
"Ka-kamu cuma … bercanda, kan!" Lian akhirnya bersuara setelah berhasil menguasai diri.
"Hal kayak gini bukan untuk lelucon. Aku serius, aku gak mau lanjutin pernikahan ini. Kita gak bakalan cocok hidup bersama," timpal Satria.
Lian mengambil napas panjang lalu kembali berucap, "Kenapa kamu menyetujui rencana Bu Hani kalo akhirnya mau batalin secara mendadak? Sengaja mau bikin beliau sedih atau … mau mempermalukan aku?"
"Kamu gak terima? Kayaknya kamu ini emang beneran ngebet mau jadi menantu di rumah mamaku. Mau 'pansos' dengan cara instan?" sindir si pria di sebrang telepon.
Lian mengepalkan tangan kanannya. Dadanya yang sesak kini terbakar amarah. Hatinya remuk dan matanya meluncurkan bulir-bulir air.
"Gak apa-apa kamu batalin pernikahan ini tapi jangan pernah mengeluarkan kata-kata sekejam itu! Tuduhanmu sama sekali tidak benar. Aku nggak pernah mau nikah sama laki-laki egois dan sombong kayak kamu, Satria!"
"Terserah kamu mau ngomong apa!"
Telepon terputus begitu saja. Lian menyimpan ponselnya di atas nakas. Duduk termenung di tepi ranjang. Perlahan mengusap pipinya yang basah.
Memang hatinya teriris dengan perlakuan Satria barusan. Ada atau tidaknya rasa cinta, tetap saja akan sakit jika pernikahan yang sebentar lagi digelar harus dibatalkan begitu saja secara sepihak. Apa yang akan dipikirkan teman-teman dekat dan sebagian tetangganya di kampung?
Di samping itu, dia mengkhawatirkan Nyonya Hani. Perempuan paruh baya itu pasti akan sangat kecewa.
"Satria benar-benar keterlaluan. Cuma karena benci sama aku, dia ngelakuin hal seegois ini. Sama sekali tidak memikirkan perasaan ibunya sendiri."
Baiklah, Lian akan mencoba membicarakan ini baik-baik. Dia akan melakukan apapun agar Nyonya Hani tidak terpuruk nantinya.
**
Lian ragu-ragu saat akan menemui Nyonya Hani di ruang baca. Takut menyakiti perasaan perempuan baik itu tapi jika diam saja tentu masalahnya bisa makin melebar.
Daun pintu itu akhirnya mengeluarkan suara akibat ketukan. "Bu, boleh masuk?"
Pintu perlahan terbuka setelah orang di dalam sana memberikan izin. Kaki gadis itu melangkah mendekati Nyonya Hani yang tengah duduk sambil membaca sebuah buku.
"Lian, mari duduk!" Menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.
"Baik, Bu." Tersenyum canggung.
Nyonya Hani membuka kaca mata bacanya lalu menyimpannya di atas buku yang diletakkan di meja. Tersenyum simpul pada gadis di sampingnya.
"Jangan panggil Ibu lagi. Mulai sekarang panggil aku Mama!" Tangannya bertengger di bahu Berlian.
"Ehm … saya mau bicara. Tadi putra Anda menelepon. Dia bilang …."
"Satria bilang apa?"
'Aku gak tega ngomongnya.'
"Dia nanyain kabarku. Apa aku gugup atau nggak." Lian nyengir canggung untuk menutupi kebohongan.
"Benarkah? Satria perhatian banget sama kamu. Senangnya …!" Si nyonya memeluk erat calon menantunya.
Lian makin bersalah melihat wanita di depannya begitu sumringah. Dia memilih tidak menceritakan tentang keinginan Satria untuk membatalkan pernikahan.
__ADS_1
**
H-1
Lian makin gusar. Hingga saat ini dirinya belum berani mengungkap semua pada Nyonya Hani. Satria juga belum pulang ke rumah itu.
Kakinya mondar-mandir seperti pikirannya yang tidak mau diam. 'Gak bisa kayak gini, aku harus coba telepon Satria!'
Beberapa kali panggilan tidak terjawab. Lian memijit pelipisnya kuat-kuat. Ponsel masih ada di tangan kanannya. Mencoba menghubungi lagi nomor yang sama.
"Angkat dong, kumohon!"
Di tempat lain.
Satria mengerjapkan mata. Menutup mulutnya yang menguap. Merentangkan kedua tangannya lalu memijit tengkuk. Bergerak malas turun dari ranjang. Mengambil ponsel dari atas nakas. Salah satu sudut bibirnya terangkat, menyeringai.
"Dua puluh panggilan tak terjawab, wow!"
Tak lama setelah itu, handphone bergetar. Panggilan dari nomor yang sama. Sengaja dibiarkan beberapa kali sebelum diterima untuk membuat si penelepon muak.
"Halo, Satria! Aku mau bicara penting."
"Aku tahu," ledeknya.
"Aku gak berani ngomong sama Bu Hani, lebih baik kamu aja yang ngomong langsung soal pembatalan pernikahan kita."
"Soal itu ya …. Aku juga gak akan pernah ngomong sama mama. Aku takut diomelin," ucapnya diakhiri rengekan sok sedih.
"Ini sama sekali gak lucu. Kamu gak nyadar kalo sikapmu ini bisa bikin mamamu kecewa."
Lian hampir kehilangan kata-kata. Tak habis pikir dengan cara kerja otak pria menyebalkan itu.
"Kamu menganggap ini hanya lelucon? Benar-benar keterlaluan! Jika saja Bu Hani tidak menginginkan perjodohan ini maka aku gak akan pernah sudi nerima kamu."
