Aku Bukan Sampah

Aku Bukan Sampah
Menolak rasa


__ADS_3

"Mas mau tumis kangkung nggak? Cuminya? Ini gak terlalu pedas kok." Lian menyendokkan sedikit nasi dan menunggu jawaban suaminya untuk melengkapi piring dengan lauk.


"Aku bisa ambil makanan sendiri," jawab Satria tanpa menatap. Dia sibuk mengambil piringnya sendiri lalu mengisinya dengan nasi dan lauk. Mengisi gelas dengan air putih lalu minum sebelum akhirnya menyantap makan siangnya. 


Lian hanya diam. Dia lengkapi nasi dengan sayuran hijau dan seafood yang banyak. Orang yang sedang makan hati memang dianjurkan untuk mengkonsumsi banyak makanan agar lebih strong menjalani kepahitan hidup.


"Enak gak makanannya?" tanya Lian untuk merobohkan kecanggungan.


Yang ditanya sama sekali tidak melirik. "Biasa aja, enakan makan di warteg." Sengaja meremehkan tapi untungnya Lian tidak merasa tersinggung. Karena apa? Omongan Satria tidak sinkron dengan sikapnya. Sudah dua kali nambah, masih mau bilang makanannya biasa saja? Bahkan saat mengatakan itu, mulut Satria dipenuhi nasi beserta teman-temannya.


'Gitu aja gengsi.' Lian mengulum senyum. 


Perempuan itu berdiri menghadap wastafel untuk membuat peralatan makan menjadi kinclong kembali. Sedangkan Satria masuk ke kamar dan mengutak-atik laptop, mengecek email yang masuk. Pria itu masih setia dengan posisi yang sama hingga waktu sore. Entah memang benar-benar ada pekerjaan atau sengaja menghindari berinteraksi dengan istrinya.


Lian mengetuk pintu yang sebenarnya terbuka. Meminta izin untuk masuk ke kamar Satria. Seperti biasa, jawabannya selalu 'hem'.


Secangkir teh hangat dan brownies kukus disimpan di atas nakas. Kebetulan sekali, Satria memang ingin ngemil sambil berselancar di laptop miliknya. Tapi tetap saja sok cuek, sok menolak padahal senang luar biasa.


"Dimakan, mumpung masih hangat." Lian masih berdiri di hadapan sang suami.


"Hem …. Lain kali gak usah sok jadi istri yang baik deh. Buat apa? Toh di sini gak ada mamaku. Hubungan kita ya tetap aja gak bakalan berubah."


Jika menuruti ego dan emosi maka saat ini Lian ingin menjitak kepala pria yang pura-pura fokus ke layar laptop. Tapi biar bagaimanapun, Satria tetap suaminya. Laki-laki yang mulai memasuki hati dan pikirannya. Tidak bolehkah dia berjuang untuk mendapatkan perhatian dan rasa yang semestinya dia dapatkan? Lian ingin keberadaannya dihargai sebagai seorang istri. Meski sekali lagi, dia tidak menuntut untuk segera dicintai. Yang penting, pria itu bisa sedikit saja menerima posisinya. Mungkin saja waktu bisa merubah perasaan Satria hingga hubungan mereka bisa bertahan. 


'Aku tahu kalau dia gak mungkin menyukai aku. Tapi … aku juga berhak memperjuangkannya, bukan!'


Entah kenapa bisa secepat ini perasaan khusus bersemi untuk suaminya. Memang benar, yang namanya hati manusia itu kadang tidak bisa dikontrol pemiliknya sendiri.


"Jangan GR, Mas! Seenggaknya sebagai makhluk sosial, aku boleh peduli sama kamu. Kita ini 'kan teman se-apartemen. Udahlah, kebaikanku jangan dibikin beban. Nikmati aja kue sama tehnya. Gak baik nolak rezeki. Lagian aku cuma iseng-iseng bikin itu biar gak bete."


Senyum Lian membuat dada Satria berdugem. Tanpa sadar, matanya mengikuti pergerakan tubuh tinggi semampai yang keluar dari kamarnya.


'Coba kalau penampilannya kayak Nikita Markonah, pasti makin hot tuh. Kayak laki aja masih kelihatan gemesin.'


"Haish …! Mikir apa nih otak?" gerutunya.


Daripada berpikir yang aneh-aneh lebih baik ngemil yang manis. 

__ADS_1


Satria menutup matanya saat mengunyah kue lembut rasa cokelat dan keju itu. Ini brownies kukus terenak yang pernah dia makan. Ternyata istri tomboinya pandai dalam urusan dapur.


'Sayangnya kalau urusan di atas ranjang, Lian payah!' Tuh kan, miring lagi otaknya.


**


Satria tidak bisa memejamkan mata. Kenapa malam ini dia ingin melongok dulu kamar di sebelah? Hanya ingin mengecek apakah istrinya sudah tidur atau belum. Tapi … apa pedulinya? Bahkan hal itu bukan sesuatu yang penting.


"Redi, jemput aku ke apartemen!" titahnya pada sang asisten yang kini merangkap jadi sekertaris pribadinya.


Selang setengah jam, orang yang Satria telepon, sudah menunggu di ruang tamu. Lian membungkuk hormat pada pria asing itu. 


'Ini beneran istrinya si Bos? Tomboinya …!' Redi memindai tiap inchi tubuh wanita yang berdiri di hadapannya. Yang ditatap tentu merasa risih dan segera undur diri.


"Hey, lihat apa kamu?" 


Suara Satria membuat Redi terlonjak. "Itu … Nona Bos?"


"Iya!" jawab Satria ketus. Melengos pergi duluan yang segera disusul sang asisten.


Lian ternyata menyimak. Dahinya mengerut. Mau pergi ke mana suaminya malam-malam begini?


