Aku Bukan Sampah

Aku Bukan Sampah
Terbakar


__ADS_3

Seluruh ruangan telah dibersihkan. Begitu pula dengan tubuh semampainya. Meski hanya dibalut dengan pakaian maskulin, setidaknya Lian sore ini terlihat rapi. Jangan lupakan jika aromanya juga semerbak wangi setelah disemprot parfum di sekitar leher, pergelangan tangan dan ketiak. Wajah? Tetap saja polos tanpa polesan make up.


Itu adalah usahanya agar tampil lebih baik saat menyambut kepulangan sang suami. Jika dipikir-pikir, mungkin apa yang dia lakukan sekarang akan sia-sia saja. Satria jelas tidak peduli padanya. Tapi, dia sangat ingin melakukannya. Bodoh!


Lian duduk di sofa ruang tamu. Mengutak-atik ponsel dan mengirim chat pada nomor Satria. Menanyakan kapan suaminya itu pulang ke apartemen.


'Ah, gak usah deh. Ntar dia ngerasa keganggu.'


Pesan centang dua itu segera dihapus. Tapi … dia sangat ingin tahu kapan Satria akan muncul. Mungkin harus membuat chat yang baru dengan kalimat berbeda.


'Mas pasti sekarang lagi di jalan. Mau aku bikinin apa buat makan malam?'


Tak lama setelah chat terkirim, Lian kembali menghapusnya. Bimbang, perempuan itu lagi-lagi mengirimkan pesan lalu dihapus kembali. Akhirnya ponsel disimpan ke atas meja. Dia tidak mau jika tangannya yang gatal kembali iseng memencet tombol. 


Tenang saja, Satria pasti tidak akan peduli dengan beberapa pesan terhapus itu. Tidak usah merasa tidak enak hati atau malu. Namun, tak berselang lama setelah itu, benda pipih di atas meja bergetar. Pada layar terpampang notifikasi dari nomor si suami. Dengan dada berdebar, Lian membaca isi pesan yang masuk.


"Heh, kenapa chatnya dihapus? Gak ada kerjaan, ya!" Lian bisa membayangkan ekspresi wajah murka Satria saat ini. Anehnya, dia malah menyunggingkan senyum.


"Cepat kasih tahu, kenapa pesan-pesannya kamu hapus!" Pesan yang lain menyusul.


Lian segera mengetikkan jawaban. "Maaf, Mas. Aku tadi salah kirim." Malu rasanya mengakui yang sebenarnya.


"Dasar pengganggu! Gak di mana-mana, kamu itu suka mengusik ketenangan dan kewarasanku." Untuk pesan yang terakhir ini, Lian sama sekali tidak mengerti. Entah apa maksud dari Satria sebenarnya. Yang jelas, dia tidak merasa seperti yang dituduhkan.


Sekitar satu jam berselang. 


Pintu utama apartemen itu terbuka. Sosok lelah Satria muncul. Wajah tampannya tidak hilang meski ternoda oleh ekspresi masam dan kecut dan judes. Namun, Lian tetap menyambut dengan senyum manisnya. Perempuan itu pun meraih tangannya untuk dikecup di bagian punggung. Sontak Satria terhenyak.


Getar-getar itu kembali hadir pada keduanya meski Satria berpura-pura marah. 

__ADS_1


"Lain kali jangan sok perhatian padaku. Gak akan ngefek juga. Percuma, hubungan kita tidak akan ada kemajuan."


"Aku lakuin ini buat diriku sendiri dan Mama Hani, bukan buat kamu. Jadi, kalau seorang istri itu berbakti pada suami maka pahalanya adalah surga. Yang untung siapa? Jelas aku! Selain itu, aku mau memenuhi janji pada Mama untuk jadi istri yang baik."


"Ngaco, pake bawa-bawa surga segala." Satria melengos menuju kamar. 


"Kalau mau makan, ambil aja di meja makan. Semuanya udah aku siapin. Jangan kelamaan mandinya, keburu makanannya dingin," ucap Lian.


Satria tidak menyahut. Sebenarnya masih aneh dengan sikap Lian yang masih saja ramah dan baik meski dia selalu jutek.


Lepas membersihkan diri, Satria gegas ke dapur. Di sana tidak ada Berlian padahal dia harap ada yang menemani saat makan malam. 


"Hey, sejak kapan aku ingin makan bareng dia?" pikirnya.


