
"Apa kamu juga masih berpikir kalau aku ini mau menguasai harta keluargamu?"
Satria menengok ke samping. Istrinya itu menundukkan kepala sedari tadi. Dia tidak bisa menebak pikiran Lian tapi yang jelas, perempuan itu tidak baik-baik saja saat ini. Kenapa hanya dengan berucap perpisahan, dia merasa bagaikan seorang penjahat?
Tega atau tidak, Satria tetap harus mengakhiri hubungan ini. Dia tidak mau terjebak lebih dalam dengan perempuan yang mulai terlihat manis itu.
"Lian, maaf. Awalnya aku emang mikir gitu. Aku jahat dan selalu hina kamu, tuduh kamu yang enggak-enggak. Tapi sekarang … aku rasa aku yang salah. Kamu itu perempuan baik. Harusnya aku percaya sama pilihan mama. Tapi … kamu harus tahu kalau sebenarnya aku sama sekali gak tertarik sama sebuah komitmen apalagi yang namanya pernikahan." Lian bergeming, menyimak setiap kata yang dia dengar.
"Aku jujur aja nih, rasanya gak nyaman saat harus terikat sama seseorang. Kebebasanku terganggu dan …."
Lian kali ini menoleh lalu berkata, "Perasaan, aku gak pernah minta apapun sama kamu. Aku gak pernah juga larang kamu berbuat sesuatu. Tapi oke, aku paham. Intinya, kamu mau pisah. Cuman, bisa gak kalau kamu mikirin perasaan mama? Kita ini nikah baru sebulan lebih. Kalau kita cerai sekarang, mama pasti malu dan kecewa."
Satria yang kali ini mengalihkan pandangan. Lian sepenuhnya benar tapi keputusannya sudah bulat. Dia tidak mau menunda lagi.
"Aku gak nuntut kamu untuk jadi suami yang sesungguhnya buat aku. Jadi, bisa gak kalau kita teruskan sandiwara ini demi mama? Kamu bisa tetap jadi dirimu yang dulu sebelum nikah sama aku. Jujur, aku gak sanggup lihat Bu Hani sedih. Aku udah anggap beliau sebagai ibuku sendiri."
Ya, Lian memang sakit mendengar kata perpisahan ini. Namun, dia akan lebih sakit lagi saat harus berpisah dari Nyonya Hani jika perceraian itu benar-benar terjadi. Dia tidak akan menemukan lagi sosok yang baik dan tulus seperti ibu mertuanya.
"Sampai kapan kita pura-pura menerima pernikahan ini?"
Lian menghela napas panjang sebelum menjawab, "Sampai kita sama-sama menyerah."
"What? Tapi … itu menakutkan," ceplos Satria.
Lian menoleh, mendelik tajam. Bisa-bisanya pria itu meluncurkan lelucon di saat diskusi super serius ini. "Maksudmu? Apa aku ini menakutkan?"
"Bukan! Aku takut lama-lama …."
Si perempuan menyalib perkataan suaminya. "Takut jatuh cinta sama aku?" Hanya asal ceplos sebenarnya untuk mengusir sesak di dada.
Satria melongo. 'Kenapa Lian bisa baca pikiranku?'
Pria itu mendecih seraya menatap ke arah lain. "Jangan GR! Aku takut jadi gak waras kalau lama-lama jadi suamimu. Dah ah, aku ngantuk. Good night!"
Satria pura-pura menguap saat bangkit dari duduknya. Meninggalkan istrinya sendirian di ranjang sementara dia rebahan di sofa. Lian merasa masalah ini masih menggantung. Gegas menghampiri suaminya yang barusan menutup mata.
"Kalau kamu gak takut suka sama aku, harusnya kamu bisa meneruskan sandiwara kita. Ini demi mama!"
Satria bangkit, menatap perempuan itu sedikit tajam. Sedikit terusik dan merasa direndahkan. Meskipun sebenarnya penuturan Lian mendekati ke arah yang benar.
__ADS_1
"Oke, kita lanjutkan pernikahan sandiwara ini!" tantangnya.
Lian manggut-manggut kemudian melengos. Dia memang merencanakan semuanya demi ibu mertua tapi ada juga tujuan lain.
**
Aroma kopi menguar di sekitar kamar. Seketika itu pula Satria terbangun. Wangi yang khas itu menusuk hidungnya hingga membuat kesadarannya terkumpul. Pertama kali yang ditangkap matanya kala terbuka adalah sajian di atas meja. Kopi susu dan roti bakar, menu favoritnya sejak remaja. Cacing-cacing di perutnya berdemo ingin segera diisi.
Pria itu bangkit, menatap hidangan dengan mata berbinar. Pagi-pagi di saat cuaca lebih dingin dari biasanya, rasanya sangat pas jika menyantap roti bakar ditemani kopi susu hangat. Air liurnya mungkin menetes ke mana-mana.
Baru hendak menyentuh cangkir, tangannya ditepis Lian. "Minimal cuci muka dulu, jijik tahu! Masa ganteng-ganteng jorok." Duduk di sofa yang masih ditempati suaminya.
Satria bangkit dengan malas menuju kamar mandi. Terlihat imut mirip anak kecil yang penurut. Lian tersenyum ke arahnya ketika kembali ke sofa. Pria itu mengernyit. Rasanya ada yang aneh dari sikap perempuan itu.
Terserah, dia mau makan sekarang. Roti disantap lahap disusul tegukan kopi. Entahlah, lebih mirip orang yang sebulan tak pernah makan. Lapar apa doyan?
