
"Kamu sudah mengganggu malamku sama cewek bohay itu jadi kamu yang harus puaskan aku sekarang!"
Lian tak mengerti dengan apa yang dibicarakan Satria. Dia menyangka jika pria itu tengah mengigau.
'Dalam keadaan gak sadar gitu, otaknya masih aja miring.'
Perempuan itu terhenyak saat mata merah Satria terbuka dan terfokus padanya. Tatapan lekat dan sayu. Makin gemetaran karena tangannya dicengkeram lebih kuat. Fix, Satria tidak sedang mengigau!
"Lian, suamimu meminta haknya!" tegas Satria membuat perempuan itu melebarkan pandangan.
"Tidurlah, otakmu pasti gak berfungsi baik saat ini. Biar aku tidur di sofa saja. Nggak apa-apa," cengir Lian canggung. Berusaha melepas diri tapi sia-sia saja karena saat ini dirinya justru terjatuh dalam pelukan Satria. Pria itu sengaja menarik dan memeluknya erat.
"Satria, a-aku emang istrimu tapi kita sama-sama tahu hubungan kita yang sebenarnya itu kayak gimana. Jadi, lepasin aku! I-ini gak bener."
"Kenapa? Kamu jijik sama aku karena aku suka gonta-ganti cewek? Ayolah, kita itu seri. Aku bukan perjaka dan kamu juga bukan perawan. Jangan sok jual mahal. Kamu itu harusnya bersyukur karena ada cowok yang mau nikahin cewek kotor kayak kamu. Sekarang saatnya lakukan kewajibanmu sebagai istriku."
Lian saat ini tak dapat mengontrol hati. Matanya mengembun dan tak lama berselang, meneteskan air kepedihan. Untuk ke sekian kalinya penghinaan itu meluncur dari mulut pria itu.
"Jika kamu jijik, kenapa memintaku untuk melayanimu? Kamu tahu, aku juga gak sudi disentuh sama kamu!" Lian berusaha lagi untuk bebas meski tenaga Satria sangat jauh lebih kuat di atasnya.
"Persetan dengan omonganmu!"
Lian kini berada di bawah kungkungan suaminya. Kedua tangannya dikunci, begitu pula dengan kakinya yang sama sekali tidak bisa digerakkan.
"Satria, lepaskan aku!" teriak Lian histeris seperti kemarin. Air matanya mengucur lagi ke wajah. Selain belum siap melakukan hubungan itu, Lian juga masih menyimpan trauma masa lalu. Kejadian gelap itu masih bisa dia ingat.
Satria yang dalam pengaruh alkohol sama sekali tidak menggubris istrinya yang menangis. Hasratnya jauh lebih penting daripada kesedihan wanita itu. Lagipula, dia tidak berbuat dosa. Wajar jika dia mau menuntut hal yang intim dari Berlian.
Lian berteriak frustasi sementara tangisnya belum reda. Satria benar-benar membuatnya seolah kembali ke masa suram dan hina itu. Sentuhan dan kecupan yang memaksa serta ******* pria itu sangat memuakkan. Menggiring memorinya pada sosok Darma yang selama ini coba dia hapus.
Malam itu Satria melepaskan hasratnya sebanyak 3 kali dengan jeda sebentar. Pria itu terlelap setelah puas bermain-main. Sedangkan Lian terbaring membelakanginya. Perempuan itu tidak dapat tidur. Air terus keluar dari bola matanya. Dadanya sesak dan perih.
Dia tidak bermaksud menjadi istri yang durhaka tapi perlakuan Satria benar-benar melukainya. Mungkin jika cara pria itu sopan dan lembut maka dia bisa saja luluh dan ikhlas menjalani kewajiban.
'Aku benci kamu, Satria. Dalam keadaan sadar atau nggak, kamu tetap saja menghinaku.'
Lian merasa seperti alat pemuas nafsu saja bagi suaminya. Entahlah, pria itu pantas disebut suami atau tidak.
**
Ruh Satria terpanggil dan kembali ke jasad saat mendengar teriakkan dari kamar mandi di pagi ini. Dia perlahan merubah posisi jadi duduk bersandar di bahu ranjang. Memijat kepalanya yang masih menyisakan sedikit denyutan. Terlintas beberapa serpihan memori semalam.
__ADS_1
Apa benar jika dia meniduri istrinya? Astaga, kemungkinan besar iya! Dia sadar jika sekarang ada di kamar Berlian. Baju-bajunya juga berserakan di lantai, bercampur dengan pakaian istrinya.
"Aku benci hidupku, aku benci …!"
Teriakan itu terdengar lagi. Satria segera mengambil handuk lalu melilitkannya di pinggang. Cepat-cepat pula berjalan ke arah kamar mandi.
"Hey, ini bukan hutan di mana kamu bebas berteriak!" Pintu digedor kuat.
Tak ada sahutan, hanya terdengar suara tangisan yang makin menyayat. Hal itu membuat Satria merasa berdosa. Baru kali ini dia merasa menjadi penjahat setelah menggauli seorang wanita. Padahal Berlian itu adalah istri sahnya.
Pria itu menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi. Kenapa bisa tergoda dan kebablasan begini? Sungguh memalukan! Dia yang selalu merendahkan Lian tapi malah dia yang memaksakan kehendak pada istrinya tersebut. Itu gara-gara minuman sialan yang membuatnya mabuk parah.
Adegan semalam begitu jelas sekarang dalam pikirannya seolah bisa melihatnya secara langsung. Kali ini Satria mengusap wajahnya kasar.
