Aku Bukan Sampah

Aku Bukan Sampah
Cewek setengah matang


__ADS_3

Lian menatap pria gondrong di hadapannya. Pria yang memelototinya dengan garang. Jangan lupakan juga kepalan tangannya yang siap didaratkan pada wajah si gadis. 


Siapa sebenarnya laki-laki aneh dan tidak sopan itu? Kenapa datang tanpa mengucap salam tapi malah mau menyerang? Jangan-jangan lelaki tampan itu tidak punya otak!


"Apa yang kamu lakukan pada mamaku? Dasar brondong tukang pengeretan!" pekik si pria hendak memberi bogem mentah jika saja Bu Hani tidak mencegah.


"Satria, stop!" teriak wanita berusia kepala lima itu. "Dia adalah perawat pribadi Mama, namanya Berlian."


"Berlian?" Kening pria itu berkerut. Ia memindai makhluk di depannya dengan intens dari atas ke bawah. "Kamu … cewek?" tanyanya ragu.


Lian berusaha bersikap sopan meski sebenarnya ingin balik menonjok wajah songong si anak majikan. 


"Saya Lian, Tuan. Saya bekerja khusus untuk merawat Bu Hani." Gadis itu memaksakan senyum hambar.


"Wah, benar! Suaramu cewek banget. Aku pikir kamu itu cowok berondong yang mau menggoda mamaku. Habisnya penampilan kamu itu sangat tomboi." Satria terkekeh kemudian menghampiri sang ibu dengan duduk di tepi ranjang.


Berlian meninggalkan kamar atas perintah Nyonya rumah. Mungkin ia ingin lebih leluasa bersama sang putra.


Pria berjas biru muda itu melepas napas kasar. Matanya menatap Bu Hani lamat-lamat, sosok ibu yang sangat ia cintai. Sebenarnya Satria tidak tega melihat kondisi wanita itu yang belum sembuh total. 


"Mama berobat ke luar negeri saja, ya? Biar cepat sembuh," tawar Satria.


"Tidak! Mama malas bepergian terlalu jauh. Sebenarnya kalau kamu sering pulang, Mama pasti akan lebih cepat pulih."


Satria menggenggam jemari yang telah berkerut itu. "Mama kan tahu kalau aku sibuk mengurus perusahaan."


"Kamu sibuk dengan para wanita gatal itu. Mama juga tahu!" Untung saja mulut Bu Hani sudah tidak kaku seperti di awal. Ia bisa puas mengomeli anaknya. 


"Ayolah, Mah. Just for have fun! Aku tidak serius dengan mereka."


"Satria, Mama ingin menantu!"

__ADS_1


Tangan kekar pria itu lepas begitu saja setelah mendengar hal yang sangat ia benci. Ia tidak mau membahas tentang calon istri apalagi pernikahan.


"Aku belum mau berhubungan seserius itu."


"Belum mau menikah tapi sudah sering meniduri perempuan. Kamu itu penjahat, Satria!"


"Ckkk, Mah. Nikah itu bukan cuma urusan ranjang tapi juga pencocokan dua karakter yang berbeda dan aku tidak siap untuk itu. Asal Mama tahu kalau aku ini bukan penjahat, mereka sendiri yang memberikan tubuhnya secara sukarela."


Suatu hal yang sulit bagi Bu Hani ketika membujuk putranya untuk menikah. Satria selalu ada alasan untuk menolak. Anak lelakinya itu belum berubah sedikit pun sedari dulu.


**


Menjelang tengah malam, Satria yang susah tidur iseng berjalan ke taman belakang. Pria itu tersentak karena di sana ada sosok lain. Terlihat di bangku yang menghadap kolam ikan, si perawat ibunya sedang duduk. Lian menatap kosong ke arah yang lurus.


"Sedang apa si cewek setengah matang itu di sini? Apa jangan-jangan dia itu sebenarnya adalah titisan sundel bolong yang nyamar jadi manusia? Mungkin sekarang dia sedang bersiap mencabut paku dari kepalanya?" Pikiran konyol Satria tiba-tiba berseliweran membuat bulu ketiaknya merinding.


Segala imajinasinya terbantahkan saat gadis tomboi itu mengeluarkan bungkus rokok dan pemantik api dari dalam saku jaket. Satria menyaksikan sendiri jika Lian menghisap benda berasap itu dengan anteng hingga tidak menyadari keberadaannya yang tidak terlalu jauh.


