
Ternyata acara makan malam itu diadakan di sebuah villa mewah milik teman Adi. Sebenarnya bukan menyangkut bisnis, hanya acara santai yang dihadiri oleh beberapa pasangan, kecuali Adi yang jomblo.
Makanan khas Barat dan Jepang berjejer rapi di sebuah meja makan panjang. Tiap pasangan duduk saling berhadapan, hanya Satria yang lurus dengan kursi kosong karena sudah didahului Adi. Namun, dia sebenarnya masih beruntung karena di sebelahnya ada Berlian yang cantik dan juga wangi. Posisinya sangat memudahkan jika ingin berbuat nakal di bawah meja, misalnya ingin jalan-jalan jari? Tapi sialnya, si Adi jomblo itu bebas melihat wajah Lian dengan sangat jelas.
Semua orang makan dengan tenang dan hangat. Tiap pasangan terlibat obrolan dan keromantisan. Satria pun tidak membuang kesempatan itu. Dia memaksa Lian untuk menyuapinya.
"Ehm, enak sekali disuapi istri tercinta!" Satria mengunyah sambil geleng-geleng kepala, matanya terpejam sebentar untuk menikmati daging yang lembut di lidahnya.
Lian memutar bola matanya malas meski dia menuruti kemauan lelaki di sampingnya. Sedangkan Adi nampak memperhatikan sambil makan dengan ekspresi tak terbaca.
Giliran Satria yang menyuapi Berlian dengan jurus paksaan seperti tadi. "Enak, kan? Duh, kasihan para kaum jomblo. Bisanya cuma nonton kemesraan orang," sindir Satria mendelik pada pria di depan istrinya. Adi sama sekali tidak terpengaruh.
Satria merasa menang.
Makan malam selesai dan dilanjutkan dengan ngobrol. Para wanita saling berbaur begitu pun dengan kaum pria. Mereka saling berkenalan dan berbincang ringan.
Di ruang tengah yang luas, tiap pasangan berdansa di bawah lampu yang remang dengan alunan musik yang pelan. Cuma Berlian yang tidak mau diajak berdansa. Dia lebih memilih jadi penonton sambil menikmati minuman dingin.
"Aku ke toilet dulu sebentar, jangan ke mana-mana!" Satria bangkit.
Lelaki itu bergerak cepat karena khawatir istrinya dicolong si jomblo. Ternyata benar, padahal hanya sebentar dia ke kamar kecil tapi saat kembali, Lian sudah tidak ada di sofa. Wanita itu sedang asyik berdansa dengan Adi.
Sontak saja Satria geram dan yang paling membuat panas adalah kemesraan mereka. Lian tersenyum mengalungkan tangannya di leher Adi. Laki-laki jomblo itu juga dengan posesif dan kurang ajarnya meraih pinggang ramping Berlian. Tubuh mereka terlalu rapat dan Satria tidak suka itu.
Tangan Lian meraba dada Adi dan pria itu balas mengusap pipi si wanita. Mereka terus berbalas senyuman.
Dada Satria makin terbakar ketika Adi memeluk Lian dan mengusap rambutnya.
Dengan bergemuruh Satria menghampiri mereka. Dia memisahkan kedua orang itu dengan kasar dan membawa Lian meninggalkan ruangan. Adi dan yang lainnya hanya melongo tidak berbuat apa-apa. Para pasangan kembali berdansa dan melupakannya sedangkan Adi duduk untuk menghidupkan rokok. Pria itu mengedikan bahu seraya terkekeh.
Lian memberontak karena pergelangan tangannya dicekal kuat. Namun, Satria tidak mau dengar.
"Lepaskan aku, ini sakit!" ringis Berlian.
Satria tidak peduli, toh Lian pun tidak peduli pada perasaannya dan enak-enakan dansa dengan lelaki lain. Giliran Satria yang mengajak, Lian malah ogah-ogahan.
__ADS_1
"Aku masih mau di sini. Kamu saja yang pulang!" teriak Lian.
Satria melepas cengkraman tangannya dan menatap wanita itu runcing. "Oh, jadi kamu sangat ingin bermesraan dengan lelaki itu?"
"Bukan urusanmu!" Lian berbalik tapi suaminya mencegah. Mereka kini saling menantang tatapan.
"Aku ini suamimu, Lian. Jadi, jangan berani dekat-dekat dengan pria lain apalagi si Adi!" Satria mencengkram kedua bahu istrinya hingga Lian meringis.
