
"I-iya, Bu. Saya memang perokok …," cicit Lian menundukkan kepala. "tapi … hanya sesekali saja," lanjutnya.
"Mau sering, mau jarang tetap saja kamu itu seorang perokok. Cewek kok gitu. Aku saja yang seorang gentleman tidak doyan asap rokok," decih Satria merendahkan.
Lian tidak peduli pada ocehan pria songong tersebut. Ia hanya ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh sang majikan.
"Aku sebenarnya agak kecewa mengetahui hal ini," timpal Bu Hani.
"Maaf, Bu. Saya hanya melakukannya saat sedang sedih atau tertekan."
"Sudah, Mah. Pecat saja dia! Aku bisa mencarikan perawat yang profesional untuk menjaga Mama. Bahaya kalau dia lama-lama di rumah ini," tambah Satria mempengaruhi pikiran ibunya.
"Saya janji tidak akan mengulanginya lagi, Bu. Beri saya kesempatan untuk terus bekerja di sini." Lian memelas penuh harap.
Gadis itu sangat membutuhkan pekerjaan untuk bisa membiayai hidupnya sendiri dan untuk melunasi hutang di kampung. Selain itu, ia tidak mau dipecat dan meninggalkan kesan buruk yang nantinya akan membuat malu Adi sebagai orang yang telah merekomendasikannya.
"Lebay! Sudahlah, Mah. Perempuan setengah pria ini tidak becus merawat Mama. Jadi, pecat saja!"
Lian sebenarnya geram pada sikap Satria yang terkesan berlebihan. Jelas sekali jika lelaki itu tidak menyukainya. Sebenarnya apa salah Lian hingga orang asing itu membencinya?
"Bu, jangan pecat saya!" Kali ini matanya berkaca-kaca.
Satria mendengus sebal. "Pintar akting juga kamu! Perasaan kamu itu pembangkang dan kasar kalau berhadapan denganku tapi sekarang berlaga seperti seorang perempuan yang lemah. Drama!"
"Satria, stop! Kamu lebih baik tinggalkan kami berdua," titah Bu Hani.
Satria menolak mentah-mentah tapi sang ibu bersikukuh hingga akhirnya pria itu mengalah. Lian duduk di dekat Bu Hani atas perintah si nyonya rumah tersebut.
"Maafkan saya, Bu." Lian mengusap sudut matanya agar air mata sialan itu tidak terjun bebas ke pipi.
"Aku marah dan kecewa karena jujur, aku menyayangimu, Berlian. Aku merasa bahwa kamu itu sangat tulus merawatku. Jadi, tidak heran jika aku ingin yang terbaik untukmu. Berjanjilah untuk tidak menyentuhnya lagi. Itu tidak baik untuk kesehatan!"
Bukannya lebay tapi Bu Hani memang ingin gadis itu hidup dengan baik.
__ADS_1
"Saya janji, Bu!"
Lian merasa jika yang sedang ia hadapi adalah sosok ibundanya sendiri. Jadi, saat mengatakan ini tidak ada beban atau keterpaksaan.
"Bagus. Jika kamu ada masalah lebih baik cari kegiatan yang lebih positif atau curhat denganku saja. Aku siap mendengarkan. Santai saja, jangan sekaku itu saat bicara denganku! Anggap aku ini ibumu sendiri."
Lian menatap wanita berkepala miring itu dengan lekat. "Jadi, saya tidak dipecat?"
Bu Hani tersenyum. "Aku membutuhkan kamu, Berlian." Ia memang sudah sangat nyaman dengan gadis tomboi tapi lembut tersebut.
"Terima kasih, Bu." Kali ini Lian gagal menghadang pasukan bulir bening dari matanya. Ia sangat terharu akan kelembutan sang nyonya.
Di balik pintu yang tidak tertutup sempurna, Satria menghentak napas kasar. Ia pikir ibunya akan mendepak wanita aneh itu tapi ternyata sebaliknya.
"Oke, mari kita lihat. Kalau mamaku keadaannya tidak membaik maka aku yang akan mengusirnya dari sini," gumamnya geram.
