Aku Bukan Sampah

Aku Bukan Sampah
Kepergian Berlian


__ADS_3

Redi mengendap-endap di samping saung. Dia menajamkan telinga untuk menangkap suara dari dalam sana. Namun, tidak terdengar apa-apa. Pria itu bergerak pelan menuju pintu yang terbuka. Ponselnya sudah siap merekam video.


"Kenapa tidak ada? Mereka ke mana? Perasaan tadi masuk ke sini. Mana mungkin tiba-tiba lenyap."


Redi celingukan mencari kedua perempuan ajaib itu. Dia melongo, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 


"Woyyyy! Melamun aja." Seseorang mengagetkannya dengan berteriak sambil menepuk pundaknya keras. 


"Astaga! Nona bikin saya kena serangan jantung." Redi mengurut dadanya yang hampir longsor. 


"Mas lagi ngapain? Memata-matai kita, ya?" terka Lian tepat sasaran. 


"Ehm … sebenarnya …. Eh, ngomong-ngomong kalian dari mana? Kok tiba-tiba hilang tiba-tiba muncul lagi?" Sengaja mengalihkan perhatian.


"Kami sebenarnya sudah tahu kalau Mas ngikutin dari bioskop. Kami sengaja ngumpet ke saung dan saat Mas sibuk menelepon suaminya Lian, kami keluar dari sini," jelas Imas.


"Tapi untuk apa?"


"Sengaja mau ngerjain Mas Redi. Imas, ayo!" Lian bermain kontak mata dengan temannya. 


Imas mendekati Redi dan mendorong tubuhnya sampai telentang. "Enaknya kita apain, ya? Jorokin atau dibikin bengek?"


"Dua-duanya!" seru Lian menyeringai. 


Redi yang belum pernah bersentuhan dengan makhluk perempuan jelas gemetaran saat kedua wanita itu mendekat. Sebenarnya sebagai lelaki normal tentu senang jika diserang dua perempuan sekaligus dengan catatan normal dan memikat. Kalau dikerjai oleh model ajaib seperti istri bosnya dan si Imas, dia tidak rela. 


"Hey, jangan ambil kesucianku!" 


Lian dan Imas terkekeh memperhatikan pria itu ngesot ke belakang. 


Tanpa terduga, keduanya menyerang. Menggelitik pinggang dan kaki Redi sampai pria itu tertawa mengeluarkan air mata. 


Setelah setengah jam, barulah aksi brutal itu dihentikan. Lian dan Imas meninggalkan Redi sendirian tapi sebelum itu, ada pesan untuknya agar berhenti memata-matai meski Satria yang menyuruh. 


"Biar aku bicara pada suamiku tentang ini. Oh, ya. Jangan berpikiran aneh, kami ini masih normal dan doyan laki! Jangan menilai orang dari penampilan luar saja!"


**


Satria berdehem keras saat Lian sibuk mengobrol dengan Adi. Anak dari sahabat ibunya itu sengaja jauh-jauh datang untuk memberikan makanan.

__ADS_1


"Makasih banyak, Mas. Salam untuk mereka."


"Jauh-jauh datang cuma ngasih dodol? Jangan-jangan sebenarnya bukan dari orang tuanya, tapi dia sendiri yang ngasih agar bisa bertemu Berlian," pikir Satria dongkol.


Sebenarnya keberadaan Adi tidaklah lama tapi sukses membuat Satria kebakaran. Dia tidak suka melihat Lian begitu menikmati dan tertawa lepas saat bicara dengan lelaki menyebalkan yang sayangnya lumayan tampan itu. 


"Mas mau?" tawar Lian membuka bungkusan dodol berwarna coklat pekat. 


Satria mendecih. "Makanan apa itu? Aku juga bisa membelinya untukmu asalkan kamu minta." Untung saja tamunya sudah pergi. 


"Aku juga tidak minta ke Mas Adi atau orang tuanya. Mereka yang berinisiatif memberikannya untukku. Ya, mereka memang baik dan perhatian." 


Satria meneggak ludah saat melihat istrinya asyik mengunyah. "Jangan kebanyakan makan yang manis-manis nanti kena diabetes! Sini, karena aku baik jadi aku bantu untuk menghabiskannya."


Lian melongo karena suaminya mengambil banyak dodol dan melahapnya secepat kilat. "Doyan juga ternyata," batinnya.


"Sedekat apa sih kamu dengan si Adi yang gantengnya ada di bawahku itu?"


