Aku Dan Dia

Aku Dan Dia
Minta Bertemu


__ADS_3

Kadang kita berpikir telah memiliki segalanya. Tapi ternyata yang kita miliki mungkin itu hanya sebuah kesemuan belaka.


_Jenny_


Drrrt .... Drrrt ....


"Ifa sayang, ada pesan masuk sepertinya." Ambu memanggil putrinya yang kini berada di dapur. Gadis itu sedang asyik mencuci piring dan wajan kotor usai mereka menikmati makan siang. Sudah beberapa kali HP putrinya itu bergetar. Berkedip-kedip bila memang ada pesan yang masuk.


"Ah, iya ..., sebentar, Ambu. Dari siapa ya?" Gadis itu mencuci tangannya kemudian bergegas ke sofa di mana ibunya itu kini tengah duduk dengan setumpuk baju-baju kering. Melipatnya.


"Entahlah. Tadi Ambu lihat nomornya gak ada namanya."


Silfa sudah duduk tepat di samping ibunya. Diraihnya HP miliknya itu dan menggeser layar sembarang. Membuka kuncinya.


"Silfa! Saya Jenny."


"Kita bisa berjumpa? Ada hal yang nak aku bicarakan dengan kamu."


"Kita bertemu di Alun-alun kota Bandung saja, oke. Itu lebih dekat dari tempat tinggalmu, kan? Aku akan tunggu kamu jam empat sore nanti."

__ADS_1


Tiga pesan berturut-turut! Entah karena alasan apa Jenny ingin menemuinya? Silfa, gadis itu mulai menerka-nerka. "Kenapa dia ada di Indonesia? Di kota Bandung pula? Bukannya dia sudah kembali ke Malaysia? Kenapa dia ingin bertemu sama gua? Apa itu berhubungan dengan pertunangannya dengan Bagas? Pria itu tidak benar-benar membuat masalah, kan?" pikirnya bertubi-tubi.


Dia menaruh HP-nya dengan malas. Pikirannya kini seolah melayang ke suatu tempat. Tak fokus.


"Ada apa?" Ambu sedikit menyentuh lengan gadis itu.


"Gak apa-apa, Ambu. Hanya seorang teman yang minta bertemu. Ifa sore ini izin keluar ya?" Ambu mengangguk.


Gadis itu pun pamit pergi ke kamarnya. Dia duduk di ambang tempat tidurnya. Meraih boneka beruang besarnya dan kembali berbicara dengan bonekanya itu. Yah ..., seperti yang sering dia lakukan saat dia merasa tidak nyaman.


"Menurutmu kenapa dia meminta bertemu, Beba?" Menyentil hidung merah boneka itu. "Semoga semuanya baik-baik saja. Iya, kan?"


Silfa memarkir motornya dan berjalan menuju area alun-alun kota Bandung. Memasuki kawasan rumput sintesis yang terhampar hijau di depan gedung Masjid Agung Kota itu. Ramai sekali sore itu. Banyak pengunjung yang sengaja menikmati sore mereka di tempat ini. Padahal ini hari kerja. Tak terbayang jika akhir pekan atau waktu libur sekolah. Akan bertambah tiga sampai empat kali lipat banyaknya dari ini.


Anak-anak berlari gembira di hamparan rumput sintetis itu. Kadang ada yang sampai berguling-guling, kejar-kejaran sambil bermain pistol air dan gelembung. Bersuka cita mereka. Tawa renyahnya begitu merdu menjadi musik latar di sore itu. Sesekali timbul rasa iri di hati Silfa manakala dirinya melihat anak-anak manis itu tengah bersenda gurau, bercanda ria, dan bermanja-manja pada ayah mereka. "Andai ...," buatinnya. Segera ia tepis perasaan itu. Bukan saatnya meratapi nasib. Diedarkan tatapannya mencari sosok gadis yang mengajaknya bertemu sore ini. Ke setiap penjuru alun-alun hingga ke setiap sudut bagian selasar mesjid. Mungkin saja dia ada di sana.


