
Satria menggarap sang istri di dalam mobil hingga kendaraan yang tengah parkir sembarangan itu sedikit bergoyang. Beruntung karena jalanan itu sepi hingga tidak ada yang memergoki.
Dengan terlalu semangat, pria itu menyentuh dan mengecup semua area kepunyaan Berlian tanpa terlewat sedikit pun. Awalnya seperti terburu-buru karena marah dan gejolak di dada tapi kemudian berangsur lebih lembut penuh perasaan. Itulah yang menyebabkan Lian menjadi luluh dan pasrah.
Wanita itu membalas tiap sentuhan yang diberikan Satria meski tidak terlalu lihai.
Mereka larut dalam kehangatan di malam itu.
"Berlian, aku mencintaimu," lirih Satria usai mengecup kening sang istri setelah pergulatan panas berakhir.
Wanita itu membatu di tempatnya duduk. Matanya terbuka tanpa berkedip, mencari ketulusan dari manik sang suami. Jangan tanyakan bagaimana kerja jantungnya yang memacu cepat. Lian ingin bertanya untuk memastikan perasaan Satria tapi tenggorokannya mendadak seret dan mulutnya seperti kena stroke parah.
Satria tersenyum merapikan anak rambut istrinya. Semoga dia dimaafkan karena membuat penampilan Berlian acak-acakan.
Sambil memperbaiki pakaian Lian, Satria berucap, "Jujur, aku tidak pernah punya perasaan sedalam ini pada perempuan sebelumnya. Bukan karena aku tidak normal, kamu tahu sendiri bagaimana brengseknya aku. Tapi di antara mereka semua tidak ada yang berhasil menembus benteng pertahanan yang selama ini kubuat."
Lian masih menyimak tanpa berkomentar. Dia juga tahu sejarah buruk masa lalu Satria sampai akhirnya tidak mau menikah, hanya sibuk bermain-main wanita. Nyonya Hani yang menceritakan semua padanya.
Satria membawa Lian bersandar di dadanya. Satu tangannya menggenggam jemari wanita tersebut. Sesekali dia mendaratkan bibir di kening Lian.
"Aku melihat Mamaku hidup menderita dalam pernikahannya. Itulah yang membuatku takut untuk berumah tangga. Aku tidak pernah serius pada wanita karena tidak ingin terjerat pada suatu komitmen. Tapi, entahlah. Setelah aku mengenalmu, lama-lama benteng pertahananku roboh. Aku paling anti jatuh cinta tapi saat berhadapan dengan kamu, aku menyerah."
"Berlian, kenapa kamu diam saja? Pasti shock, ya? Aku akan membuatmu percaya bahwa aku sungguh-sungguh mencintai kamu. Aku ingin membuatmu bahagia. Maafkan aku yang banyak menyakiti hatimu."
Satria mengeratkan pelukannya. "Berlian, aku mencintaimu. Tolong bicara sesuatu dan jangan buat aku jadi seperti pria stress!" Dia terkekeh dengan banyolan konyolnya.
"Aku juga cinta kamu, Mas."
Satria membingkai wajah Lian agar mereka beradu tatap. Matanya berbinar dan bibirnya tersungging bahagia. Dengan perlahan dia mengecup bibir yang sebenarnya sudah kebas itu. Bermain-main di sana cukup lama hingga keinginan liarnya kembali muncul.
"Ah, maaf. Sepertinya kita harus segera pulang ke apartemen. Jangan sampai mobil ini bergoyang lagi."
Pria itu terkekeh kecil melepaskan pagutan. Ya, mereka memang harus pindah ke tempat yang lebih aman jika ingin melakukan pergulatan jilid kedua.
Kedua insan itu tidak berhenti tersungging. Malam ini adalah malam yang paling indah, bisa dibilang jika malam pengantin mereka baru dimulai.
**
__ADS_1
Lian tersipu saat mengingat momen panas antara dia dan suaminya yang kini begitu lelap memeluk dirinya. Wanita itu mengusap pipi Satria penuh kagum. Lelaki tampan yang dulu sangat memuakkan dan sinis tapi sekarang berubah jadi manis.
Awalnya dia pikir tidak akan ada yang bisa mencintai apalagi menerima masa lalunya tapi sekarang dia bersyukur karena telah menemukan pria yang tepat.
Satria mengerjap dan tersenyum. Dia mengeratkan pelukannya. Kepalanya menelusup ke leher sang istri. "I love you, Sayang," gumamnya.
"I love you too, Mas." Lian mengusap kepala pria yang kembali pulas itu.
Mereka kemudian membersihkan badan bersama beberapa jam kemudian. Mandi plus-plus!
Siang hari mereka pergi berkencan layaknya pasangan kebanyakan. Jalan-jalan, menonton, makan dan belanja.
