Aku Bukan Sampah

Aku Bukan Sampah
Rasa itu memang ada


__ADS_3

 


Satria mencium punggung tangan ibunya. Kepalanya diusap oleh perempuan itu.


"Hati-hati di jalan, Sat! Lain kali ajak Lian juga. Mama gak apa-apa di sini. Lagian sekarang kondisi Mama udah stabil. Bisa jalan-jalan dan nongkrong sama temen-temen. Mama gak bakalan kesepian."


"Aku yang bakalan kesepian kalau ikut … Mas Satria ke sana." Rasanya canggung saat menyebut nama suaminya dengan menambah panggilan tersebut. Satria pun begitu. 


Nyonya Hani mesem mendengar panggilan manis dari sang menantu untuk putranya.


"Lian, aku pamit sekarang. Titip mama." Pria itu perlahan meraih dahi istrinya dengan bibir. Catatan, ini hanya sebagian sandiwara untuk menyenangkan sang ibu.


"Hati-hati!" lirih Lian sambil terus menatap heran. Apa sandiwara mereka harus semesra ini di depan Nyonya Hani?


'Tapi … kenapa sikapnya juga manis saat hanya ada kami berdua?'


Bolehkah Lian berharap jika pria itu berubah menerimanya? Rasanya tidak mungkin. Satria melakukan itu pasti karena masih merasa bersalah padanya. 


**


Baru beberapa hari setelah kepergian Satria tapi Lian merasa kehilangan suaminya itu. Entah terbawa atmosfer kamar milik pria itu atau memang murni dari rasa rindu.


'Ini berlebihan. Kenapa repot-repot memikirkannya sedangkan aku yakin kalau dia juga gak pernah ingat sama aku?'


Rebahan ke kanan salah, balik ke kiri juga tidak nyaman. Telentang dan dipaksakan terpejam, malah wajah suaminya serasa ada di atas. Telungkup juga tidak tenang, seperti tubuhnya dipeluk Satria. Akhirnya duduk bersandar di bahu ranjang. Mengusap wajah dengan kasar lalu berucap, "Otakku pasti sudah oleng."


Diambil lalu ditatapnya benda pipih hitam di atas nakas. Tak ada satupun notif dari nomor suaminya. Napas dibuang kasar seolah mengeluarkan beban di dada. Selemah itukah dirinya?


"Stop mikirin dia!" 


Baru juga ponsel kembali ke nakas, benda itu bergetar. Wajah bete berubah jadi sumringah.


"Ha-halo, Sat! Apa kabar?"


"Baik. Mamaku, apa udah tidur?"


"Oh, udah. Sebelum ke kamarku, aku emang dari kamarnya mama. Ada apa?"


"Gak sih, cuma kangen sama mama, pengen ngobrol. Tapi kalo udah tidur ya gak apa-apa. Mamaku sehat, kan?"


"Mama sehat." Sepertinya Lian menunggu Satria mengucapkan sesuatu yang lain.

__ADS_1


"Oke kalo gitu. Makasih udah jagain mama. Selamat malam!"


"Malam," lirihnya di penutup obrolan.


Lian termenung, tersenyum kecut. Bagaimana bisa dia berharap jika Satria juga menanyakan tentang kabarnya. Sudah jelas jika pria itu sedari awal memang terpaksa dengan pernikahan ini. Hanya karena perhatian kemarin bukan berarti jika Satria tiba-tiba menyukai apalagi menaruh perasaan khusus padanya. 


Di kota lain di sebuah apartemen.


Si pria berhidung mancung merebahkan tubuhnya di sofa. Menerawang langit-langit, siapa tahu di sana ada jawaban atas perasaannya yang gusar belakangan ini. Berlian Andini, perempuan yang telah dia nikahi selalu nangkring di otaknya. Bahkan saat berkutat dengan pekerjaan, sosoknya tidak mau hilang. Yang paling parah yaitu ketika Satria menghabiskan waktu bersama seorang gadis di kamar ini, bayangan Lian seolah jelas ada di sana tengah mengawasi. Akhirnya, Satria gagal bermain bersama teman wanitanya yang hot itu.


"Kenapa dia horror banget? Udah kayak hantu aja, nongol di mana-mana. Ganggu banget!" umpatnya kesal.


Sebenarnya ini kesalahan siapa? Satria kadang tidak bisa mengendalikan pikiran dan perasaannya. Lian? Jelas semua bukan salahnya. Perempuan itu bahkan sama sekali tidak tahu jika laki-laki ini selalu memikirkannya.


Satria bangkit untuk meraih ponsel di atas meja. Melihat sebuah gambar Lian yang pulas. Foto itu selalu berhasil membuat moodnya membaik. 


'Kamu gak lupa sama rencanamu terhadap perempuan itu, kan?'


Senyum di bibirnya terhapus. Rasanya baru tersadar jika ada suatu hal yang belum dia selesaikan.


Dia memang ingin segera mengakhiri pernikahan ini karena tidak mau jika Berlian menguasai harta miliknya dan ibunya. Tapi sepertinya tuduhannya memang tidak kuat. Satria jadi ragu atas dugaannya itu. Dalam hati kecilnya yakin jika istrinya bukan perempuan yang jahat. 


Sebuah lingerie merah jadi tontonan si perempuan tomboi. Baju sexy nan menggoda itu membuatnya merinding. Bagaimana mungkin dia menuruti saran ibu mertua untuk memakai kain kurang bahan dan transparan itu. Rasanya tidak lucu jika si tomboi memakainya, tumpang tindih, tidak matching sama sekali.


"Wow …, apa itu?" seru Satria yang tiba-tiba nongol di ruang ganti.


