Aku Bukan Sampah

Aku Bukan Sampah
Firasat


__ADS_3

Berlian mencoba memperbaiki sendi kehidupannya yang telah keropos. Kembali menempati rumah peninggalan mendiang ayahnya bersama sang bunda. Meski tempat itu banyak menyimpan kenangan buruk tapi ia berusaha untuk menguburnya. Jika bukan di sana, mau di mana lagi ia dan ibunya bernaung.


Perlahan wajah cerianya kembali nampak. Namun, penampilannya tetap tomboi. Sepertinya sudah nyaman dengan gaya cueknya. Selain itu, dia juga tidak peduli jika tidak ada yang melirik. Menurutnya, tetap saja tidak akan ada yang tulus meski penampilannya dibuat semanis mungkin. Mana ada laki-laki yang mau menerima seorang sampah, bukan siapa-siapa pula!


Lian mengusap peluh pada keningnya. Sudah seharian ini dia mengubek pabrik, toko dan rumah makan. Tak ada satu tempat pun yang memperkenankannya untuk mengais rezeki. Gadis itu pulang dengan lunglai.


"Kenapa mukamu kusut begitu? Apa hari ini zonk?" tanya Ayu dibumbui nada candaan.


Lian menyimpan gelas yang telah kosong ke atas meja makan. Napasnya dibuang kasar.


"Sudah seminggu lebih aku nyari kerjaan, Bu. Hari ini masih saja gagal," keluhnya.


"Sabar …! Mungkin belum waktunya," hibur Ayu dibumbui dengan senyum.


"Tapi aku bingung, uang hasil jual Hp tinggal dikit lagi. Paling cuma bisa buat penuhi kebutuhan beberapa hari aja."


"Kamu jual saja anting punya Ibu," tawar Ayu yang ditanggapi dengan gelengan kepala dari putrinya.


"Jangan! Anting itu kan pemberian dari almarhum ayah. Gini aja, aku kasbon dulu ke warung Bu Atin buat kebutuhan sehari-hari. Nanti setelah aku dapet uang, aku akan bayar."


Ayu bersikeras menawarkan barang berharga miliknya agar bisa sedikit meringankan beban. Sebenarnya dia merasa tidak tega melihat putrinya itu harus bekerja keras sendirian. 


"Tidak, Bu! Aku janji akan berusaha sangat keras untuk bisa membahagiakan Ibu," ucap Lian yang saat ini tengah menggenggam tangan Ayu.


"Kamu tahu apa yang paling membuat ibu bahagia, kamu! Jika kamu bisa bahagia dan selalu tersenyum maka tidak akan ada lagi kesusahan di dunia ini. Ibu mau kamu bisa jadi pribadi yang tangguh. Hadapi kerasnya hidup ini dengan jiwa yang tegar, maka kamu akan jadi seorang pemenang!"


Lian menganggukkan kepalanya lalu memeluk Ayu dengan erat. Entah mengapa nasehat dan permintaan ibunya itu membuatnya bersedih.

__ADS_1


**


Pagi yang baru, semangat dan perjuangan yang lebih menggebu! Mungkin kemarin-kemarin selalu gagal dalam mendapat pekerjaan tapi semoga hari ini mendapat hasil.


Usai sarapan dan pamit, Lian bergegas menaiki motor. Tujuannya tetap sama, mencari pekerjaan ke daerah lain yang belum dia coba peruntungannya.


Sebuah perusahaan garment terbesar di kota. Inilah incarannya. Setelah menunggu lama akhirnya Lian dibawa masuk oleh personalia dan diserahkan pada pengawas besar. Dia ditempatkan menjadi tukang gosok di bagian paking. 


"Kamu dapat training selama 2 hari, jam 7 sampai 12 siang. Jika selama itu kerjamu bagus maka kamu bisa diterima. Satu lagi, target dan kerapian kerja di sini sangat diperhatikan. Saya harap kamu bisa memberikan yang terbaik!" ucap si pengawas besar yang disanggupi oleh Berlian.


Gadis itu tersenyum bahagia. Akhirnya usahanya untuk mendapat kerja kini membuahkan hasil. Tidak perlu lagi bingung untuk menghidupi dirinya dan ibunya. 


Hari pertama berjalan lancar. Lian nampak cepat akrab dengan para senior meski ada beberapa juga yang enggan menyapa. Ada juga yang merasa iri karena hasil kerja Lian dipuji oleh atasan. Gadis itu sama sekali tidak mengambil pusing. Yang terpenting adalah dia ingin bekerja dengan sebaik mungkin agar bisa menutupi kebutuhan.


