Aku Bukan Sampah

Aku Bukan Sampah
Pura-pura mesra


__ADS_3

"Satria, ngapain kamu di sini?" Lian menutup dadanya dengan kedua tangan.


Pria itu menatap lekat istrinya dari atas ke bawah, dari bawah ke atas lagi. Berlama-lama di sekitar dada dan …. Udaranya mendadak panas sekarang!


Ternyata body Berlian lebih kinclong dan aduhai jika dilihat secara langsung begini. Membuat pria itu nyaris meneteskan sesuatu dari sudut bibirnya.


"Minggir!" desak Lian kesal.


Lelaki berahang kokoh itu malah makin mendekat. Mengangkat tubuh basah istrinya.


"Lepasin aku!" teriak Lian berontak.


"Gak usah lebay! Aku cuma mau menyingkirkan penghalang jalanku menuju kamar mandi." 


Satria menurunkan Berlian beberapa kaki dari pintu. Dia cepat-cepat masuk ke ruangan lembab itu. 


"Apa dia gak bisa bilang permisi? Seenaknya aja gendong aku."


Secepat mungkin Lian memakai baju sebelum suaminya kembali. Memakai celana jeans panjang dan kaos lengan pendek seperti biasa. Menyisir rambut pendeknya kemudian duduk di sofa, menyalakan TV.


Satria menghampiri, menatapnya lekat. "Kamu itu emang pas dipanggil cewek jadi-jadian. Tadi sebelum aku ke kamar mandi, kamu kelihatan kayak bidadari turun dari gunung. Eh … sekarang malah kembali kayak cowok."


Lian sama sekali tidak menggubris, pura-pura budeg! Sibuk mengutak-atik TV menggunakan remote.


Satria mengambil koper yang berisi baju-bajunya. Menyeret benda tersebut ke arah pintu.


Lian menoleh sejenak. Penasaran kenapa pria itu minggat dari kamar. Tapi tentunya tidak ada pertanyaan yang terlontar. Dia memilih menonton film horror favoritnya.


"Aku mau pindah ke kamar lain. Aku gak sudi sekamar sama kamu." Satria menjelaskan tanpa menoleh meski langkahnya sempat terhenti.


'Tidur di kamar lain? Itu bagus!' Lian mengulum senyum.


"Gak nanya!" Pandangannya tetap ke benda berlayar.


'Sombong amat!' Satria mendengus kemudian pergi.


Seorang perempuan berseragam datang membawa sarapan.


"Makasih, Mbak." Lian tersenyum ramah.


"Semoga Anda puas dengan pelayanan saya." Mengangguk sambil tersenyum kemudian pergi.


Di saat perut sudah terisi, badan pun sudah segar tapi malah menimbulkan rasa kantuk. Lian meringkuk di sofa.


Di kamar lain.


Satria baru selesai membersihkan badan. Menempelkan kaos dan celana pendek di tubuhnya. Terlihat lebih santai daripada biasanya. 


"Iya, Ma …!" ucapnya saat menerima telepon.


"Mama ganggu kalian, gak? Gimana semalam, apa sukses? Kamu gak bikin mantu Mama kewalahan, kan?" Nyonya Hani terkikik setelah menggoda putranya.


Satria mengeluarkan napas kasar. Malas membahas maksud dari ibunya tersebut.

__ADS_1


"Pertanyaan macam apa itu?" 


"Jangan pura-pura sama Mama. Kalian kan pengantin baru, wajar kalau menghabiskan malam berduaan. Lian mana? Mama mau ngomong sama dia."


"Dia … lagi mandi," ucapnya berbohong.


"Oh …, nanti kalau ada waktu senggang suruh Lian telepon Mama. Itu juga kalau kalian gak sibuk …!" sindirnya disertai senyuman geli.


"Oke …. Itu bisa diatur."


"Kalau gitu Mama tutup dulu teleponnya. Happy honeymoon …!"


