Aku Bukan Sampah

Aku Bukan Sampah
Perhatian Satria


__ADS_3

Semalaman Satria tidak tidur karena menunggui istrinya di rumah sakit. Selain itu, hatinya juga masih belum tenang sebelum Lian kembali sehat.


Secara alamiah, mata lelahnya tertutup menjelang pagi hari. Tidur dalam posisi duduk, wajahnya bersandar di kedua tangan yang berada di sisi hospital bed.


Lian baru terbangun. Menatap ke arah kiri di mana suaminya berada.


Malam kemarin Satria terlihat menakutkan dan menerkamnya habis-habisan. Namun, tadi malam Satria benar-benar memperhatikannya. Menyuapi makanan dan berkata yang manis untuk menghiburnya. Dan lihatlah sekarang, pria itu terlelap saking kecapean setelah menjaganya.


'Kenapa dia bisa berubah begini? Apa merasa bersalah?'


Lian mencoba mencerna yang terjadi. Melihat ketulusan Satria, membuatnya senang sekaligus tidak enak hati. Selama ini dia pun tidak bersikap baik pada pria itu. Apa sikapnya terlalu berlebihan? Tapi dia tidak bisa mengontrol emosi, hati dan pikirannya saat sedang ketakutan. Lian harus berusaha untuk keluar dari trauma masa lalu.


Perempuan itu pura-pura tidur saat Satria menunjukkan pergerakan. Ponsel yang bergetar membuat pria itu terbangun. Merogoh benda pipih yang ada di kantong celana. Matanya yang merah menyipit saat menatap layar ponsel.


"Hem, ada apa Ma?" Suara paraunya terdengar.


"Eh, Mama ganggu ya? Maaf."


"Kalau mau ngomong sama Lian, nanti aja. Dia masih tidur, harus banyak istirahat. Aku juga ngantuk banget ini …." Mengucek mata perlahan. Sengaja tidak memberi tahu perihal istrinya yang masuk rumah sakit, tidak mau ibunya khawatir.


"Oke, titip salam buat Lian. Maaf Mama ganggu kalian. Happy honeymoon …!"


"Hem … bye!" Pembicaraan selesai.


"Happy honeymoon apaan …, aku malah shock gara-gara Berlian sakit dan itu karena ulahku," gumamnya.


Lian yang diam-diam menyimak masih bersandiwara pulas. Perasaannya campur aduk, susah dilukiskan. Ingin tertawa mendengar Satria menggerutu tapi juga tidak enak hati karena sudah bersikap berlebihan sampai masuk rumah sakit segala. 


"Iya, Ma … ada apa lagi?" Satria kembali menempelkan handphone di telinga.


"Ini saya, Bos. Anda kapan pulang? Anda harus segera meresmikan launching produk baru Good Food. Anda tentunya tidak lupa, kan!" Suara dari asisten Satria di perusahaan. Redi, dialah yang selama ini menghandle segala urusannya jika sedang sibuk.


Satria mengeluarkan napas berat. Dia memang melupakan hal tersebut jika saja sang asisten tidak memberi tahu. "Sepertinya aku belum bisa ke sana. Ayolah, aku ini pengantin baru yang butuh banyak waktu untuk bersama istri. Mentang-mentang jomblo, gak paham sama sekali!" ledeknya.


"Tapi … bukannya Anda sendiri yang mengatakan akan menghadiri acara itu?"


"Sekarang aku berubah pikiran. Istriku sakit, masa aku harus meninggalkannya. Kamu urus saja semuanya seperti biasa. Masalah sepele lho ini." Satria memang jujur dengan yang dia katakan. Biar bagaimanapun, Lian tetap istri sahnya.


'Apa maksud Satria ngomong gitu? Ah, iya …. Pasti cuma ngeles aja. Gak mungkin ada maksud lain, kan?'


Lian tidak mau berangan-angan terlalu tinggi. Tapi tunggu, sejak kapan dia mengharapkan pria itu?


Satria menyimpan ponsel di tempatnya kemudian pergi ke kamar kecil, memenuhi panggilan alam!

