Aku Bukan Sampah

Aku Bukan Sampah
Malam pengantin yang panas


__ADS_3

"Lian, semoga kamu nemuin kebahagiaan dalam pernikahan ini," ucap Adi disertai senyuman. 


Pria itu memang tulus tapi sayangnya Satria menganggapnya berbeda. Perkataan itu bagai sindiran bagi dirinya. 


"Makasih banyak. Mas selalu baik sama aku, dari dulu! Aku juga berharap agar Mas bisa selalu sukses dan bahagia."


Adi mengangguk, senyumnya belum hilang. Kakinya melangkah menuju tempat prasmanan.


Lian menatapnya lekat. Andaikan pria yang menikahinya hari ini adalah Mas Adi. Pria yang selalu menghormatinya meski telah mengetahui jika dirinya sudah tidak suci.


Satria mendelik, sedikit terusik dengan interaksi akrab antara Lian dan pria tadi.


'Hey, jelas-jelas aku lebih tampan. Kenapa dia lebih ramah sama laki-laki itu?'


"Dia temanmu atau … mantanmu? Oh … atau dia itu sebenarnya adalah salah satu pelangganmu?" bisik Satria tepat di telinga istrinya.


Pria itu cuek saja ketika Lian menatapnya tajam. "Tebakanku benar, ya? Wow …!"


Lian memalingkan muka. Jika saja hanya ada mereka berdua di ruangan ini maka wajah Satria akan dia ubek-ubek hingga menjadi buruk rupa.


'Dunia ini tidak adil. Kenapa selalu saja ada orang yang memandangku hina? Padahal dalam kasus ini, akulah korbannya! Aku juga nggak mau hidupku begini.'


Lian mengambil napas dalam-dalam. Jangan sampai terpancing emosi dan merusak acara penting ini.


Nyonya Hani tersenyum memperhatikan anak menantunya. Dia mengira jika pasangan itu tengah terlibat candaan ringan.


"Satria godain Berlian terus, dasar anak nakal!"


Akhirnya hari yang melelahkan pun usai. Pasangan suami-istri itu memasuki kamar hotel. 


Satria pergi ke kamar mandi sedangkan Lian memilih duduk di sofa. Mencicipi makanan yang tersaji di atas meja. Sekedar ingin menenangkan cacing-cacing dalam perutnya agar berhenti berdemo.


Satria selesai dengan urusannya kini giliran Lian untuk membersikan badannya yang lengket. 


"Dasar gak sopan. Masa dia gak nungguin suaminya buat makan bareng," gumam Satria saat mengetahui jika makanan di atas meja sedikit berkurang. 


Pria itu makan cepat kemudian pergi meninggalkan kamar. 


Lian masih berendam air hangat. Perempuan itu termenung. Pikirannya tidak tenang. Apa yang harus dia lakukan mulai malam ini sebagai istri dari seseorang? Rasanya tidak mungkin jika keadaannya seperti malam pengantin pasangan lain, mengingat bagaimana hubungan sebenarnya antara dia dan Satria.


Bukan, Berlian tidak mengharapkan malam pertama seperti itu apalagi dengan si pria angkuh. Dia hanya ingin meluluskan janji pada Nyonya Hani untuk berusaha jadi istri yang baik bagi Satria. Tapi … bagaimana caranya? Jujur saja, ini sebenarnya merupakan beban bagi Lian.


"Udahlah, biar mengalir apa adanya. Yang jelas aku harus banyak bersabar dan menahan diri untuk menghadapi sikap gila dari Satria."


Kepala Lian yang terbungkus handuk kecil menyembul di celah pintu yang sedikit terbuka. Ingin memastikan keamanan saat keluar dari kamar mandi.


'Sip, dia gak ada di sini.'


Lian selesai memakai baju tidur. Dia memilih untuk rebahan di sofa. Dia tidak mau berbagi kasur dengan laki-laki yang telah jadi suaminya itu. 


