
Satria merebut paksa ponsel yang masih menempel di telinga Berlian. Dengan menggebu, dia mengumpat orang asing yang sudah mengganggu istrinya. Awalnya Lian ingin mencegah, tapi karena justru terlihat seru, ya sudah biarkan saja.
Wanita tomboi tapi manis itu mengulum senyum memperhatikan tingkah konyol sang suami juteknya. Bolehkah jika dia berharap bahwa lelaki itu cemburu? Bisa saja kan, Satria mulai menaruh hati padanya. Tuhan akan sangat mudah menjentikkan jari untuk merubah perasaan manusia.
"Heh, malam-malam begini malah tidak sopan menelepon istri orang! Memangnya kamu siapanya istri saya? Katakan apa tujuanmu sebenarnya! Kalau berani, datang langsung ke sini. Jangan jadi pengecut yang cuma bisa main di belakang secara diam-diam." Dari tadi Satria mengoceh tanpa rem hingga orang di sebrang sana tidak punya kesempatan untuk berbicara.
"Kamu akan saya laporkan karena sudah melaksanakan hal yang tidak menyenangkan. Pertama, menghancurkan mood saya saat makan malam. Kedua, merayu istri saya. Dan ketiga, membuat dada saya kepanasan."
Diam-diam Lian tersipu mendengar pengakuan tak sengaja dari Satria. Dia yakin jika lelaki itu mulai menyukainya. Ah, hatinya seolah ditumbuhi banyak bunga bermekaran. Indah sekali!
"Hey, kamu dengar tidak apa yang saya katakan sedari tadi? Kenapa diam saja? Jangan bilang kalau kamu mendadak tuli!" teriak Satria geram karena merasa dibodohi. Dari tadi dia nyerocos sendiri mirip orang hilang akal tapi malah dicuekin.
"Ma-ma-maaf …, Mas." Akhirnya suara itu muncul walau terbata. Eh, tapi kenapa mirip suara perempuan? Apa tadi Lian mengobrol dengan tipe wanita yang juga setengah matang?
"Heh, kamu itu cewek apa cowok?"
"Saya perempuan, Mas," jawabnya lirih, ketakutan. Suaranya masih bergetar.
"Tapi kenapa Lian memanggilmu Mas?" Nada bicaranya belum melemah.
"Nama saya memang Imas, jadi kadang dipanggil Mas aja."
Satria mengusap wajahnya kasar. Dia mengembalikan ponsel pada pemiliknya kemudian melenggang ke wastafel untuk mencuci tangan.
Lian geleng-geleng kepala, bibirnya tersungging lebar. Kelakuan Satria malam ini begitu menggemaskan.
"Mas, maaf ya. Suamiku emang lagi sensi. Nanti kita teleponan lagi." Ponsel masuk ke kantong celana.
"Imas itu teman sekolahku saat SMP," jelas Lian.
"Gak nanya, tuh. Gak peduli juga!" ketus Satria sebelum membasahi tenggorokannya dengan air putih dingin yang ia ambil dari lemari es.
"Mas cemburu, ya?" tebak Lian dengan senyum menyebalkan.
Satria terbatuk-batuk mendengar kekonyolan istrinya. "PD banget, Anda! Mana mungkin aku cemburu!" sanggahnya seraya menyimpan botol ke kulkas.
"Benarkah itu?"
"Ya iyalah! Aku tidak peduli kamu mau jalan atau kencan dengan siapa pun. Gak ada urusan!"
"Oh, kalau gitu aku akan terima ajakannya Imas untuk jalan-jalan. Sekalian saja aku ajak Mas Adi. Dia itu kan orangnya baik dan ramah. Pokoknya asyik diajak ngobrol." Sengaja Lian berkata begitu demi melihat reaksi suaminya.
__ADS_1
Satria mendelik tajam. "Kamu dilarang keluyuran! Cuma boleh di apartemen saja buat beres-beres. Jangan pergi ke mana pun karena aku gak mau terlibat masalah. Bisa saja kan kamu diculik atau tiba-tiba digebukin orang. Mama pasti akan memarahiku habis-habisan," kilahnya.
"Alasan yang konyol, terlalu dibuat-buat. Sayangnya aku tetap akan pergi. Mas gak usah repot mencemaskan aku," pungkas Lian melengos ke kamar.
Satria mengekor. "Heh, aku gak cemas!"
"Terserah!"
"Tapi kamu gak boleh pergi kecuali bareng aku." Satria menyamai langkah kaki istrinya.
Lian memicing. "Jadi kamu mau ikut?"
"Ttt-tidak! Bukan begitu, kamu salah paham." Satria gelagapan. Dia membuang muka.
"Intinya bagaimana? Aku boleh pergi atau tidak dengan Imas? Cuma jalan-jalan sebentar. Otakku kan juga butuh healing biar gak stress akibat menghadapi suami yang kejam," sindir Lian.
"Suami kejam?" Satria melotot.
"Boleh pergi atau tidak?"
