Aku Bukan Sampah

Aku Bukan Sampah
Babak baru


__ADS_3

"Mana Ibuku?" 


Sofia menghambur ke pelukan Berlian. Gadis itu menangis sesenggukan. Suaranya tersendat saat berusaha menjelaskan keadaan Ayu.


"Sofia, bicara yang jelas!" desak Lian tak sabaran.


Bu RW menghampiri keduanya. "Berlian, yang sabar! Ibumu sudah pergi ke sisi-Nya!"


Ayu pagi ini memaksakan diri untuk turun dari kursi roda. Niatnya ingin belajar berjalan pelan-pelan seperti yang diajarkan dokter saat terapi. Namun, wanita itu malah terjatuh dan kepalanya membentur lantai. Selang satu jam, Siti mendatangi rumah itu dan menemukan temannya sudah tidak bernyawa.


Tubuh Lian ambruk karena tidak sanggup mendengar kabar buruk tersebut. Dia dibaringkan di atas tempat tidurnya. Butuh berpuluh menit hingga kesadarannya kembali. Saat itu juga, Lian menjerit histeris memanggil ibunya. Turun dari ranjang kemudian celingukan ke arah ruang tengah yang masih ramai oleh para tetangga.


"Bu …, bangun!" Lian menggoyangkan tubuh kaku dan dingin itu. Berharap jika si pemilik badan bisa merespon. Sayangnya, semua itu hanya angan-angan kosong.


Sofia menggenggam erat tangan temannya tersebut. Mencoba menenangkan dan menghibur Berlian yang tengah berduka. "Yang sabar, Lian! Aku tahu jika ini sangat sulit tapi semua sudah jadi kehendak Yang Diatas. Setiap yang bernyawa pasti akan pergi, termasuk kita! Semoga saja nanti kita akan dipersatukan lagi di alam yang kekal."


"Aku tahu tapi … a-aku belum pernah membahagiakan ibu. Aku belum sempat melakukannya, Sof!" Tangisnya makin deras.


"Hiduplah dengan baik. Aku rasa almarhumah ibumu juga menginginkan hal yang sama."


"Aku belum siap kehilangan ibu …." Bahu Lian berguncang keras. Suaranya sedikit parau.


"Kamu tidak sendirian di dunia ini. Masih ada aku dan keluargaku yang menyayangimu."


Kedua gadis itu berpelukan. Mungkin bisa dikatakan jika hubungan mereka sudah seperti saudara kandung. Di saat Sofia berduka maka Berlian yang akan jadi pelipur lara, begitu juga sebaliknya.


Berlian menguatkan hatinya agar bisa ikut mengurus jenazah mendiang Ayu. Dia turut memandikan, mengkafani juga menyolati tubuh kaku ibunya. Namun, gadis itu ambruk lagi sesaat setelah mayat masuk ke liang lahat. Setegar-tegarnya seorang Berlian, tetap saja tidak akan sanggup berdiri tegak saat ibu yang merupakan keluarga satu-satunya yang ia punya, kini juga harus pergi meninggalkannya sendirian.


**


Sebulan setelah kepergian Ayu, baru kali ini Berlian mau bicara dan beraktivitas normal. Selama itu kerjanya hanya melamun dengan mulut yang nyaris tak pernah terbuka untuk mengeluarkan sepatah katapun. Menangis tanpa suara meski dadanya berguncang hebat.


Kehadiran Sofia hanya sedikit membuang duka dan sama sekali tidak bisa menambal lubang besar di hatinya. 


Hanya pesan terakhir Ayu yang menginginkan Lian menjadi wanita yang tegar. Itulah yang membuat gadis tersebut kembali bangkit dari keterpurukan. Dia juga tidak mau merepotkan Sofia dan keluarganya lagi.


Untuk hari dan semangat yang baru, Lian memulainya dengan memotong rambut yang terbilang masih sangat pendek untuk ukuran perempuan. Dia duduk pada kursi kayu di belakang rumahnya. Tukang cukur yang tak lain adalah Sofia, terlihat bergerak-gerak luwes. Gunting ukuran sedang itu membabat rambut Lian hingga modelnya menyerupai rambut milik laki-laki dengan poni menyamping.


"Kenapa malah dipotong sih? Padahal bagusan kayak dulu. Kamu itu cantik dan manis dengan rambut lurus sepinggang."

__ADS_1


Berlian hanya menjawab pertanyaan barusan dalam hati. "Secantik apapun aku, tetap saja tidak mungkin ada yang mau menerima gadis kotor sepertiku."


Ritual cukur rambut selesai. Lian bergegas mandi sedangkan Sofia pulang ke rumahnya. Gadis tomboi itu memakai celana jeans panjang dan kaos oblong berwarna hitam. Wajahnya polos tanpa sentuhan alat kecantikan sepoles pun.


"Ya … sebentar!" teriaknya saat seseorang memanggil.


Bergerak cepat membuka pintu dan menyapa si tamu yang ternyata adalah Siti, Bu RW yang juga sahabat dari mendiang ibunya. 


Lian mengambilkan segelas air putih untuk tamunya. Dia ikut duduk di sebelah Siti. Si perempuan paruh baya tersenyum saat melihat Lian saat ini sudah bisa diajak berkomunikasi.


"Bukannya waktu itu kamu lagi cari kerjaan?" tanya Siti yang direspon dengan anggukan kepala.


"Adi bilang ada tetangga atasannya yang mencari seorang pekerja. Tapi kerjanya itu ngurusin orang sakit stroke. Kira-kira kamu sanggup, gak?" 


"Berarti di luar kota, ya?" Lian balik bertanya.


"Iya. Gajinya perbulan itu sangat besar dibanding kalo kamu kerja di sini. Kalo mau, besok kamu bisa berangkat bareng Adi."