Seketika itu wajah Satria mengeras dan otaknya mendidih. Jelas ia tidak suka melihat pemandangan tersebut.


Lian tersentak sejenak tapi kemudian bisa menguasai diri. Ia meneruskan kegiatan mengisap rokok tanpa ragu. Biarkan saja, toh sudah terlanjur kepergok. Namun, Satria merebut benda yang masih menyala itu sebelum kemudian menginjak-injaknya hingga padam.


Lian bangkit dan menatap pria itu sengit. Menurutnya, Satria sudah tidak sopan dan terlalu ikut campur.


"Saya memang perokok meski belum jadi pecandu dan saya melakukannya hanya sesekali. Lagipula ini bukan urusan Anda, Tuan!"


"Kamu itu bekerja untuk mamaku. Aku ingin memastikan jika kamu memang orang yang tepat untuk berada di sekitar orang yang kusayangi. Dan apa yang kamu lakukan barusan sangat salah! Kamu bisa membawa efek buruk untuk kesehatan mama."


"Tapi saya melakukannya di sini, jauh dari Nyonya Hani," kilah Berlian.


"Asap rokok itu bisa menempel pada baju yang kamu kenakan, nanti malah kecium sama Mama. Itu sangat berbahaya!" bentak Satria.

__ADS_1


"Saya akan pastikan jika …."


Si pria gondrong yang rambutnya digerai itu memotong pembicaraan seraya menodong wajah Lian dengan telunjuk. "Kamu itu pembangkang! Aku akan laporkan kejadian ini ke mama biar kamu dipecat!" ancamnya.


Lian berubah panik. Ia memelas agar anak majikannya tidak benar-benar melakukan hal tersebut. "Tolong jangan bilang ini pada Bu Hani! Saya sangat membutuhkan pekerjaan." Ia bahkan sampai mengatupkan kedua tangan.


Satria menerbitkan senyum sinis dan merendahkan. "Kalau begitu, kamu harus berhenti merokok mulai sekarang! Aku tidak mau kesehatan mamaku memburuk."


Lian mengangguk beberapa kali. "Ya, saya janji, Tuan! Terima kasih."


"Bagus! Jangan tenang dulu karena aku masih akan mengawasi gerak-gerikmu," ucapnya sambil berlalu.


Sebenarnya Satria merasa aneh dengan adanya wanita unik macam Berlian. Bisa-bisanya sang ibu menerima wanita tidak berkompeten untuk merawatnya. 


"Bukannya sembuh tapi nanti mama malah lebih parah sakitnya. Sebelum itu terjadi, aku harus melakukan sesuatu!" batinnya.


**


Lian yang baru selesai memakai baju tergesa melangkah ke arah pintu yang digedor keras dari luar. Entah siapa yang tidak sopan melakukan hal tersebut.


"Sebentar …!" teriaknya.


Sosok pria paling menyebalkan lengkap dengan ekspresi menghina itu berdiri tegak di hadapannya. Satria, anak majikannya yang terhormat itu rupanya yang sudah seenaknya merusak pendengaran Lian. Tidak bisakah si Satria bersikap lebih lembut padanya?


"Heh, Mama mau bicara tuh! Ditunggu di kamarnya," jelas Satria ketus kemudian melengos pergi.


"Huhh, kalau saja dia bukan anak Bu Hani, aku pasti sudah menjitak kepalanya!" batin Lian geram.


Sampai di kamar si nyonya rumah, Lian cukup terkejut melihat ekspresi tajam dari majikannya. Entah apa penyebabnya? Apa jangan-jangan Satria si songong itu sudah melaporkan tentangnya?


Lian agak menunduk saat menghampiri wanita yang duduk di atas tempat tidur tersebut. Jemarinya saling terikat dan meremas pelan. Jantungnya berdegup tak beraturan karena mengkhawatirkan nasibnya ke depan. Jika ia benar-benar dipecat maka hilanglah pemasukan ke dompetnya. 

__ADS_1


"Lian, apa kamu seorang perokok?" tanya Bu Hani. 


Lian mendelik ke arah Satria yang tersenyum mengejeknya. Ternyata laki-laki itu yang sudah membeberkan semuanya. Dasar pria pembohong dan tidak konsisten!


__ADS_2