
"Saya gak mau nikah, Bu!"
Nyonya Hani cukup terkejut mendengar jawaban dari Berlian. Sekilas merasa jika yang dikatakan putranya waktu itu memang benar. Tapi … masa iya jika Lian tidak menyukai laki-laki?
"Kenapa kamu gak mau nikah? Apa waktunya belum tepat karena usiamu masih muda? Kamu belum siap berumah tangga? Atau … gak ada laki-laki yang cocok di hatimu?"
"Saya gak tertarik untuk hubungan kayak gitu. Saya cukup tahu diri, Bu. Perempuan kayak saya ini, pasti gak akan ada yang mau nerima." Perkataan itu jelas mengisyaratkan keputusasaan.
"Emangnya kamu kenapa? Aku rasa kamu itu sama sekali gak ada masalah. Mungkin penampilanmu aja yang harus sedikit dirombak. Kamu sebenarnya cantik, lho! Tubuhmu bagus dan wajahmu bersih. Tetap manis meski tanpa make-up. Sikapmu juga baik."
"Bu, maaf. Saya gak mau bahas ini. Jujur, saya malas ngomongin pernikahan karena sebenarnya saya gak ada niat ke sana."
"Oke, maafin aku Lian! Kalau kamu udah siap dan bersedia, ceritain aja semua masalahmu padaku!"
Nyonya Hani tersenyum seraya menepuk punggung tangan Berlian. Dia yakin jika ada sesuatu yang terjadi di masa lalu gadis itu. Tidak mungkin jika pemikiran Lian sepesimis itu andai kehidupannya dulu baik-baik saja.
**
Satria menempelkan ponsel di telinganya. Duduk santai di kursi kebesarannya di dalam ruang kerjanya. Kursi itu berputar pelan ke kiri dan ke kanan. Sengaja dimainkan sambil bertelepon dengan seseorang di sebrang sana.
"Ma … aku udah bilang kalau aku gak mau nikah, titik!" ucapnya dengan ekspresi jengkel. Beberapa bulan berlalu sejak kepulangannya dari rumah Nyonya Hani dan selalu hal tersebut yang dibahas ibunya. Sesering wanita itu mendesak, sebanyak itu juga Satria menolak.
"Oke, berarti itu artinya kamu gak punya calon istri. Sekarang kamu harus ikuti aturan Mama. Kamu akan Mama kenalin sama anak temen Mama. Temui mereka satu persatu, pilih yang paling baik. Nanti Mama akan atur pernikahan kalian!"
Mata Satria membeliak. Punggungnya dijauhkan dari sandaran kursi. Saat ini tubuhnya condong ke depan dengan tangan berada di atas meja.
"Memang Mama pikir aku ini apa? Kesannya kayak aku yang gak laku-laku. Gak mau ah, malu-maluin itu namanya!" tolak Satria.
"Please … temui mereka sekali saja! Kalau gak ada yang cocok, Mama gak akan maksa," imbuh Nyonya Hani.
Pria itu terlihat berpikir sebentar. Sepertinya memang harus menuruti kemauan ibunya agar berhenti mengoceh. Toh, dia yang bebas memilih gadis-gadis itu.
"Oke, aku setuju!"
Kesepakatan terjadi. Jadwal satu gadis untuk satu malam hanya untuk pertemuan. Mungkin bisa berlanjut ke arah lain jika Satria tertarik pada mereka. Waktunya dimulai sejak Satria pulang ke rumah ibunya.
Gadis pertama, anggun dan cantik. Sayang sekali terlalu pendiam dan pemalu. Satria mencoretnya sebagai perempuan idaman.
Gadis kedua, supel dan ramah. Penampilannya rapi dan tertutup hijab. Terlalu cerdas dalam hal agama hingga membuat Satria rendah diri dan pesimis.
"Sudah berapa juz Al-Qur'an yang kamu kuasai? Aku gak mau lho, punya imam yang gak paham agama."
Mati! Satria merasa terintimidasi dengan perempuan seperti itu.
Malam selanjutnya. Sepertinya gadis ini yang paling menarik. Sexy dan menggiurkan. Barang impor pula.
"Kita pesan kamar. Aku mau tahu gimana kemampuanmu di atas ranjang!" ajak Satria yang langsung diiyakan si perempuan.
__ADS_1
Malam yang panas dan menggairahkan tapi tetap saja pada akhirnya Satria menolak untuk meneruskan hubungan tidak penting itu.
Sampai juga di kandidat terakhir. Satria menunggu gadis itu di sebuah restoran. Sudah hampir satu jam tapi tak ada seorangpun yang menghampiri. Dia sudah gelisah dan murka.
"Emang secantik apa sih dia sampai berani bikin aku lumutan di sini?"
Satria hendak berdiri tapi sesosok makhluk indah muncul. Gadis berambut panjang digerai yang memakai dress hitam berhasil membuatnya melongo. Begitupun dengan si gadis yang ekspresi wajahnya tak jauh beda. Mereka sepertinya sudah saling mengenal.
'Kenapa mesti dia yang Mama pilih?'
Perempuan itu duduk tenang di depan Satria setelah berhasil menguasai diri.
"Hai, apa kabar?"
Satria memaksakan diri untuk tersenyum. "Aku baik. Gimana kabarmu, Anita?"
"Kamu pikir, setelah kamu ninggalin aku gitu aja, hidupku akan baik?"
"Hey, kita gak ada hubungan apapun. Jadi, gak usah lebay!" Tersenyum sinis.
