
Satria terpaku menatap sosok yang berjalan pelan ke arahnya. Seorang wanita berambut hitam bergelombang panjang sepinggang kini berdiri anggun di depannya. Kaki jenjangnya berdiri di atas sepatu high heels yang indah. Tubuh tinggi semampai itu dibalut oleh rok selutut serta atasan lengan seperempat persis gadis-gadis dari negri ginseng.
Perempuan cantik itu makin bersinar karena memakai anting panjang berkilauan yang hanya diperlihatkan satu sisi saja. Tangan putihnya menenteng tas kecil.
Bibir nude basah itu tersungging tipis, begitu menggemaskan. Satria bahkan dibuat membeku hanya karena mendapat sapaan kecil dari istrinya.
"Halo, Mas! Ada apa? Kamu kayak habis lihat hantu saja," goda Lian seraya duduk di kursi berhadapan dengan sang suami. "Kamu mungkin tidak mengenaliku tapi kamu pasti hafal suaraku, bukan?"
Berlian mengulum senyum karena pria itu belum berkedip sedari tadi. Satria menjelma bagai patung yang kena hipnotis. Memangnya ada patung yang bisa dihipnotis?
"Mau kupanggil dokter? Oh, atau mungkin aku harus pergi lagi. Sepertinya kamu sedang tidak sehat."
"Berlian!" panggil Satria hingga wanita itu gagal berdiri. "Hai! Apa kabar?" Dia berdehem untuk menenggelamkan kegugupan.
"Setelah pergi dari apartemenmu, aku jadi lebih baik," sindirnya.
"Oh, maaf. Aku sadar jika aku banyak salah." Satria menunduk lalu menggaruk belakang kepalanya.
Berlian menanggapinya dengan gumaman tak jelas. Entah lelah memaafkan atau tidak berharap banyak dari kata-kata yang belum tentu tulus.
"Kamu … banyak berubah." Oh, sial! Jantung Satria mengamuk dan senjatanya bangkit cuma karena beradu tatap dengan wanita di depannya. Ini karena bibir Lian sangat menggoda, bukan salah otaknya yang miring.
"Kamu suka dengan Berlian versi baru ini?"
Satria reflek mengangguk mantap. "Ya, tentu! Kamu terlihat sangat berbeda. Hampir saja aku tidak mengenalimu barusan. Kamu bahkan jauh lebih anggun daripada saat jadi pengantin. Apa kamu sengaja berubah demi seseorang?" Untuk Satria, mungkin?
Lian tersenyum masam. "Aku melakukannya untuk diriku sendiri. Selama ini aku terlalu memandang rendah sosok seorang Berlian hanya karena masa lalu yang gelap. Tapi aku sadar, sebelum orang lain, akulah yang harus lebih dulu menghargai diri sendiri. Kalau sudah begitu, mungkin tidak akan ada yang berani menghinaku lagi."
Tatapan wanita itu serasa menebas keegoan Satria. Kalimatnya membuat pria itu makin malu.
"Maaf. Sebenarnya sebelum kamu pergi pun, aku sudah menyesali semua tindakan bodohku. Hanya saja aku terlalu malu untuk mengakuinya."
"Lupakan! Aku tidak mau mengingatnya lagi. Sebenarnya aku ke sini terpaksa demi Mama. Beliau bersikukuh menyuruhku balik ke apartemenmu. Katanya, biar aku ada teman. Tahu sendiri kalau Mama sedang liburan ke Eropa dengan geng sosialitanya. Mau bagaimana lagi, aku sudah berjanji. Mana berani aku tidak menepatinya."
Satria tersenyum penuh kemenangan. "Aku makin sayang sama Mama," batinnya.
**
Satria menyerahkan semua pekerjaan pada Redi dan juga sang sekertaris. Dia langsung mengajak Lian ke apartemen tanpa diantar sopir.
__ADS_1
Sepanjang jalan dia banyak berbicara dengan semangat. Mengeluarkan candaan dan sesekali menggoda istrinya meski sering dicuekin.
Satria begitu sigap membukakan pintu mobil sekaligus sabuk pengaman untuk Lian. Sebelah tangannya menuntun sang istri dan sebelah lagi menyeret koper.
Pria itu juga sibuk merapikan kamar yang sebenarnya tidak berantakan. Yang lebih mengejutkan lagi, Satria mengorbankan dirinya untuk berkutat di dapur.