Tubuhnya sebenarnya lelah tapi sayangnya mata belum mau menutup. Itu dikarenakan pikirannya masih melayang.


'Sebenarnya dia pergi ke mana? Mungkin sengaja mau bikin aku bete. Kamu salah, Satria. Aku malahan senang gak sekamar sama kamu.'

__ADS_1


Tetap saja ada bagian dirinya yang terusik. Merasa terabaikan dan tidak dihargai. Dia tahu jika pernikahan ini hanya atas dasar paksaan. Tapi jika diperlakukan begitu, siapa yang tidak akan sakit hati. Keberadaan dan statusnya sama sekali tidak dianggap.


Tengah malam kamar terbuka. Satria menyisir rambut depannya ke belakang dengan jemari. Mendekatkan diri ke sofa untuk melihat perempuan yang tengah terlelap.


"Sihirnya udah hilang. Lihatlah, sekarang berubah lagi jadi cewek setengah matang. Sebenarnya tadi yang aku nikahi itu dia atau bukan?"


Satria mendekatkan bibir ke telinga Lian lalu berkata, "Istriku … bangun! Ini adalah malam pertama kita. Kamu jangan lupa dong!"


Perlahan mata Lian terbuka. Sejenak menatap kosong lalu berubah jadi terbelalak saat kesadarannya mulai terkumpul.


Satria tergelak sedangkan Lian terduduk mendelik ke arahnya. 'Lagi enak-enak tidur malah diganggu. Dasar gabut!'


"Istri macam apa kamu? Makan gak nungguin, tidur juga gak nungguin." Sebenarnya protes untuk menggoda.


'Hello … apa gak salah dengar? Dasar suami gak ada akhlak.'


Lian geleng-geleng kepala, pusing! Daripada meladeni pria sableng itu lebih baik bobo lagi.


"Eits … gak boleh tidur!" cegah Satria yang saat ini menarik pergelangan tangan istrinya yang hendak berbaring.


Lian mencebik. "Apa sih?"


Satria berkacak pinggang. "Apa gini karakter istri pilihan mama? Males dan pembangkang. Ikut aku! Pokoknya gak boleh tidur sebelum kamu layani aku sekarang."


"Mau ngapain? Gak mau ah!" 


Satria terpaksa memangku istrinya dan membawa tubuh semampai itu ke tempat tidur. Melemparnya dengan kasar. Untung saja mendarat di tempat yang empuk hingga tidak menyakiti tubuh Lian. Hanya saja, bunga-bunga merah yang dibentuk hati menjadi berantakan malah membuat kasur jadi tidak sedap dipandang mata.


Satria menyeringai seraya membuka bajunya perlahan membuat istrinya memalingkan wajah.


"Ini malam pengantin kita. Masa kamu gak paham."


Lian belum siap dengan ini. Dia segera bangkit hendak turun dari ranjang. Namun, Satria segera menahannya. Mencengkram tangannya kuat-kuat.


"Layani aku dulu, baru kamu bisa pergi!"


Hal ini mengingatkan Lian akan kebejatan Darma. Tubuhnya gemetaran karena takut. 


"Lepas, jangan macam-macam!" teriaknya histeris.


Menyadari respon berlebihan dari Lian, Satria akhirnya melepaskan istrinya tersebut. "Kenapa sih lebay banget. Aku gak akan sentuh kamu. Aku cuma mau dipijit."


Dada Lian masih naik turun. Dia seperti orang linglung. Tak berkata lagi, tubuhnya serasa lemas.


'Apa ini trik biar dia bisa menggodaku? Pura-pura gak mau dengan tujuan bikin aku penasaran. Hebat juga!'


Satria menelungkup di atas kasur. Kepalanya miring ke arah kanan di mana Lian duduk.


"Cepat pijit aku!" 