"Kamu emang gak punya hati. Bisa-bisanya buang aku setelah kamu puas. Meski kita bukan pacar tapi kita sudah melakukan hubungan suami-istri. Apa itu belum cukup menyadarkanmu kalau aku ini menaruh perasaan khusus buatmu?" Tatapan matanya lebih tajam. Suaranya masih terdengar pelan meski penuh penekanan.
Satria menghela napas berat. "Oke, aku gak tahu itu. Selama ini aku melakukan itu dengan banyak wanita cuma buat senang-senang. Jadi, jangan libatkan perasaan!"
"Terserah, aku gak mau bahas itu!" Anita memalingkan wajah.
'Tunggu! Bukannya dia yang mulai duluan bahas ini. Dasar aneh!'
Satria melambaikan tangan pada gadis yang kini tengah melenggang pergi. "Bye …! Emang ini yang aku mau."
Pada dasarnya, suka atau tidak pada gadis pilihan ibunya, dia tetap akan menolak. Dia tidak mau menikah dengan wanita manapun!
**
Nyonya Hani sudah menduga jika Satria akan menolak semua gadis pilihannya. Bukan karena tidak ada satupun yang disukai Satria melainkan karena putranya itu memang bersikukuh tak mau menikah.
"Setidaknya aku udah berusaha."
Sebenarnya masih ada satu kandidat lagi. Seorang gadis yang paling Nyonya Hani inginkan menjadi menantunya. Hanya saja dia tidak yakin jika gadis itu mau dijodohkan dengan Satria. Andai jika pilihannya itu langsung menyetujui dari awal maka dia tidak perlu repot-repot menyuruh Satria menemui keempat kandidat lain.
"Mungkin aku harus coba bicara sama dia. Siapa tahu diam-diam dia menyukai Satria," gumamnya.
Wanita yang duduk bersandar di bahu ranjang itu menelepon seseorang. Tak lama berselang, pintu kamar diketuk diselingi suara panggilan.
Nyonya Hani menyuruhnya masuk. Lian berjalan pelan lalu duduk di tepi ranjang sesuai perintah majikan.
"Ehm … Lian, menurut kamu … anakku itu gimana?"
__ADS_1
"Ah … dia … baik." Masa harus bilang menyebalkan! Bohong dalam urusan seperti ini mungkin bisa dimaafkan daripada menyakiti perasaan orang lain.
"Kalau seandainya kalian berjodoh, gimana?"
Jika saat ini Lian sedang makan, pasti dia tersedak. Perkataan majikannya benar-benar tidak terduga.
"Kenapa bengong? Kamu gak suka sama Satria? Emang sih dia itu kadang nyebelin tapi sebenarnya baik."
"Kenapa Ibu menanyakan hal sekonyol itu? Mana mungkin saya dan anak Anda …. Kami itu berbeda. Lagipula saya pernah bilang kalau saya gak tertarik untuk punya hubungan sakral dengan seorang pria."
Nyonya Hani memicing sedikit curiga. "Kamu masih normal, kan! Gak suka sesama cewek?"
Astaga! Mikir apa si Nyonya?
"Tentu aja normal. Tapi … saya males aja buat berkomitmen sama laki-laki. Saya merasa rendah diri, Bu." Lian menundukkan kepala.
"Kamu bisa cerita sama aku, Lian. Bukannya kamu anggap aku kayak ibumu sendiri! Jadi, kenapa kamu gak mau nikah?"
Tidak mungkin dia membeberkan aibnya sendiri. Lian memilih untuk bungkam.
"Oke, apapun alasanmu tapi yang jelas aku mau jodohin kamu sama Satria."
Lian menatap mata penuh harap itu. "Bu, kenapa Anda mau saya melakukannya? Bukannya masih banyak gadis lain yang sangat berkelas dan terpandang di luar sana?"
"Bukan hal itu yang aku cari. Aku mau punya mantu yang kayak kamu. Bisa ngurus mertua dengan baik dan tulus. Dan aku yakin jika kamu adalah gadis yang tepat."
"Maaf, Bu. Aku kayaknya gak bisa memenuhi keinginan Anda. Maaf!"
"Tolonglah, Lian. Pikirkan dulu baik-baik gak usah terburu-buru!" Nyonya Hani menggenggam jemari gadis tersebut.
"Ba-baik, saya akan pikirin dulu!"
Langkah awal sudah terlaksana. Semoga saja kedua insan muda itu bisa saling menerima.
**
Beberapa hari ke depan, barulah Lian menentukan pilihannya. Dia duduk menghadap Nyonya Hani di ruang keluarga.
"Bu, saya … nggak bisa penuhi rencana perjodohan itu. Maaf!" Kepalanya tertunduk dan jemarinya saling terkait.
"Kenapa? Masih alasan yang sama? Kamu merasa rendah diri, heh?" tanya si Nyonya lembut. Ada gurat kekecewaan di wajahnya.
"Maaf, Bu!"
Nyonya Hani mengeluarkan napas yang kasar lewat mulut. "Kalau Satria bersedia, gimana? Kamu mau nikah sama dia dan jadi menantuku, kan!" Sepertinya itu bukanlah pertanyaan melainkan pernyataan yang harus dipatuhi.
'Kenapa Bu Hani maksa banget? Aku tahu kalau dia tulus menyayangiku tapi … aku rasa aku gak pantas jadi menantunya.'
__ADS_1
"Ya, kasih kesempatan untuk mewujudkan keinginanku! Please …!" bujuk Nyonya Hani penuh harap.
Akhirnya Lian mengiyakan saja. Lagipula, dia yakin jika Satria tidak mungkin bersedia menerima perjodohan ini.