Aku Dan Dia

Aku Dan Dia
Tertukar


__ADS_3

Jenny mulai membuka matanya. Kepalanya pusing, begitu berat, nafasnya sedikit tersengal akibat kekurangan oksigen. "Di mana ini?" pikirnya. Matanya tak dapat melihat. Gelap akibat kepalanya ditutup dengan kain hitam. Mulutnya juga tak bisa berteriak, bahkan untuk sekedar mengeluarkan sebuah kata pun tak bisa, disumpel dengan kain. Tangannya diikat tepat di bagian pergelangan. Kakinya juga diikat. Dia benar-benar tak bisa melakukan apa-apa di sana. Dia mulai menggeliat. Kosong! Ketika tangannya yang terikat itu meraba sekitar dengan jarak yang terbatas, dia menyadari sesuatu, dirinya hanya seorang diri berada di bangku bagian belakang mobil yang membawanya pergi itu.


Dari kelima indranya, yang masih berfungsi dengan baik adalah pendengarannya, dengan itu dia coba mengamati sekitar. Di sana gadis itu masih bisa mendengar suara deru mesin mobil yang melaju, membawanya pergi entah kemana. Pun dengan percakapan kedua orang yang tadi telah menculiknya, terdengar dari arah depan, tepat di dekat kemudi mobil.


"Pasti kita dapat bayaran besar, iya kan?" ucap salah seorang dari mereka.


"Tentu saja, kata Bos, misi ini dipesan langsung oleh seorang yang sangat kaya dari Malaysia. Dia pasti akan memberikan bayaran yang tak mengecewakan," jawab yang lainnya. "Kau bisa bayangkan uang sepuluh M itu berapa banyak? Masing-masing dari kita akan mendapat lima M. Luar biasa, bukan?"


"Hahahaha .... Gua jadi penasaran, siapa sebenarnya gadis ini? Sampai ada yang berani membayar kita dengan uang sebanyak itu?" Pemuda itu penasaran. "Tapi kalau dilihat-lihat gadis itu memang cantik," ucap pemuda itu sambil memandang tubuh Jenny dengan tatapan tidak senonoh.


"Hei, apa yang lu lihat! Lu jangan macem-macem, ya .... Ingat pesan Bos. Kalau ada satu saja goresan pada gadis itu kita bisa celaka." Pemuda yang satunya lagi mengingatkan.


Keduanya terus bercakap. Dan Jenny juga terus memperhatikan ucapan mereka secara teliti. Siapa tahu dia menemukan petunjuk dari itu semua. Siapa yang melakukan ini padanya? Apa sekarang dia diculik? Seseorang yang sangat kaya? Dari Malaysia? Adakah ini berhubungan dengan saingan bisnis Papanya? Pertanyaan demi pertanyaan terus menghiasi pikirannya. Dia mulai mengurutkan satu benang merah dari semua percakapan mereka. Mencoba membuat sebuah kesimpulan yang dapat menjelaskan kejadian yang menimpanya kali ini.


Terbersit kekhawatiran, bagaimana jika sesuatu yang buruk akan menimpanya .... Dia mulai ketakutan, bagaimana kalau kisahnya akan seperti kisah film thriller yang suka ditontonya. Tak dapat dibayangkan olehnya, tokoh tragis dalam film itu berubah menjadi dirinya. "Apa yang harus kulakukan? Mama, Papa ... tolong saya." Dia mulai menangis meratapi nasib buruk yang tengah dihadapinya.


....

__ADS_1


Ting! Pintu Kafe terbuka. Silfa seperti biasa disibukkan dengan aktivitas kerja paruh waktunya. Kebetulan hari ini kedua sahabatnya ikut meramaikan aktivitasnya, datang sebagai pengunjung kafe dan menikmati secangkir kopi di sana.


"Gua mau pesen capucino dua, ya ...," pesan Yayu.


"Eh, kalian ada apa ke sini?" Silfa cukup terkejut. Tak biasanya kedua temannya datang ke kafe itu. Susan selalu menolak kalau diajak nongkrong di Kafenya. Alasannya risih jika harus berhadapan dengan sang menejer. Entahlah Silfa juga kurang tahu masalah pastinya. Mungkin yang lebih tepat, dia tak suka dipanggil atau diperlakukan layaknya nona muda jika berada di luar rumah.


"Gak apa-apa. Mau nongkrong aja ... sambil liatin lu kerja. Sesekali boleh, kan?" jawab Susan enteng.