Seseorang melambaikan tangannya. Tampak senyum canggung menghiasi bibir cantiknya. Hari ini dia mengikat rambutnya. Dan raut mukanya seperti tidak baik. Silfa mendekat. Kemudian duduk bersampingan dengan gadis itu di salah satu sudut selasar mesjid. Tepat ke arah alun-alun menyaksikan para anak yang berlari-lari.


"Bagaimana kabarmu, Jen?" Silfa memulai percakapan.

__ADS_1


"Saya kurang oke. Saya sedang punya sebuah pasal yang mengganggu pikiran saya." Gadis itu menghentikan ucapannya. "Ini juga yang buat saya nak berjumpa dengan kamu."


"Apa itu berhubungan dengan Bagas dan pertentangan kalian? Jika benar. Kamu tak usah khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Bagas juga sudah kembali ke Malaysia dari kemarin. Aku sama sekali tak akan mengganggu hubungan kalian." Silfa mencoba memberi penjelasan.


"Bukan. Bukan pasal itu yang tengah mengganggu saya saat ini. Ada satu pasal lain yang lebih mengganggu saya dibanding dengan kemungkinan kamu mengganggu pesta bertunang saya," katanya. Tangannya sedikit meremas Map hijau yang dipegangnya. "Saya sudah tak peduli lagi soal pasal bertunang saya." Gadis itu menatap lurus ke arah anak-anak yang saling tembak dengan pistol air.


Silfa memperhatikan wajah gadis di sampingnya itu, menanti kelanjutan kalimat yang akan disampaikan gadis itu.


"Saya menemukan ini di gudang rumah saya. Bacalah! Dan kasih tahu saya jika kamu tahu pasal ini!" Sebuah Map berwarna hijau itu kini terulur ke arah Silfa. Gadis itu pun mengambilnya dan mulai membaca dengan serius isi dari map hijau itu. Cukup lama. Tak ada satu pun kata yang ingin dilewatkannya. Khawatir jika ada satu informasi saja yang tak sempat di bacanya.


Setelah selesai dia menutup map itu dan memegang foto usang Jenny kecil di tangannya. Melihat ke arah Jenny, berharap gadis itu memberikan penjelasan.


"Entah ..., saya pun tak tahu pasal itu. Di dalam dokumen itu ada data orang tua saya membeli seorang anak kecil. Dan saya yakin itu foto saya dulu masa kanak-kanak. Saya yang mereka beli. Apa ada kemungkinan kita bersaudara?"


Silfa menarik nafas panjang. Sejujurnya hatinya sungguh senang. Mungkin ini jawaban dari pertanyaannya selama ini. Apakah Jenny itu Silfi atau bukan akan segera terkuak. "Boleh aku ceritakan sebuah kisah rahasia dari keluargaku? Kisah yang kurang menyenangkan, memang. Tapi entah, apa ini akan menjadi jawaban kita bersama atau tidak." Silfa pun mulai menceritakan kisah itu.


"Sejujurnya aku memang punya sodara kembar yang hilang karena penculikan. Namanya Silfi." Silfa meraih tas selempang kecilnya dan mengeluarkan sebuah foto usang di dalam dompetnya. "Ini fotoku bersama sodara kembarku, Silfi. Kamu tahu? Saat aku bertemu denganmu di Jepang waktu itu, pikiranku langsung saja teringat dengan Silfi. Apa kamu itu dia? Atau orang lain yang begitu mirip dengan ku. Walau ..., aku sendiri tak yakin ada orang yang begitu mirip hampir 98 persen di dunia ini adalah orang lain."


Di sampingnya Jenny mendengarkan dengan seksama. Mencerna setiap kata yang keluar dari mulut gadis yang mirip dengannya itu. "Mari kita tes DNA saja. Agar kita bisa memastikan dengan yakin." Dia meraih tangan Silfa dan menatapnya mantap.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2