Satria menjeda makan lalu memicing. "Kamu gak naruh sesuatu di roti atau kopi ini, kan!"
"Maksudmu, racun gitu? Kenapa sih kamu selalu berpikiran negatif sama aku? Kalau gak percaya, aku juga makan. Nih, lihat!" Lian melahap roti yang dipegang Satria kemudian menenggak kopi.
"Stop, jangan dihabiskan dong! Oke, aku percaya," pekiknya.
Satria hampir tersedak. Lagi-lagi menatap curiga karena tawaran tersebut. "Gak salah denger?"
"Ayolah, jangan negatif thinking melulu. Aku tulus ngelakuin ini. Ya … biar gimanapun kamu itu tetap suamiku." Perkataan itu sangat menggelitik dan mendebarkan.
"Oke, tapi nanti habis aku selesai sarapan." Mendadak suasana terasa kikuk.
Gerakan tangan Lian serasa menghanyutkan, membuat yang dipijit begitu relax. Satria bahkan beberapa kali menguap, rasanya ingin merebahkan lagi tubuhnya yang mulai kantuk dan lemas.
Perhatian berlebih dari Lian terus berlanjut. Satria memang menikmati dan senang diperlakukan seperti seorang raja. Namun, tetap ada yang terusik. Rasanya tidak nyaman saat membiarkan seseorang masuk ke dalam hatinya.
Keterpurukan ibunya di masa lalu menyisakan luka dalam di sukmanya. Alam bawah sadarnya menolak rasa itu. Lebih baik mengindari untuk mencintai seseorang daripada harus tersakiti pada akhirnya.
Malam itu Lian kembali memijit suaminya. Tak ada lagi kesal yang terlihat dari air mukanya. Perempuan itu menjelma bak istri yang sesungguhnya. Istri yang baik dan perhatian. Hanya satu hal yang tidak Lian tawarkan, tubuhnya! Sebenarnya sangat memalukan jika harus dia yang berinisiatif sendiri.
Andai Satria menginginkannya maka dia akan rela. Dengan catatan, tak ada paksaan dan kekerasan seperti waktu suaminya mabuk.
Jemari perempuan itu menari di sekitar pundak Satria. Menghanyutkan dan membangunkan sesuatu yang saat ini mulai menegang.
__ADS_1
"Stop, Lian. Aku mau ke kamar mandi." Satria segera turun dari ranjang. Langkahnya terburu-buru, sepertinya memang sudah tidak tahan ingin buang air. Itulah yang Lian pikirkan.
"Gila! Aku makin gak waras. Bisa-bisanya aku 'on' sama dia," umpat Satria sambil membenarkan celananya yang terasa menyempit.
Akhir-akhir ini hasratnya selalu tertarik pada sang istri. Padahal tidak ada yang spesial dari Lian. Masih saja tomboi seperti pertama bertemu meski sikapnya sangat lembut sekarang.
"Pergi sana, aku mau tidur! Jangan dekat-dekat!" titah Satria saat kembali ke ranjang.
'Kenapa jadi judes lagi sih? Apa salahku? Perasaan, aku sekarang selalu berusaha bikin dia senang.'
"Mas butuh sesuatu?"
Satria berdebar-debar mendengar panggilan itu. Terasa manis tapi juga membuat gelisah.
"Kalau mau minum atau yang lainnya, ngomong aja." Lian masih saja bicara halus.
"Aku cuma mau, kamu gak usah deket-deket sama aku. Ganggu banget, tahu!" Satria menyembunyikan diri di bawah selimut tebal. Tubuhnya meringkuk membelakangi istrinya.
"Oke, aku pindah ke sofa. Selamat malam!"
'Kenapa Lian masih tenang gitu? Apa aku kurang galak?'
Diam-diam pria itu melirik istrinya yang rebahan di sofa. Makin Lian jadi penurut, makin besar rasa bersalahnya. Tapi tidak, ini belum seberapa. Satria harus bisa membuat Lian menyerah agar hidupnya bisa aman. Bye-bye pernikahan …!
**
Untuk pertama kalinya, Lian dibawa ke apartemen milik Satria yang ada di luar kota. Ini merupakan perintah dari Nyonya Hani agar hubungan anak menantunya lebih hangat dan mesra. Perempuan paruh baya itu memang masih agak meragukan kedekatan Satria dan Lian. Sepertinya masih ada jarak diantara kedua insan tersebut.
Di apartemen lantai atas itu terdapat 2 kamar dengan masing-masing kamar mandi di dalamnya. Satria dan Lian menempati kamar yang berbeda meski masih bersebelahan. Situasi akan aman terkendali jika seperti ini, lebih nyaman dibanding di rumah Nyonya Hani yang mewajibkan mereka tidur sekamar.
Lian bergerak ke dapur usai membersihkan badan. Memasak makan siang untuknya dan sang suami. Ada seorang pelayan yang biasanya bekerja meski tidak sampai ikut tinggal di sana. Tapi sekarang orang itu telah mengundurkan diri karena ingin menikmati waktu bersama keluarganya.
Dengan semangat menggebu, Lian menata makanan di atas meja. Memanggil suaminya yang masih ada di kamar seraya mengetuk pintu.
"Hem …." Hanya itu jawaban dari si pemilik kamar.
"Oke, aku tunggu di ruang makan."
Satria menarik napas berat. Sikap istrinya itu masih saja manis meski sudah sering dicueki. Ini merupakan beban baginya. Jangan sampai perempuan itu menaruh rasa padanya.
__ADS_1