'Bodoh!'
Di dalam sana hanya terdengar gemericik air. Tak ada teriakan atau tangisan tapi justru menambah kekhawatiran Satria.
"Berlian! Kamu lagi ngapain di dalam? Kalau mau tidur di kamar saja. Aku gak bakalan macam-macam lagi kayak semalam. Aku akan kembali ke kamarku asalkan kamu keluar sekarang."
Teriakan dan gedoran pintu tak mendapatkan respon apapun. Satria mendengus kesal karena perempuan itu berhasil membuatnya gusar dan frustasi.
Dia mendobrak pintu sekuat tenaga. Menghampiri Lian yang terkulai lemas di bawah shower yang masih menyala. Air itu dimatikan. Satria mengambil handuk untuk membungkus tubuh polos itu. Bisa gemetaran dia jika harus mengangkat Lian dalam keadaan tanpa busana. Entahlah, meski sudah biasa melihat organ vital lawan jenis tapi tetap saja ada yang lain saat bersama wanita antik itu.
"Bu …," lirih Lian dengan matanya yang masih tertutup.
Tangan Satria menempel di kening Lian. 'Dia demam. Apa aku segila itu sampai bikin dia sakit?'
Tak pikir lama, dia membawa Lian ke rumah sakit terdekat.
**
Satria menjelaskan keadaan Lian sebelum jatuh pingsan pada dokter. Saat ini dia tengah ada di sebuah ruangan di mana Berlian dirawat. Hingga saat ini si perempuan tomboi belum juga bangun.
"Apa sebelumnya istri Anda pernah mengalami trauma?" tanya dokter.
"Ehm … saya tidak terlalu tahu. Tapi … mungkin iya."
"Jika benar seperti itu maka kejadian pagi tadi ada hubungannya dengan trauma di masa lalu. Bisa saja istri Anda tiba-tiba teringat sesuatu hingga berteriak-teriak histeris seperti yang Anda ceritakan. Sebenarnya tidak ada masalah dengan kesehatan tubuhnya, hanya demam biasa. Tapi pasien mengalami tekanan, mentalnya sedikit shock."
Satria nyaris ternganga. Dia makin merasa bersalah pada istrinya.
__ADS_1
"Apa yang harus saya lakukan agar istri saya bisa sembuh total?"
"Sebisa mungkin selalu support istri Anda. Pastikan hatinya selalu bahagia dan bawa ke psikiater jika keadaannya terus seperti ini. Pak, jangan lupa berdoa! Saya permisi," pamit dokter seraya menepuk bahu Satria.
Pria itu duduk di kursi menghadap Berlian. Pikirannya kacau, hatinya juga galau. Wajah pucat itu ditatapnya dalam-dalam.
'Mungkin benar jika dulu dia pernah jadi korban pelecehan oleh ayah tirinya. Pantas saja waktu itu dia ketakutan saat aku pura-pura mau menyentuhnya. Dan ketika aku benar-benar melakukan itu dengan paksa, Lian sangat histeris sampai jatuh sakit.'
Satria merasa benar-benar jahat. Dia menggenggam jemari Berlian. Ada yang aneh, sudut matanya berair dan dadanya sedikit terhimpit.
"Maafin aku, Lian. Aku emang gak punya hati."
Si perempuan perlahan membuka mata. Menatap ke sekitar. Kenapa dia ada di ruangan asing dan tak nyaman itu?
Lian tersentak mendapati pria pemaksa itu ada di dekatnya. Tangannya ditarik agar tidak tersentuh suaminya. Cepat-cepat membuang muka.
"Pergi kamu, jangan pernah sentuh aku lagi!" Dadanya naik turun diliputi sesak dan amarah.
"A-aku … minta maaf, Berlian. Aku tahu aku salah karena selalu nyakitin kamu. Tapi aku sekarang ingin minta …."
"Pergi!" tegas Lian.
"Aku minta maaf, Lian."
"Kubilang pergi sekarang!" pekiknya disertai banjir air mata.
Satria memegang pundak perempuan yang belum mau menatapnya. "Aku …."
"Jangan sentuh aku!" Lagi-lagi histeris sambil berontak.
Satria memeluknya erat meski mendapat penolakan. Dia ingin menebus kesalahan.
"Berlian Andini, aku minta maaf dengan tulus. Mulai saat ini aku gak akan sentuh kamu lagi tanpa izin."
Lian menggeleng cepat, masih tersedu. Dia benci dirinya dalam keadaan sehina ini.
"Kamu benar, aku yang pantas disebut barang bekas. Akulah sampah, bukan kamu! Gak sepantasnya aku menghina dan merendahkan kamu. Aku harusnya bisa lindungi dan jaga perasaanmu. Aku minta maaf, Lian." Perkataan itu terurai begitu saja dari mulutnya.
Entah mengapa Lian sedikit luluh dan tersentuh. Kini diam saja dalam pelukan Satria. Bahkan, perempuan itu kembali menangis. Bagaimana bisa yang awalnya merasa terintimidasi tapi sekarang berubah cepat menjadi nyaman?
Satria mengusap kepala istrinya. Banyak kejanggalan yang terjadi pada hati pria itu. Seumur hidup, hanya Berlian yang mampu mengubek-ubek perasaannya hingga segusar ini. Ya, pasti ini cuma pengaruh dari rasa bersalahnya pada Lian.
__ADS_1
'Aku akan pastiin kalau kamu bisa bangkit dari trauma masa lalu.'