Aku Bukan Sampah

Aku Bukan Sampah
Calon istri pilihan Mama


__ADS_3

 


Satria baru keluar dari kamar mandi saat ponselnya bergetar. Benda pipih itu didekatkan ke telinga. Sebelum bicara, dia menebar senyum menggoda pada wanita sexy yang duduk di atas tempat tidur.


"Ya, Ma!" 


"Kamu bisa pulang secepatnya? Mama ada urusan penting sama kamu."


"Heh, kenapa?" Pikirannya terganggu dengan si gadis yang saat ini tengah melucuti pakaian.


'Astaga, gede banget!' 


Jakunnya naik turun melihat pesona tubuh polos yang tak terbungkus kain lagi.


"Sat, kamu denger Mama gak?" pekik Nyonya Hani di sebrang telepon.


"Ah, iya. Maaf, aku emang lagi banyak pikiran saat ini." Matanya tertutup saat perempuan nakal itu bermain-main di pusakanya. Begitu menikmati pijitan di sekitar area sensitifnya.


"Kamu ini kenapa sih? Mama mau kamu cepat pulang temui Mama! Ada hal urgent yang harus kita bahas."


Satria mati-matian menahan desahannya agar tidak tertangkap telinga sang ibu. 


"Ma, udah dulu ya! Aku juga sekarang harus beresin urusanku. Ini sangat urgent daripada urusan Mama! Bye, love you!"


"Sat! Jangan tutup dulu te …." Terputus!


Ponsel dinonaktifkan dan dilempar pelan ke dekat bantal. Pria itu langsung merebahkan si gadis yang dari tadi tidak berhenti menggoda. Jubah mandi yang sudah terbuka itu dilempar ke lantai. 


"Kamu emang pintar membangunkan aku, Sayang! Mari kita lihat seberapa lihainya kamu bikin aku melayang!"


Satria menyeringai seraya menatap pahatan indah di bawah kungkungannya. Aksi segera dimulai.


Kamar hotel itu dipenuhi suara-suara syahdu dari mereka berdua. Berbagi sentuhan dan kenikmatan hingga bermandi peluh.


**


Satria segera menghubungi ibunya melalui sambungan telepon setelah beristirahat sejenak dari 'olahraga vitalnya'. Duduk bersandar di bahu ranjang. Sebelah tangannya bermain-main di area dada si wanita yang masih tidur telentang.


"Satria …! Kenapa kamu tutup telepon saat Mama belum selesai ngomong?" pekik Nyonya Hani yang membuat pria itu menjauhkan ponsel dari telinganya.


Satria memejamkan mata saat ibunya berteriak-teriak. Kedua alisnya saling menekuk. Setelah Nyonya Hani selesai ngomel, barulah handphone ditempelkan lagi pada daun telinga. Lupa sudah dengan aktivitas menggerayang asyiknya pada si teman wanita.


"Maaf, aku bilang tadi ada urusan penting, sangat urgent. Kalau gak buru-buru dikelarin aku bisa gila, Ma!"


"Dengar, Mama gak mau tahu alasan kamu yang gak beres itu! Pokoknya Mama mau kamu secepatnya temui Mama di rumah."


"Ya, kalau penting ngomong aja sekarang di telepon. Gampang, kan!"


"Gak bisa dong. Mama ingin bicara langsung," timpal Nyonya Hani.


Pusing mendengar omelan mamanya, akhirnya Satria menyanggupi permintaan itu.


**


Sore hari Satria sampai di rumah Nyonya Hani. Namun, ibunya itu tak ada di sana. Dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan kemudian rebahan di kasur. 


Satu jam lamanya dia tertidur dan terbangun karena mendengar suara ketukan pintu. Ibunya memanggil-manggil.


Satria mengucek matanya yang merah. "Masuk aja, Ma. Gak dikunci." Dia duduk di tepi ranjang saat Nyonya Hani menghampiri. Matanya menatap takjub karena melihat perempuan itu dalam keadaan segar dan lebih sehat.