Pria itu merotasikan bola matanya. Tangannya tertancap di pinggang. "Oke, pergi saja. Tapi jangan macam-macam. Jangan terlalu lama dan jangan selingkuh!"
"Ya, aku takut ada yang tahu siapa kamu terus melaporkannya ke Mama."
Lian mengibas tangan. "Itu tidak mungkin terjadi! Jangan terlalu riweuh. Orang aku juga gak niat selingkuh meski punya suami tukang celap-celup sembarangan."
Satria tidak bisa lagi membalas perkataan Lian karena wanita itu sudah masuk ke kamar dan mengunci pintu. Dia hanya mengumpat tak jelas. Tidak terima disebut tukang celap-celup tapi kenyataannya seperti itu meski ada niat untuk berubah.
**
Satria tidak tenang karena ternyata istrinya benar-benar pergi dengan si Imas itu. Secara diam-diam dia memerintahkan Redi untuk membuntuti mereka.
"Bos, istri Bos sama temannya lagi antre beli tiket bioskop. Apa saya juga harus ke sana?" lapor pria bermasker dan bertopi hitam via telepon.
"Tentu saja! Kenapa masih bertanya? Aku suruh kamu untuk memata-matai Berlian. Itu artinya ikuti dia ke mana pun dia pergi!"
"Kalau misalnya masuk ke toilet, apa saya juga harus ikutan ngintip?"
"Dasar gila! Jika kamu berani melakukan itu maka aku akan mencongkel biji matamu!" teriak Satria yang tengah ada di ruang kerjanya.
Redi di seberang sana tersentak beberapa saat hingga sekarang malah terkekeh menyebalkan. "Maaf, Bos. Saya hanya bercanda. Jangan terlalu serius."
__ADS_1
"Aku tidak mau bercanda saat ini. Lakukan tugasmu dengan benar jika tidak mau kusunat!"
"Siap, laksanakan!" Dia mengusap bagian senjatanya, takut disikat oleh si bos. "Amit-amit!"
Redi segera masuk ke antrean setelah selesai menelepon. Lelaki itu mendapat tempat duduk di belakang target.
Selama pengintaian tidak ada yang mencurigakan dari Lian dan temannya. Hanya menonton sambil ngemil plus ngobrol. Sesekali mereka tertawa-tawa. Ekspresi yang tidak aneh. Namun, ketika film sudah setengah jalan, Redi melihat pemandangan yang mengejutkan. Lian mengusap kepala Imas yang bersandar di pundaknya.
"Wait! Apa jangan-jangan mereka itu … apem makan apem?" pikir Redi bergidik.
Dia mengambil beberapa gambar agar momen itu terabadikan dalam handphone kemudian mengirimnya pada sang Bos.
"Kawal mereka sampai kamu dapat lebih banyak informasi lagi. Jangan biarkan mereka melakukan hal yang aneh!" Begitu perintah Satria melalui pesan singkat.
Film terus berputar hingga selesai. Orang-orang keluar dari ruangan tersebut kecuali Lian dan temannya. Redi masih memperhatikan. Istri dari sang bos menepuk-nepuk pipi Imas.
"Mas, bangun!"
Redi berpikir keras mengapa Lian memanggil wanita di sebelahnya dengan panggilan untuk laki-laki. Otaknya memang sedang loading lelet akibat belum sarapan dari pagi, hanya ngemil bubur ayam pakai roti. Dan itu masih belum cukup hingga perutnya perih dan kepalanya malas mikir.
Redi garuk-garuk pelipis. "Yang tomboi itu Nona Lian tapi yang bertindak sebagai laki-laki kw itu malah temannya yang feminim. Bagaimana ini sebenarnya?" batinnya.
Pria itu mempercepat langkah saat menyadari jika targetnya bergerak meninggalkan bioskop.
Lian dan Imas asyik melihat-lihat barang elektronik. Cuma iseng melihat dan tanya-tanya saja, tanpa niat membelinya karena mereka belum punya uang yang cukup. Redi ikutan sok melihat-lihat beberapa produk. Saat kedua wanita itu pergi, dia juga menyusul.
Meninggalkan mall, kini Lian dan Imas berdiri menyetop angkutan umum. Redi tentu membuntuti mereka dengan mengendarai sepeda motor.
Angkot berhenti di sebuah gang sempit. Dua perempuan yang terlihat sangat akrab itu masuk ke sana. Redi memarkir kendaraannya di depan sebuah minimarket. Dia kemudian menguntit lagi.
"Mereka mau ke mana sebenarnya?" pikir Redi.
Lian dan temannya malah berjalan ke sebuah kebun kemudian masuk ke saung yang tertutup.
"Dasar gila! Aku harus bertindak!"
Redi cepat melepon atasannya untuk melapor.
"Apa? Mereka berduaan di saung? Jangan biarkan mereka berbuat gila tapi sebelum itu ambil video kemesraan mereka untuk bukti," perintah Satria murka.
"Siap, Bos!"
__ADS_1