"Aku bersedia, Bu. Terima kasih sudah menawarkan pekerjaan ini untukku," jawab Lian antusias. Ia memang membutuhkannya untuk menyambung hidup dan juga memulai sesuatu yang baru untuk mengubur masa suram.


**


"Nyonya Hani, Anda pasti ingat jika saya adalah bawahannya Pak Ringgo, tetangga Anda." Yang diajak bicara pun mengangguk. 


"Saya membawa tetangga saya, namanya Berlian. Dia ingin mengajukan diri untuk bekerja di sini. Pak Ringgo pernah bilang jika Anda sedang mencari seseorang untuk merawat Anda," lanjut Adi.


Lian berkaca-kaca saat menatap wanita di depannya. Kursi roda itu mengingatkannya pada mendiang sang ibu. Mungkin patut bersyukur karena keadaan ibunya lebih baik daripada si Nyonya yang kepalanya kaku dengan posisi miring ke kanan. Sebagian organ tubuhnya mengalami lumpuh karena stroke.


Tangan si gadis terulur saat memperkenalkan diri. "Saya Berlian, panggil saja Lian! Jika Nyonya berkenan maka saya bersedia untuk bekerja di sini."


Nyonya Hani menyambut uluran tangan itu dengan tangan kirinya yang masih berfungsi. "Saya Hani, jangan panggil Nyonya, panggil Ibu saja! Saya mengizinkan kamu untuk bekerja di sini sebagai perawat pribadi saya." Entah mengapa wanita itu merasa langsung cocok saat melihat penampilan gadis di depannya. Rasanya ada kenyamanan yang tercipta padahal ini kali pertama mereka bertemu.


Sebenarnya sudah ada perawat yang menjaga Nyonya Hani tapi itu belum cukup. Dia menginginkan seseorang yang bisa menemaninya secara lebih intens layaknya teman atau seorang anak. Selama ini putra tunggalnya jarang pulang ke rumah karena mengurus perusahaan di luar kota.


"Semoga saja gadis ini bisa sesuai harapanku. Tapi rasanya … dia tipe yang jujur dan tulus. Tidak seperti para perempuan muda yang sebelumnya bekerja untukku. Aku yakin jika Berlian tidak akan macam-macam," pikir si Nyonya.


Adi pamit karena tugasnya selesai sedangkan Lian berisitirahat di kamar tamu yang disediakan pemilik rumah besar itu.


**

__ADS_1


Lian bangun pagi-pagi sekali. Selesai mandi dan berganti baju, dia turun ke dapur lalu membuatkan susu untuk Nyonya Hani. 


"Selamat pagi, Nyonya!" sapanya saat mendekat ke ranjang besar sang majikan.


"Pagi, panggil Ibu saja," lirihnya.


Perempuan itu terlihat tidak bergairah. Entah kenapa wajahnya mendung. Apa mungkin merindukan putranya? Lian harus bisa menghiburnya.


Gadis itu membantu mendudukkan Nyonya Hani dengan menyandarkan punggungnya pada bahu ranjang yang sebelumnya dilapisi bantal. Lian juga membantu perempuan itu meminum susu hangat.


"Kenapa menatapku seperti itu? Kamu kasihan padaku?" tanya si Nyonya diselipi senyum kelu.


Lian menggeleng. "Saya ingat ibu." Kepalanya tertunduk untuk menyembunyikan wajah sendunya.


"Kalau kamu kangen, kamu bisa meneleponnya sekarang."


"Ibu saya sudah meninggal sebulan yang lalu. Meskipun saat ini beliau masih ada, saya tidak bisa menelepon karena tidak punya ponsel." Lian terkekeh hambar padahal sudut matanya berair.


"Maaf …! Aku tidak bermaksud membuatmu bersedih."


"Nggak apa-apa, Bu!"


Lian menyiapkan air hangat untuk mandi Bu Hani. Dia juga yang membantunya menghilangkan kotoran dari tubuh setengah kakunya. 


"Terima kasih, Lian!" Dugaannya tepat. Dia bisa merasakan jika perlakuan dan sentuhan gadis itu sangatlah lembut dan tulus. Segala sesuatu yang dilakukan dengan hati maka akan sampai juga di hati.


"Ibu tidak perlu berkata begitu karena saya hanya menjalankan kewajiban. Lagipula … saya sangat senang melakukannya karena … rasanya seolah saya sedang mengurus ibu sendiri. Ehm … maaf! Saya sudah lancang!" Lian telah selesai membubuhkan minyak aromaterapi pada tubuh Bu Hani.


"Tidak apa-apa! Aku juga senang diperlakukan begini. Jadi …, seperti ini rasanya punya seorang anak perempuan." Senyum yang terbit pada bibir wanita paruh baya itu membuat Berlian lega.


Gadis itu membawa baju dari lemari untuk dipakaikan pada majikannya. Sebenarnya dia merasa canggung saat melakukannya jika tidak ingat bahwa itu adalah tugasnya.


"Maaf, Bu! Saya harus memakaikan ini."


"Lakukan saja, anggap aku ini ibu kandungmu sendiri!" Mau bagaimana lagi. Situasi dan kondisinya memang tidak memungkinkan untuk melakukan rutinitasnya seorang diri.


Sekonyong-konyong pintu terbuka dan seorang laki-laki menatap adegan itu dengan terbelalak. Pikirannya sangat negatif. Dia kira jika ibunya tengah bersama seorang pria muda.


"Heh, apa yang kamu lakukan pada Mamaku?" 

__ADS_1


Lian membuntang dan matanya membola karena pria asing itu mengepalkan tangan yang tepat berada di depan wajahnya.


__ADS_2