__ADS_1


Lian menatap punggung suaminya yang menghilang perlahan di balik pintu. Ternyata sosok menyebalkan itu mempunyai sisi yang baik. Memang begitulah karakter manusia, tidak ada yang sepenuhnya jahat begitu pula sebaliknya.


Melihat istrinya belum bangun, Satria memilih merebahkan diri di sofa. Mengistirahatkan tubuhnya yang lelah sekaligus melanjutkan tidur.


Lian perlahan turun dari ranjang. Berjalan ke kamar mandi. Membuang sebagian kotoran dan cairan dari tubuhnya. Membasuh muka dan mencuci tangan. 


Wanita itu menatap pantulan wajahnya di cermin. Satria benar, dia memang terlihat seperti laki-laki. Pantas jika suaminya kadang memanggilnya perempuan setengah matang, atau wanita jadi-jadian. Itu terdengar lebih lucu daripada panggilan 'barang bekas' atau 'perempuan sampah' yang sangat menghujam dadanya.


Biarlah, toh sekarang Satria sudah mulai berubah manis. Mengakui kesalahan dan juga meminta maaf. 


"Astaga!" Lian memegang dadanya yang berlarian kaget karena keberadaan Satria di depan toilet. Entah sejak kapan pria itu berdiri di sana.


"Kenapa gak bilang kalau mau ke kamar kecil?" Meski diucapkan dengan ketus tapi terdengar manis.


Lian menundukkan wajah. "Bukannya kamu tidur? Lagian, aku bisa sendiri."


"Aku takut kamu pingsan lagi." Satria memapah istrinya tanpa diminta.


'Aku gak biasa diperhatikan sama dia. Canggung gini ….' Lian sekilas menoleh.


Wanita itu bungkam, tak berani berkata di saat suasana sekaku sekarang. 


Perhatian Satria terus berlanjut. Kembali menyuapi istrinya seperti semalam. Lian tidak berani menatap wajah itu, takut jantungnya meledak. 


"Kamu istirahat lagi, aku mau ke bawah cari sarapan. Bentar aja kok," pamit Satria yang disambut dengan anggukan kecil.


Siang ini Lian diizinkan pulang karena kondisinya sudah stabil. Suhu tubuhnya normal dan sepertinya psikisnya juga membaik. Satria membawanya ke rumah sang mama setelah sebelumnya membawa barang-barang mereka dari hotel.


**


"Lian …, Mama kangen banget sama kamu." Nyonya Hani memeluk menantunya erat. Peluk plus cium di pipi dan kening. Wanita itu memperhatikan Lian dengan teliti.


"Kamu pucat banget, Sayang. Apa Satria terlalu banyak menyiksamu?"


Yang dituduh kini mengusap tengkuknya yang mendadak merinding. "Ma, aku … mau ke kamarku. Mau mandi dulu."


"Tunggu, Sat! Bawa Lian juga ke kamarmu, kamar kalian!"


"Tapi … barang-barangku masih ada di …." Perkataan Lian belum sempat diselesaikan karena disambar ibu mertua.


"Mama udah suruh si bibi buat pindahin semua barangmu ke kamar Satria. Sekarang kalian masuk ke kamar, istirahat!" Nyonya Hani mendorong tubuh anak menantunya menuju kamar di lantai atas. Menutup pintu rapat-rapat kemudian pergi agar pasangan muda itu bisa leluasa bermesraan. Tak tanggung-tanggung, dia pergi ke luar rumah untuk berkumpul dengan teman arisannya.


Satria gegas ke kamar mandi sedangkan Lian duduk di sofa. Perempuan itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Rasanya aneh jika sekarang tempat itu menjadi kamarnya, kamar dia dan suaminya. 

__ADS_1


'Aku mesti ngapain ya, biar gak canggung?'


Kamar sudah rapi, tidak ada yang bisa dia kerjakan. Barang-barang yang dibawa dari hotel juga sudah dibereskan oleh pembantu saat dia bercengkrama dengan ibu mertua. 