"Alah … pura-pura aja kamu!" Cengengesan tapi sinis.
"Aku benci kamu, Satria!"
Lian memutus pembicaraan. Wajahnya merah padam memendam amarah. Ada bagian benaknya yang tergores hingga menyebabkan matanya mengembun.
Jika saja dia bisa keluar dari masalah ini. Andai Nyonya Hani sendiri yang membatalkan rencana pernikahannya dengan Satria.
**
Hari itu tiba. Ballroom sebuah hotel dipenuhi sebagian tamu undangan. Pengantin pria duduk di dekat penghulu, menunggu calon istrinya datang. Entah mengapa perasaannya agak gugup.
Kepalanya perlahan mendongak saat menyadari sosok wanita yang muncul. Menoleh ke samping kanan di mana pengantin wanitanya duduk.
Matanya nyaris kesusahan berkedip. Perempuan di dekatnya itu benar-benar cantik dan berbeda. 'Ini Lian atau orang lain?'
Berlian hanya menunduk. Pikirannya ada pada sosok mendiang ayah ibunya. Jika saja pernikahan ini normal seperti pernikahan lain. Andai saja kedua orangtuanya bisa menyaksikan. Andai saja hidupnya tak sekusut itu.
__ADS_1
Acara berjalan lancar meski Satria sempat beberapa kali mengucap kalimat sakral dengan salah. Kini dia resmi menjadikan Berlian sebagai istri sahnya di mata agama dan negara. Sungguh hal yang sama sekali tidak pernah terlintas di benaknya.
Lian mencium punggung tangan suaminya dan dibalas Satria dengan kecupan di puncak kepala.
Perempuan itu agak terkejut dengan penampilan berbeda dari suaminya. Rambut gondrong itu berganti dengan potongan rambut seperti kebanyakan pria pada umumnya. Lebih pendek dan rapi hingga membuat wajah suaminya itu terlihat makin tampan.
Mata pasangan itu saling terhubung. Ada getar aneh menyelinap ke dasar hati. Satria makin mengagumi keindahan istrinya yang selama ini tersembunyi di balik penampilan tomboi.
Nyonya Hani memeluk anak dan menantunya bergantian. Tangis haru mengiringi doa yang dia panjatkan. Akhirnya keinginannya bisa terkabul hari ini.
Acara terus merangkak ke sesi pemotretan. Teman dekat dan kolega ikut bergabung dalam beberapa jepretan. Kedua mempelai tersenyum canggung pada kamera. Terpaksa berpose mesra sesuai arahan fotografer.
Menjelang sore pengantin baru masih berdiri menyambut tamu undangan. Ada beberapa yang baru datang dan kebanyakan pamit pulang. Teman dekat dan tetangga Berlian bergantian menyalaminya. Mereka harus meninggalkan pesta dan kembali ke kampung menggunakan mobil yang memang disiapkan khusus oleh Nyonya Hani.
"Kamu beruntung punya suami yang ganteng, kaya lagi!" bisik Nia.
Lian cuma mesem hambar. 'Kalau Nia tahu gimana kelakuan Satria, pasti dia gak bakal ngomong seperti ini.'
"Sebenarnya masih kangen tapi aku harus pulang. Kamu kapan-kapan main ke rumahku, ya!" Erni memeluk pengantin wanita.
"Aku juga kangen …," balas Lian.
Giliran Sofia yang pamit. Dia tersedu memeluk temannya. "Aku harap pernikahanmu selalu bahagia."
Hati Lian mencelos. Harapan sahabatnya itu sepertinya terlalu tinggi. Namun, dia tetap menebar senyum.
Bu Siti dan suaminya pun pamit. Doa keduanya terdengar tulus bagaikan terucap lewat mulut ayah ibunya sendiri.
Satria hanya menyimak sambil sesekali tersenyum pada kenalan istrinya. 'Banyak juga orang yang care sama dia.'
Beberapa laki-laki memeluk dan menepuk-nepuk punggung pengantin pria. Mereka adalah teman dekat Satria.
"Nikah juga kamu, Sat. Semoga cepat-cepat punya anak yang banyak ya …," goda salah seorang yang membuat merinding kedua mempelai.
"Istrimu cantik," puji yang lain.
"Ehem … sekarang jangan nakal lagi ya, Satria!" Seseorang lagi ikut menggoda sambil terkekeh.
"Banyak omong kalian, pergi sana!" canda Satria untuk mengusir makhluk-makhluk tersebut. Pria-pria itu hanya terkekeh. Mereka mengangguk sopan pada Lian.
"Hati-hati, Mbak! Satria itu termasuk tipe yang rakus kalo di atas kasur," bisik salah seorang yang langsung menerima tatapan melotot dari orang yang dibicarakan.
Lian dan Satria saling tatap dengan canggung kemudian sama-sama melempar pandangan ke arah lain. Getar aneh itu muncul lagi.
Satu tamu menyalami pengantin pria. Satria sama sekali tidak mengenalnya sedangkan Lian begitu sumringah.
"Mas, kenapa baru datang?"
"Aku tadi ada urusan mendadak jadi baru bisa ke sini. Maaf!" Senyum manis mengembang di bibirnya.
"Nggak apa-apa. Tapi … Mas Adi udah sempet ketemu sama Bu Siti dan Pak RW, kan!"
__ADS_1
"Ah, udah dong. Masa gak nyempetin ketemu sama ayah ibu saat mereka berkunjung ke kota ini. Lagian aku juga mau langsung pulang kampung setelah pulang dari sini."
Satria berdehem keras hingga membuat Adi merasa tidak enak hati. Dia bisa menangkap ketidaksukaan pengantin pria terhadapnya.