Satria melepas udara lewat mulut dengan kasar. Mendaratkan bokongnya di tepi ranjang. Jika ibunya tahu bahwa dia dan istrinya tidur di kamar terpisah maka dia pasti diomeli. Sebenarnya bukan itu yang Satria takuti melainkan perasaan ibunya yang akan kecewa.


Pria itu keluar kamar untuk mencari sarapan di restoran hotel. Baru juga melahap makanan, ibunya kembali menghubungi.


"Mana Lian? Mama mau ngomong, kangen …!" Suara manja Nyonya Hani membuat anaknya frustasi.


'Hadeh … harusnya antepin aja telepon dari Mama. Gak usah dijawab biar sekalian Mama mikirnya aku lagi sibuk garap si Berlian. Itu lebih aman padahal.'


"Mama …, menantu kesayangan Mama sekarang lagi sarapan, kasihan kalau diganggu," kilah Satria.


"Oh, maaf …. Habisnya Mama kangen sih. Bisa Mama bicara bentar … aja sama Lian?"


"Gak bisa, Ma. Lian sekarang ke toilet, mendadak mules."


"Kenapa? Lian sakit? Cepat bawa ke dokter! Mama khawatir banget ini." Heboh! Padahal Nyonya Hani tidak pernah seriweh itu saat mengkhawatirkan putranya sendiri.


"Mama gak usah berlebihan gitu. Tenang aja, selama ada aku … Lian itu pasti aman. Dia kan istriku, tanggung jawabku!"


Nyonya Hani tersenyum bangga sekaligus bahagia. Akhirnya putranya itu bisa berubah, bisa menerima Berlian dengan tulus.


Sedikit basa-basi sebelum pembicaraan diakhiri. Satria bisa makan dengan tenang sekarang. Namun, satu hal yang masih mengganjal di benaknya. Ibunya bersikeras ingin bicara dengan Berlian dan itu artinya, mau tak mau dia harus menemui perempuan itu.


**


Satria berjongkok di dekat meja, menghadap ke sofa yang ditiduri Lian. Matanya terpusat pada bibir pink alami perempuan itu. Kenapa terlihat menggiurkan? Jika saja pemilik bibir ini bukanlah orang yang dia benci.


Jika dipikir-pikir, kenapa dia sebegitu tidak sukanya pada Lian? Padahal perempuan itu memang tidak pernah punya salah, baik padanya maupun pada ibunya. Tapi … bukankah tidak perlu alasan untuk mencintai atau membenci seseorang! Tapi mungkin juga karena pikiran negatifnya yang membuat dia bersikukuh pada pendapat buruk mengenai Lian.


'Aku gak akan pernah tergoda sama cewek bertopeng kayak dia. Pura-pura acuh dan baik padahal mengincarku biar bisa kuasai harta keluargaku.'


Satria akan memastikan jika rencana Lian gagal. Dia akan membuat istrinya itu menyerah dengan pernikahan sialan ini. 


"Kamu!" Lian segera duduk saat matanya menampilkan sosok suaminya. Kenapa pria itu suka membuatnya sport jantung?


Satria duduk di sebelahnya dengan rapat hingga membuat Lian sedikit beringsut. 


'Bukannya udah pindah kamar, ngapain ke sini lagi?'


"Jangan gede kepala, ya! Aku ke sini bukan buat ketemu kamu apalagi deketin kamu." Seolah bisa membaca pikiran istrinya.


Lian meminum air putih dalam gelas di atas meja. Malas mendengar ocehan tak jelas dari pria di sebelahnya. 'Perasaan, dia emang sengaja temuin aku. Malah sekarang seenaknya duduk deket-deket aku meskipun entah apa tujuannya.'

__ADS_1


"Jadi, Mama tadi telepon. Katanya mau ngomong sama kamu. Emang, kamu gak bawa handphone?" Satria bertanya sambil mengutak-atik gawai.


