
Lian memelototi suaminya yang berdiri tepat di depannya dengan keadaan bertelanjang dada. Buru-buru berbalik karena mendadak jantungnya mengamuk ingin ke luar dari tempatnya.
"Kenapa teriak-teriak?" Satria menggosok rambut basahnya dengan telapak tangan hingga air yang masih tersisa itu menyiprat ke segala arah. Dia berjalan santai menuju ruang ganti, sepertinya tidak terlalu ambil pusing dengan pertanyaan sang istri.
Lian menunda pembicaraan sampai Satria selesai memakai baju. Menunggu pria itu sambil duduk di bibir ranjang.
'Kenapa wajahnya makin manis?'
Berlian tak bisa berkedip saat pria sexy itu mendekat. Sejurus kemudian menggeleng cepat untuk menyingkirkan otak tidak warasnya.
'Jangan gagal fokus dong. Aku mau konfirmasi sesuatu yang penting, bukan mau jadi fansnya!'
Deheman keras menjadi pembuka sebelum obrolan berlangsung. Lian memberanikan diri mendongak pada pria yang berdiri di depannya.
"Apa yang kamu lakukan sampai … leherku bonyok?" Memalingkan wajah setelah selesai bertanya, malu!
Satria berpikir sejenak kemudian garuk-garuk kepala. "Itu … masa gak inget? Padahal kamu sama sekali gak nolak lho …." Cengengesan.
"Apa maksudmu?" Memanah mata dengan mata. Dia sungguh tidak paham dan tidak ingat apapun.
Satria mengulum senyum. Sebelah tangannya ditancapkan di pinggang dan sebelah lagi mengusap dagu yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Mendaratkan pantat di dekat istrinya.
"Sebenarnya semalam …."
Satria merasa ngantuk setelah membaca banyak buku di perpustakaan kecil di rumah ibunya. Bergerak ke kamarnya dengan sedikit malas. Kurangnya tidur membuat tubuhnya agak lemas serasa tak bertulang.
Matanya yang merah dan seperti dilem mendadak segar saat melihat Lian yang tidur di sofa dalam posisi duduk. Kepala istrinya itu berkali-kali condong ke depan dan mulutnya sedikit menganga. Penampakan yang lucu! Satria bahkan menahan tawanya agar tidak pecah.
"Harusnya momen indah ini direkam," gumamnya seraya merogoh saku celana. Mengeluarkan benda pipih dan mengutak-atiknya. Mengambil satu gambar dan video pendek dari istrinya.
Ponsel disimpan lagi. 'Lumayan, buat obat ngantuk nanti kalau aku masuk kantor lagi.'
Seiseng-isengnya Satria, tapi hatinya masih berfungsi. Tidak tega juga membiarkan Lian seperti itu. Tubuh semampai istrinya diangkat dan dipindah ke atas kasur.
Pria itu mengamati wajah tenang Berlian yang sedang berjalan-jalan di dunia mimpi. Sedikit menyunggingkan senyum ketika menyadari jika ternyata dia menikahi perempuan yang manis.
Entah dari mana datangnya ide konyol. Tiba-tiba saja otaknya memerintah untuk berbuat nakal. Leher bersih milik Berlian dijelajahi sedemikian rupa hingga meninggalkan kiss mark yang mungil tapi bertebaran.
Hal tak terduga terjadi. Terdengar suara lenguhan kecil dari mulut istrinya. Satria menjeda gigitannya. Mencari tahu apa Lian terbangun atau mengigau.
'Masa bodoh, yang penting dia gak nolak!'
Aksinya berlanjut hingga menciptakan karya indah di leher dan sebenarnya ada juga di dekat dada. Makin semangat ketika istrinya menggeliat sensual seraya melenguh seperti menikmati sentuhannya.
"Dan akhirnya kita ngelakuin itu tadi malam." Satria berbohong untuk hal ini. Tidak ada pergulatan lanjutan dari aksi menyedotnya.
