
" Kalau gak mau pergi, aku akan jorokin kamu di sini!"
Settt! Tatapan tajam tertuju pada pria yang baru selesai bicara. Satria malah tergelak mendapat pandangan seperti itu.
'Oke, mari kita test. Apa cewek ini normal apa nggak?'
Tercetus ide konyol dalam otak Satria. Dia sengaja mendekatkan wajahnya sedangkan Lian otomatis bangkit dari duduknya. Hendak melangkah tapi tangannya ditarik paksa oleh laki-laki itu. Secepat kilat, pinggang rampingnya berada dalam pelukan Satria yang saat ini sama-sama berdiri di depannya.
"Lepaskan, jangan macam-macam!" tekan Lian seraya berusaha melepaskan diri. Namun, Satria makin mengerahkan seluruh tenaganya.
"Kalau kamu bertindak kriminal maka aku gak akan segan-segan untuk menghabisi nyawamu!" ancam si gadis dalam keadaan panik. Bisa saja hal itu jadi nyata jika keadaan makin genting.
"Kamu itu sebenarnya lumayan juga lho, sayangnya … kurang sexy! Aku jadi penasaran, gimana rasanya main sama cewek setengah matang kayak kamu?" Satria mengamati wajah tegang itu dengan lekat dibumbui seringai nakal.
"Dasar gak waras! Jangan harap kamu bisa semena-mena sama a …." Kata-kata itu terputus paksa karena tanpa diduga, bibir Lian diblokir bibir Satria.
Mata gadis itu membulat sempurna dan reflek mengeluarkan bulir bening yang bercampur dengan air guyuran hujan. Kejadian ini mengingatkan akan masa suram itu. Tidak boleh ada pelecehan lagi dalam hidupnya!
"Hey, dasar cewek jadi-jadian!" teriak Satria sembari memegang senjatanya yang baru saja ditendang Berlian menggunakan siku kaki. Pria itu perlahan kembali duduk di kursi. Aksi konyolnya berakhir petaka. Fix, dia yakin jika gadis itu tidak normal, tidak doyan makhluk berpedang!
Lian berlari menuju kamarnya. Mengunci pintu lalu masuk ke kamar mandi. Mengguyur lagi tubuhnya yang memang sudah basah. Terduduk di lantai yang lembab itu untuk meneruskan tangis. Dia tidak terima jika Satria memperlakukannya seperti tadi.
**
Malam berikutnya Berlian terpaksa ikut majikannya dinner di sebuah restoran. Matanya terbelalak saat Satria muncul dan ikut duduk di depannya. Jika tahu makhluk menyebalkan itu akan hadir juga maka Lian akan mencari cara untuk menolak ajakan Nyonya Hani.
Gadis itu merasa risih karena mendapat tatapan dalam, dari anak majikannya. Nyonya Hani berdehem untuk mencairkan suasana canggung. Memanggil pelayan dan memesan menu makanan.
Mereka makan dengan tenang kecuali Berlian. Selain karena asing dengan menu dinner, dia pun tidak nyaman dengan adanya Satria yang seolah mengintimidasi.
Nyonya Hani pindah ke meja lain karena menemukan salah satu temannya di sana. Satria menuntunnya kemudian kembali duduk di hadapan Berlian. Tatapannya lagi-lagi lekat membuat risih.
"Kenapa dari tadi lihatin mulu? Perasaan, penampilanku gini-gini aja!" Lian menyeruput minumannya.
"Justru itu. Kamu harusnya pake baju yang lebih gimana gitu, ini kan dinner." Mata Satria pedih melihat gadis itu memakai kaos oblong yang dilapisi kemeja kotak-kotak. Kemeja itu dilipat sampai siku dan kancingnya tidak dipasang.
Lian berdiri dan hendak melangkah jika saja Satria tidak buru-buru bersuara lagi.
"Semenjak kemarin malam sikapmu jadi makin judes. Ngambek ya, gara-gara …." Satria memainkan bibirnya dengan jemari.
Lian membuang muka, tak mau membahas kejadian itu.
"Aku canda aja kali! Gitu aja ngambek," celoteh Satria diakhiri kekehan.
Gadis itu menatapnya lebih runcing. Jika saja ini bukan tempat umum maka dia sudah mengacak-acak muka Satria.
"Hal kayak gitu sama sekali gak lucu! Kamu bisa aja bikin seseorang ketakutan atau bahkan trauma. Lain kali, hati-hati dalam bercanda!"
__ADS_1
Satria melongo, matanya mengikuti pergerakan Berlian yang berjalan menghampiri ibunya.
"Apa aku udah keterlaluan sama dia? Tapi … dia juga udah kurang ajar nendang hartaku paling berharga sampai-sampai nyaris mati! Jadi, anggap aja semuanya impas."
Berlian pamit lebih dulu pada Nyonya Hani dengan alasan tidak enak badan. Padahal sebenarnya tidak mau lagi berdekatan dengan pria gila itu.
**
"Menurutmu, Lian itu gimana?"
Pertanyaan dari Nyonya Hani membuat Satria mengernyit. Tangannya yang tengah memijit kaki sang ibu, dijeda sejenak.
"Gimana apanya? Kelakuannya apa penampilannya?" Kembali memijit lagi.
"Semuanya!"
"Dia itu cewek aneh," jawabnya tanpa menatap.
"Aneh apanya?" Giliran ibunya yang bingung.
"Semuanya! Apalagi cara berpakaiannya. Gak banget …." Satria bergidik amit-amit.
"Tapi menurut Mama itu gak masalah. Yang penting dia itu baik."
Satria menatap Nyonya Hani sebelum melayangkan protes. "Baik tapi gak normal tetep aja minus. Dia itu gak doyan laki-laki."
