
Sebegitu bencinya Satria pada Lian hingga tega mengumumkan kencan bersama wanita lain. Rasanya lebih baik jika suaminya itu berbohong untuk menjaga perasaannya. Tapi … pria itu memang tidak berniat menjadi suami yang baik. Apa keinginannya untuk memiliki hubungan yang normal dengan Satria hanyalah kesia-siaan saja?
Gawai yang dia pegang beberapa kali bergetar. Sang ibu mertua melakukan panggilan video. Lian tersenyum seraya melambaikan tangan saat layar ponsel menampakkan sosok Nyonya Hani.
"Halo, Ma! Masih kangen sama aku, ya …!"
"Iya, Sayang. Mama kangen kamu sama Satria. Dia ke mana? Kamu sendirian di sana?" Nyonya Hani celingukan.
"Mas Satria udah tidur. Kayaknya kecapean."
Obrolan antara menantu dan mertua itu terus berlanjut. Hal itu bisa mengaburkan rasa sesak di dada Lian. Setidaknya dia masih punya ibu mertua yang tulus menyayangi dirinya.
'Mama Hani … andai suatu saat aku sama Mas Satria pisah, aku akan tetap menyayangi mama. Mama adalah ibu keduaku.'
**
Sebenarnya mata Lian masih merah dan perih. Maunya meneruskan tidurnya yang hanya beberapa jam saja tapi alarm di ponselnya sedari tadi meraung-raung. Pagi yang masih gelap ini memang waktunya dia bangun. Mengagungkan Sang Pencipta lewat ibadah suci yang selama ini kadang dia lewatkan.
Lian merapikan kasur dan kamarnya. Bergerak ke kamar sebelah yang pintunya tidak dikunci. Sosok pria jutek itu tak ada di sana. Benar, Satria tidak pulang. Kencan seperti apa yang menyebabkan seorang pria menginap bersama teman wanitanya? Parahnya lagi pria itu sudah mempunyai istri. Ya, istri yang tak dianggap!
"Apa yang kamu lakukan di kamarku? Mau ambil sesuatu?" Baru muncul tapi sudah ngoceh yang tidak-tidak.
Lian menatapnya tajam dalam sekilas. Kembali fokus merapikan seprei yang baru dipasang. "Emangnya kamu lihat aku ambil apa di sini?" Tetap memaksakan lembut.
Satria garuk-garuk pelipis. Dia memang hanya mengada-ada agar wanita itu tersinggung. Tapi kenapa fokusnya terganggu pada bibir Lian yang segar dan menggoda tadi?
"Kalau udah selesai, cepat pergi karena aku gak mau diganggu!" Berkacak pinggang lalu berjalan pelan.
Lian menarik napas panjang agar emosinya terkontrol. Tanpa berkata apa-apa, dia pergi dari kamar tentunya setelah pekerjaannya selesai.
'Kalau cape gara-gara kencan sama wanita lain, itu namanya durhaka! Aku harap dia segera sadar. Mau suka atau nggak dengan pernikahan ini, dia gak sepatutnya main cewek.'
Lian gegas ke arah pintu utama karena sepertinya ada tamu. Redi, si pria asing yang merupakan asisten suaminya muncul. Pria berjas abu itu tersenyum lebar. Di tangannya terdapat satu bingkisan besar berisi makanan, pesanan Bos.
"Mari masuk!" ajak Lian.
'Ternyata sikap Nona Bos lembut, gak seperti penampilannya.'
Redi duduk di ruang tamu dan bingkisan itu sudah berpindah tangan. Lian mengetuk pintu kamar Satria dibumbui dengan panggilan pelan.
"Ada apa? Aku udah bilang gak mau diganggu!" Sikapnya makin menyebalkan saja.
__ADS_1
Lian menyodorkan bingkisan dari tangannya. "Ini dari Mas Redi. Dia ada di ruang tamu."
"Panggil dia Redi tanpa embel-embel 'Mas' karena itu gak cocok!" Melotot dan urat di wajahnya menegang.
'Gitu aja ngambek. Kenapa emosinya jadi makin gak stabil?'
"Kamu belum sentuh makanan ini, kan?" Satria meneliti bingkisan di tangannya persis seperti seorang ibu yang memastikan anaknya baik-baik saja setelah terjatuh.
"Belumlah, emang kenapa?" Mulai mode kesal.
"Oke, good berarti aman!"
Lian menghentak napas berat lalu berjalan ke arah dapur. Lebih baik membuat sesuatu yang bisa dimakan daripada terus makan hati karena kelakuan suaminya.
Satria menemui sang asisten lalu duduk di sebelahnya. Membuka bingkisan berisi hotdog, sandwich beserta teman-temannya. Melahapnya cepat tanpa tengok sana-sini. Redi sedikit menelan ludah karena melihat Bosnya begitu menikmati sarapan tanpa menawarinya sama sekali. Perutnya tambah berdisko saat hidungnya mencium aroma yang berasal dari dapur. Duh, mau makan sekarang …!
'Si Bos tega amat. Padahal aku yang beliin. Emang … makan segitu banyaknya bakalan habis sendiri?'
Nyatanya memang iya. Satria menghabiskan semuanya karena napsu makannya mendadak berkali lipat lebih besar. Sengaja juga tidak menawari sang asisten yang pagi ini terlihat menyebalkan.
"Mas, temenin aku makan yuk!" ajak Lian.
"Udah kenyang," jawab Satria ketus tanpa menoleh.
Redi menunjuk dirinya sendiri. "Saya?"
"Iya. Kebetulan saya bikin nasi goreng kebanyakan. Sayang kalau misalnya dibuang. Mas Redi mau, kan?"