Mata Lian nyaris copot dan menggelinding ke lantai. Dia bangkit dengan gelisah. Melongo dan memegangi kepalanya yang berputar.
"Kamu pasti bohong," terkanya tanpa menoleh.
Satria merebahkan diri sedangkan kakinya masih menggantung. "Aku punya buktinya kalau gak percaya," pungkasnya santai.
__ADS_1
Pria itu bangkit untuk mengambil ponsel. Memutar rekaman suara dan memperdengarkannya pada Lian.
'Apa ini beneran suaraku? Malu-maluin …!'
Perempuan itu benar-benar kehilangan muka. Jika bisa, dia ingin tenggelam saja ke inti bumi. Biar rasa malu itu lebur sekalian bersama jasadnya. Bagaimana mungkin dia bisa bersuara nakal begitu?
'Berarti tadi malam … itu bukan mimpi! Memalukan!'
Pantas saja Lian merasakan sesuatu yang geli tapi enak. Sekebo itukah dirinya saat tidur hingga tak bisa membedakan kenyataan dan mimpi?
"Mama nyuruh kamu ke bawah untuk sarapan," ucapnya sambil buru-buru pergi tanpa sedikitpun menoleh.
Satria tergelak karena kejahilannya berhasil. Langsung diam saat istrinya kembali ke kamar.
"Kenapa, Sayang? Mau bareng aku ke ruang makannya?" goda Satria diselingi senyum nakal.
Lian sebisa mungkin untuk menghindari tatapan itu. Secepatnya ke ruang ganti. Mencari sweater kerah tinggi lalu memakainya. Aman, sekarang tanda merah itu bisa tertutupi.
"Ya ampun! Ngapain di sini? Bukannya temuin mama di bawah," pekik Lian mendapati suaminya sudah ada di depan mata ketika ke luar dari ruang ganti.
Satria menutup mulut dengan sebelah tangan. Bahunya bergetar, pertanda tengah menahan tawa. 'Dia pasti malu makanya ganti baju.'
Lian mengerling sebelum pergi. Suaminya buru-buru menyusul. Perempuan itu terhenyak saat tangannya digenggam.
"Pura-pura mesra biar Mama senang," jelas Satria tanpa ditanya.
Si perempuan berpaling dari tatapan lekat suaminya. Kebiasaan baru, jantungnya selalu berjingkrak jika terlalu dekat dengan pria itu.
Nyonya Hani menampilkan senyum terbaik melihat anak menantunya muncul. "Pengantin baru maunya mesra-mesraan melulu. Mama dari tadi nungguin lho. Kalian baru muncul sekarang."
Wajah Lian sudah sangat matang. 'Apa yang dia katakan?'
Si nyonya mesem, paham kok. Dia malah makin gembira jika anak menantunya bisa selalu mesra. Makin sering pasangan itu 'bermain' maka semakin besar peluang untuk mendapatkan cucu secepatnya.
Sarapan pagi yang penuh semangat, kecuali Berlian. Tenggorokannya terasa seret. Kepalanya tidak bisa ditegakkan.
'Apalagi sih? Gak puas bikin aku malu?'
Lian sedikit mendelik pada pria di sebelahnya yang nyengir tanpa dosa. Tangan Satria mengambang di depan mulutnya.
"Buka mulutmu, Sayang!" seru Satria. Sengaja menekankan kata terakhir agar perempuan itu makin malu.
Nyonya Hani hanya berdehem. Pura-pura cuek dan anteng sarapan padahal menyimak.
"Makan aja sendiri, aku udah kenyang," tolak Lian halus.
"Kamu cantik banget pagi ini," kata Satria yang membuat istrinya melongo.
'Aku salah denger pasti. Apa dia yang salah makan?'
Kesempatan itu diambil Satria untuk memasukkan makanan ke mulut istrinya dengan paksa. "Berhasil, goal!" Kembali menyantap sarapan miliknya.