Makin lama Lian dan Satria makin lengket dan mesra. Bahkan, pria itu hampir tiap hari menyuruh istrinya untuk menemaninya bekerja. Satria memang lebih semangat saat ada Berlian di ruangannya. Namun, tak jarang hal itu membuat fokusnya teralihkan dari pekerjaan. Dia dengan nakalnya meminta Lian untuk bermain keringat.
Beberapa bulan berlalu.
Satria gegas menyusul istrinya yang telah lama ada di kamar mandi. Dia sangat panik apalagi setelah mendengar Lian menangis.
"Sayang, kamu kenapa?" Sejujurnya dia takut jika wanita itu kembali mengingat masa lalu yang kelam sebab semalam dia sedikit memaksa untuk melakukan hubungan badan.
"Maafkan aku," lirih Satria.
Lian menggeleng pelan.
Lelaki itu menghela napas berat. "Aku janji tidak akan memaksamu lagi."
Tangis Lian justru makin pecah. Pundaknya berguncang keras. "Bukan itu …!"
Satria membuat istrinya menatapnya. "Jadi, kamu kenapa?"
"Ini, lihatlah!" Lian memberikan sebuah alat berbentuk pipih panjang berukuran kecil.
Satria mengambil dan memperhatikan dengan saksama. Jantungnya berdebar setelah tahu apa jenis alat tersebut.
"Apa ini tandanya kamu … hamil?" Matanya berbinar.
"Iya, Mas. Akhirnya aku mengandung anakmu." Berlian mengangguk-angguk lalu mengusap air matanya.
__ADS_1
Satria memang menginginkan kehadiran anak kecil di antara mereka agar kebahagiaan menjadi lebih sempurna. Dan sekarang keinginannya terwujud, tentu Satria sangat bersyukur.
Dengan berlinang air mata haru, dia memeluk erat istrinya dan mendaratkan banyak kecupan di kening.
"Tuhan sangat baik padaku. Dia memberikan istri yang cantik dan luar biasa. Dan sekarang Tuhan juga memberikan kita keturunan. Aku sangat bahagia, Sayang." Bahkan, suara lelaki itu agak parau. Satria terisak penuh haru.
Mereka langsung pergi ke dokter kandungan untuk periksa. Semua dinyatakan normal dan sehat.
Kabar bahagia itu langsung diberitakan pada Nyonya Hani. Wanita menuju tua tersebut sangat antusias dan senang. Dia langsung menyusul dan tinggal bersama di apartemen untuk menjaga sang menantu dan calon cucunya.
**
Satria mondar-mandir di depan ruang persalinan karena di dalam sana sang istri tengah berjuang melahirkan anak mereka.
Tadinya dia ingin menemani Berlian tapi malah diusir karena istrinya itu tidak bisa fokus mengejan. Ya, Satria terlalu bawel dan berisik hingga membuat kepala Lian pusing. Pria itu harus puas menunggu di luar bersama ibunya.
Keduanya bisa masuk setelah dokter mengijinkan.
"Anak kita tampan seperti aku, Sayang." Satria mengusap sudut matanya yang mengeluarkan air kebahagiaan.
Lian tersenyum haru. "Kamu memang ayah kandungnya, wajar kalau mirip."
Si bayi merah berpindah ke pangkuan neneknya. "Cucu pertamaku yang tampan dan lucu." Wanita itu terisak bahagia. Dia teringat momen dulu saat melahirkan Satria.
Semua orang berbahagia dan bersyukur atas anugerah yang diberikan Tuhan. Keluarga mereka makin lengkap dan berwarna.
Satria kini menyadari jika nasib orang belum tentu sama. Dulu ibunya menderita dan gagal dalam pernikahan tapi sekarang dia sangat bersyukur karena berhasil mendapatkan kebahagiaan walau di awal sering membuat kekacauan.
"Sayang, aku makin mencintai kamu. Terima kasih sudah hadir di hidupku," bisik Satria sebelum mengecup kening sang istri.
"Aku juga, Mas. Terima kasih sudah menerimaku sepenuh hati."
Satria menyapu pipi sembab Berlian kemudian mengusap kepalanya.
'Bu, aku sudah menemukan kebahagiaan. Ibu pasti ikut bahagia melihatku, bukan?' batin Berlian mengingat sosok ibunya yang telah tiada.
Begitulah hidup, ada suka dan ada duka. Tiap orang punya ujiannya masing-masing. Tapi yakinlah bahwa Tuhan akan menuntun kita untuk menemukan jalannya. Kita akan jadi pemenang jika bisa berjuang dalam situasi apa pun. Jika kamu percaya pada kekuasaan Tuhan maka kamu tidak akan pernah menyerah dengan keadaan.
__ADS_1