'Mau sok jadi istri yang baik kayak di film-film?'


Satria menghentak napas. Berlalu menuju kamarnya sendiri. Tubuhnya lelah setelah bermain biliar berjam-jam bersama Redi, ngantuk!


Pria itu kembali ke ruang tamu setelah beberapa menit berlalu. Selimut yang dibawanya kini menutup seluruh tubuh Lian, hanya memamerkan kepalanya saja. Mencoba cuek pun nyatanya malah membuat Satria makin gusar. Harusnya perempuan itu tidak pernah tinggal dengannya di apartemen ini. 


'Nyusahin aja!'


**


Pagi yang aneh karena ada yang menunggunya di meja makan. Gengsi dan ingin menolak tapi perutnya tidak bisa diajak berkompromi. Biarlah, sarapan bersama dan makan hasil masakan istri bukan berarti jika dia peduli pada Lian. Namun, nyatanya hal itu sukses membuat hati perempuan itu berbunga. Hal yang kecil seperti ini justru terkesan indah. Ketika apa yang kau buat diterima dengan baik oleh mulut sang suami, saat itulah usahamu merasa dihargai.


"Kamu jangan ke mana-mana. Aku gak mau kamu kenapa-napa di luaran sana. Nanti yang repot pasti aku! Oh, satu lagi. Di sini gak ada pembantu jadi … kamu yang melakukan pekerjaan rumah. Aku gak suka rumah dalam keadaan kotor, berdebu apalagi bau. So …, lakukan semua dengan benar!" 


Satria ingin membuat istrinya tidak betah tinggal di apartemen itu. Dia menampakkan senyum smirk tapi justru dibalas dengan senyum semangat. 

__ADS_1


"Oke, aku paham tanpa kamu jelasin kayak gitu. Kebetulan banget, aku jadi punya kerjaan di sini. Gak bakalan bete." Jangan salah, Lian sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti itu. Dia bukan tipe perempuan manja.


Raut wajah Satria berubah jadi ditekuk. Merasa kalah karena ekspresi istrinya berbeda dari yang dia harapkan. Tanpa bicara lagi, dia melengos tapi Lian menyetop langkahnya.


"Mas hati-hati!" ucap Lian setelah mencium punggung tangan suaminya. Satria melongo saat hatinya merasa berdesir tapi sejurus kemudian memasang tampang yang sama, seram!


Kekesalan Satria makin menggunung karena perasaannya berkhianat. Dia tidak mau terhanyut dalam sikap baik istrinya. Ini tidak boleh dibiarkan. Hatinya hanya miliknya seorang. Dia yang mengendalikannya dan memastikan tidak ada sesuatu atau seseorang yang bisa menguasai apalagi menyakitinya suatu saat nanti.


**


"Apa ini? Mejanya masih kotor," protes Satria setelah melap meja makan dengan telapak tangan. Padahal omongannya tidak sesuai fakta. Lian sudah membersihkan itu berkali-kali.


"Oke, aku bersihkan lagi setelah kita selesai makan malam. Tanggung, makanan udah ada di atas meja. Lagian, Mas pasti udah laper." Mengambil piring dan menyendokkan nasi beserta lauk. Menyodorkannya pada sang suami yang duduk di depan.


Satria terbatuk-batuk, lebih tepatnya, pura-pura batuk sesaat setelah melahap makanan. Lian cepat-cepat memberi minum tapi ditepis dengan kasar hingga airnya tumpah. Perempuan itu masih sabar untuk mengeringkan bekas tumpahan. Maklum, orang tersedak bisa saja berbuat ceroboh. Baru juga satu suapan, Lian kembali diganggu dengan protes suaminya.


"Ikan apa ini? Kamu sengaja mau bunuh aku?" pekik Satria sembari melepeh makanan ke tissue kering. Menyimpannya sembarang di dekat piring.


"Emang kenapa? Rasanya gak pas di lidahmu?" Masih bernada lembut.


"Bukan cuma gak enak tapi juga banyak durinya." Masih saja ketus.


Lian tersenyum. Menurutnya sikap Satria yang seperti anak kecil, terlihat menggemaskan. "Yang namanya ikan wajar kalau ada tulang-tulang kecil kayak gitu. Beda sama tempe atau tahu. Tapi tenang, aku akan singkirkan itu biar Mas tinggal makan aja."


Baru juga hendak menyentuh ikan goreng tersebut, Satria menolak. "Gak usah, jijik!" Pria itu melengos begitu saja untuk mencuci tangan kemudian masuk ke kamar.


Lian mengusap dada seraya mengambil napas dalam-dalam. Memang sedikit menyakitkan tapi dia masih bisa tahan. Dia memilih untuk menyantap makan malam sendirian, sayang kalau makanan itu dianggurin.


Meja makan sudah kembali rapi. Piring dan gelas yang kotor sudah dibersihkan. Lian duduk di sofa tamu, memainkan gawai untuk berkirim pesan dengan ibu mertua. 


"Mas, mau ke mana?" tanya Lian saat Satria berjalan melewatinya.


"Mau ke luar dan kamu gak perlu tahu. Oh, ya … mulai besok gak usah masak apapun untukku. Aku lebih suka makanan restoran yang enak dan terjamin kebersihannya. Kalau mau tidur jangan di sofa. Aku gak mau ilermu itu netes ke mana-mana."


"Ada lagi?" Lian masih bisa bersikap tenang dan lembut.


"Aku bisa aja gak pulang malam ini. Ada kencan dengan seseorang. Sudah lama tubuhku tidak berolahraga."

__ADS_1


Kali ini perkataan Satria sukses menancapkan belati di hatinya. Sakit tapi tetap berusaha tidak terpengaruh.


__ADS_2