Jantung Lian hampir berhenti berdetak saking kaget. Baju merah itu jatuh ke lantai, buru-buru diambil dan disembunyikan di balik punggung.


"Ka-kamu kapan sampai ke mari? Kenapa … gak bilang-bilang mau pulang?" Lian memaksakan senyum kikuk. 


Satria memicing lalu bibirnya menyeringai. Perlahan mendekat pada perempuan di depannya, sangat mengintimidasi.


"Apa yang kamu sembunyikan itu?"


"Ahh … ini … baju kotor, mau aku cuci," kilah Lian asal.


"Aku udah lihat tadi. Sekilas tapi jelas. Kamu mau belajar menggodaku, kan?"


Punggung Lian mentok di lemari pakaian. Wajah Satria dan wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter. Debaran dada perempuan itu jadi berantakan berlomba dengan desiran aneh yang mengaliri seluruh tubuh.


'Ya Tuhan … kenapa dia suka bikin aku jantungan kayak gini?'

__ADS_1


Mata Lian refleks tertutup saat hidungnya menempel dengan hidung Satria. Agak menahan napas beberapa detik saat bibir mereka sedikit … lagi, akan beradu.


"Dapet!" seru si pria yang berhasil merebut baju yang disembunyikan istrinya. 


Lian melongo saat sadar jika dirinya kena prank. 'Ini salahku yang kepedean.'


Perempuan itu berusaha merebut lagi baju merah itu. Bukan apa-apa, dia parno jika Satria akan membayangkannya memakai baju sexy itu jika sudah melihat potongannya.


Layaknya bocah TK, keduanya saling kejar. Yang satu kesal sedangkan yang lain tertawa karena berhasil menghindari kejaran. 


"Sat, kembalikan baju itu! Itu bukan punyaku, mau aku balikin sama pemiliknya," teriak Lian.


"Masa …? Gak percaya, aku!" 


Karena tak mendapat yang diinginkan akhirnya dia berusaha lebih agresif. Satria didorong kuat hingga telentang di atas kasur. Kain itu ditarik paksa tapi malah tangannya yang dicengkram hingga membuatnya terjatuh di atas dada bidang Satria. Kecanggungan terjadi beberapa saat ketika kedua pasang mata bersirobok.


Satria membalikan posisi hingga istrinya berada di bawah. "Kamu gak akan menang melawanku," bisiknya tepat di telinga Lian. Pria itu bangkit lalu meneliti baju di tangannya. Senyumnya terbit seiring otaknya yang jalan-jalan entah ke mana.


Lian segera berdiri lalu menutup dada dan pangkal pahanya dengan tangan, padahal masih berpakaian lengkap. Menatap curiga pada suaminya yang menyeringai. Tatapan Satria bergantian ke lingerie lalu pada Lian, memindainya dari atas ke bawah. Hanya begitu saja sudah membuat Lian seolah ditelanjangi.


"Hem … kayaknya boleh juga. Kalo kamu pakai baju ini pasti kelihatan kayak bencong!" Satria tergelak hingga bahunya berguncang.


"Apa? Dasar gak waras!" umpat Lian sambil meninggalkan kamar. Dia itu perempuan tulen, masa disamakan dengan …. Tapi sepertinya lebih baik Satria berpikir konyol begitu daripada memikirkan hal-hal yang mesum.


**


Hari-hari yang hampa berubah penuh warna saat Satria pulang ke rumah Nyonya Hani. Meski kadang berkesal-kesal dengan Berlian, tapi nyatanya hati perempuan itu terasa hangat. Ada kalanya beradu mulut karena silang pendapat, kadang juga pria itu menggoda Lian hingga membuat bersemu merah karena malu atau murka. Tak jarang pula saling diam dan hanya debaran mereka yang mewakili. Kedekatan itu membuat hubungan mereka membaik meski belum jelas juga akan seperti apa ke depannya.


Lian tidak mau berharap lebih walau sebenarnya memiliki hak pada lelaki itu. Namun, hatinya sedikit berkhianat. Harapan dan rasa itu muncul makin kuat.


Satria, dia belum bisa menebak isi hatinya. Saat bersama Lian, ada sesuatu yang mengubrak-abrik sukmanya. Desiran dan debaran itu selalu menelusup jika berjarak dekat dengan istrinya tersebut. Rasa ini indah tapi membuatnya terganggu. Tidak terbiasa memikirkan seorang perempuan. Rasa seperti inilah yang selalu dia hindari. Sadar atau tidak, otaknya memerintah untuk tidak sekalipun jatuh cinta pada siapapun. Menurut pandangannya, cinta hanya bisa mendatangkan rasa sakit. Dia menyaksikan itu sendiri dari kepiluan sang mama yang ditinggal pergi oleh ayahnya.


"Aku mau kita pisah," lirihnya yang membuat si pendengar membeku.


Lian tahu jika suaminya memang tidak menyimpan rasa spesial untuknya, tapi tidak menyangka akan secepat ini terucap perpisahan. Kedekatan itu nyatanya tidak berpengaruh apapun pada hubungan mereka.


"Apa ini gak terlalu terburu-buru?" Lian mencoba berbicara normal meski dadanya terasa sesak. Tak berani memperlihatkan matanya yang berembun.


Satria menoleh sejenak kemudian mengalihkan pandangan. Ternyata pembahasan sensitif ini tidak semudah yang dia kira.


"Aku tahu kalau kamu terpaksa dengan pernikahan ini. Aku juga tahu kalau aku bukan siapa-siapa yang patut dibanggakan dan dipertahankan. Aku hanya perempuan kotor seperti yang kamu bilang. Apa kamu juga masih berpikir kalau aku ini mau menguasai harta keluargamu?"

__ADS_1


__ADS_2