
"Aku kecewa sama Mama. Udah tahu cewek itu kotor, masih aja mau dijadiin menantu. Heran aku!" Satria berdiri dengan berkacak pinggang. Mondar-mandir dengan pelan di hadapan ibunya.
"Kamu ngomong apa sih? Gak boleh menghina Lian kayak gitu!" Nyonya Hani mulai terusik.
Pria itu tersenyum sinis. "Wow! Sebenarnya apa sih yang udah dia lakuin sampe Mama sebegitu mengaguminya? Udahlah, jangan ditutup-tutupi. Aku tahu kalo cewek itu bukan gadis baik-baik. Mungkin selama ini penampilannya sengaja dibikin beda biar gak ada yang curiga. Ternyata dia 'pemain' juga!"
"Diam!" pekik Nyonya Hani. Urat-urat wajahnya menegang seiringan dengan matanya yang ingin melompat.
Wanita itu menunjuk-nunjuk wajah putranya. "Kamu gak tahu apa-apa tentang Berlian."
Satria duduk di tempat semula dengan santai meski hatinya geram.
"Aku tahu rahasia itu karena gak sengaja dengar kalian ngobrol di kamar tadi pagi. Aku dengar kalau cewek itu ngaku udah gak virgin lagi." Ya, sebatas itu. Selebihnya dia sama sekali tidak menyimak karena perutnya mendadak mulas.
"Terus?"
"Udah, gitu aja. Selebihnya aku gak tahu. Tapi semua itu udah bisa menjelaskan bagaimana karakter dari cewek itu."
"Berlian memang udah gak gadis lagi dan itu bukanlah keinginannya. Waktu dulu …." Haruskah dia menceritakan itu pada putranya?
"Aku tahu, gak usah dijelasin. Pasti dia itu sering gonta-ganti pacar
Bilangnya sih kenakalan remaja tapi … siapa yang bisa jamin kalo sekarang dia udah berubah?"
"Lian dilecehkan oleh ayah tirinya. Karena itulah, dia kehilangan kehormatannya. Jangan samain kelakuanmu sama dia. Lian bukan tipe yang suka bermain dengan laki-laki apalagi tanpa ikatan."
"Itu bisa aja cuma alasan dia doang. Yaelah, Mama gak boleh gampang percaya sama orang asing."
Pria itu beranjak dari duduknya. "Yang jelas, aku gak mau nikah sama dia! Berhenti cari jodoh untukku, Ma. Aku muak!" Melengos pergi begitu saja.
Nyonya Hani terduduk lesu di sofa. Tidak menyangka jika putranya akan berpikiran seburuk itu.
**
Satria bergegas keluar rumah setelah selesai berdiskusi panas dengan ibunya. Pria itu berpapasan dengan Lian yang baru saja kembali dari minimarket.
Sejenak mereka bertemu pandang kemudian saling memalingkan wajah. Si pria mendengus kesal sedangkan si wanita terlihat canggung.
Satria sengaja menubruk bahu Lian dengan kasar saat berjalan melewatinya.
"Tunggu! Apa Bu Hani udah kasih tahu tentang perjodohan itu?"
Langkah Satria terhenti. Dia memilih bungkam saat ini, sama sekali tidak mau menoleh.
'Dia diam berarti jawabannya iya. Pantesan sikapnya lebih songong. Inilah yang tidak aku inginkan.'
"Tuan Satria Handoko, Anda harus tahu jika saya sebenarnya gak menyetujui rencana Bu Hani. Saya gak ada niat sama sekali buat nikah apalagi sama laki-laki seperti Anda. Jadi, keputusan ada di tangan Anda sekarang."
__ADS_1
Satria akhirnya berbalik badan dan menatap tajam pada gadis itu. "Jangan sombong! Kamu juga pasti tahu kalau aku gak mungkin pernah mau sama kamu."
"Kalau gitu, tinggal bilang saja sama Nyonya Hani jika Anda menolak perjodohan ini!"
"Of course! Dan itu udah aku lakukan, kamu gak perlu ajarin aku. Dasar muna!" Satria melenggang pergi menuju mobilnya.
Lian menatap punggung pria itu sampai tak lagi terlihat. Dadanya naik turun menahan amarah yang memanas.
"Dia bilang aku muna? Dasar cowok angkuh!"
**
Satria meluncur menuju apartemennya di luar kota. Saking marahnya, dia tidak pamit dulu pada sang ibu. Ponselnya pun sengaja dimatikan.
Baru saja merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, pintu kamarnya diketuk. Seorang pelayan memanggil karena ada tamu yang datang.
Satria terpukau melihat makhluk indah yang duduk di ruang tamu. Sengaja berdehem keras agar si pemilik wajah cantik menoleh.
"Cleo, apa kabar?" Mengulurkan tangannya yang langsung disambut hangat oleh si tamu. Dia ikut duduk berhadapan dengan gadis sexy itu.
"Aku baik, Sat. Bertahun-tahun kita gak ketemu tapi kamu terlihat masih tampan kayak dulu."
Satria tersenyum lebar lalu menenggak air yang telah disuguhkan sang pelayan. "Tapi kamu banyak berubah. Sekarang jadi tambah cantik dan menarik."
"Oh ya? Pantesan aja waktu di kampus kamu gak pernah lirik aku." Cleo ikutan minum.
"Kami udah berpisah beberapa bulan yang lalu. Nyesel aku milih Sean jadi pendamping hidup. Nyatanya dia itu pembohong kelas kakap." Cleo menenggak minuman hingga habis karena mendadak tenggorokannya kering.