__ADS_1


Pria itu bangkit seraya bertanya, "Mama sekarang udah sembuh total?"


Nyonya Hani mengangguk sambil tersenyum lebar. Aura kecantikannya terpancar kuat karena faktor rasa bahagia di dalamnya.


Satria memeluk wanita yang telah melahirkannya itu. "Aku bahagia … banget! Akhirnya doaku selama ini terkabul. Tapi Mama harus lebih berhati-hati sekarang. Jaga asupan makanan dan atur aktivitas biar kesehatan Mama terjaga."


Nyonya Hani manggut-manggut. Dia mengajak putranya untuk duduk di sofa. Berbasa-basi sebentar kemudian mengajak turun ke ruang makan.


Ibu dan anak itu makan hanya berdua. Biasanya Lian ikut hadir tapi kali ini absen. Gadis itu sengaja menghindari pertemuan dengan anak majikannya. 


"Kenapa celingak-celinguk? Cari Lian, ya?" goda Nyonya Hani di sela mengunyah.


"Nggaklah …!" kilahnya. Dia hanya penasaran, kenapa wanita setengah matang itu belum kelihatan batang hidungnya.


"Jangan pura-pura, kamu!" Mengulum senyum.


Satria memutar bola matanya malas. Ya, dia malas digoda begitu karena wajahnya pasti merah sekarang!


"Lian katanya gak enak badan," jelas Nyonya Hani tanpa ditanya.


"Gak nanya, aku Ma …!" ketus Satria. Padahal dalam benaknya bertanya-tanya.


'Makhluk setengah matang kayak dia bisa sakit juga ternyata. Tapi, sakit apa? Jangan-jangan bohong tuh!'


"Lian demam dari kemarin. Tapi sekarang udah mendingan dan lagi istirahat. Jadi kita gak perlu khawatir," timpal si Nyonya dengan sengaja.


Satria mendengus saat mengaduk-aduk makanannya. "Kita? Mama aja kali, aku nggak tuh! Bukan urusanku, cewek itu sakit atau nggak."


Nyonya Hani mesem sendiri. Dia yakin jika sebenarnya putranya itu sedikit tertarik pada Berlian. Padahal nyatanya tidak seperti itu.


**


"Udah, Bu." Lian duduk di sofa bersebelahan dengan majikannya.


"Kamu belum ketemu Satria?" tanyanya dengan antusias.


"Belum …," jawab Lian datar.


"Tadi malam dia kayaknya nyariin kamu. Pasti …."


Lian memotong pembicaraan. "Bu, maaf. Saya sebenarnya pengen ngomong sesuatu yang penting. Saya mau Anda membatalkan rencana untuk menikahkan saya dengan Tuan Satria. Saya mohon, jangan pernah bahas niat Anda padanya!"


Dia tahu jika Satria akan menolaknya tapi setelah berpikir panjang, dia tidak mau jika laki-laki itu memandangnya aneh atau mungkin jijik jika mengetahui perjodohan ini.


"Kenapa lagi, Lian?" Nyonya Hani tampak kecewa.


"Saya sebenarnya … sudah tidak suci lagi, Bu!" Lian sekarang berubah pikiran. Dia merasa perlu menyampaikan ini agar si nyonya tidak melanjutkan rencana perjodohan ini.


Wanita paruh baya itu melongo. Banyak pertanyaan berseliweran di otaknya. Namun, mulutnya sama sekali tidak bisa bersuara.


Dengan kepala tertunduk, Lian akhirnya menceritakan semuanya pada majikannya. Masa kelam di mana kehormatannya direnggut oleh ayah tirinya. 


Di luar dugaan, Nyonya Hani malah memeluknya erat sambil menitikkan air mata. Sebagai sesama wanita, dia bisa merasakan bagaimana hancurnya Berlian.


"Aku tidak menyangka kalau nasibmu seperti ini. Penilaianku tidak akan berubah. Kamu tetap yang terbaik di mataku, Lian!"