Lian memejamkan mata sejenak sembari mengambil napas. Dia tidak boleh bersikap histeris lagi. Ini sangat memalukan dan akan membuat Satria lebih mengolok-oloknya nanti.


"Jangan bengong terus, istri yang baik itu harus nurut sama suami!" cerocos Satria.

__ADS_1


"Bisa nggak, bersikap normal? Mau dipijit tapi gayamu kayak yang mau berbuat asusila!" protes Lian.


"Kamu aja yang kepedean. Aku sama sekali gak tertarik sama kamu. Barang bekas!"


Lian segera berdiri. Tangannya terkepal kuat. Matanya berubah beringas. Kata-kata terakhir pria itu bagaikan garam yang dibubuhkan pada luka, perih!


"Siapa di sini yang lebih pantas disebut barang bekas? Bukannya kamu yang suka gonta-ganti cewek dan berbuat mesum! Celap-celup seenaknya di banyak tempat." 


Umpatan Berlian berhasil mengusik harga diri seorang Satria. Dia kini berdiri di hadapan istrinya. Saling lempar tatapan tajam.


"Ngomong apa barusan?"


"Kayaknya kamu yang lebih pantas dipanggil 'barang bekas' … bukan aku! Meski aku ini kotor tapi aku bukan perempuan murahan yang suka gonta-ganti pasangan."


Satria menunjuk wajah Lian ketika berbicara. "Kamu berani ngomong gitu sama aku? Sok suci!"


"Semua tuduhan itu sebenarnya untuk dirimu sendiri. Kamu yang sok suci dan memandang orang lain dengan sebelah mata. Padahal nyatanya, kamulah yang hina."


Sedikitnya perkataan itu membuat Satria tersentil. Mendadak kehilangan kata untuk membalas Berlian.


Pria itu memakai bajunya kembali lalu pergi meninggalkan kamar tersebut. 


Lian kembali ke sofa. Minum banyak air untuk menyiram dadanya yang terbakar.


Perkataan pria bergelar suaminya itu benar-benar keterlaluan. Dia ragu untuk mempertahankan hubungan pernikahan yang baru saja diikat itu.


Benar, malam pengantin ini adalah malam yang panas. Panas otak dan panas hati!


**


Satria menghabiskan malam dengan menyewa kamar lain di hotel. Dia tidak sudi menghirup oksigen yang sama dengan Berlian. 


Jam 8 pagi, pria itu kembali ke kamar pengantin untuk membawa barang-barang miliknya. Seluruh sudut kamar tak menampakkan sosok istrinya.


"Ke mana dia?" Celingak-celinguk.


"Ah, masa bodoh!"


Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Pasti Lian ada di sana. Otak Satria memutar adegan di mana tubuh polos istrinya terekspos melalui rekaman CCTV. Membuat pikirannya berjalan-jalan ke hal nakal.


"Gimana rasanya …? Ishhh, amit-amit!"


Tergoda tapi berusaha menepis. Di mata Satria, Lian itu adalah perempuan penuh drama. Banyak kebohongan untuk menutupi sifat aslinya. Dia tidak percaya jika istrinya itu pernah jadi korban pelecehan. Dia yakin jika Lian kehilangan kehormatan karena suka menjajakannya. Benar-benar tuduhan tak berdasar. Seenaknya menilai orang tanpa perasaan.


Kakinya mengendap-endap menuju pintu kamar mandi. Meski berusaha mengelak tapi nyatanya susah untuk mengacuhkan naluri laki-lakinya. 


"Sedang apa dia sekarang?"


Satria menyeringai saat otaknya kembali berselancar pada hal miring. Dia akan melakukan sesuatu yang agak nakal.


Niatnya ingin sedikit mengintip tapi pintu itu sekarang terbuka. Baik dia maupun perempuan yang memakai handuk pendek, sama-sama menjerit kaget.


"Satria, ngapain kamu di sini?"

__ADS_1


__ADS_2