"Iya, boleh ... entar gua bisa kena masalah kalau bilang gak boleh," bisiknya. Silfa terkekeh. Matanya memberi kode, melirik ke arah sang menejer yang berdiri hormat pada tamu spesialnya. "Ini dua capucino pesanan kalian." Gadis itu memberikan dua cangkir capucino kepada mereka.


"Kita duduk di sana, ya ...," kata Yayu menunjuk sebuah bangku yang bersebelahan dengan jendela kaca.


Sesekali dia memperhatikan HP-nya berharap Jenny kembali menghubunginya. Sejak kemarin, dia belum menerima pesan apa pun dari gadis itu, padahal gadis itu sudah berjanji akan memberi tahu alamat hotel tempatnya menginap. Mungkin saja dia lupa, tapi ... ini sudah berganti hari, namun gadis itu belum juga menghubunginya. Sesekali dia mencoba menelepon Jenny terlebih dahulu dengan nomor yang dulu mereka berkirim pesan. Nihil. Telpon gadis itu selalu tidak aktif.


Drrrt .... Drrrt ....


Dia segera meraih HP-nya berharap itu kabar yang tengah ditunggunya. Dilihatnya pesan masuk itu. Ternyata, itu pesan dari Wili, dia pun jadi kurang semangat membuka pesan itu. Ada apa pemuda itu mengirim pesan padanya? Bukankah dia sedang menemani Bagas ke negeri jiran. Bicara negeri jiran membuatnya teringat kembali pemuda itu. Dia mengembuskan nafas berat. Di ujung sana kedua temannya tak lepas memperhatikan. Mereka tahu cerita yang dialami gadis itu jadi semakin pelik. Termasuk cerita cintanya.

__ADS_1


Digeserlah layar Hp miliknya itu, mulai membaca pesan yang dikirim sepupu Bagas. "Fa, ...." Namun, belum sempat dia membaca seluruh isi pesan teks yang dikirim Wili, perhatiannya tiba-tiba teralihkan pada pengunjung yang ribut-ribut. Terlihat olehnya, banyak lelaki berjas hitam di sana. Berjalan mendekat dan semakin mendekat ke arah Silfa.


"Nona muda silahkan ikut, kami!" perintah salah seorang dari mereka.


"Tuan-tuan ini siapa? Dan saya harus ikut ke mana?" Silfa sama sekali tak mengerti maksud ajakan lelaki berjas hitam itu.


"Pulang, Tuan sangat mengkhawatirkan, Nona," jawab lelaki tadi.


"Pulang ke mana? Saya tak mengerti maksud anda, Tuan? siapa itu, Tuan?" Silfa mencoba menolak. Kedua sahabatnya pun telah berdiri dan mencoba menolong Silfa. Tapi sayang mereka langsung dihadang oleh para lelaki berjas hitam yang lainnya. Silfa menolak sekali lagi ajakan itu. Namun, tanpa aba-aba apa pun dia membekap mulut Silfa hingga nafasnya sesak, pandangan matanya mengabur, beberapa detik kemudian dia pun jatuh pingsan.


"Maafkan saya Nona. Tuan besar menyuruh saya membawa Nona bagaimana pun caranya. Dia juga berpesan kalau Nona menolak saya bisa membawa anda secara paksa asal jangan sampai melukai anda," ucap lelaki itu menjelaskan. Padahal percuma, yang diajak bicara sudah jatuh pingsan terlebih dahulu, mana sempat dia mendengar ucapan panjang lebar dari mulutnya itu.


"HEI, MAU KAU APAKAN TEMAN SAYA?!" teriak Susan tak terima Silfa dibekap sampai pingsan.


"MAU KALIAN BAWA KEMANA DIA?" teriak Yayu tak kalah panik. Saat menyaksikan Silfa diangkat dan dibawa ke luar dari kafe. Kedua gadis itu memberontak. Sayangnya teriakan dan perlawanan kedua anak itu tak membuahkan hasil. Para lelaki itu terlalu kuat untuk dihadapi oleh dua gadis ingusan seperti mereka. Sedang para pengunjung, pelayan, dan menejer, yang ikut menyaksikan kejadian tadi hanya memantung. Bahkan ada beberapa dari mereka yang hanya mengambil video dan gambar saja dari kejadian yang ada di depan mereka. Entahlah. Mungkin kejadian ini akan segera viral sebentar lagi.


Silfa di bawa ke dalam sebuah mobil mewah. Kemudian mereka melaju entah kemana.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2