"Jangan sembarangan nuduh orang, Sat! Memang kamu punya buktinya? Pernah lihat dia bermesraan sama cewek?" sergah Nyonya Hani yang tak terima jika Lian dijelek-jelekkan meski oleh putra kandungnya sendiri.
Sang ibu memicing. "Bukti apa? Apa yang kamu lakukan sama Lian?"
Laki-laki itu nyengir canggung. "Hm …, gak apa-apa sih. Yang jelas aku udah buktiin kalo dia gak tertarik sama seorang cowok meskipun cowok itu keren banget!"
"Ngawur! Mama yakin kalo Lian itu 100 persen perempuan normal meski penampilannya kayak gitu. Kapan kamu nikah?"
Satria memutar bola matanya jenuh. "Kenapa sih ujung-ujungnya bahas nikah lagi?" Meski kesal tapi gerakan tangannya belum berhenti.
"Iya dong, Mama kan pengen punya mantu dan cucu!"
"Nggak ada cewek yang mau aku nikahin," kilahnya. Sebenarnya Nyonya Hani sudah tahu jika anaknya hanya berbohong.
"Kalau Mama yang cariin calon istri, kamu mau nerima?"
Mata anak dan ibu itu saling beradu.
"Mama pasti tahu jawabanku seperti apa. Udah ya, mending sekarang Mama tidur karena aku juga mau istirahat. Jangan bahas pernikahan lagi! Kebahagiaan seseorang itu gak diukur lewat hubungan seperti itu." Satria bangkit dari duduknya. Membantu merebahkan Nyonya Hani dan menyelimutinya.
"Dan tidak semua pernikahan itu berakhir menyakitkan seperti pernikahan Mama dan papamu! Banyak pasangan di luar sana yang hidup tenang bersama pasangan dan anak-anak mereka. Mama mau kamu merasakannya. Jangan habiskan waktumu dengan menyendiri seumur hidup. Mama akan sangat sakit melihatnya. Setidaknya, cobalah menjalin komitmen sakral dengan seorang perempuan." Nyonya Hani menggenggam tangan Satria yang saat ini tengah termenung.
__ADS_1
"Nggak tahu, Ma. Untuk saat ini aku sama sekali gak tertarik dengan semua itu. Aku punya cara sendiri biar gak kesepian." Enggan menatap.
"Bergonta-ganti wanita itu bukan kebiasaan yang bagus, Sat. Apalagi tidak ada ikatan pernikahan. Itu dosa besar! Kamu pasti mengetahuinya. Jangan rusak para wanita itu dengan melampiaskan hasratmu pada mereka."
"Mereka yang dengan suka rela melakukannya. Aku gak berbuat jahat," bela Satria yang mulai kesal.
"Tetap saja hal itu tidak dibenarkan! Mama mau kamu berhenti bermain perempuan. Cari perempuan yang benar-benar baik lalu nikahi dia. Kalau nggak ada maka kamu harus mau Mama nikahkan sama gadis pilihan Mama!"
Satria melengos pergi begitu saja tanpa berkata-kata lagi. Nyonya Hani melepas napas berat. Dia harap hati putranya bisa tergerak untuk memenuhi permintaannya itu.
**
Akhirnya … Satria pagi ini pamit pada Nyonya Hani! Sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu oleh Berlian. Jika pria itu pergi maka rumah ini damai dan tenang.
"Hey, soal waktu itu … aku minta maaf!"
Lian mengernyit. Apa pendengarannya masih berfungsi normal atau Satria kejedot sesuatu hingga mengucap kalimat tersebut. Ini adalah momen perdana pria itu bersikap sopan padanya.
Dahi Nyonya Hani ikut berkerut. "Ada apa ini? Mama gak ngerti."
"Waktu itu aku becandain Berlian agak keterlaluan. Jadi, aku rasa aku harus minta maaf," jelas Satria secara garis besarnya saja.
"Uhm … seperti itu." Si nyonya manggut-manggut. Dia pikir jika gurauan putranya tidak separah yang terjadi.
"Saya memaafkan Anda," jawab Lian ingin menghargai majikannya saja. Sebenarnya hatinya belum sepenuhnya luluh.
"Oke, kalo gitu aku bisa pamit dengan tenang," imbuh Satria.
"Mau dipeluk juga?" Dia merentangkan tangan di hadapan Lian.
Gadis itu memalingkan muka. Malu bercampur kesal. Sedangkan si wanita paruh baya hanya tersenyum menyimak.
Pria itu pun pergi bersama kendaraannya. Nyonya Hani melambaikan tangan. Hatinya tidak terlalu sedih dan kesepian saat putranya itu pergi. Saat ini sudah ada Lian yang selalu mengisi harinya.
**
Balkon menjadi tempat yang indah saat malam hari. Di sana kita bisa menatap pemandangan kota yang dipenuhi kerlip cahaya lampu. Seolah bintang di langit turun mengisi bumi. Itulah salah satu alasan Nyonya Hani menyukai tempat itu.
Dia duduk bersama Lian. Mengobrol sambil menikmati kudapan.
"Kamu udah punya pacar?" tanya Nyonya Hani tiba-tiba. Biasa, obrolan random yang akhirnya nyangkut ke sana.
Lian menjawab dengan gelengan kepala. Pertanyaan selanjutnya masih mengenai kekasih.
"Saya pernah beberapa kali pacaran tapi gak ada yang lama. Sekarang saya gak mau mikirin tentang laki-laki, cinta dan yang lainnya."
"Kalau menikah? Setiap gadis punya impian ke arah sana, bukan!"
__ADS_1
Lian menundukkan kepalanya. Sepertinya dia memang tidak tertarik untuk membahas hal itu.
"Saya gak mau nikah, Bu!"