Training hari terakhir. Entah kenapa saat ini tubuh Lian merasa lemas tak bertenaga padahal dia sudah sarapan. Hatinya juga tidak tenang. Pikirannya selalu tertuju pada sang ibu. Apa mungkin ini sebagian dari adaptasi karena harus meninggalkan ibunya di rumah sendirian? Tapi … dulu tidak seperti ini.


"Iya, Mbak!" Lian tersenyum lalu kembali menggerakkan setrika.


Si senior melengos sambil menggerutu menuju kamar mandi. "Dasar cowok kw …! Mentang-mentang kemarin dipuji pengawas, sekarang kerjanya malah jadi melehoy."


Berlian berjongkok mengambil air minum dalam botol. Membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Pikirannya masih belum tenang. Sebenarnya perasaan macam apa ini? Firasatkah? Semoga saja tidak ada hal buruk menimpa wanita yang sangat dia kasihi.


"Ya Tuhan … tolong lindungi ibuku! Cuma beliau satu-satunya yang aku miliki saat ini," batinnya.


Si senior yang tadi datang lagi dengan ekspresi wajah terkejut dan lebih menyeramkan. "Astaga, Anak baru …! Apa yang kamu lakukan? Kamu mau membakar pabrik ini?" pekiknya seraya mematikan setrika.


Lian segera bangkit. Dia terperangah melihat baju kemeja putih polos itu gosong di sekitar punggung. Bahkan bolong berbentuk seperti setrikaan.

__ADS_1


"Apa ini, cara kerja dari anak baru yang dipuji-puji itu?" Si senior masih terus mengumpat hingga mengundang perhatian sekitar. Bahkan ada pula yang langsung laporan pada pengawas besar.


Wajah Lian langsung pias. Tubuhnya agak gemetaran dan hatinya makin gusar. Di tempat itu juga, sang pengawas mencercanya habis-habisan disaksikan oleh pekerja yang lain. 


"Saya tidak bisa mempekerjakan orang yang ceroboh seperti kamu!"


"Tapi saya akan berusaha memperbaiki semuanya. Saya akan mengganti kerugian perusahaan, potong saja upah saya, Bu!" mohon Lian dengan mata berkaca-kaca.


Pengawas itu tersenyum sinis. "Kamu belum resmi bekerja di sini. Saya juga tidak tertarik untuk memberimu kesempatan."


Lian terus memohon tapi tetap saja perempuan jangkung itu tidak mau mendengar.


"Saya tidak mau ambil resiko. Nanti jika kamu benar-benar bekerja di sini maka akan banyak lagi baju-baju eksporan yang akan gosong. Sekarang lebih baik kamu pulang, oke!" Meski diucapkan dengan nada rendah tetap saja terdengar menyayat.


"Tapi … saya sangat membutuhkan pekerjaan ini. Saya …." Pembicaraannya terpotong karena bu pengawas nyosor.


"Saya masih banyak pekerjaan jadi tolong jangan membuang waktu!" ucapnya sambil berlalu menuju ruang kerja.


Berlian lunglai meninggalkan tempat tersebut. Bisikan dari para karyawan yang julid sama sekali tidak dia hiraukan. Yang jadi beban pikirannya sekarang adalah bagaimana cara memberi tahu ibunya. Kemarin Ayu sudah sangat bahagia mendengar kabar Lian dapat kerja. Tapi saat masa training belum benar-benar berakhir, gadis itu sudah didepak dengan cara yang memalukan.


"Aku yang bodoh. Jika saja bisa fokus maka aku sudah pasti bisa bekerja di sini," rutuknya di sela berjalan menuju parkiran.


Helm telah menempel di kepala Lian. Kendaraan beroda dua itu perlahan meninggalkan tempat sibuk tersebut.


"Oke, ini bukan masalah besar. Aku harus bisa melewatinya dengan tegar! Jangan ada air mata, itulah yang ibu inginkan! Tetap tersenyum sepahit apapun hidup ini."


Lian mengernyit saat menempatkan kuda besinya di halaman rumah. Terusik karena suara riuh dari dalam sana. Begitu banyak tetangga yang berkumpul.

__ADS_1


"Ibu …!" panggilnya sambil berusaha menemukan sosok itu diantara kerumunan orang. Hatinya makin gusar. 


__ADS_2