"Kamu masak ini khusus untukku?" Lian menatap ragu mie goreng campur telur hasil mahakarya sang suami.
"Cobain!"
Dengan ragu Lian mencicipinya. Satria menyimak dengan dada berdebar. Rasanya seperti seorang peserta ajang memasak yang makanannya sedang dicoba oleh juri.
"Ehm … enak …," ucap Lian ragu.
"Beneran?" Mata Satria berbinar.
"Enak kalau seandainya dikasih bumbu," lanjut Lian mengambil air minum.
Satria menepuk jidatnya gemas. Dia baru ingat jika bumbunya belum dimasukkan ke mie. Pantas saja makanan itu sangat pucat, tidak menggugah selera.
"Aku ambil dulu bumbunya!" Satria beranjak. Dia sendiri yang sibuk membumbui mie di piring Lian. Menambahkan saus dan sambal juga.
Satria mendekatkan wajahnya lalu membuka mulut, posisinya masih berdiri agak merunduk di samping Berlian.
"Aku juga mau merasakan hasil masakanku," katanya manja.
"Nih! Jelas enak, orang mie nya pakai mie instan."
Mata keduanya beradu lama. Debaran dan desiran menyertai mereka. Baik Lian mau pun Satria sebenarnya sama-sama merindu tapi malu untuk mengungkapkan.
Lian berpaling saat sosok tampan itu makin lekat ke mukanya. Satria berdehem kemudian membasuh tangan di wastafel.
"Apa karena aku sudah berubah? Sikapnya jadi sangat manis," pikir Lian.
Satria mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa mengontrol tubuh. Baginya ini sangat memalukan apalagi mendapat penolakan meski secara halus.
**
Satria memindai Berlian tak terlewat satu inchi pun. Malam ini istrinya makin menggoda dengan dress panjang berwarna hitam. Rambutnya diikat hingga memperlihatkan leher dan bahunya yang mulus. Kali ini bibir wanita itu dipoles dengan lipstik coklat yang memberi kesan seksi.
__ADS_1
Jika tidak tahu malu, Satria akan menyerangnya detik ini juga.
"Mau ke mana sih? Aku tidak diajak."
"Aku ada acara dinner sama teman."
Satria memicing penuh selidik. "Siapa? Teman yang mana? Cewek atau cowok atau setengah-setengah?"
Lian mendengus sebal. "Pokoknya temanku!"
"Laki-laki atau perempuan? Kalau mau pergi itu harus izin yang benar sama suami!"
"Sama laki-laki, tapi dia itu temanku!"
Satria hendak membuka mulut untuk melontarkan pertanyaan lain. Namun, sepertinya ada tamu yang memencet bel.
Lian melangkah membukakan pintu. Satria mengekor karena penasaran.
"Selamat malam, Lian! Kamu makin cantik saja," puji seorang laki-laki berjas hitam seraya menatap takjub.
"Mas juga keren seperti biasanya," balas Lian sangat ramah.
"Heh, ngapain kamu ke apartemenku? Bukannya kamu tidak kerja di kota ini, kenapa sekarang malah nongol?" ketus Satria pada laki-laki yang tak lain adalah Adi.
"Mas Adi kebetulan sedang ada tugas di sini. Jadi, sekalian saja kita ketemuan. Ya kan, Mas?"
"Ehm, betul itu."
Satria memelototi keduanya. "Kalian tidak boleh pergi bersama!"
"Kenapa, Mas? Kami cuma mau makan malam dengan rekan kerjanya Mas Adi," protes Lian.
"Memangnya kalian ada hubungan apa sampai harus sebegitunya?"
"Saya dan Berlian memang cuma berteman tapi … jujur, Lian itu sangat spesial makanya saya mengajaknya dinner. Mas tentu tidak keberatan karena hanya dengan makan malam saja tidak akan merubah status kami. Yang suaminya itu tetap saja Mas Satria," papar Adi berani.
"Pria stress! Aku tahu jika dia sebenarnya naksir istriku," pikir Satria geram.
"Kami pamit sekarang, takut telat," ucap Lian melihat jam di pergelangan tangan.
__ADS_1
"Kalian boleh pergi asalkan aku juga ikut. Jangan dulu berangkat sebelum aku selesai berganti pakaian!" titah Satria sebelum berlari ke kamarnya.