Kali ini giliran gadis itu yang melongo. Siapa sangka jika majikannya itu memiliki hati yang amat baik. Tidak salah jika selama ini dia pun menyayanginya seperti pada ibu kandung.


"Jadi, tolong batalkan rencana perjodohan ini, Bu!" pinta Lian sekali lagi.

__ADS_1


"Nggak sama sekali, aku akan tetap menikahkanmu dengan Satria!"


"Jangan, Bu! Saya gak pantas untuk jadi menantu siapapun apalagi menantu Anda. Lagipula, saya juga yakin jika putra Anda gak akan menyetujui ini."


"Kalau Satria nyatanya menerima, kamu gak akan mundur dong! Tetap di kesepakatan awal. Aku gak mau kamu nolak, Lian!"


'Kenapa dia yakin banget kalau anaknya mau nikahin aku?'


Lian termenung memikirkan perkataan si nyonya.


"Kalau kamu mundur itu berarti kamu gak menghargai aku, Lian! Jadi, please … lanjutkan rencana ini. Aku yakin jika Satria bisa bahagia jika punya istri seperti kamu."


Nyonya Hani terus membujuk hingga akhirnya Berlian menyanggupi lagi rencana tersebut.


**


"Sebenarnya Mama mau ngomongin apa? Apa sih hal yang katanya penting itu?" desak Satria karena sedari kepulangannya, ibunya belum juga memberi tahu.


"Janji dulu, kamu gak akan ngambek atau protes sama permintaan Mama!"


Dahi pria itu berkerut dan alisnya nyaris bertabrakan. "Mama aneh. Emang apa sih? Kayak anak kecil aja."


"Pokoknya kamu harus diam memperhatikan dengan seksama saat Mama ngomong. No protes apalagi marah-marah!"


"Tahu juga belum, masa mau sembarangan bikin janji," protesnya.


"Kalo gak janji, Mama gak akan ngomong!"


"Ckkk …. Ya …!" Terpaksa menyetujui.


Ruang keluarga itu hening. Nyonya Hani sengaja bungkam agar anaknya penasaran. Setelah raut wajah Satria mulai kusut, barulah dia bicara.


"Gini, Mama punya satu kandidat lagi buat jadi calon istrimu."


Jeder! Satria pikir jika hal memuakkan itu tidak akan pernah dibahas lagi setelah gagalnya perjodohan dengan keempat gadis berbeda. Baru juga mulutnya terbuka hendak mengeluarkan uneg-uneg, Nyonya Hani menimpali.


"Ingat, no protes! Dengarkan baik-baik!" titahnya seraya menempelkan telunjuknya di bibir.


Si anak bujang melepas napas kasar lewat mulut. Kepalanya mulai berdenyut-denyut.


"Sebenarnya Mama mau kamu punya seorang istri seperti Berlian."


"What?" Mata Satria nyaris keluar dari rongganya.


Ibunya hanya manggut-manggut sambil tersenyum tipis.


"Ini kupingku yang bermasalah apa Mama yang otaknya mulai lelah dan akhirnya pesimis kayak gini? Ya Tuhan, diantara banyaknya gadis di planet ini kenapa dia yang Mama pilih?" Memegang batok kepalanya yang terasa mau pecah.


"Percuma Mama pilihkan seorang Miss universe sekalipun. Kamu cuma mau main-main saja tanpa berniat menikah. Lagian, Lian itu adalah yang terbaik menurut Mama."


Satria menatap ibunya nyalang. Ada gurat kekecewaan di sana.


"Apa Mama pikir aku ini benar-benar buruk hingga mau menikahkan aku sama cewek kayak dia?"


"Maksud kamu?"


"Aku emang cowok playboy, suka main cewek tapi aku gak mau sama perempuan sok suci kayak Berlian. Dia itu pura-pura nolak tapi nyatanya udah gak virgin."


"Kenapa kamu mikir gitu?"

__ADS_1


"Aku tahu rahasianya dan Mama jangan menutupi itu dariku!"


__ADS_2