Lian ke luar kamar menuju dapur. Membuat jus alpukat dan salad untuknya dan suami. Anggap ini adalah caranya berterima kasih pada Satria. Mungkin ini adalah awal untuk memperbaiki hubungan. Entah ke depannya seperti apa dan bagaimana, tapi yang jelas dia pun tidak mau bersitegang lagi dengan pria yang mulai terlihat manis itu.


Salad dan jus tertata di atas meja, di kamar. Lian baru duduk di sofa saat suaminya menghampiri. Jantungnya berolahraga saat pria itu duduk di dekatnya meski masih berjarak kurang dari satu meter.


"Kebetulan banget, aku butuh yang seger-seger." Satria menyeruput jus lalu melahap salad. Melirik ke kanan di mana istrinya tengah memandang lekat tapi segera berpaling setelah beberapa detik beradu pandang.


Lian menggaruk sebelah alisnya padahal tidak gatal sama sekali karena tak ada ketombe apalagi kutu di sana. Hanya salah tingkah karena canggung.


"Makan dong, kenapa bengong gitu?" Satria membersihkan salad di mangkok kecilnya.


"I-iya." Kenapa seaneh dan sekaku ini padahal Satria kalem-kalem saja.


Lian perlahan menyesap jus berwarna hijau penuh es itu. Kesegaran minuman tersebut tidak mampu menenangkan jantungnya yang meletup-letup. Kenapa jadi segugup ini?


**


Entah sejak kapan Lian berpindah dari sofa ke tempat tidur berukuran besar itu. Seingatnya, setelah makan malam dia menonton TV sedangkan suaminya berada di ruang baca. Mungkin karena efek obat atau memang kekenyangan, tanpa sadar dia terlelap di sofa dalam keadaan duduk. Tapi saat ini tempat itu diisi oleh Satria. Sepertinya sang suami yang berbaik hati memindahkannya ke kasur empuk.


Diliriknya jam yang menempel pada dinding di sisi kanan. Pukul 5.45 pagi, tak perlu menunda untuk membersihkan badan.


Perempuan itu sengaja membawa baju ganti ke kamar mandi agar saat keluar nanti, tidak harus terlihat sexy karena memakai handuk saja. Berjaga-jaga, takut suaminya mendadak ada di depan pintu seperti waktu itu.


Satria masih lelap ketika Lian meninggalkan kamar. Dia dan ibu mertua sengaja menyiapkan sarapan pagi ini. Hanya menu sederhana seperti sandwich dan jus.


"Mama kenapa senyum-senyum gitu liatin aku? Apa ada yang aneh?" tanya Lian saat ibu mertua memindai wajahnya atau mungkin … leher!


Nyonya Hani geleng-geleng kepala, masih mesem. "Maafin Satria …! Suamimu itu emang terlalu garang."


Dahi perempuan muda itu menampilkan beberapa kerutan akibat kepalanya yang tengah berpikir. Masih tidak paham dengan maksud perkataan ibu mertua. 


"Udahlah, mending panggil Satria ke mari. Kita sarapan bareng." Si nyonya duduk menghadap meja makan, menunggu personil lain bergabung. Senyum itu jelas masih terselip di bibirnya.


Lian mencuci tangan kemudian kembali ke kamar atas. 'Sebenarnya apa yang salah sama wajahku?'


Dia masih penasaran akan hal itu. Sengaja mematut diri di depan cermin untuk meneliti kejanggalan pada tubuhnya.


'Gak ada apa-apa kok. Aishh …! Apa ini?'


Lian melebarkan pandangan ketika mendapati lehernya penuh tatto merah. Baru sadar jika ada jejak kemerahan di area sana. Jujur, dia tidak bercermin saat menyisir rambut tadi karena matanya lebih sibuk pada suaminya yang masih lelap.

__ADS_1


Pintu kamar mandi digedor. Lian berteriak memanggil suaminya yang asyik mengguyur badan.


"Satria …, aku mau bicara. Cepat ke luar!"


__ADS_2