
Tanpa bertanya pun Satria bisa menebak isi pikiran ibunya. Nyonya Hani muncul di ruangannya tak lain pasti ada hubungannya dengan perjodohan itu.
"Mama serius mau melakukan ini sama anak kandung sendiri?" Satria berdiri membelakangi ibunya.
Si nyonya memutar kursinya ke kanan ke kiri dengan santai. Tangannya bertopang di dagu. Kakinya disilangkan. Menatap lurus lekat ke depan.
"Mau nurut sama Mama atau bersikeras menolak?"
Satria berkacak pinggang masih membelakangi. "Mama gak perlu banyak nanya karena tahu gimana keputusanku."
"Oke, mulai saat ini kamu gak perlu repot-repot lagi mengurus perusahaan karena Mama yang akan ambil alih seperti sebelumnya."
Satria geleng-geleng kepala. Ternyata ibunya itu benar-benar nekad. Sebenarnya di sini siapa yang berperan sebagai anak kandung Nyonya Hani? Dia atau si Lian?
"Mama selalu berpihak sama cewek itu. Anak Mama itu aku, bukan dia!" protesnya.
"Justru Mama ngelakuin ini demi masa depanmu. Mama yakin jika Lian bisa mengisi kekosongan hidupmu, Sat." Nyonya Hani turun dari kursi untuk menghampiri anaknya.
"Aku gak ngerti sama pemikiran Mama," timpal Satria.
"Mama juga gak paham sama pikiranmu," imbuh Nyonya Hani.
"Setidaknya kasih aku waktu untuk berpikir lagi. Jangan tiba-tiba main ambil posisiku. Mama tahu jika aku selama ini udah bekerja keras untuk kemajuan perusahaan. Gak lucu kalau mendadak Mama muncul lagi. Nanti orang lain pikir aku ini gak becus jalanin bisnis keluarga."
Binggo! Tepat sasaran. Nyonya Hani tahu jika anaknya berpikir begitu.
"Oke, Mama kasih kamu waktu beberapa hari untuk menentukan pilihan. Silahkan kembali duduk di kursimu." Nyonya Hani menepuk-nepuk pundak putranya lalu meninggalkan ruangan.
Satria mengusap wajahnya kasar. Melemparkan tubuhnya di sofa. Mengacak rambutnya dengan frustasi.
"Mama gak pernah kayak gini sama aku. Cewek itu pasti sudah mempengaruhi mama. Ternyata kebaikannya mengurus mama emang gak tulus. Dia mengincar posisi menantu di rumah itu. Selebihnya aku bisa pastikan jika dia ingin menguasai harta mama."
Satria terus memutar otak untuk menemukan solusi. Dia tidak rela jika harus menanggalkan posisi 'bos' di perusahaan. Namun, dia juga tak mau jika gadis licik itu bisa menggapai tujuannya.
**
"Ma, aku setuju untuk menikah sama Berlian. Atur aja semuanya karena aku sibuk," lapor Satria via telepon.
Nyonya Hani bersorak gembira. "Makasih, Nak. Ini memang keputusan yang Mama inginkan. Kamu fokus ke perusahaan biar Mama yang handle semua persiapan pernikahan."
"Bentar lagi aku ada meeting. Udah dulu ya, Ma!" cakap Satria yang sudah malas berbicara.
"Oke, see you my son! Mama menyayangimu."
Satria memijit pelipisnya usai mengakhiri pembicaraan. Sang sekertaris barunya muncul setelah dipersilahkan masuk.
"Tolong, pijit saya!" titah Satria yang membuat gadis berambut sebahu itu melongo.
"Kenapa bengong?"
__ADS_1
Perempuan berbaju ketat dan mini itu mengangguk canggung. "Ba-baik, Pak."
"Kunci dulu pintunya!" Meski dijamin tidak akan ada yang berani nyelonong masuk ke ruangan itu tapi Satria tidak mau ambil resiko kepergok siapapun.
Sang sekertaris menuruti perintah atasannya kemudian berjalan perlahan mendekat ke arah si bos. Ini pertama kalinya dia bekerja di luar tugas.
Satria menepuk pahanya. "Duduk dan pijat aku!"
Wajah perempuan itu makin merona. Apa telinganya tidak salah menangkap suara?
"Ana, kamu dengar tidak?"
Perintah itu seolah mengintimidasi. Dengan canggungnya, dia mendaratkan bokong berisi itu pada paha si bos dengan posisi menyamping. Gemetaran ketika tangannya mulai memijat pelipis pria tampan itu.
Satria memejamkan mata untuk menikmati gerakan jemari lentik itu. Setelah lima menit lamanya, dia menyuruh sekertarisnya berhenti.
"Bisa lakukan hal lain untukku?"
Pria itu menatap Ana dengan lekat. Tangannya menyapu pipi kemerahan hingga membuat si empunya merinding. Jujur, wanita itu memang sudah merasa tertarik pada bosnya sejak pertama kali bertemu. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk bisa merasakan kehangatan pria sexy itu. Dia tidak kuasa menolak pesonanya.
"Ini hanya untuk kesenangan kita berdua. Tidak ada yang berubah setelah ini diantara hubungan kita. Aku tetap atasanmu, tidak lebih!"
Ada sedikit kekecewaan dalam hati Ana. Namun, bagi gadis sepertinya yang selalu punya fantasi liar bersama seorang pria sexy, sepertinya ini tidak terlalu buruk. Dia tidak akan menuntut apapun setelah bisa mencicipi surga bersama bosnya. Yang terpenting, hasratnya terpenuhi kali ini.