"Itulah resiko dari menjalin komitmen dengan seseorang. Lebih baik menjomblo seumur hidup daripada terluka kayak gitu," imbuh Satria.
Cleo menatapnya lekat. "Kamu masih aja mikir gitu. Kamu tahu, jika kita menjalin komitmen dengan seseorang yang tepat maka hidup kita akan bahagia."
"Jadi, kamu mau cari pengganti suamimu?"
"Ya, tapi nanti setelah aku siap. Sekarang aku mau seneng-seneng nikmatin kesendirianku ini."
"Oke, mau aku temani besok malam?"
Cleo tersipu karena tatapan pria di depannya itu penuh arti. Sebenarnya dulu dia sempat menyukai Satria, hanya saja tidak ada kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya. Mungkin saat ini Cleo bisa menuntaskan rasa penasarannya pada laki-laki itu. Hanya ingin mencari kepuasan karena dia tahu bahwa tidak ada gunanya berharap membangun masa depan dengan seorang Satria.
**
Kedua insan masuk ke dalam kamar hotel setelah menuntaskan makan malam. Si pria menyandarkan punggung wanitanya di daun pintu yang telah dikunci. Mengecup bibir merah itu sebentar lalu menatapnya lekat.
"Kamu yakin mau menghabiskan malam ini denganku?" tanyanya diselingi senyum nakal.
"Harus banget dijawab? Kayaknya kamu juga tahu apa yang aku mau saat ini."
__ADS_1
Perempuan itu membuka kancing baju si pria dengan perlahan. Dia memang sangat merindukan sentuhan dari lawan jenis. Apalagi makhluk di dekatnya itu adalah sosok yang menggairahkan. Berhidung mancung, bibir tipis dan tatapannya memabukkan. Tubuhnya tegap dan mengeluarkan aroma maskulin yang sangat kuat.
Keduanya menautkan bibir dengan gerakan perlahan. Makin dalam dan ganas ketika tangan mereka ikut berjalan-jalan di area sensitif.
Satria membawa Cleo ke sofa untuk melakukan permainan tingkat satu. Dilanjutkan di atas ranjang hingga mereka sama-sama mencapai *******.
Pagi buta kedua orang tanpa ikatan itu kembali berperang keringat di dalam bathtub yang ukurannya besar. Bermain basah-basahan di bawah guyuran air shower. Saling menyentuh, mengecap dan melahap dengan rakus. Cleo sampai berteriak-teriak saking masuk terlalu dalam pada puncak surga. Akhirnya dia bisa merasakan kembali kenikmatan yang sudah lama tidak terpenuhi.
"Thank you, Sat. Kamu bikin aku benar-benar puas," lirihnya dengan dada naik turun. Napasnya belum teratur akibat pertempuran panas barusan.
"Sama-sama, Cleo. Kamu juga hebat karena bisa bikin aku melupakan semua masalah hidupku. Sekarang kita mandi karena aku harus siap-siap ke kantor." Satria tersenyum puas lalu mengecup tengkuk perempuan itu.
Pertemuan mereka berlanjut hingga beberapa malam berikutnya. Selalu berakhir dengan pergumulan panas. Namun, seperti biasanya. Tak ada ikatan apapun dalam hubungan itu.
**
Satria mengantar Cleo ke Bandara. Pasalnya perempuan itu akan pindah ke luar negeri menyusul kedua orangtuanya sekaligus memulai hidup yang baru untuk melupakan mantan suaminya.
"Sat, makasih atas waktumu untuk menghiburku. Aku harap kamu bisa nemuin perempuan yang benar-benar kamu cintai. Hidup dengannya dan punya banyak anak." Cleo menepuk pundak temannya itu.
Satria terkekeh. "Ngawur! No love apalagi nikah dalam kamus hidupku. Semua itu cuma buang-buang waktu. Aku lebih happy hidup bebas kayak sekarang."
"Really? Aku yakin kalo hatimu juga kesepian. Mending turuti kemauan mamamu untuk cepat-cepat nikah. Biasanya pilihan orangtua itu lebih bagus. Ya, setidaknya lakukan itu demi mamamu. Buat dia bahagia. Kamu tahu sendiri kan, kalau beliau dulu pernah terpuruk. Sekarang saatnya kamu membahagiakannya."
Cleo memang cukup tahu kehidupan Satria karena mereka memang berteman saat zaman kuliah dulu.
Satria bungkam hingga perempuan itu menjauh. Hanya lambaian tangannya yang mengisyaratkan perpisahan. Entahlah, sedikitnya perkataan Cleo berhasil mengusiknya.
Pria itu merogoh saku celananya. Mengeluarkan benda pipih yang sedari tadi bergetar. Notifikasi masuk dari nomor Nyonya Hani.
_Kenapa selalu reject telepon dari Mama?
_Mama mau kamu pikirkan lagi tentang menikahi Berlian!
_Oke, Mama akan tarik semua fasilitas yang kamu punya jika menolak rencana Mama!
Satria mendengus kesal saat memasukkan kembali ponsel ke dalam saku. Dia tidak mengira jika ibunya sekeras itu ingin menikahkannya dengan Berlian.
"Memangnya mama mau ngapain? Toh aku yang handle perusahaan. Aku gak perlu takut kehilangan semua yang aku miliki saat ini."
Satria diantar sopirnya menuju PT. Good food, perusahaan di bidang makanan instan yang telah dikelolanya selama beberapa tahun.
Hal yang mengejutkan terjadi. Nyonya Hani kini duduk di kursi kebesaran yang biasanya diisi oleh Satria.
"Mama ngapain di sini?"
"Kamu lupa? Mama adalah pemilik dari perusahaan ini!"
__ADS_1