'Alasan yang dibuat-buat.' Satria tidak nyaman dengan situasi seperti ini. Matanya kini mendelik ke arah pria di sebelahnya. Lian paham jika suaminya merasa keberatan jika sang asisten sarapan bersamanya. Tidak, dia tidak kegeeran. Cuma berpikir jika Satria adalah Bos yang pelit dan galak.
"Gak apa-apa, Mas. Menjamu tamu itu pahalanya besar lho …! Lagian, sayang kalau misal nasinya gak dihabisin."
"Baik, Nona Bos. Terima kasih sebelumnya. Kebetulan banget saya emang lagi kelaperan." Pria itu cengengesan. Tak peduli jika bos sesungguhnya akan murka. Menurut hematnya, Satria akan luluh dan kalah oleh istrinya sendiri. Di mana-mana kan sudah lumrah jika seorang suami mengalah demi kesenangan istri! Lagipula, Redi sungguh tidak kuat menahan perutnya yang kian mengerut dan bermusik ria.
'Si Redi benar-benar ….' Satria hanya mampu mengumpat dalam hati. Salahnya sendiri yang menyuruh Lian untuk tidak membuatkan makanan apapun untuknya.
"Wah … nasi gorengnya enak banget, Nona Bos! Ini yang terbaik. Jauh lebih enak daripada makan hotdog atau hotcat," puji Redi dibumbui candaan.
"Syukurlah kalau Mas suka. Saya juga senang karena ada yang nemenin sarapan."
Satria komat-kamit tak jelas saat mencuci tangan di wastafel. Diam-diam memonitor kedua makhluk menyebalkan yang asyik di meja makan. Sepertinya dia hanya dianggap sebagai cicak di rumahnya sendiri.
__ADS_1
Pria itu masuk ke kamar untuk mengambil laptop dan membawanya ke meja makan. Bergabung bersama istrinya dan sang asisten. Berdehem beberapa kali untuk mengganggu keakraban antara Lian dan Redi yang sangat mengusiknya.
"Sekali lagi makasih banyak, Non. Mantap banget sarapan pagi ini. Berasa ada di rumah sendiri." Redi mengusap perutnya.
"Pantes gak tahu malu kalau nganggap di rumah sendiri," timpal Satria yang pura-pura anteng dengan laptop.
"Eh, maaf Bos." Redi mengangguk cengengesan.
"Gak apa-apa, Mas. Kalem aja, kan aku yang ajak." Lian berdiri untuk mengambil piring kotor.
'Dih, tuh cewek tomboi sok mau jadi istri yang lembut. Gak cocok sama penampakannya!' Satria terus saja mengumpat saat memperhatikan gerak-gerik istrinya yang terkesan cari muka, padahal Lian tak ada maksud lain.
"Tunggu di mobil. Aku mau siap-siap dulu!" titah Satria yang kembali masuk ke kamar.
"Siap, Bos!" Redi segera bangkit untuk melakukan perintah sang atasan. Tak lupa juga untuk pamit pada Nona Bos.
'Dasar caper!' Satria masih sempat memata-matai.
**
Mobil berwarna silver itu melaju dengan kecepatan normal. Sang sopir berdendang riang saat menggoyangkan setir. Sang Bos yang duduk di kursi belakang memperhatikan gerak-gerik tak biasa itu.
"Tumben semangat banget. Ada apakah dengan pagi ini? Apa kamu menemukan Cinderella atau sejenisnya?" sindir Satria.
Redi sama sekali tidak merasa terusik. "Iya, Bos. Saya semangat setelah makan nasi goreng buatan istri Bos. Beneran enak banget ….! Mood saya jadi melambung ke tangga tertinggi. Pantesan aja Bos pilih Nona jadi istri. Meskipun tomboi tapi sikapnya lembut."
"Oke, kali ini aku maafin kamu. Lain kali, jangan pernah makan makanan buatan istriku apalagi sampe makannya bareng kayak tadi. Paham?"
Redi cengengesan menatap sosok atasannya lewat pantulan kaca. "Bos jealous, kan? Kayaknya cinta banget sama Nona Bos."
"Heh, jangan lancang kamu! Mau kupecat?" Mata Satria nyaris melompat dari tempatnya.
Melihat ekspresi menyeramkan si Bos, akhirnya Redi menghentikan candaannya. Mengangguk hormat sambil berucap, "Maafkan saya, Bos. Saya memang salah. Saya akan turuti perintah Anda."
"Bagus! Kalau nggak, selain dipecat, kamu juga akan dapat hukuman dikebiri! Mau …?"
Redi sampai mengerem mobil secara mendadak saking kaget dan takut. Pria itu memegang dada dan juga area pangkal paha, seolah ingin melindungi aset paling berharga. "Jangan dong, Bos! Saya belum pernah 'anu' sama perempuan manapun. Belum ngerasain enaknya surga dunia. Masa mau dibikin koid!"
Satria tergelak melihat asistennya merengek-rengek seperti bocah. Barulah moodnya agak membaik meski masih ada sisa-sisa kesal di dadanya.
"Just kidding! Tapi kalau kamu berani macam-macam sama istriku, hem!" Satria melakukan gerakan seolah memotong bagian sensitifnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Sumpah …, Bos. Saya gak akan macam-macam lagi. Maaf …!"
Satria tertawa lagi. Redi yang masih deg-degan shock berusaha membawa kendaraan dengan normal. Sedangkan Satria kini larut dalam pikirannya sendiri. Sebegitu terganggunya dia saat ada pria lain yang akrab dengan Berlian?