma Mesaj pempek juga di warung pak Ridho, sebanyak 100 biji campur, jadi dari rumah tinggal Bawak air minum, Snack, Air galon dan Lap tanggan untuk bersih-bersih.
Tidak lupa juga membawa baju bekas dan oleh-oleh dari Bandung, hari udah jam 7 pagi, semua udah ngumpul dan siap-siap di depan halaman rumah, bus pun sudah perkir dari tadi juga.
“Aa sudah memasukan semua barang yang di bawa?," kata ibuku sambil membawa tas yang berisi persiapan barang untuk Jaka dan Dian nanti nya, juga kotak P3K kalau ada apa-apa di jalan nanti nya.
“Udah Ibuku sayang, tentu saja sudah aku Bawak dong," kataku sambil membawa koper besar berisi pakaian ganti.
“Ayo naik ke mobil semua," ujar pak Kasim sambil menggangkat satu persatu anak yang kecil ke dalam mobil dan di atur biar muat.
Oma dan Bibi serta orang tua lain nya sudah ngantri di dalam mobil, kawanku pun sudah datang, ada 4 orang yang ikut jalan-jalan ini yaitu Rahmad, Iwan, Karim dan Afan.
“Eh gitarku sudah di bawakkan,"kataku ke Dadang yang sudah duduk di samping jendela mobil.
“Udah nih, mau langsung naik ke mobil? mau langsung main di mobil kah?" ujar Dadang mengejekku.
“Hih kau ini, buat jengkel aja," kataku rasa nya mau memukul si Dadang itu.
“Udah lah, semua nya buruan naik, pak Kasim semua udah di kunci? halaman depan dan halaman belakang serta rumah?" tanya ayahku ke pada pak Kasim.
“Sudah pak, udah di periksa dua kali malahan," kata pak Kasim.
__ADS_1
“Ayam dan kambing sudah di kasih tau sama tetangga untuk di kasih makan," jelas pak Kasim kepada ayahku.
“Baguslah kamu punya jalan pemikiran seperti itu," kata ayah senang.
“Ayo berangkat, jangan lupa doa terlebih dahulu biar selamat di perjalanan semua," kata Oma memimpin doa.
Kami tempu jalan hampir 3 jam lebih, kedusun duku dan durian, kami di perjalanan tak memejamkan mata, karena melewati kota Palembang yang melihat ke giatan warga kota yang ramai itu.
Maklum kami kan tinggal di desa yang aman dan damai, tak ada hiruk pikuk kota yang bising dan polusi ini, untung kemarin hujan, jadi di sepanjang jalan dingin tak ada debu dan asap.
Lepastuh kami melewati hamparan sawah, kebun karet dan sunggai anak Musi membela daratan masih alami dan penuh dengan perpohonan bakau.
Tak tau lah kalau nanti aku besar ada tidak pemandangan indah ini lagi, dua jam berjalan dan mau stop sebentar di rumah makan, yang bejejer macam sepanjang jalan.
Kas daerah di tepi sungai, kami pun turun tuk melihat lihat pemandangan, ada kolam Ampung di belakang rumah makan, disana kami melihat ikan, yang di ternak di kolam, kami duduk di gubuk yang sudah di sediakan dan ayah memesan makanan dan minuman, berupa tekwan dan model, dan kerupuk khas Palembang, ini jalur sumatera bukit barisan banyak bus trans lewat dan truk Bawak bahan makanan.
Ibu mengeluarkan sekeranjang kue, dan nasi uduk untuk anak-anak makan, ayahku memesan tekwan dan pempek untuk orang tua sama minuman es Dogan eh buah untuk anak-anak.
“Pah mau makan ini ga? khas daerah sini?" kata ayah kepada opah.
“Terserah kamu aja deh, Oma dan opa hanya ikut aja, enak nya dimana dimakan," sahut opa sambil melihat sekeliling.
Sepertinya Oma dan Opa serta paman sekeluarga, senang dengan pemandangan di sekitar sungai ini, daerah di perairan pantai dan sunggai memang bedah dengan daerah di penggunungan Bogor tempat mereka tinggal.
__ADS_1
Disini daratan rawah luas sekali sepanjang mata, tidak naik turun tanah nya dan tidak ada gunung sama sekali, hanya ada beberapa bukit kecil, di daerah Palembang ini, semua nya berwarna kecoklatan.