__ADS_1
'Bisa-bisanya aku ketipu gini. Kenapa bisa lupa kalau di mata Satria, aku ini cuma remahan kerupuk.'
**
"Besok pagi-pagi aku berangkat. Bagaimana acara kemarin?"
Satria bertelepon dengan seseorang. Lian diam-diam mencuri dengar sebisa jangkauannya di sela memberi makan ikan-ikan. Sesekali melirik pada suaminya yang ada di teras.
'Apa maksudnya besok dia kembali ke luar kota?'
Ada bagian dirinya yang terusik. Jangan bilang jika dia akan merasa kehilangan nanti!
"Oke, bagus. Sampai jumpa besok di kantor!" Satria menutup telepon kemudian masuk ke dalam rumah.
'Apa dia akan mengajakku juga?'
Lian menggelengkan kepala dengan keras. Kenapa pikirannya jadi aneh begitu?
Meski penasaran tapi dia tidak mengkonfirmasi hal tersebut pada suaminya. Satria sendiri yang memberi tahunya pada malam hari.
"Mau ikut?" Pertanyaan itu membuat Lian agak terkejut.
"Nggak usah. Aku mending temenin mama di sini. Lagian, hubungan kita gak sedekat itu. Kita cuma suami-istri di atas kertas." Terdengar pesimis dan kecewa.
Satria duduk di sofa di samping Berlian. "Siapa juga yang mau ajak kamu. Aku cuma nanya aja."
Lian menyentak napas. Untung saja dia tidak bilang ingin ikut. Jika itu terjadi sudah pasti Satria akan mentertawakan.
"Aku ngantuk. Mending kamu pindah ke kasur, biar aku yang tidur di sini," pinta Lian.
"Mau kasih aku bekal sebelum pergi?" Satria mendekat dan merangkul pundak istrinya.
"Maksudmu?" Memalingkan wajah. Berusaha tenang di saat dadanya berdebar-debar.
"Besok aku berangkat dan entah kapan kembali. Bisa sampai berbulan-bulan. Nah, kamu bisa memberikan 'servis khusus' malam ini. Ayo, kita pindah ke tempat tidur!" bisik Satria di telinga Lian, membuat istrinya merinding.
Perempuan itu makin paham arah pembicaraan suaminya. Dia jelas menolak karena tahu bahwa itu hanyalah lelucon. 'Kalau seriusan, gimana?'
"Hey, jangan main-main! Turunin aku sekarang!" Lian berontak saat tubuhnya melayang.
Satria memangkunya menuju tempat tidur. Sebenarnya ingin tahu bagaimana reaksi dari perempuan tersebut.
"Kemarin malam kamu gak nolak dan sangat menikmati kebersamaan kita. Jadi, gimana kalo kita mengulanginya lagi?" Satria mengukung wanita di bawahnya dan menghapus jarak hingga wajah mereka beradu.
Deru napas tak beraturan keduanya saling berlomba. Lian menutup mata karena tak sanggup menandingi tatapan memabukkan itu.
"Aku ini suamimu, Lian."
Satria menjelajahi bibir pink itu dengan bibir tipisnya. Mengejutkan, reaksi istrinya tidak menunjukkan penolakan meski tidak pula menyambut hangat. Setidaknya dia bisa lega karena Lian tidak histeris dan berontak. Sepertinya trauma perempuan itu sudah hilang. Berarti kejahilannya berhasil dengan berpura-pura melakukan itu dengan Lian di malam kemarin.
Satria melepas ciumannya kemudian beranjak menuju sofa. "Kamu tidur di situ. Selamat malam!"
__ADS_1
Lian membuka mata dan menghirup oksigen banyak-banyak. Termenung, memikirkan banyak hal. Mencoba mencerna semua yang terjadi.
'Apa maksud sikap Satria?'