"Let's have fun, Darl!"
Satria menyeringai dan langsung melahap bibir manis itu. Tangannya begitu aktif berselancar di setiap lekuk indah sekretarisnya. Posisi berubah, Ana duduk menghadapnya hingga bagian dadanya bisa dieksplorasi lebih liar.
Ana dibawa ke sofa untuk ronde berikutnya. Satria memang gila jika menyangkut hal begini hingga tidak membiarkan sekertarisnya lepas sebelum dia benar-benar puas.
**
Lian termangu di dalam kamarnya. Semua berita yang dia dengar tadi benar-benar mengejutkan.
"Lian, Satria bersedia menikah sama kamu." Masih terngiang seruan Nyonya Hani yang begitu sumringah.
Keyakinannya runtuh berubah kebingungan. Mengapa pria itu mau dijodohkan dengannya padahal jelas-jelas jika Satria menolaknya dari awal?
"Apa yang bikin dia berubah pikiran? Kayaknya ada yang salah sama otaknya."
Dia memutuskan untuk menghubungi nomor telepon Satria. Belum juga mendapat jawaban, saat panggilan kelima barulah tersambung.
"Boleh bicara sebentar?" tanya Lian.
"Hem, ngomong aja!"
"Kenapa kamu nerima perjodohan ini?"
Satria sebenarnya malas untuk berbicara dengan gadis itu. Namun, dia juga penasaran dengan pembahasan apa yang ingin disampaikan Berlian.
__ADS_1
"Pemikiran seseorang itu bisa berubah seiring berjalannya waktu. Sesuai kondisi atau kebutuhan. Emang kenapa? Aku tahu kalau kamu sebenarnya senang dengan rencana Mama untuk menikahkan kita. Aku tahu apa yang ada dalam otakmu itu. Jadi, stop berpura-pura!" Bicara santai tapi terdengar meremehkan.
"Maksudmu?"
"Jangan terlalu dipikirkan nanti kamu stress. Yang penting sekarang cita-citamu akan segera tercapai. Tapi ingat, akan ada konsekuensi dari impianmu itu!"
Satria menutup telepon secara sepihak.
Lian nampak berpikir. Di kepalanya banyak praduga yang tumpang tindih. Kebanyakan berpikir negatif tentang anak majikannya tersebut.
Langkah kakinya pelan saat mendekati kamar Nyonya Hani. Tangannya hendak mengetuk daun pintu yang saat ini baru terbuka. Sang pemilik kamar tersenyum mengajaknya masuk.
"Bisa gini ya, tadinya aku mau ke kamarmu tapi tahunya kamu udah ada di sini."
Si nyonya sangat bersemangat menyambut calon menantunya. Menuntun Lian agar duduk bersamanya di sofa.
"Bu, saya rasa … putra Anda tidak benar-benar menginginkan perjodohan ini. Saya heran kenapa dia berubah pikiran." Lian tidak mau berbasa-basi.
"Kamu jangan terlalu banyak berpikir. Yang namanya hati itu bisa saja berubah. Hal paling penting saat ini yaitu … Satria menyetujui untuk menikah. Itu artinya kamu bisa jadi menantuku. Aku sangat bahagia, Lian!"
"Mungkin saja ada hal lain yang bikin dia terpaksa menerima rencana Anda. Bu, aku gak mau menjalin hubungan atas dasar keterpaksaan."
"No, jangan ngomong gitu! Kamu udah janji buat nikah sama Satria kalo dia juga setuju."
"Tapi …."
"Satria udah tahu tentang masa lalumu jadi gak usah khawatir! Kamu tahu, baru kali ini dia mau nerima seorang perempuan untuk dijadikan istri. Berarti, kamu emang spesial, Lian. Aku sangat bahagia saat ini. Aku akan pastikan jika Satria akan jadi suami yang baik untukmu," bujuk Nyonya Hani dibumbui dengan harapan kosong agar gadis itu tidak mundur. Namun, dia juga bertekad akan membantu untuk menyatukan mereka.
Sebenarnya Lian masih ragu untuk melanjutkan rencana tersebut tapi tidak tega menghancurkan kebahagiaan perempuan yang sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri.
**
Nyonya Hani begitu bersemangat dalam menyiapkan segala keperluan pernikahan putranya. Dia yang memilih konsep, tempat dan juga baju-baju pengantin.
"Semuanya terserah Mama," ucap Satria yang memang malas mengurus hal tersebut. Pria itu bahkan tak menampakkan diri ketika fitting baju pengantin.
"Saya gak tahu. Saya ikut Ibu saja." Tak jauh beda. Lian pun menyerahkan sepenuhnya pada calon ibu mertua.
Meski begitu, semua persiapan ditata begitu apik dengan bantuan WO ternama yang merupakan teman Nyonya Hani.
H-2
Satria menelepon Berlian saat gadis itu baru selesai ganti baju.
"Ha-halo …!" Mendadak gemetaran saat tahu jika calon suaminya yang menghubungi. Entah kenapa perasaan itu muncul saat ini. Mungkin karena sebentar lagi status hubungan mereka berubah.
"Aku ingin membatalkan pernikahan kita!"
Tubuh Lian mendadak lemas serasa tak bertulang. Mulutnya seolah terkunci dan dadanya bagai terhimpit benda keras. Bisa-bisanya Satria melontarkan perkataan sekejam itu.
__ADS_1
"Berlian, aku gak mau meneruskan rencana konyol ini. Lebih baik kamu cari lelaki lain untuk menikahimu!"
"Lian, dengar tidak?"