Aku Bukan Sampah

Aku Bukan Sampah
Cewek sampah


__ADS_3

"Maaf, Sayang. Aku cuma bercanda kok. Habisnya kamu imut sih, gemesin!" Satria memeluk istrinya dengan sebelah tangan sementara tangan yang lain masih memegang ponsel.


"Lepasin aku!" pinta Lian ketus.


"Jangan galak-galak gitu, Sayang …. Emangnya kamu gak kasihan sama suamimu ini? Aku minta maaf deh soal yang tadi." Mengecup lagi kepala istrinya.


"Dasar modus, lepasin aku! Video callnya udah end," teriak Lian untuk menyadarkan pria itu.


Satria melepas pelukannya lalu mendorong tubuh Lian agak kasar.


"Sana jauh-jauh! Cari kesempatan aja buat mesra-mesraan sama aku," tuduhnya sambil membuang muka. Kesal dan malu. Kenapa ibunya main cutt pembicaraan tanpa bilang-bilang.


Lian membetulkan posisi duduk. Mendelik ke pria di sebelahnya. "Kamu yang modus, bukan aku. Dari tadi kamu yang berinisiatif buat meluk aku, cium aku. Kalau gak lagi video call-an sama mama, mana mau aku digituin sama kamu. Ih … amit-amit!" Bergidik seraya membuang wajah.


"Apalagi aku! Gini-gini, aku gak mau sama 'cewek sampah' kayak kamu!" Satria bangkit hendak pergi.


Lian ikut berdiri. "Tunggu! Aku emang udah kotor, gak suci lagi. Tapi apa aku serendah itu di mata orang-orang gak punya hati kayak kamu? Aku juga gak mau kayak gini. Aku gak mau disentuh sembarangan, aku gak mau dilecehkan! Kenapa harus aku yang dipandang hina?" teriak Lian. Suaranya sedikit bergetar menahan amarah dan sesak di dada.


Satria bungkam. Sebenarnya dia merasa sedikit jahat tapi ini wajib dilakukan agar istrinya mundur dari pernikahan ini. Jika begitu maka niat Lian untuk menguasai harta ibunya bisa digagalkan. Suatu pemikiran yang keliru dan kejam.


"Kamu gak pantas bilang sekeji itu tentang aku. Seburuk-buruknya dan sebenci-bencinya kamu padaku, aku tetap istrimu yang sah! Jika saja bukan demi Bu Hani maka aku juga gak sudi nikah sama laki-laki gak punya hati kayak kamu. Aku benci kamu, Satria! Kenapa diam saja?" 


Pria itu sama sekali tidak menoleh apalagi membalas kalimat panjang dari istrinya. Memilih meninggalkan kamar tanpa bersuara.


Lian membanting pintu kamar lalu kembali duduk di tempat semula. Matanya meluncurkan air yang membasahi pipi. Sakit! Perkataan pria bergelar suaminya itu terlalu menyayat hati. 


"Hidupku bukan miliknya. Dia gak akan bisa bikin aku jatuh cuma karena perkataan bodohnya. Jangan ada air mata!" Menghapus wajahnya yang sembab.


Sesulit dan sesakit apapun hidupnya kini, Lian harus bertahan seperti yang dikatakan mendiang ibunya. Tak ada masalah yang tidak punya solusi.


**


Baru kali ini Satria melontarkan kata-kata yang keterlaluan pada seorang wanita. Hati kecilnya tidak tenang karena merasa bersalah. Namun, ego dan pikiran buruknya masih menguasai. Seterusnya akan menyakiti Berlian hingga perempuan itu benar-benar hilang dari hidupnya dan Nyonya Hani.


"Hidupku jadi berantakan gini gara-gara perempuan itu."


Satria memijat pangkal hidung. Kepalanya berdenyut dan hatinya gelisah. 


"Aryo, malam ini kita ke club!" ajaknya pada seseorang lewat ponsel.


Seumur hidup, inilah momen perdana Satria mencetuskan ide untuk pergi ke tempat remang dan penuh godaan tersebut.

__ADS_1


**


Satria ragu untuk menenggak minuman asing dalam gelasnya. Namun, kata orang jika cairan hangat itu bisa membuat pikiran kita bebas dan ringan. Mungkin dia akan mencobanya sedikit, sekali ini saja.


Pria itu mengerjap-ngerjapkan mata dan kepalanya sedikit menggeleng. Ternyata rasa minuman itu aneh di lidah dan tenggorokannya. 


"Satria, jangan memaksakan diri untuk minum! Kamu itu tidak terbiasa mengkonsumsi alkohol. Sudah, jangan teruskan. Aku khawatir kalau kamu bakalan mabuk parah dan tidak bisa kendalikan diri." Aryo, salah satu temannya menasihati.


"Malam ini aja. Aku penasaran dengan yang mereka bilang. Apa benar kalau beban pikiran akan meluap jika kita banyak minum?" Satria mengisi ulang gelasnya.


"Kamu punya masalah? Apa berantem sama istri? Kalian itu pengantin baru, masa udah perang aja."


"Jangan bicarakan dia. Aku mau happy-happy sekarang."


"Aku mau kasih tahu kalo sebenarnya masalah itu tidak akan hilang cuma karena kamu minum-minum sampai KO sekalipun. Sebaliknya, bisa jadi masalah itu akan melebar. Aku bicara seperti ini karena aku gak mau sahabatku salah jalan."


Aryo memang pernah jadi pecandu alkohol dulu, saat ditinggal pergi istrinya bersama pria lain. Tapi sekarang sudah tidak lagi berani menyentuh minuman memabukkan tersebut sejak menemukan pelabuhan hati yang baru. Sedangkan keberadaannya di tempat tersebut hanyalah ingin menemani Satria, takut terjadi hal yang buruk mengingat ini kali pertama temannya itu main di club malam.