"Pernikahan ini hanya di atas kertas, kamu juga tahu itu. Bukannya kamu juga suka bertindak seenaknya? Pergi ke luar dengan banyak perempuan meski sudah punya istri. Oh, aku lupa. Aku ini cuma istri sampah yang menjijikkan!" Dia tersenyum kelu.
"Mulutmu terlalu banyak mengeluarkan kata-kata tidak berguna."
Satria melahap bibir Lian dengan brutal. Wanita itu mendorong dada sang suami dengan garang.
"Kenapa kamu sangat egois? Aku diperlakukan buruk selama jadi istrimu. Kamu bebas berbuat apapun tapi banyak melarangku. Kamu pergi dengan wanita lain dan seolah jijik denganku, tapi saat aku dekat dengan pria lain, kamu tidak suka. Maumu sebenarnya apa?" pekik Lian dengan napas ngos-ngosan.
"Aku sekarang sudah berubah, tidak lagi nakal dan bermain wanita." Satria melemah melihat Lian seperti ingin menangis.
"Aku tidak peduli!" Lian membuang pandangan.
Satria mengangkat tubuh Berlian ke pundaknya. Lian sibuk berteriak dan memukul-mukul punggung lelaki itu. "Hey, kamu pikir aku ini karung beras? Lepaskan!"
"Diamlah, aku tidak mungkin mencelakakanmu! Malah, aku akan memberikan kenikmatan." Satria terkekeh dan Lian makin semangat memukul.
"Dasar suami tidak punya otak!"
Satria mengecup kening Lian setelah mendudukkannya di mobil. Wanita itu membeku hingga Satria leluasa membelitkan sabuk pengaman.
Dengan cepat dia pun menempati kursi pengemudi sebelum Lian sadar dari melongo dan kabur.
Karena malu dan deg-degan, Lian melempar pandangan pada kaca di sebelahnya. Dia akan bertahan walau lehernya pasti sakit karena tidak pindah posisi.
"Kenapa kamu seolah peduli padaku? Apa karena penampilanku berubah jadi sikapmu juga ikut berubah? Ya, meskipun mungkin penilaianmu terhadapku masih sama. Sebagus apa pun aku, di matamu selalu hina," ucap Lian masih tanpa menoleh.
"Siapa bilang? Sok tahu!"
__ADS_1
"Kamu kan memang begitu!
"Berlian, aku sadar sudah banyak melakukan kesalahan padamu. Aku sangat menyesal dan ini kurasakan saat kamu masih jadi cewek setengah matang. Jadi, jangan berpikiran buruk. Meski kamu penampilannya masih tomboi, sikapku akan seperti ini. Aku tidak suka melihatmu dengan pria lain."
Lian menoleh. Satria menatap jalanan yang agak sepi.
Benarkah yang dikatakan pria itu atau hanya menghibur dan modus saja?
"Katakan, kamu menyukai Adi?"
"Ehm …, aku …."
Satria memotong ucapannya. "Stop! Kamu pasti lebih menyukai aku, kan?"
Lian mencebik. "Pede sekali!"
"Meskipun kamu mencintai Adi, aku akan membuatmu melupakannya. Jangan ada nama pria lain baik di hidupmu maupun hatimu! Karena apa? Karena aku pun sama. Sekarang hanya kamu wanita yang hadir di hidupku selain Mama tentunya."
Mobil menepi di jalanan yang sepi itu. Satria dan Lian saling berkontak mata.
Jantung mereka beradu cepat. Berlian sebenarnya senang tapi juga kaget dengan penuturan lelaki itu. Apa dia salah dengar atau Satria sedang bermain-main saja?
"Apa kamu suka saat tadi dibelai oleh si brengsek Adi?"
Ambyar sudah bunga-bunga di hati Berlian. Dia mendengus sebal karena seolah Satria merendahkannya.
"Kamu suka dengan sentuhannya?" Satria mengusap pipi wanita itu persis seperti yang Adi lakukan.
Lian menepis tangan itu. "Jangan menatapku seperti pada wanita murahan!"
Satria terus mengulang tindakan yang dilakukan Adi pada istrinya.
"Aku akan menghapus jejak sentuhan lelaki itu agar kamu melupakannya dan cuma ingat dengan sentuhanku!" Mungkin jika melakukan hal yang lebih, Lian akan benar-benar lupa pada Adi.
Satria membuat Lian tersentak dengan serangan brutalnya di area bibir.
__ADS_1
"Aku cemburu," lirih Satria di sela ciuman yang terjeda.