Tapi rasanya membosankan dan kurang semangat jika makan seorang diri. Maka dari itu, Satria berteriak memanggil sang istri. 


"Tidak usah ngegas juga kali, santai aja Mas! Aku ini gak budeg, lho. Eh, apa kamu itu sebenarnya Tarzan, ya? Sukanya teriak-teriak padahal ini bukan hutan!" Lian memasukkan makanan ke dalam microwave.


Satria melotot. "Apa kamu bilang?"


"Kok sekarang kamu yang budeg sih," canda Lian dengan senyum menyebalkan.


Si suami mendengus sebal. Sambil menunggu makanan hangat, dia mengutak-atik handphone menghubungi sang asisten. Entah apa yang dibicarakan karena Lian tidak terlalu paham jika menyangkut masalah perusahaan.


Lian memenuhi piring Satria dengan menu makan malam. Tadinya hendak pergi jika saja lelaki itu tidak mencegah.


"Duduk di situ sampai aku beres makan!" titah Satria dengan gerakan mata tertuju ke kursi di hadapannya.


Lian merutuk dalam hati atas sikap menyebalkan pria itu. Namun, sudut hatinya yang lain merasa geli. Jika saat begini, suaminya itu terlihat seperti bocah yang kelakuannya menggemaskan meski terkadang nakal.

__ADS_1


Si perempuan tomboi memainkan jari di benda pipihnya untuk mengetikkan pesan pada seseorang. Sesekali bibirnya tersungging manis saat membaca pesan yang masuk. Diam-diam Satria memperhatikan dengan dongkol. Entah mengapa merasa tidak senang jika istrinya sibuk dengan benda atau mungkin orang lain.


"Anteng sekali dia. Memangnya sedang chatting sama siapa? Harusnya jangan sok sibuk begitu di depan suami," batin Satria geram.


Lian cekikikan seraya geleng-geleng kepala. Entah apa yang menggelitik perutnya. Sumpah, Satria ingin membanting ponsel sialan yang telah mengalihkan wanita itu darinya.


Si pria berdehem keras, sengaja ingin menarik perhatian sang istri. Sayangnya Lian cuma meliriknya sekilas dan kembali fokus ke handphone.


"Hey, tolong ambilkan salad buah untukku! Tugasmu di sini adalah menemaniku, bukan untuk sibuk dengan handphone!" titah Satria.


Lian menurut saja tanpa protes. Dia kembali berolahraga jari dan anteng dengan sederet pesan di aplikasi hijau. Bahkan, kali ini telepon ditempelkan ke telinga saat orang di sebrang sana melakukan panggilan suara. Jelas Satria makin naik pitam meski mati-matian menahannya agar tidak meledak.


"Biasalah, sibuk ngurus rumah dan suami," ucap Lian pada lawan bicaranya.


Satria memindai gerak-gerik perempuan itu. Matanya tidak teralihkan meski bibirnya terus mengunyah dan dijejali banyak buah. Telinganya membesar saking ingin menangkap obrolan wanita di depannya. Tingkat rasa penasarannya melonjak tajam. 


Siapa sebenarnya yang sedang Lian ajak bicara di telepon? Laki-laki atau perempuan atau … makhluk setengah matang? Siapa pun itu semoga tidak ada hubungan yang spesial dengan istrinya. Tapi kenapa terasa sangat akrab?


"Sial! Kenapa aku sangat kepanasan?" rutuknya dalam hati yang terbakar.


Lian tidak menyadari jika lelaki yang resmi jadi suaminya itu sedang memperhatikan. Dia terlalu anteng mengobrol dengan temannya.


"Hari Minggu ini? Hm … boleh. Aku emang gak punya kegiatan lain selain di rumah. Kayaknya seru kalau kita jalan-jalan atau sekedar makan bareng. Itung-itung cuci mata dan otak biar gak ngebul."


Satria bertanya-tanya tentang rencana apa yang akan Lian lakukan di akhir pekan dengan orang di sebrang sana. Dia masih menyimak dan mencuri dengar.


"Suami?" Lian sekilas menatap Satria. "Gak usah! Aku gak perlu minta izin sama dia. Kita bisa pergi ke mana pun yang kamu mau, Mas."


Dada Satria mungkin telah hangus terbakar di saat telinganya mendengar panggilan Mas untuk lelaki lain. Masalahnya, siapa lelaki menyebalkan yang berani mengajak istrinya pergi?

__ADS_1


__ADS_2