**
"Ya, Mah. Nanti aku kabari kalau aku akan pulang. Sekarang masih sibuk," ucap Satria via telepon.
Pintu ruang kerjanya terbuka perlahan. Sosok tinggi semampai dan menggoda tersenyum menghampiri.
"Sudah dulu, Mah. Aku ada klien yang sangat penting," kilah Satria menutup pembicaraan. Jangan lupakan matanya yang jelalatan memindai makhluk menawan di depannya. Ia sudah sangat terhipnotis hingga tak mempedulikan jika ibunya akan kesal.
"Bapak mau saya melakukan apa?" tanya si wanita dengan manja.
Satria tersenyum pada sekertaris cantiknya itu. "Fani, sini!" titahnya dengan menjentikkan jari. Si wanita pun pindah berdiri di sampingnya.
"Ya, Pak. Lalu, saya harus apa sekarang?" tanyanya sok polos padahal ia tahu perangai sang bos yang suka genit pada perempuan cantik sepertinya.
"Aku mau …." Satria lebih suka melanjutkan kata-katanya dengan tindakan. Pria itu tanpa ragu melahap bibir merah menyala sang sekretaris. Tentu Fani tidak menolak pria tampan tersebut. Ia memang ingin merasakan manisnya sentuhan si bos.
Aksi mereka terpaksa berhenti karena sebentar lagi akan ada meeting.
__ADS_1
"Sial! Hampir saja aku lupa," rutuk Satria merapikan rambut gondrongnya yang berantakan.
Fani tersenyum merasa bangga karena diinginkan oleh pria selevel Casanova.
"Bagaimana kalau kita lanjutkan di tempatku saja, Pak?" bisiknya seraya mengusap dada bidang Satria dengan sensual.
Pria itu hanya menyeringai nakal.
**
Seperti yang direncanakan, Satria menemui sang sekretaris di sebuah apartemen. Wanita bertubuh memabukkan itu menyambut dengan hangat, bergelayut manja layaknya pada seorang kekasih.
Satria tidak heran ketika diperlakukan seperti itu. Sebagai pria yang tampan dan mapan tentu ia paham jika tidak ada perempuan yang akan mampu menolak pesonanya, kecuali si Berlian. Hey, kenapa dia mendadak teringat dengan wanita tidak normal itu?
"Apa sih, dia itu kan cewek jadi-jadian. Aku curiga jika dia sebetulnya penyuka sesama donat. Mana mau dia dengan sosis jumboku yang berurat dan perkasa," pikirnya konyol.
"Bapak kenapa bengong? Aku dari tadi ngajak dinner, lho! Aku sudah masak spesial untuk Bapak." Padahal Fani memesan makanan itu dari restoran.
"Ah, iya. Kebetulan aku sedang lapar," jawab Satria.
Setelah makan malam, keduanya mengobrol santai di balkon. Fani begitu gencar memancing Satria agar segera menyerangnya. Ia sengaja memakai pakaian minim dan berlaga manja. Jemari lentiknya menari-nari di dada pria yang rambutnya diikat itu.
"Fani sepertinya sudah sangat tidak sabar untuk kusentuh. Aku akan membuatnya makin tersiksa," batin Satria yang kini menyeringai. Ia ingin bermain-main sebentar lagi untuk membuat hasrat wanita itu menggila.
Fani yang sudah greget mencari cara lain. Ia nekad melucuti pakaian luarnya di depan si bos. Kini hanya tertinggal CD berwarna pink yang menempel di badannya.
"Kenapa kamu lepas baju?" tanya Satria sok acuh padahal ia sudah sangat ngiler dengan keindahan di depan mata.
"Malam ini rasanya panas, gerah. Aku mau mandi dulu, Pak," jelasnya dengan suara mendayu nan merayu.
"Oke, aku tunggu di sini saja," ujar Satria pura-pura tidak peduli.
"Bagaimana kalau kita mandi bareng, Pak?" Tanpa menunggu jawaban, Fany menyeret pria itu menuju kamar mandi.
__ADS_1