
Fany membantu tamu istimewanya untuk membuka pakaian, niat sekali untuk memandikan bayi besar yang kekar dan menggoda itu. Satria, tentu saja dia sangat senang dengan perlakuan wanita yang belum lama dikenalnya.
Kedua makhluk tak tahu adab itu mulai beraksi. Saling menyentuh dan memberi kehangatan. Bunyi gemericik air berlomba dengan suara kicauan mereka. Menandakan jika keduanya tengah memacu untuk mencapai surga dunia.
Tak cukup di situ. Permainan berlanjut di atas tempat tidur. Begitu panas dan mengasyikkan hingga si wanita berteriak memanggil nama si pria. Tangannya memegangi pinggul Satria yang terus bergerak cepat.
Posisi berubah dan kini Fany yang memacu di atas laki-laki gondrong itu. Gadis ini memang sudah lihai karena sering melakukannya bersama seorang pria. Entah teman, pacar maupun pacarnya teman. Semua dia sikat selama tidak ada paksaan di dalamnya. Yang penting sama-sama happy!
"Faby, kamu memang hot dan hebat!" ucap Satria dengan napas masih ngos-ngosan.
Wanita itu ikut berbaring miring dengan memeluk tubuh sexy penuh keringatnya Satria. "Kamu juga hebat! Aku sangat puas malam ini."
Malam makin larut dan keduanya kini tertidur pulas. Saat matahari merangkak naik nyaris ke tengah-tengah, barulah Satria mengerjap. Itupun diakibatkan ulah nakal Fany yang saat ini sedang bermain-main dengan bagian inti si pejantan tangguh.
"Kamu ketagihan, Sayang?" Satria merem melek dengan napas yang tidak beraturan. Gerakan bibir wanita itu membuat seluruh tubuhnya menegang.
Fany menjawabnya dengan anggukan. Tatapan matanya begitu sayu. Tak tunggu lama, mulut mereka pun beradu manis. Saling menyesap dan memagut sambil bergulingan.
"Satria, please …!" Sepertinya wanita itu sudah tidak tahan ingin meraih kenikmatan lagi seperti semalam. Baru kali ini dia benar-benar terpuaskan oleh seorang pria.
"Kamu gak sabaran banget sih!" Satria tersenyum puas sambil mengatur posisi tubuhnya.
Getar gawai di atas nakas membuyarkan hasrat Fany karena pria di atasnya memilih menghentikan aksi mereka. Wanita itu mengerucutkan bibir.
Satria duduk di tepi ranjang saat bertelepon ria dengan seseorang. "Heh, cewek setengah matang! Kalau aku tahu ini nomormu, mending gak usah kujawab. Ganggu aja!" pekiknya.
"Tunggu, jangan tutup dulu teleponnya! Aku cuma pengen kasih tahu kalo Bu Hani sekarang … ada di rumah sakit. Anda harus segera pulang. Udah, itu aja!"
"Jangan bohong kamu!" bentak Satria.
"Kalo gak percaya dateng aja ke sini!" Telepon diputus begitu saja kerena kesal.
"Kamu mau ke mana?" Fany tak terima karena Satria saat ini memakai bajunya kembali. Itu artinya hasratnya kali ini tidak bisa diselesaikan.
"Mamaku masuk rumah sakit. Aku harus segera pergi!" Satria melingkarkan jam di tangan, memasukkan handphone di saku jas. Rambutnya diikat sembarang. Bukan waktunya memikirkan tentang penampilan di saat darurat seperti ini.
"Urusan kita belum selesai, Satria! Memangnya kamu tega ninggalin aku dalam keadaan kayak gini?" protes Fany sedikit merengek.
"Hey, kamu gak ngerti ya! Mamaku masuk rumah sakit dan aku harus terus melakukan itu denganmu? Aku gak sejahat dan sebodoh itu, Sayang!" Terkekeh sinis lalu melengos.
"Anda jahat, Pak Satria!" teriak Fany yang membuat Satria berbalik badan.
"Kita melakukannya bukan berarti hubungan kita spesial. Sebelum dan sesudah ini masih tetap sama. Jadi, kamu gak berhak ngatur-ngatur! Paham?"
Fany berteriak kesal karena kelakuan Satria yang menurutnya tidak bertanggungjawab.
__ADS_1
"Hai, Fero! Bisa ke apartemenku sekarang juga? I Miss you so much!" ucapnya via telepon.
Sepertinya dia memanggil makhluk lain untuk bisa menuntaskan hasratnya.
**
Sore itu ….
Satria tergesa-gesa memasuki lift yang akan membawanya pada kamar sang mama. Setengah berlari agar cepat melihat wajah teduh itu.
Langkahnya terhenti sesaat setelah membuka pintu ruangan. Matanya menangkap jika Nyonya Hani tengah menangis di pelukan Berlian. Hatinya makin gusar dan cemas. Namun, dia tidak boleh memperlihatkan kelemahannya apalagi saat ini ada si gadis tomboi di sana.
"Sudah, Bu … jangan nangis lagi!" Lian mengusap punggung majikannya.
"Heh, apa yang kamu lakuin sampe Mamaku masuk rumah sakit?" ketus Satria dengan tatapan mengiris.
'Nih orang bawaannya sewot mulu kalo ketemu aku.'
Lian membalas tatapan itu tajam meski penuh tanya. "Maksud Anda?"
"Jangan pura-pura bego! Kamu itu pinter …."
Nyonya Hani menimpali. "Sudah, Sat! Baru datang kok marah-marah." Bu Haji mengusap pipinya yang basah.