"Aku gak inget bawa Hp. Mamamu bilang apalagi?" Berubah antusias saat menyinggung nama ibu mertua.


Baru juga dibicarakan, si nyonya kembali melakukan panggilan. Kali ini video call, membuat putranya agak panik. 


"Jangan membuat mama curiga. Kita harus pura-pura mesra," ultimatum Satria sebelum menerima telepon.


Lian manggut-manggut meski sebenarnya belum terlalu paham. Semesra apa sandiwara yang harus dia perankan? Matanya melebar seiring jantungnya yang berdugem ria ketika tangan Satria melingkar di pinggangnya.


"Lian …, Mama kangen!" seru Nyonya Hani yang kini wajahnya nongkrong di layar ponsel.


"A-aku juga kangen, Ma!" Masih canggung saat berkata seperti barusan.


"Aku gak dikangenin nih …," sindir Satria yang memang agak iri melihat ibunya lebih perhatian pada yang lain.


"Kangen juga dong. Kalian itu sama-sama anakku. Eh, kalian gak jalan-jalan ke mana, gitu?"


"Nggak, Ma. Lian harus banyak istirahat di kamar." Satria nyambar duluan saat Berlian baru saja membuka mulut.


Nyonya Hani tersipu ikut malu padahal bukan dia yang melakoni adegan panas yang ada dalam pikirannya. "Satria, jangan terlalu bersemangat gitu. Kasihan mantu Mama jadi lemes nantinya."


Lian nyengir canggung karena dia tahu maksud ibu mertua. 'Amit-amit kalau aku harus melakukan itu sama cowok tukang celup sembarangan.'


Satria memaksakan senyum padahal dalam hatinya mengumpat. Sampai kapan pun dia tidak sudi menyentuh wanita itu.


"Pada diem. Gak usah malu-malu, kalian itu suami istri yang sah. Jadi, bebas aja mau ngapain tapi jangan terlalu berlebihan sih. Terutama kamu, Sat!"


Orang yang dimaksud menautkan alisnya. Kenapa harus dia yang kena? 


"Ma, kayaknya Lian ngantuk soalnya semalam begadang." Semoga saja Nyonya Hani segera mengakhiri pembicaraan.


Lian lagi-lagi dibuat membeku karena saat ini Satria meraih kepalanya agar mau bersandar di bahu sang suami, pake acara dielus segala. 


Nyonya Hani terkekeh geli menyaksikan kemesraan mereka. Rasanya lega karena ketakutannya tidak terjadi. Dia kira jika anak dan menantunya tidak akan bisa sedekat itu dengan cepat. Tapi nyatanya sekarang … sepertinya dia akan segera menimang cucu.


"Sebenarnya Mama masih kangen tapi gak mau ganggu kalian. Kalo gitu, istirahat saja biar kita lanjutkan bicara nanti."


Satria berubah sumringah, akhirnya sandiwaranya bisa segera di-cutt. 


Nyonya Hani bisa menangkap ekspresi putranya dengan baik. Hanya saja, dia pikir Satria begitu karena ingin kembali berduaan saja dengan istrinya.


"Ma, kalau Mama kesepian, aku bisa cepetan pulang kok." Lian ingin menemani ibu mertuanya yang baik itu. Daripada di sini, bete!


"Gak usah, kamu sama suamimu aja. Kalian kan sedang honeymoon, enjoy!" Banyak lagi omongan dan petuah serta candaan dari si nyonya.


'Si Lian sengaja cari topik lain biar video call ini terus lanjut? Pinter juga dia cari kesempatan buat aku peluk.'


Satria sengaja mencubit pinggang istrinya hingga perempuan itu meringis.


"Kamu kenapa sih?" Lian menatapnya tajam meski bibirnya tersungging dipaksakan. Masih sadar jika mertuanya mengawasi.


Entah mengapa Satria refleks mengecup kening Berlian. Nyonya Hani mesem-mesem, saatnya mematikan panggilan.

__ADS_1


__ADS_2