Lian mendelik. "Kamu itu selain terlalu narsis juga suka merendahkan orang lain. Kalau nanya mah nanya aja jangan berkata begitu. Asal kamu tahu, Mas Adi itu dulu lumayan dekat denganku. Kami berjauhan setelah dia kerja di luar kota."


"Oh …, amazing!" Satria mengolok-olok.


"Mas Adi itu sangat baik. Dia laki-laki paling baik dan tulus yang pernah aku kenal. Sikapnya tidak berubah meski sudah tahu kalau aku ini wanita korban pelecehan. Dia tidak menghakimi apalagi merendahkan aku." Lian termenung sejenak mengingat kebaikan pria yang kini ia anggap seperti kakak kandung.


"Jodoh bukan aku yang atur! Lagipula aku tidak pantas untuk laki-laki sebaik Mas Adi."


"Jadi, aku pantas dapetin istri serendah kamu karena aku ini tidak baik?"


Lian mengernyit. "Aku gak maksud begitu."


"Ehm, iya. Aku baru ingat. Kamu kan nikah denganku karena harta. Benar, kan? Untungnya aku tidak tertarik sama cewek kayak kamu!" Satria mendekatkan wajahnya. Dia memainkan alisnya dan tersenyum sinis. Namun, wajah songongnya lenyap saat melihat Lian meneteskan air mata. 


Wanita itu pergi ke kamar tanpa kata. Satria ingin menyusul tapi gengsi. Tapi dia sebenarnya tidak enak hati dan menyesal setelah mengucapkan kata-kata pedas itu. Karena cemburu dia tidak bisa mengontrol diri.


**


"Kamu mau ke mana?" Satria dikejutkan karena Lian mendatanginya ke kamar sambil membawa koper. 


"Aku mau tinggal dengan Mama Hani. Percuma aku di sini kalau keberadaanku tidak dihargai sama sekali."

__ADS_1


"Apa karena masalah semalam? Aku tidak sengaja berkata begitu. Berlian, tolong maafkan aku! Jangan pergi!" Satria mendekat. Secepat ini dia merasa kehilangan padahal Lian belum benar-benar pergi. 


"Jangan sok peduli! Aku tahu kalau ini keinginanmu."


Satria ragu ingin meraih tangan Lian meski menginginkannya. "Aku kesepian kalau kamu pergi," cicitnya sambil menunduk.


Lian terkekeh hambar tak percaya. "Sudahlah, Mas. Aku tetap akan pergi ke rumah Mama."


"Apa kamu akan kembali ke sini?" Satria memelas. 


"Belum tahu. Bisa iya bisa tidak, tergantung mood."


Satria tidak ingin mencegah lagi karena takut lebih menyakiti hati istrinya.


Hatinya berlubang saat sosok wanita tomboi itu menghilang dari pandangan. 


"Tempat ini akan sepi tanpa kamu, Berlian."


Sebulan setelah kepergian Berlian. Selama itu pula mereka tidak pernah berkomunikasi lewat apa pun. Sebenarnya Satria ingin menghubungi duluan tapi gengsi. Dia hanya sesekali menanyakan kabar istrinya pada sang mama. 


Satria masih beraktivitas seperti biasa walau hatinya merasa hampa. Kabar baiknya adalah dia sudah benar-benar insyaf dan tidak lagi jelalatan terhadap wanita. 


"Berlian sedang apa, ya?" pikir Satria memutar-mutar kursi kebesarannya.


Dia terlalu sibuk dengan masalahnya hingga mengabaikan beberapa dokumen di atas meja. 


Lelaki itu sering meminta foto Lian kepada Bu Hani tapi mamanya itu selalu punya alasan untuk menolak. Satria pikir jika wanita yang telah melahirkannya itu memang sengaja ingin menghukum.


Satria mengacak-acak rambutnya frustasi. Sebulan tidak melihat wanita tomboi itu membuat otaknya gila. Sering tidak fokus, kehilangan selera makan dan susah tidur. 


"Pak, ada seseorang yang ingin bertemu," lapor sang sekretaris melalui interkom.


"Siapa?"


"Namanya Nona Berlian Andini. Apa boleh …." 


Belum sempat sekretaris itu menyelesaikan kalimatnya, Satria langsung memotong saking terlalu antusias. "Biarkan dia masuk!"


Satria menegakkan badan dan merapikan penampilan. Dia tersenyum lebar dan sangat bersemangat. Akhirnya Lian-nya kembali!

__ADS_1


"Masuk …!" serunya ketika pintu diketuk. 


Dadanya berdebar hebat saat daun pintu itu terbuka.


__ADS_2