Satria memindai ibunya dari atas ke bawah. "Mama gak apa-apa, kan! Perempuan jadi-jadian ini gak kurang ajar sama Mama?" cerocosnya sambil memegang bahu ibunya.
Bolehkah Lian melumuri bibir lemes pria itu dengan cabe rawit sekilo?
"Lian gak ngapa-ngapain dan Mama juga sehat. Kamu gak usah cemas!" jelas Nyonya Hani.
Satria membelalakkan mata sejenak kemudian manggut-manggut paham. Tatapan sinisnya ditujukan pada gadis di sebelahnya. Tangannya ditancapkan di pinggang.
"Kamu sengaja bodohin aku? Emang sih, Mama masuk rumah sakit tapi aku kira keadaannya darurat. Mau bikin aku panik, gitu!"
"Semua yang Lian katakan sama kamu adalah rencana Mama. Kalau gak gitu, kamu mana mau pulang cepat-cepat. Jadi, gini ceritanya …."
Nyonya Hani mengatakan jika dirinya ke rumah sakit untuk kontrol. Dia ingin memastikan jika penyakitnya sudah sembuh. Momen itu dia manfaatkan untuk menyeret putranya agar segera pulang.
"Tapi Mama tadi nangis. Pasti ada apa-apa. Cepat kasih tahu aku, jangan ada yang ditutupi! Apa dia udah ngancem Mama?" tudingnya dengan mendelik pada Lian.
Yang dituduh tentu saja tak terima. Tatapan matanya melotot. "Kenapa Anda suka negatif thinking sama saya? Bu Hani tadi nangis karena terharu. Sekarang kakinya udah bisa gerak lebih lama."
"Satria, lihat! Mama udah bisa jalan lebih lancar." Wanita itu perlahan turun dari ranjang lalu melangkah beberapa kaki.
Mata Satria berbinar dan bibirnya melengkung lebar. Dia memeluk ibunya erat. "Aku bahagia banget karena Mama udah sembuh. I love Mama …!"
__ADS_1
"Semua ini berkat Lian yang ngurusin Mama dengan baik."
Satria sedikit setuju dengan perkataan Nyonya Hani. Walau bagaimanapun, gadis tomboi itu nyatanya memang turut berjasa akan kesembuhan ibunya. Namun, tentu saja tidak akan pernah terlontar ucapan terima kasih untuk Berlian.
'Bisa-bisa dia jadi gede kepala kalau aku bilang makasih.'
**
Semilir angin dan rintik hujan menambah dingin malam ini. Mungkin bagi sebagian orang merupakan momen indah dan hangat untuk bercengkrama dengan pasangan atau keluarga. Namun, suasana seperti ini membuat perasaan Lian kembali sendu.
Untuk mengusir kesepian, dia duduk menghadap kolam ikan yang ada di taman belakang. Menjadikan binatang-binatang kecil yang tengah berenang itu sebagai teman bicara. Sesekali terdengar tawa meski matanya mengembun. Entah apa yang gadis itu bicarakan pada ikan-ikan yang sama sekali tidak menyimak.
'Dasar cewek gak waras!'
Diam-diam Satria mencuri pandang.
Hujan makin deras. Lian masih betah duduk di sana. Tak peduli tubuhnya diserang milyaran semburan air dari langit.
Satria tidak bisa membiarkan hal tersebut. "Woy …! Cepat berteduh!" teriaknya. Sayang sekali, suara itu tidak sampai di telinga yang dipanggil karena tertelan suara hujan.
Mau tak mau pria itu keluar dari teras belakang lalu menghampiri Berlian. Bahu gadis itu yang berguncang keras membuatnya urung bicara.
"Ayah, ibu …! Kadang aku gak kuat jalanin hidup ini sendirian. Aku kangen kalian."
Satria bergeming tepat di belakang Berlian. Hatinya sedikit terenyuh dan iba melihat kesedihan perempuan itu.
"Izinin aku nangis malam ini biar dadaku sedikit lega. Wanita tegar itu bukan berarti gak boleh nangis, kan!" Lian tersenyum kelu.
Sekitar lima menit kemudian, Satria menepuk pundak Lian hingga gadis itu tersentak. Menoleh ke belakang dan mendelik setelah tahu jika si pembuat kaget adalah anak majikannya. Pandangannya dialihkan lagi ke kolam.
Satria ikut duduk di bangku itu di sebelah Lian dengan sedikit berjarak. Tubuhnya agak condong ke depan sementara tangannya bertumpu di paha.
"Kesedihan identik dengan air mata. Boleh aja nangis tapi jangan sampe berlebihan."
"Apa peduli Anda? Siapa juga yang nangis?"
Satria menyandarkan diri di bangku yang didudukinya. Bibirnya tersungging sedikit. "Santai, Man, ehh …, maksudku Girl! Jangan pura-pura gitu!"
Lian mendelik sejenak lalu memalingkan muka.
"Listen to me! Aku gak mau kamu sakit karena tugasmu merawat Mama masih belum berakhir. Jadi, cepat masuk ke kamar dan ganti baju!"
"Bukan urusan Anda!"
"Heh, kamu udah gila ya! Basah-basahan kayak gitu padahal kan cuaca lagi dingin."
__ADS_1
"Anda lebih gila, kenapa repot-repot ngurusin saya?" Masih belum mau bersitatap.
"Sembarangan! Kamu tuh yang aneh, dikasih tahu malah ketus. Kalau gak mau pergi, aku akan jorokin kamu di sini!"