Satria sama sekali tidak mengindahkan petuah dari salah satu sahabatnya. Dia lebih tertarik untuk mendekati seorang wanita sexy yang duduk sendirian di sudut ruangan. Aryo sudah mencegahnya tapi nihil. Pria itu sangat terpesona dengan kemolekan si mahkluk sintal.


Satria mengajak perempuan berbaju mini itu ke sebuah kamar di lantai atas club tersebut. Tempat biasanya para pria menghabiskan malam bersama wanita mereka.


Bibir mereka menyatu seraya terus berjalan pelan menuju tempat tidur. Si pria merebahkan wanitanya dengan kasar. Melepas kancing baju yang masih menempel di bajunya. Kembali melahap bibir merah cabai itu lebih rakus sedangkan tangannya semakin liar. 


Perempuan itu melenguh ketika lehernya dijelajahi berbarengan dengan bagian dadanya. "Mas, cepat lakukan!" 


Satria melepas sabuk yang masih melingkar di pinggang. Saat membuka resleting celana, mendadak pikirannya tertuju pada sosok istri tomboinya. 


"Siapa di sini yang lebih pantas disebut barang bekas? Bukannya kamu yang suka gonta-ganti cewek dan berbuat mesum! Celap-celup seenaknya di banyak tempat."


Perkataan Lian terngiang di telinganya. Moodnya berubah berantakan dan hasratnya lenyap begitu saja.


Perempuan itu mengernyitkan kening ketika melihat lawan mainnya mundur sebelum pertempuran benar-benar dimulai. Kecewa menyaksikan Satria kembali memakai baju. Dia bangkit dan meraih tangan pria sexy itu.


"Mas mau ke mana? Masa gak jadi sih!" protesnya disertai rengekan manja.


"Sorry, aku tiba-tiba gak berselera. Kamu cari aja laki-laki lain buat terusin ini." Satria melangkah, tak peduli dengan panggilan wanita di belakang.


"Dasar gila! Cuma ngerjain aja. Setelah berhasil bikin aku on tingkat tinggi, seenaknya aja dia pergi." Wanita itu mengumpat sendiri.


**

__ADS_1


Karena khawatir, Aryo menunggu temannya di tempat tadi. Pria berkepala plontos itu memapah Satria yang berjalan ke arahnya dengan sedikit terseok. Membawanya ke dalam mobil lalu mengantarnya ke hotel.


"Sudah kubilang jangan minum terlalu banyak, jadinya mabok, kan!" gumam Aryo di sela mengemudi.


Satria dipapah lagi menuju kamar hotel tempatnya menginap, tepatnya ke kamar Lian. Ruangan itulah yang disebutnya pada Aryo.


"Maaf, kamu pasti istrinya Satria," lapor Aryo saat pintu kamar terbuka.


Lian mengangguk dengan wajahnya yang penuh tanya. Kenapa suaminya itu muncul dalam keadaan tidak sehat begitu?


Aryo masuk ke kamar tersebut untuk merebahkan temannya di tempat tidur.


"Makasih, Mas. Maaf merepotkan," ucap Lian.


"No problem. Satria itu sahabatku. Oh ya, Satria belum pernah mabuk kayak gini lho sebelumnya. Jadi, jika ada masalah, selesaikan dengan baik-baik! Kalau gitu, aku pamit. Selamat malam." Aryo sedikit menyunggingkan senyum kemudian berlalu.


Lian termenung memikirkan perkataan pria tadi. Sebenarnya apa maksud dari teman suaminya itu?


"Satria mabuk gara-gara punya masalah? Tapi … masalahnya apa? Gak mungkin dia frustasi cuma karena perkataanku tadi siang. Oh … mungkin ditampar sama semua cewek yang udah dia tiduri. Kalau itu benar terjadi, syukurlah … biar dia tahu rasa dan insyaf!" Bisa-bisanya di saat begini dia menyumpahi suaminya sendiri. Iya, suami sableng!


Lian melepas sepatu yang masih bertengger di kaki panjang Satria sedangkan pria itu tertidur.


"Minum …, aku mau minum sekarang! Haus …." Rupanya dia belum tidur. Menyusahkan orang!


Lian mengambil air putih ke dalam gelas. Menyimpannya di atas nakas kemudian membantu membangunkan Satria. Kurang baik apa coba, meski sudah dihina tapi tidak tega membiarkan pria itu dehidrasi. Bahkan, perempuan itu juga membantu suaminya menenggak air.


"Lagi, aku mau minum lagi!" pinta Satria dengan suara khas orang mabuk.


Lian melepas napas berat. Kesabaran tingkat tinggi memang diperlukan setelah jadi istri si pria menyebalkan.


Alangkah terkejut dan kesalnya Berlian setelah berhasil mengisi ulang air minum. Ternyata orang yang memerintahnya kembali telentang dengan mata tertutup.


"Dalam keadaan mabuk aja, dia masih sempat ngerjain aku." Lian menggerutu kemudian menghabiskan air minum yang dibawanya. Menyimpan gelas itu di atas nakas.


Ditatapnya wajah tampan Satria. Begitu polos dan imut jika sedang terlelap begitu. Jika saja attitude pria itu bagus, mungkin Lian bisa jatuh hati padanya.


'Otakku kenapa? Kayaknya aku harus cepat-cepat tidur. Baiklah, aku tidur di sofa saja malam ini.'


Lian hendak menyelimuti suaminya tapi tiba-tiba pergelangan tangannya dicekal. Satria berkata dalam keadaan tidur. Apa dia mengigau?


"Mari bermain, Sayang!"

__ADS_1


__ADS_2