Aku Dan Dia

Aku Dan Dia
Capter 11


__ADS_3

Satya keluar dari kamar, Nadya terkejut saat tahu Satya membiarkan pintu kamarnya terbuka sedikit.


“Sya sori” ucap Satya kepada Tasya.


“Loh, kak Satya belum ganti baju? Kita jadi kan makan di luar?” Tanya Tasya.


“Saya lupa ada kerjaan, lain kali aja ya?” Jawab Satya.


“Tapi aku gak enak kak, kakak kasih aku buku semahal ini, seengak nya kakak harus aku traktir” Tasya yang tidak enak kepada Satya.


“Saya kan gak nolak Sya, cuma gak bisa malam ini, saya pesenan taksi ya”


“Kakak juga gak bisa anter aku?” Tanya Tasya.


“Iya” jawab Satya singkat, padat, dan jelas.


“Tapi aku gak bawa cash kak”


“Gak masalah, saya yang bayar” jawab Satya.


Like menit kemudian taksi pun datang.


“Taksi nya udah sampe Sya, maaf saya gak bisa anter ke bawah”


“Gapapa kak, justru Tasya yang minta maaf bikin kakak repot” Tasya yang tidak enak kepada Satya.


Nadya mendengar bunyi pintu di tutup, Satya kembali masuk ke kamar.


“Aku mau buka paket dulu sebelum pulang” ucap Nadya dengan acuh.


“Nginep aja, apartemen ini juga rumah kamu” Satya yang menyuruh Nadya menginap di apartemen.


“Ayo buka paket yang satunya”


Nadya hanya melihat Satya yang membuka paket, ternyata paket yang lebih besar berisi pigura foto pernikahan Satya dan Nadya.

__ADS_1


“Hm” Nadya yang berdehem.


“Kenapa?” Tanya Satya kepada Nadya.


“Semua jadi ribet” Nadya mengambil obat penyubur “gara-gara pernikahan ini” Nadya akan membuang obat itu. Namun di hentikan oleh Satya.


“Mas ngapain?” Tanya Nadya.


“Mas gak suka kamu buang pemberian orang tua " jawab Satya.


“Mas….lagi?” *batin Nadya.


“Kalo gak mau di minum jangan di buang” Satya yang tidak terima karna obat nya akan di buang oleh Nadya.


“Gak di minum tapi gak di buang, buat apa?” Tanya Nadya.


“Disimpan , ini bukan cuma barang Nadya tapi ini bentuk kasih sayang orang tua ke anak nya , dan kita harus hargain itu “ jawab Satya.


“Ternyata dia gak sedingin yang aku pikir “ *batin Nadya.


“Bukan kita” jawab Nadya.


“Tapi mas yang simpan, karn aku gak tinggal disini” Nadya berjalan ke arah pintu, namun tidak jadi, karna Satya menarik lengan Nadya.


“Mas bilang nginep aja Nadya” Satya yang memaksa Nadya menginap di apartemen nya.


“Dan ngebiarin mas tidur di sofa? Aku gak setega itu mas”


“Kalo gitu kita tidur bareng” jawab Satya.


“Apa?!” Nadya terkejut mendengar jawaban Satya.


“Kenapa? Kita udah suami istri gak masalah - - -“


“GAK MAU! Aku GAK AKAN pernah tidur bareng LAKI-LAKI yang gak cinta sama aku!” Nadya yang memotong pembicaraan Satya.

__ADS_1


Nadya membuka hp nya.


“Kamu ngapain?” Tanya Satya.


“Pesen ojek” jawab Nadya.


“Mas anter”


“Aku bisa sendiri” jawab Nadya dengan ketus.


“Kamu mau liat mas marah?” Ucap Satya.


“Aku udah pesen” jawab Nadya.


Nadya memperlihatkan layar hp nya kepada Satya.



Satya merebut hp Nadya lalu menghapus aplikasi ojeknya.


“Mas?!” Nadya berusaha merebut hp nya kembali.


“Gini nih susah nya punya suami tinggi!” *batin nadya.


“Mas ngapain sih? Balikin!” Nadya yang berteriak kepada Satya.


Satya mengembalikan hp Nadya.


“Mas hapus aplikasi ojeknya?! Terus driver nya nanti gimana?!” Tanya Nadya.


Satya menelfon pihak ojek yang tadi di cancel oleh nya.


“Halo pak? Iya maaf saya cancel, bapak kasih rekening nanti saya transfer. Makasih pak” Satya menutup telpon nya.


“Beres kan? Ayo” Nadya terpaksa mengikuti kemauan Satya

__ADS_1


__ADS_2